NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana dua betina

Hari berikutnya terasa lebih melelahkan bagi Dai. Si Lalin pagi-pagi sudah ada di rumahnya, iya rumah! Bukan ke bengkel atau tempat tongkrongan yang biasa Dai datangi. Perempuan itu sudah duduk manis di ruang tamu setelah tadi berbincang manja dengan ibu dan adik perempuan Dai.

Dai yang kelelahan karena menyelesaikan pekerjaannya di bengkel subuh tadi baru bangun tidur dan terkejut dengan kehadiran Lalin di rumahnya.

"Lo ngapain ke sini?" Dai sampai mengucek matanya, berharap ini hanya halusinasinya saja.

"Ayank, ayank baru bangun ya. Capek banget pasti ya? Sini yank, sini aku pijetin." seolah budek dengan pertanyaan Dai tadi, Lalin justru bersikap semanis mungkin di depan Dai lengkap dengan senyum manjanya.

Ibunya Dai, bernama Ambar muncul dari dapur dengan membawakan nampan berisi kue dan teh hangat. Senyum ramah Ambar meyakinkan Lalin jika dirinya diterima dengan baik oleh keluarga calon ayank nya, setidaknya itu lah yang dia pikirkan.

"Aduuh mama calon mertua kok repot-repot banget sih, ini kan kue aku bawa buat mama, mas Dai sama Senja." alah alah cara ngomongnya manis banget.

Dai sampai merinding dipanggil dengan sebutan 'mas' oleh Lalin. Dan Ambar membalas perkataan Lalinan sambil tersenyum simpul menunjukkan betapa cantiknya dirinya meski usia sudah kepala empat, memang emaknya Dai ini adalah tipe simbok yang murah senyum, slow dan slay gitu.

"Nggak usah ngadi-adi. Lo ke sini pagi-pagi gini mau apa?" jutek banget sih mas, kan dedek Lalin jadi makin cinta.

Lalin nyengir bahagia. "Kangen kamu lah, yank."

Gila ini cewek ya, semalem udah di ulti sama Kilau kayak gitu kok ya nggak kapok lho. Jenis betina kayak gini emang bandel banget, ndableknya kelewatan, misal dia ini sejenis noda pakaian.. dia termasuk jenis oli dicampur kenangan mantan, susah hilang!

Boro-boro menanggapi, Dai memilih pergi ke kamar mandi untuk mandi membersihkan diri. Senyum Lalin menghilang dicueki Dai kayak gitu, wajahnya semasam ketek Sajen yang betah nggak mandi dua hari tujuh malam.

Bagi Ambar, kedatangan para betina seperti Lalin ke rumahnya sudah sangat sering. Yang ngaku pacar, yang ngaku temen dekat, yang ngaku calon masa depannya Dai juga ada, oleh karena itu ibunya Dai ini hanya diam sambil sesekali tersenyum menanggapi Lalin yang ngecipris kayak tadi.

Selesai mandi, Dai ingin segera pergi, nggak betah sekali dia melihat ada Lalin di rumahnya. Tapi langkahnya di tahan oleh Lalin, perempuan itu memegang tangan Dai yang sudah bersiap menaiki motor.

"Apa?" tanya Dai menghempaskan tangannya dari cengkraman Lalin.

"Mau ke mana sih yank, aku udah di sini juga kamu nya malah mau pergi." manja sekali cara bicaranya.

"Masih ada muka lo buat muncul di depan gue? Nggak malu atau emang nggak punya malu sih?" sarkas Dai menatap tak suka pada Lalin.

"Dai, aku bisa jelasin semuanya.. Aku nggak ada maksud buat-"

"Minggir." Dai memotong cepat ucapan Lalin tanpa mau memberikan kesempatan perempuan itu untuk menjelaskan apapun.

Lalin tetap merengek, tapi yang namanya Dai kan orangnya masa bodohan banget ya. Mau merengek kayak apa juga nggak bakal mempan sama dia. Maka yang terjadi adalah Lalin yang saat ini memandang kepergian Dai dengan perasaan marah bercampur benci.

"Selama ini aku udah berusaha baik sama kamu Dai, aku bukan orang yang bisa terus-terusan sabar ngadepin sifat mu yang selalu mandang rendah aku. Jangan salahin aku kalau aku pakai cara licik buat dapetin kamu. Karena sabar juga ada batasnya, kan? Mungkin Kilau tahu jika video kemarin malam itu editan, tapi gimana sama ibu mu? Ayo kita buktikan apakah ibu mu juga sepintar mantan pacar mu, Dai?" Dan Lalin memilih masuk kembali ke dalam rumah Dai membawa serta ponsel di tangannya.

Jika Lalin sedang merencanakan sesuatu atau mungkin mengusahakan apapun itu untuk kemajuan hubungan antara dirinya dan Badai, lain hal nya dengan Dai yang saat ini justru menuju ke kantor MahaTech untuk bertemu dengan Kilau, pacar pura-pura nya. Telepon dari Kilau tadi pagi bukan hanya membangunkannya dari tidur yang bahkan tak sampai dua jam tapi juga instruksi agar Dai menuju kantor wanita itu. Untuk apa? Kilau tak menjelaskan secara rinci hanya meminta Dai ke kantornya, itu saja.

Pagi itu, dengan mata masih berat dan kepala yang terasa sedikit pening karena kurang tidur, Badai berdiri di depan gedung MahaTech. Dai menghela napas pelan.

"Lama-lama daripada pacar gue lebih mirip sama kacungnya kalau kayak gini." gumamnya pelan, sambil melangkah masuk ke dalam lobi. Meski ngedumel juga Dai tetap datang kan?

Begitu pintu otomatis terbuka, suasana langsung berubah. Dingin dari AC, wangi ruangan yang khas gedung perkantoran elit, dan lantai lobi yang mengkilap seperti memberi sambutan dalam diam atas kedatangan Badai ke sana.

Dia sempat berhenti sejenak, matanya bergerak ke kanan dan kiri. Sedikit canggung, sedikit bingung harus ke mana. Ya karena Dai memang tak pernah masuk ke gedung MahaTech sebelumnya. Namun baru beberapa detik berdiri, seseorang mendekat.

"Mas Badai." seseorang memanggil namanya. Badai menoleh.

Seorang pria rapi dengan setelan formal berdiri di depannya. Rambut tersisir rapi, ekspresi tenang, dan gestur yang jelas menunjukkan dia bukan orang sembarangan.

"Iya." jawab Badai singkat.

"Saya Arga, asisten pribadi nona Kilau. Silahkan ikut saya menuju ruang kerja nona Kilau. Beliau sudah menunggu anda."

"Oke." Badai mengangguk pelan. Singkat.

Dai tidak bertanya apa-apa tentang maksud undangan Kilau padanya. Tidak juga mencoba mencari tahu lebih jauh. Karena jujur saja, dia sudah bisa menebak jawabannya. Kalau pun ditanya, kemungkinan besar Arga hanya akan tersenyum sopan dan berkata, 'Maaf, saya tidak tahu.'

Dan Badai tidak punya energi untuk basa-basi pagi ini. Mereka berjalan menyusuri koridor panjang. Sepatu Arga terdengar stabil dan teratur, sementara langkah Badai sedikit lebih santai, meski matanya beberapa kali memperhatikan sekitar.

Lift terbuka, mereka masuk, lalu naik ke lantai atas. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu besar. Arga mengetuk, meminta izin untuk masuk ke dalam sana.

"Masuk." suara Kilau terdengar dari dalam. Pintu dibuka. Dan Dai masuk ke dalam sana. Dibarengi Arga yang pamit undur diri, membiarkan atasannya menyelesaikan urusan dengan lelaki yang dia panggil Badai tadi.

Badai melihat ke sekitar ruangan itu luas. Cukup luas untuk disebut sekadar kantor. Meja kerja besar berdiri di sisi depan, dengan kaca besar di belakangnya yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

"Duduk dulu, Dai. Lo mau kopi?" tawar Kilau menutup laptopnya.

"Nggak usah repot-repot, Ki. Langsung aja, lo nyuruh gue ke sini buat apa?" Dai duduk di sofa hitam dengan mata tetap fokus menatap Kilau.

"Gue mau ngasih ini buat lo, pakai itu buat nanti malem ketemu sama orang tua gue." Kilau memberikan bungkusan dengan logo merek terkenal pada Dai yang tak beranjak dari sofa.

"Oke. Lo mau dandanin badut lo biar keliatan wah di depan ortu lo? Sorry Ki, gue nggak bisa terima." tolak Dai membuat Kilau menatap tak suka.

"Bukan gitu maksud gue, Dai. Ini kali pertama lo ketemu sama orang tua gue, kesan baik di awal itu penting. Dan gue mau lo nggak dipermalukan sama Arang jika nanti lo ketemu sama dia." jelas Kilau memberi pendapatnya.

"Cara lo kayak gini justru bikin gue dipermalukan bahkan sebelum ketemu ortu lo, Ki. Lo tau basic gue ini anak bengkel, bukan pria berdasi yang klimis dan ngomong formal sambil megang segelas wiski. Lo mau gue bantu gagalin pertunangan lo kan? ya udah.. Lo terima beres aja. Nggak usah bikin gue kayak badut di depan ortu dan calon tunangan lo."

"Sensi banget sih lo, nggak ada di pikiran gue buat jadi'in lo badut ya Dai. Lo mikir kejauhan! Gue cuma mau lo tampil ganteng maksimal dan bikin arang batok itu kicep pas liat lo, paham?"

Emang murah banget sih yang namanya hati Dai ini, baru dibilang 'ganteng maksimal' aja langsung lumer itu hati. Dia bahkan menunjukkan senyum tipisnya. "Oke lah. Suka-suka lo."

"Dih, aneh. Lo jangan langsung pulang ya, gue masih mau bahas rencana kita buat nanti malem. Tapi gue masih harus ngelarin ini." Kilau menatap layar laptopnya tanpa menoleh ke arah Dai.

"Bilang aja mau ditemenin kerja." Dai berkata pelan.

"Gue denger ya, Dai." lirik Kilau sekilas.

Dai tak lagi menjawab, niatnya hanya bersandar meringankan beban di kepala dan pundaknya tapi yang terjadi malah ngantuk datang menyerangnya. Dia merem melek merem lagi melek lagi tapi akhirnya, dia nyerah.. Matanya tertutup dengan deru nafas teratur. Tangannya terlipat di dada, kepalanya bersandar di sofa sedikit miring.

Kilau baru menyadarinya setelah beberapa saat. Dia berhenti mengetik, lalu mengangkat wajahnya. Matanya tertuju pada sosok di sofa, Kilau memperhatikan beberapa detik. Lalu tanpa sadar, ekspresinya sedikit berubah. Tidak ada sinis, Tidak ada pandangan dingin seperti biasanya.

Yang ada adalah sebuah perasaan hangat yang memenuhi hatinya. Kilau berdiri, perlahan berjalan mendekat. Langkahnya pelan, seolah tidak ingin mengganggu Dai yang masih memejamkan mata.

Kilau berdiri di dekat sofa, menatap Badai yang tertidur lelap di sana. Lelaki itu memakai kaos putih sederhana dengan kemeja tanpa dikancingkan. Rambut sedikit berantakan. Wajah lelah yang bahkan tak sempat Dai disembunyikan. Kilau menghela napas pelan.

"Lo ini ya.." gumamnya lirih sambil merapikan rambut di sekitar mata Badai. Yang diam-diam perhatian gini biasanya timbul rasa apa ya Ki ya?

1
Badai pasti berkilau
Waduhh sesek ini, kalo sampe ibunya Dai tau 🤔
Bulan-⁶
bagaimana perasaan sang ibu kalo badai masih berhubungan dengan ayahnya
Bulan-⁶
untung dai punya bekingan yang lebih kuat
Bulan-⁶
wawwwwww
Bulan-⁶
ngerti sekarang kamu dai?
Bulan-⁶
sajen nganan liat pasangan didepan mata
Bulan-⁶
kebanyakan laki gak tahan sakit, langsung manjanya kumat
Bulan-⁶
bakar aja arang biar jadi abu,, ehh nunggu besok lah bentar lagi idul adha buat bakar sate aja biar lebih berguna itu arang
p
luar biasa
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
skrg bisa seenaknya mengaggap Badai sampah yg tak layak bersanding dg keluargamu Dji..
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
Wijaya Saha Thor?
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
widih, Badai emg dabes lah Ki..
bisa diandelin buat jadi pasangan😚
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
Badai klo udah spaneng, bisa menerjang lawan sampe luluh lantak nih
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
🤣🤣🤣🤣siap2 sujud2 noh bapaknya kilau kalo tau Badai anak sultan tajir melintir 🤭
Bulan-⁶
wkwkwk aman dai gak bakalan ditampar
Bulan-⁶
sajen beneran pasangannya dedemit
Bulan-⁶
wes lah mau pura2 atau beneran pacaran juga silahkan, udah kokopan juga tadi kan
Bulan-⁶
pake tossa aja thor
Bulan-⁶
perjalanan mu masih panjang dan berliku dai
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
sombong dikit boleh kok Dai🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!