⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. I need your explain
"I need your explain" (Aku butuh penjelasanmu) — Hanum Arsyila Putri.
Malam itu, Hanum hanya diam saja meskipun Dela kini tertidur lelap di ranjang bawahnya. Kedua matanya sulit untuk dipejamkan. Sementara pikirannya terus saja bertanya-tanya akan kedekatan Dela dengan Devan.
Sesekali dia menggeleng, logikanya mengatakan wajar saja hal itu terjadi sebab dia saja bukan lah siapa-siapa nya mereka di rumah ini. Toh pada akhirnya Devan akan menemukan pasangannya sendiri selain 'dirinya.'
Hingga pukul satu, dia bergegas untuk salat tahajud saja. Melihat Dela yang masih tertidur pulas, dia dengan hati-hati berusaha untuk tidak menimbulkan suara apa pun. Kemudian pukul satu lewat empat puluh dia kembali beranjak ke atas kasur. Tertidur hingga waktu subuh tiba.
"Wah, rasanya udah lama banget ya aku gak kesini," kata Dela pada Bunda dengan santainya dia mengambil gorengan bakwan yang baru saja disuguhkan oleh Bi Inah.
"Lagian kamu kemana aja sih? Jarang banget main kesini, Bunda sampe heran sendiri," kata Bunda sambil tertawa kecil.
Hanum baru saja keluar kamar, dia sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Dari tempatnya berdiri, dia melihat kedua orang itu yang saling akrab.
"Eh, Hanum? Kamu mau pergi duluan?" Dela menyapanya terlebih dulu.
"Pagi sekali perginya, Nak. Ini ambil dulu gorengan nya," Bunda menawarkan bakwan yang ada di atas meja itu.
"Nggak papa kok, Bun, Kak. Aku mau pergi awal aja," kata Hanum kemudian.
"Gak barengan aku aja?" Dela tampak keheranan.
"Nggak, Kak. Aku duluan aja, Assalamualaikum," Hanum segera keluar dan memesan ojek online yang sudah datang.
"Tumben-tumbenan loh Hanum pergi jam segini. Biasanya agak lama sampe Devan tungguin dia melulu," ucap Bunda pada Dela.
"Oh, jadi yang suka anterin Hanum itu Devan ya, Bun?" Raut wajah paham terlihat dari wajahnya Dela.
"Hehe, kenapa? Kamu cemburu kah gak bisa dapetin Devan lagi?" Bunda terkekeh-kekeh sendiri.
"Gak lah, Bun. Itu kan cuma cerita usang saja. Lagian aku juga sebentar lagi mau nikah, Bun," kata Dela menunjukkan cincin tunangannya pada Bunda.
"KOK GAK BILANG-BILANG??!" Bunda kini menumpuk Dela dengan bantal yang ada di sofa. Membuat perempuan itu tertawa.
"Iya, Bun ntar aku infoin kok. Aku lakuinnya memang biar surprise in Bunda juga. Rencananya kami menikah bulan depan, Bun. Doain semoga lancar ya," terang Dela pada Bunda.
"Aamiin, ya udah habis ini kamu balik gih. Si Hanum udah pergi duluan masak bos nya belum," kata Bunda. Dela pun mengiyakannya.
Di sisi lain, Hanum baru saja tiba di butik. Kebetulan Nunung juga baru sampai di sana. Jadilah mereka pergi untuk membeli sarapan ke salah satu warung bubur ayam yang tak jauh dari butik.
"Nunung mau kejar sertifikat karyawan terdisplin, Mbak," ujar Nunung saat dia ditanya kenapa selalu tiba lebih awal dibandingkan karyawan lainnya.
"Kirain memang kebiasaan kamu. Tapi bagus juga sih," Nunung mengomentari.
"Supaya nanti kalau Nunung direkrut perusahaan fashion yang lebih tinggi, Nunung punya CV tambahan hehe," katanya.
"Memangnya kamu berencana untuk resign?" Hanum jadi penasaran.
"Ya enggak lah, Mbak. Untuk saat ini mah saya masih harus kerja dulu, itu cuma wish list Nunung doang. Ya siapa yang tahu kan..?" Dia pun terdiam sejenak.
"Oh iya, Mbak sendiri kok tumben cepet datang? Biasanya dianterin Pak Devan toh," Nunung menyadari kejanggalan yang ada.
"Lagi kepengen aja, soalnya Devan lagi ada urusan kerja ke luar kota," kata Hanum lagi.
"Mbak tau gak, kalo menurut saya nih ya. Pak Devan itu suka sama Mbak makanya dia selalu berlaku gitu."
Hanum terdiam sejenak. "Barangkali karena aku tinggal di rumahnya, Nung. Sekaligus aku cuma temen deketnya kok. Eh, gak deket-deket amat..," kata Hanum.
"Mbak mana tahu, kan. Coba deh sekali-kali Mbak bawa perasaan hehe, siapa tahu memang bener apa kata saya ini. Pak Devan itu setahu saya gak pernah loh bawa perempuan lain selain ibunya sendiri. Cuman sejauh ini baru Mbak doang yang dia bawa. Jadi, saya mikir dia pasti ada rasa suka sama Mbak. Sesekali ditelusuri dong, Mbak," jelas Nunung panjang lebar sambil menatap Ibu-ibu penjual bubur yang tampaknya masih sibuk membuat pesanan untuk beberapa pengunjung yang lain.
"Kalo Mbak suka juga, jangan dipendam. Mungkin itulah yang namanya jodoh..," sambung Nunung lagi.
Hanum menarik napasnya pelan. "Iya, aku paham kok Nung. Memangnya kamu pernah bekerja di tempat Devan kerja?" tanya Hanum.
"Iya, Mbak. Waktu saya cuma staf biasa sih sama juga ngatur pengiriman barang gituan. Hanya saja saya ketemu Bu Dela, nawarin jadi karyawannya. Lumayan lah gajinya daripada yang sebelumnya hehe makanya saya di sini," ujar Nunung lagi.
Hanum mengangguk paham. Dua porsi bubur ayam tersuguh di meja mereka. Kini, mereka mulai fokus untuk menyantapnya dibandingkan berbicara terlebih dahulu. Sekembalinya dari warung, Nunung melanjutkan aktivitas nya di butik. Begitu juga dengan Hanum yang kini mulai terfokus pada layar monitor nya sendiri.
Tak berselang lama, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal.
Penasaran, Hanum pun mengangguk telepon itu.
"Iya, Halo? Dengan siapa dan ada apa ya?" tanya Hanum memulai pembicaraannya.
"Wanita brengsek! Pasti kamu kan yang membuat Vanya ditahan?!" terdengar suara berat pria yang dikenalinya: Bramasta. Akan tetapi, dia memilih untuk pura-pura tidak tahu saja.
"Maaf sepertinya anda salah sambung. Terimakasih," langsung saja dia tekan tombol merah itu. Terdengar makian dari dalam hingga akhirnya terdiam.
Sebuah pesan dari Bramasta pun muncul.
"KURANG AJAR! Hapus semua yang beredar di media atau saya buat hidupmu menderita!"
Sebetulnya Hanum terkejut saat membaca pesan itu. Ada rasa kekhawatiran yang terlintas di benaknya. Tetapi dia buru-buru menutupinya, memenangkan dirinya sendiri. Dia pun balas mengetik.
"Iya kah? Saya butuh bukti kalau begitu. Jangan menuduh saya tanpa sebab, Bramasta 😮💨"
Langsung saja dia kirim, waktu itu juga langsung dibaca oleh Bramasta.
"Kamu kira saya main-main hah?!"
Hanum tertawa sebal.
"Gak saya tanya kok, Mas. Saya bukan anak kecil lagi 👶"
Ingin sekali dia tertawa puas dengan balasannya itu. Baru kali ini dia melawan suami nya sendiri. Namun, anehnya baru kali ini juga suaminya itu memberikan pesan yang cukup panjang dibandingkan saat mereka masih berumahtangga. Dimana Hanum mengirim pesan panjang lebar ntah itu bertanya lagi di mana, sudah makan atau belum, Bramasta hanya membacanya saja atau sekedar oh, Y.
"Kamu main-main dengan saya!"
Hanum segera membalas nya lagi. Capek sekali meladeninya lagi.
"Udahlah, Mas. G usah yapping. No nyocot nyocot."
Langsung dia blokir kontak itu. Di sisi lain Bramasta terbelalak menatap pesan dari Hanum. Membanting ponselnya lalu berteriak emosi.
Tak lama kemudian, sebuah pesan muncul lagi. Kali ini dari Devan.
"Kamu udah makan? Aku pulangnya besok, dipercepat ternyata."
Hanum menatap pop up di layar kunci nya saja. Malas untuk membalasnya. Ada rasa ketidakpuasan saat dia melihat hubuhgan Bunda dan Dela tadi. Dia butuh penjelasan.. Meskipun secara tidak sadar, dia memang sedang cemburu -_-