Seorang gadis cantik yang hidup dengan ayah dan ibu tirinya beserta kakak tiri perempuan yang selalu iri pada kecantikannya.
Gadis itu menutupi kecantikan dirinya dengan memakai kacamata super tebal sehingga terlihat seperti gadis kutu buku.
Aku Melati Putri Hadi.
***************
Pria yang mapan,tampan dan juga seorang idola papan atas.
Pria ini di gilai kaum wanita,banyak film yang ia bintangi namun hanya satu wanita yang ingin dinikahinya,wanita yang juga berasal dari industri perfilman yang tak lain adalah pacarnya sejak duduk di bangku kuliah.
Aku Arnon Marvion Gafin.
*************
Hal tak terduga mengganggu kehidupan mereka yang sangat berbeda kasta.
Ibu keduanya bersahabat dan sepakat menikahkan mereka, apakah mereka akan menerima pernikahan itu?
Silahkan follow,klik favorit dan baca novel author ya readers
Happy reading 😘😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arifia Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Arnon dan Melati telah sampai di restoran Mozaic Ubud.Gadis itu mengekori suaminya sambil menundukkan kepalanya kebawah karena sejak Arnon dan dirinya turun dari mobil,pandangan orang tertuju pada mereka berdua.
Arnon mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Clara.Saat tatapannya menangkap sosok wanita yang tengah duduk bersama 3 pria,senyum pria itu langsung tertarik sempurna. Arnon langsung bergegas menuju kearah Clara dan Melati masih tetap mengekori suaminya.
"Clara," panggil Arnon sambil duduk tepat di samping kekasihnya.
Semua mata tertuju pada Arnon yang sudah duduk di samping Clara.
Melati menghentikan langkahnya.Ia tak tahu harus melakukan apa,harus ikut duduk dengan mereka atau mencari meja lain karena melihat semua teman Arnon dan Clara yang terlihat modis tanpa celah sedikitpun membuat nyali gadis itu menciut, sedangkan dirinya hanya berpenampilan biasa-biasa saja.
Mereka masih belum sadar dengan keberadaan Melati yang masih tetap berdiri karena perhatian mereka berempat masih terfokus pada Arnon.
Melati hendak berbalik untuk mencari meja lain,namun ia tak sengaja menyenggol pelayan yang sedang membawa minuman.
PRANGGGG
"Maaf Mbak! saya tidak sengaja," ucap Melati pada pelayan wanita itu.
Semua tatapan para pengunjung tertuju pada Melati.Gadis itu langsung berjongkok dan mengambil pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Tidak perlu,Nona! biar saya saja,ini bukan salah anda," ucap pelayan tersebut sambil membantu Melati membersihkan pecahan gelas yang berserakan.
Saat gadis itu mengambil pecahan gelas yang terakhir,tangannya tak sengaja tergores.
"Awwww," rintih Melati sambil melihat jari telunjuknya yang sudah berdarah dan lukanya cukup dalam.
Edward yang seorang dokter secara otomatis tergerakkan instingnya untuk segera melihat kondisi gadis itu.
Pria itu menghampiri Melati dan melihat jari telunjuknya.
"Ini lukanya cukup dalam,harus segera diobati." Menatap kearah Melati.
Tatapan keduanya saling bertemu.Gadis itu terlihat bingung karena ia tak mengenal pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Kau duduk dulu! aku akan mengambil kotak P3K di mobil." Membantu Melati bangun dan mengarahkan gadis itu duduk di kursinya.
Edward langsung bergegas menuju mobilnya mengambil kotak P3K yang memang selalu ia letakkan di dalam mobil untuk berjaga-jaga.
Di dalam restoran,Melati masih tetap menundukkan kepalanya.Dress yang di pakai olehnya sudah kotor.Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
"Apa kau baik-baik saja,Nona?" tanya Hamish yang berada tepat di samping Melati.
"Iya aku baik-baik saja," jawab Melati.
"Kau dengan siapa kemari,Nona?" tanya Harry.
"Dia Melati ... istri sementara Arnon," celetuk Clara dengan wajah dingin.
Harry dan Hamish saling tatap,mereka berdua sekarang sudah mengerti situasinya dan apa yang harus mereka lakukan.
"Jadi Nona ini istri dari Arnon? wah,selamat ya! maaf kami bertiga tidak hadir ke acara pernikahan kalian," ucapan Hamish sambil tersenyum kearah gadis itu.
"Iya tidak apa-apa," jawab Melati yang juga tersenyum kearah Hamish dan Harry.
Clara mencebik kesal,kenapa semua sahabatnya itu malah bersikap baik pada Melati.
"Teman tak sehati kalian! bukannya mendukungku,malah mendukung gadis jelek ini."
"Honey maaf! aku lupa mengaktifkan ponselku." Menangkupkan kedua tangannya sambil menatap Clara penuh harap gadis itu akan memaafkannya.
"Aku sudah terlanjur marah padamu! apa kau tahu? aku seperti orang gila yang menunggu panggilan darimu." Dengan wajah kesal.
"Iya Honey aku minta maaf,aku janji tak akan mengulanginya lagi," bujuk Arnon agar kekasihnya mau memaafkannya.
"Janji ya? awas kau mengulanginya lagi." Sambil memeluk Arnon erat.
Melati menatap kearah Arnon,hatinya terasa ada yang aneh.Ia tak tahu kenapa,namun ia mencoba membuang jauh-jauh perasaan aneh itu.
Hamish melihat ke arah Melati,pria itu tahu jika Melati mungkin sudah tertarik oleh pesona sahabatnya yang memang di antara mereka berempat,Arnon lah yang paling unggul dari segi apapun.
Edward datang dan duduk tepat di samping Melati.Ia langsung mengobati tangan gadis itu.
"Usahakan jangan terkena air dulu,agar lukanya cepat kering." Sambil membalut luka di jari telunjuk Melati.
"Awwww," rintih Melati.
"Apa masih sakit?" tanya Edward cemas.
Melati hanya menggelengkan kepalanya,gadis itu menatap Edward,namun saat pria itu menatapnya juga,Melati mengalihkan tatapannya ke arah luka yang sudah terbalut oleh perban.
"Terimakasih," ucap Melati sambil tersenyum kearah dokter tampan tersebut.
Edward juga membalas senyuman Melati.Entah mengapa ia senang sekali melihat senyuman gadis itu.Dengan lesung pipi yang tertancap indah di kedua pipinya.
Arnon menatap kearah istri dan sahabatnya yang terlihat begitu akrab.Padahal mereka berdua baru pertama bertemu.
Ada rasa kesal di hatinya,namun ia berpikir mungkin karena pengaruh suasana hatinya yang tak enak hari ini karena pertengkaran kecil dengan Clara.
"Kalian terlihat mesra sekali," ucap Clara sambil menegakkan duduknya seperti semula tanpa memeluk Arnon.
"Kau biasanya tak pernah perduli dengan seseorang, apalagi perempuan! kecuali pasienmu,kau pasti bersikap manis pada mereka." Tersenyum meledek Edward,namun menatap Melati dengan tatapan sinis.
"Apa kau tahu siapa gadis yang sedang ada di hadapanmu itu?" tanya Clara sambil menyangga dagu dengan tangannya.
Edward memasang wajah bingung karena memang dia tak tahu siapa gadis di hadapannya ini.
Keadaan hening tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.
"Dia itu istri sementara dari sahabatmu,Arnon Marvion Gafin," tegas Clara sambil tersenyum sinis.
Edward memicingkan matanya,ia menatap ke arah Melati yang juga menatap ke arah dokter tampan itu.
"Jadi apa hubungannya denganku Clara? aku menolongnya karena dia juga seorang pasien bagiku, tangannya terluka dan aku harus menolong seseorang yang butuh bantuanku! entah itu luka kecil atau besar,itu tugasku! bukankah aku seorang dokter?" tanya Edward yang tak ingin terjebak oleh perkataan sahabatnya itu.
Clara menatap Edward dingin,ia tak percaya kenapa Edward bisa mengelak dari perangkapnya.Ia ingin membuat Edward seakan terkesan perhatian pada Melati dan membuat Arnon semakin membenci gadis itu karena telah berusaha ingin menggoda sahabatnya.
"Dasar Edward bodoh! aku tahu kau tertarik pada gadis jelek ini,huh! mungkin kali ini rencanaku gagal,tapi aku akan berusaha membuat kalian berdua selalu dekat karena aku tak mau Arnon selalu dekat dengan gadis jelek ini."
Hamish menahan tawanya.Ia sebenarnya ingin sekali tertawa sekencang-kencangnya,namun ia tahan.Pria itu tahu jika Clara saat ini tengah kesal dengan jawaban yang di lontarkan oleh Edward padanya.
Harry menyenggol lengan kekar Hamish.
"Kau kenapa? apa ada yang lucu?" berbisik di telinga Hamish.
Tak ada jawaban dari Hamish,namun hanya senyuman yang pria itu berikan pada Harry.
Harry mengernyitkan dahinya,ia tak paham apa maksud sahabatnya.Pria itu melanjutkan makannya kembali.
"Honey kau mau pesan apa?" tanya Clara pada Arnon.
"Terserah kau saja ... kau mau pesan apa Mel?" tanya Arnon karena ia yang mengajak Melati makan,jadi dia harus bertanggung jawab atas perkataannya.
"Sama denganmu saja."
Clara semakin geram dengan jawaban gadis itu.Ia benar-benar sudah tak tahan lagi.
"Kenapa kau selalu ingin mencari perhatian Arnon! apa kau mulai suka padanya hah? ingat ya,kau itu hanya istri sementara! orang yang Arnon cinta itu hanya aku." Dengan nada berbisik namun menekankan pada tiap kata yang ia ucapkan.
Melati meremas tasnya.Ia benar-benar merasa malu. bagaimana tidak,Clara mengatakan itu semua di hadapan sahabat Arnon.Ia seakan seperti benalu yang menempel pada Arnon dan harus di musnahkan.
Edward melihat ke arah Melati,tanpa pikir panjang ia langsung menarik tangan istri Arnon itu.
"Ikut aku," pinta Edward.
"Kemana?" tanya Melati yang tak ingin beranjak dari tempatnya.
"Bajumu basah kan? ayo kita ke butik." Menatap Melati lembut agar gadis itu mau ikut dengannya.
Gadis itu bingung harus ikut atau tidak.Ia menatap kearah suaminya dan Arnon juga menatapnya.Sebenarnya ia ingin meminta izin pada Arnon,namun pria itu langsung mengalihkan tatapannya kearah Clara.Arnon seakan tak perduli dengan istrinya dan Melati menyimpulkan jika ia memang harus pergi dari tempat itu.
Edward menggandeng tangan Melati keluar dari restoran itu.Saat keduanya sudah sampai di pintu keluar,Arnon menatap kepergian Melati.Ia merasa kesal dan marah,ia ingin sekali melarang Melati untuk tak pergi,namun egonya berkata untuk apa melarang gadis yang tak kau cintai.Lain lagi dengan hatinya yang meronta ingin Melati tetap tinggal.
tapi ya nggak 2 tahun juga