NovelToon NovelToon
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai

Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: UaOnes

Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.

Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.

Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.

Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.

Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.

Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.

Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.

Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.

Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.

Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.

Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Raksasa Keuangan

Asap rokok pipa merk Dunhill mengepul tebal dari sela bibir keriputnya, mengambang di bawah putaran kipas angin langit-langit yang berderit konstan. Udara di dalam sudut restoran tua kawasan Cikini ini terasa berat oleh aroma tembakau murni bercampur wangi kayu jati kuno.

Di atas meja bundar berkain taplak putih bersih, dua cangkir teh porselen kusam masih mengepulkan uap tipis.

Pak Soegeng menurunkan kacamata bacanya hingga bertumpu di ujung hidung, menatap dua remaja di hadapannya dengan sepasang mata kecil yang tajam.

"Herman bilang ada anak kuliahan mau sewa otak gue," suara Soegeng parau, berat, sarat akan tekanan mental seorang mantan direktur penasihat bank sentral. "Gue pasang tarif lima ratus ribu rupiah cuma buat duduk sejam di sini. Uang jajan kalian semester ini bakal habis sebelum teh ini dingin, Bocah."

Nara tidak mundur satu sentimeter pun dari sandaran kursinya. Ia menaruh map jepit plastik berwarna hitam tepat di depan piring asbak Pak Soegeng. Ketukan dokumen itu terdengar mantap.

"Ini profil perusahaan PT Samudera Inti dan CV Net Baru Indonesia, Pak," ucap Nara. Suaranya jernih, membawa ketegasan mahasiswi hukum yang terbiasa membedah pasal perikatan. "Legalitasnya sah tercatat di notaris minggu lalu. Kami datang bukan buat membuang uang jajan, tapi buat menaruh pondasi bisnis."

Pak Soegeng mendengus, melirik map itu tanpa minat untuk membukanya.

"Dua hektar rawa di Sudirman dan satu ruko rongsok di ring satu Menteng," kekeh Soegeng, nadanya meremehkan tanpa sensor. "Herman cerita lu memeras Pak Broto pakai surat tata kota fiktif, Re. Taktik gertakan calo jalanan yang lumayan cerdik. Tapi properti itu bisnis padat modal, bukan sekadar main kelabui orang tua yang lagi panik."

Regan mengambil cangkir tehnya dengan gerakan lambat. Ia meniup uap panasnya perlahan, membiarkan aroma melati memenuhi rongga hidungnya. Momen napas tenang ini ia gunakan untuk mengunci seluruh gerak-gerik pria tua di depannya.

Di kehidupan masa lalu, Pak Soegeng adalah raksasa keuangan yang mati kesepian karena menolak tunduk pada gurita bisnis kroni cendana. Dialah satu-satunya manusia yang berani menulis laporan hitam soal kerapian korupsi perbankan nasional sebelum krisis 1998 meratakan negara ini.

Regan menghormati pria tua ini di masa depan, dan ia butuh tameng kebijaksanaannya hari ini.

"Saya nggak lagi bermain properti konvensional, Pak Soegeng," Regan menaruh cangkirnya kembali ke atas lepek tegel tanpa menimbulkan bunyi gesekan. Wajah mudanya sedingin pahatan es. "Saya sedang memotong jalur likuiditas bank-bank swasta yang bulan depan bakal kolaps karena kredit macet."

Tangan Pak Soegeng yang baru saja hendak meraih pipa rokoknya mendadak berhenti di udara. Pupil matanya mengecil.

"Lu ngomong apa?" suara Soegeng turun satu oktav, tajam bagai belati.

"Likuidasi Bank Summa akhir tahun lalu itu baru sumbu kecil, Pak," lanjut Regan santai. Ia condong ke depan, menaruh kedua lengannya di atas meja. "Bapak keluar dari jajaran dewan pengawas karena laporan Bapak soal rasio utang garmen raksasa di Tangerang dirobek sama gubernur bank sentral, kan?"

Nara menahan napasnya, jemarinya yang memegang pulpen Parker memutih karena remasan yang terlalu kuat. Informasi ini tidak ada di koran bisnis mana pun. Bagaimana bisa Regan tahu isi dapur pertikaian pejabat tinggi keuangan setahun lalu?

Wajah Pak Soegeng berubah kaku, garis-garis penuaan di dahinya melipat dalam. Aura meremehkan dari pria tua itu menguap habis, digantikan oleh kewaspadaan penuh seorang predator lama yang merasa wilayah berburunya disusupi serigala baru.

"Siapa yang kasih tahu lu soal laporan itu?" desis Soegeng. "Herman nggak punya akses ke dokumen rahasia negara."

"Jalanan Glodok lebih jujur daripada laporan kliring resmi, Pak," balas Regan dingin. "Para taipan garmen sudah mulai memindahkan aset tunai mereka ke bank swasta di Singapura lewat perusahaan cangkang di British Virgin Islands. Mereka tahu badai moneter bakal datang, dan mereka bersiap meninggalkan kapal yang bocor. Bapak mau tetap duduk di sini jadi penonton sampai semua tabungan pensiun Bapak hangus?"

Pak Soegeng terdiam bisu. Pipa rokoknya ia letakkan kembali ke asbak. Ia menatap Regan bukan lagi sebagai anak kuliahan urakan yang kebetulan beruntung, melainkan sebagai anomali menakutkan yang memiliki pengamatan macroscopic melampaui zaman.

"Lalu apa hubungannya sama CV Net Baru Indonesia?" Soegeng membuka map hitam milik Nara dengan sentakan kasar. Jarinya membalik halaman cetak biru jaringan internet yang Regan rancang tangan.

"Internet adalah infrastruktur yang tidak bisa disita oleh kebangkrutan bank, Pak," jawab Regan taktis. "Saat rupiah hancur tiga tahun lagi, kendali komunikasi data antar perusahaan fiktif di Menteng ini tetap menggunakan dollar. Saya butuh Bapak sebagai wajah publik untuk menggaet investasi dari empat universitas besar di Jawa."

Nara memajukan tubuhnya, mengambil alih kendali pembicaraan dari sisi legalitas. "Kami menawarkan posisi penasihat utama dengan opsi saham lima belas persen, Pak Soegeng. Tugas Bapak cuma satu: membuka pintu meja bundar para bankir Surabaya yang minggu depan mau melakukan rapat konsorsium."

Pak Soegeng bersandar kembali ke kursinya. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan derit kipas angin tua mengisi keheningan di antara mereka. Ruthlessness atau kekejaman berhitung dari pemuda sembilan belas tahun ini bertabrakan sempurna dengan wisdom atau kebijaksanaan masa tua milik Soegeng. Pria tua itu tahu, rancangan jaringan komputer ini terlalu absurd untuk tahun 1993, tapi hitungan kejatuhan bank milik Regan terlalu presisi untuk diabaikan.

"Lu tahu kenapa orang-orang tua di atas sana nggak bakal percaya sama proposal lu ini, Re?" Soegeng membuka matanya, menatap lurus ulu hati mental Regan.

"Karena mereka pikir internet itu cuma mainan akademisi buat kirim surat elektronik teks," sahut Regan tenang.

"Bukan," potong Soegeng cepat. "Karena proposal lu ini terlalu sempurna. Lu menulis detail pergerakan kurs dollar, kebangkrutan pabrik pipa, sampai likuiditas Serpong seakan lu udah pernah melihat semuanya terjadi."

Regan membalas tatapan itu tanpa berkedip satu kali pun. Otak pria lima puluh delapan tahun di dalam dirinya tersenyum cynic. Ia memang sudah melihat semuanya. Ia sudah melihat Pak Soegeng mati serangan jantung di rumah sakit murah tahun 2002 karena miskin pasca reformasi. Kali ini, ia akan mengubah takdir pria tua ini bersama takdirnya sendiri.

"Dunia ini bergerak mengikuti angka, Pak," ucap Regan rendah. "Siapa yang memegang data masa lalu, dia bisa mendikte masa depan."

Nara merasakan gesekan ketegangan yang pekat di antara kedua pria itu. Ini bukan lagi sekadar lobi bisnis murahan di kantin kampus. Ini adalah penyatuan dua kekuatan: otot finansial masa depan dan jaringan birokrasi masa lalu. Retensi emosi di ruangan ini begitu kuat hingga pelayan restoran yang hendak mengantar air panas tambahan memilih mundur dan menunggu di balik pilar.

Pak Soegeng menutup map proposal Regan. "Bagian mana kamu berbohong?"

Regan menatapnya lama. "Semuanya benar. Justru itu yang membuatnya tidak dipercaya."

1
gina altira
trus jawab,, mau tau aja apa mau tau banget? 🤭🤭🤭
gina altira
lanjutt
Betharia Anggita Dominique
semangat kaka aku tunggu lanjutannya
fredai
Ayo lanjut..... 💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!