Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 26.
Ibu Gama terdiam membeku. Tangan yang baru saja mendarat di pipi putranya perlahan turun ke samping tubuh, suasana di ruangan itu seketika menjadi mencekam. Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan hembusan angin saja terasa begitu jelas di tengah keheningan yang menyesakkan.
Gama hanya berdiri di tempatnya. Bekas tamparan di pipinya masih terlihat merah, namun ia tidak mengatakan apa pun. Tatapannya lurus ke depan, kosong dan sulit ditebak, seolah sudah terlalu lelah untuk bereaksi.
Aurora yang menyaksikan semuanya hanya bisa membelalakkan mata. Jantungnya berdegup tidak nyaman. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata terasa tertahan di tenggorokan.
Gama berbalik dari hadapan ibunya ia membawa Aurora pergi dari rumahnya, Aurora hanya mengikuti langkah Gama, terlalu syok melihat kejadian yang menimpa Gama barusan. Tapi, sebelum mereka pergi ibu Gama menghentikan langkah mereka.
"Ibu bilang berhenti Gama!." Sentak ibu Gama.
Tatapan Gama berubah dingin. Urat di lehernya terlihat menonjol seiring napas yang ia tarik dalam-dalam. Berkali-kali ia mengatupkan rahang, mencoba meredam emosi yang terus mendesak keluar. Amarah itu ada di sana, jelas terlihat, tetapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tenang.
Aurora melihat dengan jelas amarah di mata Gama yang mencoba meredam amarahnya, Aurora di landa takut dan bingung ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa dengan kejadian ini, Aurora takut salah bicara atau bertindak.
Menghembuskan napas kasar Gama berbicara dengan membelakangi ibunya." Mau apa lagi? apa belum puas anda menampar saya?."
Dengan angkuh ibu Gama berbicara lantang." Kamu memang anak kurang ajar! begini kah cara bicaramu pada ibumu sendiri!."
"Kalau saya kurang ajar, mungkin itu kegagalan anda sebagai seorang ibu. Yang tidak pernah mendidik atau membimbing putranya sendiri." Sarkas Gama dingin.
Ibu Gama terdiam tidak berkutik setelah mendengar sarkasme yang keluar dari mulut putranya sendiri. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa perubahan ekspresi. Tidak ada tanda-tanda kemarahan, kesedihan, ataupun penyesalan yang terlihat jelas di wajah wanita itu.
Keheningan menyelimuti ruangan. Gama menatap ibunya dengan tatapan tajam, menunggu jawaban atau setidaknya reaksi atas kata-kata yang baru saja ia lontarkan. Namun wanita itu hanya berdiri diam di tempatnya.
Entah karena tidak tahu harus menjawab apa, atau memang tidak ingin menanggapi. Sikapnya yang selalu terlihat dingin dan sulit ditebak membuat suasana semakin menyesakkan.
Aurora yang berada di sana hanya bisa melirik bergantian antara ibu dan anak itu. Ia bisa merasakan ketegangan yang memenuhi mereka, tetapi yang paling membuatnya tidak nyaman adalah bagaimana Ibu Gama terlihat begitu tenang setelah semuanya terjadi.
Tidak ada pelukan, tidak ada kata maaf, bahkan tidak ada usaha untuk menjelaskan dirinya. Wanita itu hanya diam, seolah membiarkan jarak yang selama ini terbentang antara dirinya dan putranya tetap berada di sana. Dan justru keheningan itulah yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran mereka sebelumnya.
Gama tanpa pikir panjang membawa Aurora masuk ke dalam mobilnya, Gama yang terlihat sedang menahan emosi tidak mengindahkan larangan ibunya.
Di dalam mobil, suasana terasa begitu hening. Hanya suara mesin yang menemani perjalanan mereka di tengah malam yang mulai lengang.
Gama menggenggam setir dengan kuat.
Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalanan, tetapi pikirannya jelas sedang tidak berada di sana. Rahangnya mengeras, sementara urat di pelipisnya sesekali terlihat menegang. Amarah yang memenuhi dadanya masih belum menemukan jalan keluar.
Lampu-lampu jalan silih berganti memantul di wajahnya yang dingin dan tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak berniat membuka percakapan.
Di kursi penumpang, Aurora duduk dengan gelisah. Sesekali ia melirik ke arah Gama, lalu kembali mengalihkan pandangannya. Kejadian di rumah tadi masih membekas jelas di benaknya. Ia belum pernah melihat Gama semarah itu sebelumnya.
Aurora menggenggam ujung pakaiannya pelan. Ada banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, tetapi tidak satu pun berani ia ucapkan. Melihat Gama yang terus diam membuatnya semakin bingung harus bersikap seperti apa.
Sementara itu, Gama hanya terus mengemudi. Kedua matanya tertuju pada jalanan di depan, namun sorot matanya terlihat jauh. Seolah ada begitu banyak hal yang sedang ia pikirkan dan tidak ingin ia bagikan kepada siapa pun.
Keheningan memenuhi kabin mobil. Bukan keheningan yang nyaman, melainkan keheningan yang berat, dipenuhi emosi yang menggantung tanpa sempat diungkapkan. Dan untuk pertama kalinya, Aurora merasa perjalanan yang biasanya terasa singkat itu berjalan begitu lama.
"Em... kak mau mampir dulu?." Tanya Aurora hati hati.
Gama mengangguk mereka segera turun dan menuju ke rumah Aurora.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh nak Gama sini sini masuk nak."
Ibu Larasati hanya berfokus pada Gama dan mengabaikan Aurora yang merupakan putri kandungnya sendiri, Aurora merengut kesal ibunya terlihat senang sekali kalau ada Gama.
Tapi di balik itu Aurora merasa senang meski Gama tidak merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya, setidaknya Gama bisa merasakan kasih sayang atau perhatian dari ibunya.
"Nak kamu mau makan aja, itu ibu tadi masak ayam kecap sama tumis kangkung. Enak loh mau ibu siapin?." Tanya Ibu Larasati memandang Gama dengan tatapan teduh seorang ibu.
"Tapi udah dingin sih, gampang kalau kamu mau makan nanti ibu angetin bentar ya. Nggak lama kok sebentar ya sayang ibu angetin dulu."
Gama menarik napas pelan tiba-tiba Gama merasakan antara senang dan sedih, senang karna ia bisa merasakan kehangatan seorang ibu dari ibu Aurora. Sedih bagaimana pun Gama ingin merasakan kasih sayang dan perhatian dari ibu kandungnya sendiri, Gama tahu itu adalah keinginan semu yang mungkin tidak akan Gama dapatkan.
Ibu Larasati kembali lagi ke ruang tamu menyuruh Gama untuk makan malam." Ayo nak itu ibu udah di angetin tinggal makan."
"Ibu ngelupain aku ih." Aurora cemberut, ibunya seperti tidak melihat dirinya dari tadi.
"Yaudah ayo cepet kamu ini kok lelet banget." Omel Ibu Larasati.
Mereka mulai makan malam dengan tenang Aurora dan Gama fokus terhadap makanan masing masing.
"Ibu aku mau ngomong sesuatu sama ibu." Mereka bukan lagi di meja makan sekarang Aurora dan ibunya berada di kamar ibu Larasati, Gama masih berada di ruang tv sedang berbincang dengan ayah Damar.
"Ya tinggal ngomong."
"Ish, aku serius loh ibu." Rengek Aurora.
"Loh, ibu juga serius."
"Ibu sebelum kak Gama nganter aku ke sini kita ke rumah kak Gama sebentar, tapi ibu tau ibunya kak Gama ada di rumah... dan ibu tau apa yang terjadi ibu kak Gama nampar kak Gama kencang banget."
"Ibu kak Gama bukannya ngerasa bersalah. dia bahkan nggak ada ekspresi nyesel atau khawatir udah nampar putranya sendiri." Jelas Aurora.
Ibu Larasati termenung mendengar penjelasan Aurora, ia tidak menyangka bahwa meski Gama bergelimang harta. Tapi, Gama kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.