Sekuel Talak di Ujung Ramadhan
Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.
Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.
Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Suasana pagi di kompleks perumahan KPR sudah riuh sejak pukul enam. Gerobak sayur Kang Asep jadi pusat perhatian ibu-ibu. Ember plastik, kantong kresek, sandal jepit berdesakan di tanah yang masih basah embun.
“Bu Anisa, Sarah mana? Biasanya dia yang belanja,” tanya Bu Surti sambil memilah tomat. Jarinya memencet buah, tapi matanya mengincar gosip.
Bu Anisa sengaja menunda jawaban. Ia menarik napas, lalu memasang raut wajah layu. Bahu merosot, sudut bibir diturunkan. Aktris terbaik di gang ini.
“Mungkin udah susah jalan, kan perutnya udah gede,” timpal Bu RT, mengipas leher pakai brosur arisan.
“Manja bener. Aku hamil sembilan bulan masih bisa ke Pasar Induk,” celetuk ibu muda bertubuh tambun, diikuti kekehan sinis yang pecah seperti petasan kecil.
Sebersit rasa puas menjalar di dada Bu Anisa. Tapi topeng harus tetap dipakai. Ia langsung mengangkat kedua tangan, matanya berkaca-kaca buatan.
“Aduh, Ibu-ibu, tolong jangan bicara begitu,” ucapnya lembut, suara dibuat serak. “Kasihan Sarah. Dia sebenarnya mau turun, cuma saya yang melarang. Namanya juga hamil anak pertama. Tidak apa-apa saya yang repot sedikit.”
Ia menggeleng dengan senyum maklum yang dipaksakan. Kalimat itu racun berlapis madu. Kedengarannya membela, tapi maknanya jelas: _Sarah lemah. Sarah manja. Saya yang korban._
Para ibu langsung saling pandang. Desas-desus dan decakan kagum berdesir.
“Ya ampun, Bu Anisa baik banget ya. Beruntung sekali si Sarah punya mertua kayak begitu,” bisik Bu Surti, matanya berkaca takjub.
“Iya, betul! Kalau menantu lain sudah habis diomeli. Ini malah mertuanya yang pas badan belanja ke luar,” timpal Bu RT sambil menggeleng, pura-pura simpati.
Ibu muda tambun itu mendengus, melipat tangan di dada. “Tuh, dengar sendiri kan? Dasar Sarahnya saja yang tidak tahu diuntung. Punya mertua malaikat malah dijadikan pembantu. Kurang ajar betul jadi menantu!”
Bu Anisa menunduk dalam-dalam, menutupi senyum kemenangan yang terukir tipis. Sarah berhasil ia jadikan musuh bersama tanpa ia harus mengangkat satu jari pun.
Bu Anisa masuk, meletakkan kantong plastik berisi tahu dan bayam di meja dapur. Sejak Sarah di usir rumah ini sepi.
Di dekat wastafel, gelas beling bermotif bunga kecil masih tersimpan di rak. Itu gelas kesukaan Sarah. Setiap pagi ia selalu mengisi gelas itu dengan air hangat dan madu, lalu meletakkannya di meja makan tanpa disuruh. Kini gelas itu kosong, kering, seperti pemiliknya.
Bu Anisa pura-pura tidak melihat. Ia menyalakan kompor, memasak sayur bening porsi kecil. Dulu Sarah yang mengiris bawang di sudut kompor sambil bersenandung pelan. Sekarang dapur terasa lengang. Tapi alih-alih rindu, Bu Anisa justru menikmati ketenangan itu. Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang menunduk tapi matanya menyimpan perlawanan.
Suara gerbang digeser mengejutkan Bu Anisa. Leo pulang pukul sepuluh, membawa kotak bubur. Tapi ketukan sepatu hak tinggi di lantai keramik membuatnya langsung ke ruang tamu.
Di ambang pintu, Kitty berdiri di samping Leo. Rok span di atas lutut, tubuh sintal, aroma parfum vanila manis langsung menguasai ruangan.
“Ibu,” panggil Leo.
“Ini Kitty, rekan kerja Leo. Ada dokumen proyek yang harus kami selesaikan di rumah agar lebih tenang.”
Kitty melangkah maju, senyumnya manis, matanya lihai menilai. “Selamat pagi, Tante. Maaf kalau Kitty datang tiba-tiba.”
Bu Anisa terpaku. Ia menilai Kitty dari ujung rambut sampai ujung rok yang hampir habis itu. Cantik, iya. Cekatan, kelihatan. Tapi di sudut pikirannya muncul bisikan kecil: _Kenapa wanita secantik ini mau repot-repot ke rumah?Keraguan itu hanya sedetik. Lalu hilang saat Kitty bergerak ke dapur.
“Aduh, wangi sekali, Tante. Pasti masakan Tante enak,” kata Kitty.
“Hanya sayur bening bayam dan tahu goreng biasa,” jawab Bu Anisa.
“Justru masakan rumahan seperti ini yang paling juara, Tante,” potong Kitty cepat. Tanpa diminta ia menggulung lengan blus dan meraih rak piring. “Biar saya bantu siapkan mangkuknya, Tante duduk saja.”
Kecekatan itu menampar ingatan Bu Anisa tentang Sarah yang selalu lambat, selalu menunduk. Hati Bu Anisa melunak. Keraguan tadi ia kubur.
Saat makan, Kitty mengambilkan nasi dan sayur ke piring Bu Anisa lebih dulu, baru ke Leo.
“Pak Leo sering cerita kalau masakan Tante tidak ada tandingannya. Makanya saya semangat ikut ke sini,” bohong Kitty sambil melirik Leo.
Leo hanya mengaduk nasinya. Suapan masuk ke mulut tapi rasanya hambar seperti kardus. Pikirannya melayang ke kamar 304. Ke wajah Sarah yang pucat. Ke perut besar itu. Ke anak yang juga darah dagingnya. Tapi ia tidak berani bicara. Sejak diusir dari rumah sakit, rasa bersalah itu ia pendam, ia tutup dengan diam.
Selesai makan, Kitty langsung beres-beres. Piring kotor digosoknya dengan lincah.
“Aduh Kitty, jangan dicuci. Biar Tante saja nanti, kamu kan tamu,” kata Bu Anisa, tapi nadanya sudah kalah.
“Nggak apa-apa, Tante. Saya sudah biasa di rumah. Hitung-hitung tanda terima kasih,” jawab Kitty manis.
Bu Anisa berdiri di ambang pintu dapur, senyumnya melebar. Inilah menantu idaman.
Sebelum pulang, Kitty merogoh tas dan mengeluarkan kotak kecil berlogo kosmetik.
“Oh iya Tante, kemarin saya beli produk perawatan kulit ini. Pas lihat, saya langsung ingat Tante karena warnanya cocok sekali untuk kulit Tante yang masih kencang,” ucapnya, menyerahkan hadiah.
Mata Bu Anisa berbinar. Rasa tersanjung mengalahkan logika. Manipulasi Kitty berhasil total.
Setelah pintu ditutup, Bu Anisa berbalik, menatap Leo yang masih terpaku. Ia melangkah mendekat, matanya mengeras.
“Leo, Ibu suka sekali sama Kitty. Dia cantik, cekatan, dan tahu cara menghormati orang tua. Dia jauh lebih cocok jadi menantu Ibu dibanding Sarah yang manja itu.”
Leo terdiam. Rahangnya mengeras. Untuk pertama kali sejak tadi, ia mengangkat kepala, menatap ibunya.
“Sekarang, Bu?” suaranya serak, nyaris berbisik.
“Iya. Temui Sarah di rumah sakit. Ceraikan dia! Sebelum dia makin merepotkan,” perintah Bu Anisa dingin, tanpa sedikit pun iba pada menantunya yang sedang bertaruh nyawa.
Leo mengepalkan tangan. Kuku jarinya menancap ke telapak. Ia tidak bisa ke rumah sakit. Satpam sudah menghafal wajahnya. Namanya ada di daftar hitam. Tapi ia juga tidak bisa bilang itu ke ibunya.
Ponsel di tangannya bergetar. Kali ini bukan nomor rumah sakit.
_Nomor tidak dikenal_ muncul di layar.
Jantung Leo jatuh ke dasar perut. Ia mengangkat panggilan itu dengan tangan gemetar, punggungnya membelakangi ibunya.
“Pak Leo,” suara di seberang terdengar serius, rendah, dan menekan.
“Sepertinya anda sedang main dengan wanita lain, ya? Apa perlu saya sebarkan kalau anda menelantarkan istri anda?”
Seketika rahang Leo mengeras. Darah di wajahnya seperti surut.
“Siapa kamu sebenernya?” desisnya, suaranya tercekat.
Tidak ada jawaban. Tiba-tiba telepon langsung ditutup.
_Tut._
Leo kembali menghubungi dengan jari gemetar. Nada sambung satu kali, lalu… _Nomor yang Anda tuju tidak aktif.
Dadanya sesak. Siapa yang tahu? Siapa yang mengawasi?
Sementara di belakangnya, Bu Anisa masih sibuk membuka hadiah dari Kitty, tersenyum puas seolah masa depan Leo sudah ia beli seharga bedak dan sayur bening.
dosa bu dosaaa...
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...