Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadin Bertemu Chiko
Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Sahara tidur di kamar Nadin dan Argan. Dia merasa nyaman dan tenang, bisa menghabiskan waktu bersama.
"Kakak, hari ini kita baca buku yang diberikan kak Argan iya. Kita membaca bersama sambil makan cemilan." Ujar Sahara.
"Nah boleh juga tuh makan-makan, biar kakak agak tinggian sedikit lagi." Jawab Nadin.
"Atau mungkin biar tambah gemuk." Sahara terus tersenyum.
"Hahaha jangan sayang. Ini saja sudah cukup kok."
"Iya kak, kalau gemuk kakak malah cantik." Sahara membuka bungkus makanan ringan itu.
"Tapi kalau badan kakak gemuk baguslah, malah kakak tidak akan kelihatan kalau sedang menanggung beban." Tutur Nadin pelan.
"Apa kak? Aku tidak terlalu jelas mendengar yang kakak ucapkan." Ujar Sahara.
"Ah lupakan saja sayang. Tidak penting yang kakak ucapkan tadi."
"Oh seperti itu kak." Sahara menyodorkan jajan cemilan pada Nadin.
Nadin mengambilnya dan membaca doa di dalam hati, lalu memakannya. Dia menikmati jajanan yang Sahara beri itu.
"Kak doa makan apa?" Tanya Sahara.
"Allahumma barrik lana fiima rozaktana waqina adzabannar. Artinya yaitu "Ya Allah berkahilah kami atas rezeki yang telah Engkau beri, dan jagalah kami dari siksa api neraka." Ujar Nadin, dia mengulanginya beberapa kali sampai Sahara mengerti.
Sahara mengikuti bacaan itu "Terimakasih iya kak atas ilmunya." Melanjutkan dengan memakan jajan.
"Iya sama-sama. Kakak juga fakir ilmu, masih banyak hal yang belum kakak ketahui."
"Kakak mutiara memang yang terbaik, pantas mendampingi kak Argan. Kakak ibarat mutiara di dasar lautan, sangat indah." Puji Sahara.
"Jangan seperti itu sayang. Jangan membuat kakak malu di depan malaikat yang mengawasi kita sekarang." Ucap Nadin.
"Maaf kak."
"Iya sayang."
Sahara membuka buku-buku pengetahuan di genggamannya. "Kita sekarang baca buku tentang rumah adat di Nusa Tenggara Timur iya kak."
"Iya sayang. Lainkali kakak akan membaca buku tentang mengelola bisnis." Tersenyum melihat Sahara.
Sahara membuka lembar buku, terlihatlah rumah berbentuk kerucut.
"Masyaa Allah, unik sekali rumahnya Sahara."
"Kakak kenapa selalu mengucap kalimat itu bila kagum?" Tanya Sahara.
"Karena itu merupakan kalimat indah yang tepat diucapkan, bila kamu merasa terfana dengan dunia ini. Karena dunia ini tercipta atas kekuasaan Allah Swt." Tutur Nadin.
"Oh seperti itu kak." Jawab Sahara.
"Rumah Musalaki adalah rumah adat provinsi Nusa Tenggara Timur." Nadin membaca buku tersebut, serta melihat gambarnya.
"Bagus rumahnya, unik sekali kak. Kapan-kapan ingin deh jalan ke sana bersama kak Argan dan kak Nadin."
Nadin hanya tersenyum, dia tidak tahu harus menjawab apa pada impian Sahara.
****
Nadin memasukkan makanan dalam paper bag. Dia akan makan siang dengan bekal yang dibawanya. Tidak ingin makan di luaran, karena menghemat pengeluaran pikirnya.
"Ini hari pertama bekerja, aku tidak boleh terlambat." Monolog Nadin.
"Nadin, tolong bantu pasangkan jasku." Titah Argan dengan tatapan dinginnya.
"Iya." Jawab Nadin singkat.
Dia meraih jas yang ada di tangan Argan, lalu membantu Argan memasangkan jasnya. Setelah selesai dengan hal itu, mereka berdua keluar kamar dengan penampilan yang rapi.
"Kamu berangkat bareng dengan mobilku, atau naik motor?" Tanya Argan.
"Tidak untuk keduanya, aku naik angkot saja." Jawab Nadin acuh.
"Jangan naik angkot, apa kata orang nanti." Ucapnya.
"Mereka tidak akan berani protes padamu." Nadin menolak fasilitas yang ditawarkan.
"Cepatlah pilih salah satu tawaranku tadi. Atau kamu tidak boleh bekerja." Ancam Argan.
"Aku naik motor saja." Jawabnya.
'Aku rasa itu lebih baik, daripada harus berangkat bersamanya.' Batin Nadin.
"Heru!" Panggil Argan.
Heru yang menunggu di depan pintu mobil segera berlari menghampiri tuan muda.
"Iya tuan."
"Siapkan motor untuk istriku." Titah Argan.
"Baik tuan muda." Heru segera beringsut.
Dia mengambil motor yang ada dalam bagasi, segera dikendarainya menuju kamar tuan muda. Tak berselang lama Heru sudah datang dengan membawa motor.
"Tuan, ini motornya." Ujar Heru. Dia menendang penyangga motor matic tersebut.
Heru turun dari motor dan memberikan kunci pada Argan. Nadin diam saja, tanpa mengucapkan apapun. Dia sedang memikirkan episode tiga untuk update novel hari ini.
"Ini kunci motornya." Argan memberikannya pada Nadin.
Nadin mengambilnya. "Terimakasih." Ucapnya.
"Hanya itu?" Tanya Argan. Dia memegang pipi Nadin. Mencubit pelan pipi itu, dan menusuk-nusuk lembut.
"Lalu kamu mau apa?" Tanya Nadin.
"Nanti malam saja aku mengatakan hal apa yang aku mau."
'Dasar budak cinta, apa serunya coba mentoel-toel pipi nona muda' Batin Dera.
Dia melirik dengan malas, padahal dia sebenarnya ingin tuan muda bahagia. Memperhatikan drama basa-basi suami istri itu dari kejauhan.
Nadin masih terdiam. Argan merasa Nadin berubah sekarang. Ntah apa yang ada dipikirannya, hanya dia yang tahu.
'Aneh sekali, padahal tadi dia yang memaksaku untuk memakai salah satu kendaraan yang ada di rumah istana ini. Tapi dia malah meminta imbalan, dan aku sendiri tidak tahu apa itu.' Batin Nadin.
****
Nadin berjalan menelusuri lorong-lorong kantor yang besar itu. Dia datang tepat waktu, lalu diberikan tugas oleh senior untuk menginput data.
"Hmmm aku akan menjalani hari dengan tidak membosankan. Aku bisa melihat suasana luar selain rumah tuan muda." Nadin bergumam pelan.
Dia menginput data yang ada di lembaran kertas, ke dalam komputer perusahaan. Terus fokus dan semangat, dengan kerjaan yang dia jalani sekarang. Hingga tiba-tiba, terdengar suara laki-laki tertawa bersama teman-temannya.
"Hahaha lucu sekali iya. Kemarin kan kamu yang lari terbirit-birit, terus malah menyalahkan kami yang tidak ikut lari." Ucap laki-laki tampan itu.
Dia adalah Chiko, dia terkejut karena menyadari ada karyawati baru di kantor itu. Dia tidak bisa melihat jelas siapa wanita itu, karena dia duduk dengan posisi menghadap dinding.
"Dia siapa?" Tanya Chiko.
"Dia perempuan." Jawab temannya dengan bar-bar.
"Iya aku juga tahu. Maksudku siapa namanya?"
"Kalau tidak salah dia karyawati baru yang banyak diperbincangkan. Nama lengkapnya Nadin Maghfirah."
"Hah, itu nama aslinya?" Chiko terkejut, dengan mata berbinar-binar. Nama yang tidak asing dan selalu menyapa isi pikirannya.
'Tidak salah lagi, dia pasti teman sekelas ku. Kalau jodoh memang tidak akan ke mana Chiko.' Batin Chiko merasa bahagia.
Dia segera berlari dan menggebrak meja kerja Nadin. Sontak terkejut karena lagi serius mengerjakan pekerjaan. Dia menoleh pada orang yang kini memandangnya, dengan senyuman penuh arti.
"Nadin, kamu apa kabar?" Tanya Chiko.
"Alhamdulillah baik." Jawabnya.
"Kamu karyawati baru di perusahaan Shakespeare Group ini?" Tanya Chiko.
"Iya Chiko. Ini adalah hari pertama bekerja."
"Alhamdulillah Nadin. Aku sangat bersyukur bisa berjumpa denganmu." Ujar Chiko dengan senyuman mengembang.
Teman-teman Chiko ikut menghampirinya, salah satunya menepuk pundak Chiko.
"Kamu kenal dengan dia bro?" Tanyanya.
"Iya, dia teman sekelas ku waktu sekolah SMA dulu."
"Kamu kok tidak pernah cerita kalau punya teman secantik ini."
"Iya kali aku cerita, ntar yang ada kamu naksir sama dia." Jawab Chiko.
"Yaelah bro, kenalin pada kami kan tidak apa-apa. Aku juga mau kenal lebih dekat pada gadis sebaik dia." Sahut teman yang satunya. Dia melihat Nadin dari atas sampai ke bawah.
'Kenapa teman-temannya Chiko memandangku seperti itu. Membuat tidak nyaman saja, bagaimana pun aku sudah bersuami.' Batin Nadin.
"Aku permisi dulu iya mau ke toilet." Ujar Nadin. Dia segera meninggalkan mereka yang masih sibuk dengan segala pembahasan.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂