Bagi Alysia Mareana kisahnya bersama Bagas Adiputra telah luruh dan membentuk sebuah kenangan yang disebut masa lalu. Tapi siapa yang dapat mengira jika ada benang masa lalu yang belum putus dan hendak mengikat mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmakJomblo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan
Selamat Membaca 😉😘
Setelah memastikan penampilanku sudah pantas, aku memutuskan keluar kamar. Sesuai kesepakatan aku dan pak Yonatan akan minum di bar milik salah satu temannya. Jangan berpikir bahwa aku bodoh dengan melemparkan diri datang ke kamar pak Yonatan saat aku masih berstatus istri orang.
Kalau aku sampai melakukan itu rasanya aku tidak ada bedanya dengan Bagas, oh oke mari kita lupakan sejenak orang itu.
“Anehnya Bagas, punya istri cantik, seksi dan menawan malah cari orang lain.”
Aku mengabaikan ucapan pak Yonatan yang kentara sekali mencoba memanas-manasi situasi. Aku lebih tertarik dengan jendela mobil yang ada di sampingku dari pada menatap wajah pak Yonatan.
“Eh tapi nggak apa-apa kita kencan begini?” tanyanya.
Aku menoleh dengan wajah yang sulit diartikan.
Apa katanya tadi kencan? Astaga! Yang benar saja. Tapi aku menghargai usahanya untuk mencoba menggaet aku.
“Kencan? Sepertinya Bapak salah menafsirkan ucapan saya di pesan chat itu,” sindirku.
Bukannya tersinggung pak Yonatan malah tersenyum tanpa beban. Mengerikan.
“Kalau memang tentang kamu, saya selalu salah paham Alysia,” tuturnya serius.
Oke kita hentikan obrolan ini sebelum dia menjadi lebih mengerikan daripada kelihatannya.
Beberapa menit setelahnya kami memasuki sebuah Bar yang sama sekali belum pernah ku ketahui sebelumnya. Aku bukanlah perempuan naif, selama 28 tahun aku hidup sudah beberapa kali aku masuk keluar Bar sesekali bersama Riando berdua, atau bersama beberapa rekan kantor kalau sedang merayakan sesuatu.
Namun segalau apapun aku waktu ditinggal Bagas 6 tahun lalu, aku tak pernah sampai pergi ke tempat semacam ini dan mabuk-mabukan seperti yang biasanya diceritakan pada sebuah novel.
Aku wanita 28 tahun yang hidup bebas bertanggung jawab selama 6 tahun.
“Pesan apa Nat?” tanya seorang bartender yang nampak sudah mengenal pak Yonatan dengan baik.
“Tequilla seperti biasa, kamu minum apa Alysia?”
“Rum coklat,” jawabku.
Seperti biasanya aku memesan minum yang kusukai yang sudah pasti kadar alkoholnya dapat ku kontrol. Sekarang aku sedang bersama seekor serigala berbulu domba, dan aku tidak ingin terjebak dengan kelicikannya.
“Siapa Nat? Tumben bawa cewek.”
Sembari menuangkan minuman, sang bartender bertanya. Aku tidak mengambil pusing dan memilih mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Bar yang dipenuhi lampu warna-warni yang menyakiti mata. Disertai dengan perempuan-perempuan yang ya sudah pasti perempuan malam yang memilih kerja yang menghasilkan banyak uang.
Kenapa aku malah terdampar di sini? Heran juga.
Kalau saja Bagas tahu, laki-laki itu pasti akan marah besar. Bagas tak pernah suka aku pergi ke tempat-tempat yang seperti ini.
Pesta ulang tahun Raya, teman sekelasku akan diadakan di salah satu Bar yang sangat terkenal di daerah kami. Tidak ada larangan sebab, di semester 5 ini kami sudah berusia di atas 18 tahun semuanya.
Raya Arnika, orang tuanya cukup terpandang serta ayahnya yang baru tahun masuk dalam jajaran anggota dewan jadi ulang tahun ke 20nya diadakan di Bar milik keluarganya.
Aku ragu untuk datang atau lebih tepatnya ragu kalau Bagas akan memberiku izin. Karena aku niat untuk pergi, aku sama sekali tidak mengatakannya pada Bagas ataupun meminta izin pada laki-laki itu.
Hingga malam itu, Bagas tahu aku pergi dari seorang teman yang tak sengaja melihatku di sana, teman Bagas yang merupakan kakak lelakinya Bagas. Laki-laki itu mengirim video dan bertanya tentang keberadaan Bagas yang tak ia jumpai di sana.
“Kamu tahu tempat itu bahaya kan?” tanya Bagas dengaan suara rendah dan penuh tekanan.
Aku menganggukan kepala, tak berani menatap wajah emosinya.
“Terus kenapa masih coba pergi ke sana Re? Kenapa? Kamu tahu kalau aku nggak pernah suka kamu ke tempat yang seperti itu!”
“Ya maaf, lagi pula tempatnya aman, sudah dibooking sama keluarga Raya!” jelasku.
“Pokoknya ini terakhir kali ya aku lihat kamu di sana!” tekannya lagi.
“Pengenlah, lelah menjomblo.”
Aku tersentak dari lamunanku tentang masa lalu karena suara Pak Yonatan yang terdengar mengudara.
Kedua orang itu terkekeh, sedangkan aku tidak. Tidak ada hal yang lucu sehingga aku harus tertawa. Lagi pula aku sedang tidak ingin tertawa sekarang.
“Silakan minumannya miss,” ucap bartender itu sembari mengulas senyum menggoda di depanku. Aku mendecih dalam hati.
Dasar buaya darat!
***
Entah berapa lama kami di sana dan kurasa kepalaku mulai berat dan pening. Ku coba untuk tetap fokus namun tetap saja, puyeng.
“Ayo pulang Alysia kita berdua sudah mabuk,” racau pak Yonatan sembari memasukan diri ke dalam mobil.
Sang Bartender memesankan kami taksi online sampai di titik yang kami sebutkan dengan wajah yang benar-benar belum sadar.
Aku keluar dari taksi dengan sempoyongan tapi tetap berusaha menjaga jarak dari pak Yonatan sebelum muncul foto Fitnah.
“Bagus ya, suami menunggu di rumah dengan cemas, istri malah keluar dengan laki-laki lain.” Aku menoleh pada orang yang berbicara itu.
Bagas? Sejak kapan dia ada di sana? Dari mana dia tempatku berada?
***
Entah sudah berapa lama kami terlibat dalam keheningan namun aku tak ingin menjadi orang pertama yang menghentikannya, Aku tidak rela harus berbicara dengan manusia satu itu. Aku mencoba mengabaikannya dengan tidur-tiduran di sofa bernama silver itu.
Sudah sejam setelah dia memberikan satu bogeman mentah di pipi kanan Pak Yonatan. Sebenarnya aku sudah ingin mengusirnya dari sini, pergi jauh, sejauh mungkin dari hadapanku. Namun Bagas tetap melakukan segala cara, meski rombak rumah sekalipun
Tak mendapat respon, laki-laki mencoba merebut benda persegi itu dari tanganku.
“Hei apa-apaan kau ini!” teriakku saat menjauhkan benda itu dari jangkauannya. Namun apa daya dengan tubuh tingginya yang cukup jauh di atasku, Bagas dengan mudah meraih benda itu.
Matanya nampak menajam.
“Kenapa?” ucapku saat menyadari perubahan raut wajahnya.
“Kau chatting dengan Yonatan?” tanyanya kesal.
Baiklah, ku akui bahwa bagas itu orangnya cemburuan dan suka emosional tingkat dewa, apalagi saat aku lebih memilih pak Yonatan sebagai teman chattingan daripada suaminku sendiri.
Malas juga harus melihatnya di sini.
“Mulai sekarang kendalimu adalah dalam kehidupanku