NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:945
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

"Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 26: Kemunculan Nara

"Raka mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol seperti akar pohon purba.

Matahari ke-15 di dalam dirinya berdenyut liar. "Di dalam pikiranya, ia seharusnya menyelamatkan sepuluh ribu dunia itu. Namun, di dalam hatinya, darah manusia yang mengalir menuntutnya untuk tidak membiarkan keluarganya menderita lagi.

"Raka... dengarkan aku..." suara sang kakek terdengar lemah melalui transmisi batin. "Dunia-itu... mereka adalah jiwa-jiwa yang tak berdosa.

Aku sudah hidup terlalu lama dalam siksaan ini. Akhiri penderitaanku, dan jadilah pahlawan bagi mereka."

"Tidak! Aku tidak akan kehilangan siapa pun lagi!" raung Raka.

BOOOOOMMMM!

Ledakan pertama terjadi di sektor sayap kiri Mata Kosmik.

Raka melihat sebuah bola kristal berisi dunia hutan yang indah pecah. Dalam sekejap, seluruh planet di dalamnya musnah menjadi uap karena tekanan ruang hampa yang tiba-tiba. Jutaan nyawa hilang dalam satu kedipan mata.

Raka tidak bisa lagi menunggu. Ia melesat, bukan menuju kakeknya, tapi menuju pusat sirkuit gravitasi Mata Kosmik.

"Vanya! Aku butuh bantuanmu untuk melakukan Multi-Tasking Sukma!" teriak Raka.

"Aku siap, Raka. Tapi ini akan menguras seluruh cadangan energi Matahari Sejatimu!" jawab Vanya dari dalam batin.

Raka merentangkan kedua tangannya. Dari punggungnya, muncul ribuan lengan cahaya emas yang memanjang menuju setiap bola kristal yang tersisa.

Syuuuuutttt!

Dan Raka mencoba menghubungkan dirinya dengan sepuluh ribu dunia tersebut, menjadi jangkar bagi mereka agar tidak hancur saat Mata Kosmik meledak.

Di saat yang sama, Raka menggunakan energinya untuk menendang bola kristal emas tempat kakeknya berada, mencoba melepaskannya dari mesin ekstraksi.

BRAKKKK!

"Mencoba menyelamatkan semuanya. Tidak Logis. Probabilitas Kegagalan 99%," suara mekanis sistem kembali terdengar."

Tiba-tiba, pasukan robot penjaga terakhir muncul dari celah-celah dinding.

Mereka berbentuk seperti laba-laba logam dengan laser pemotong atom.

Mereka mulai menyerang Raka yang sedang tidak bisa bergerak karena sedang menahan ribuan dunia.

Sring!

Laser-laser itu menghantam punggung Raka, merobek dagingnya.

Darah emas Raka keluar jatuh ke lantai kaca. Raka mengerang kesakitan, namun ia tetap bertahan.

"Bumi! Di mana kau?!"

Dari lubang ledakan di plafon, muncul sebuah kilatan emas. Bumi (putra Raka) mendarat dengan pedang cahayanya yang menyala hebat.

DUAR!

"Aku di sini, Ayah! Biar aku yang urus rongsokan ini!" Bumi mengamuk. Ia menebas robot-robot itu dengan kelincahan yang luar biasa.

Bugh! Duar!

"Fokuslah pada dunia-dunia itu!" Raka memejamkan mata. Ia memusatkan seluruh Matahari ke-15-nya. Tubuhnya mulai bersinar putih menyilaukan. Ia merasakan setiap detak jantung manusia di sepuluh ribu dunia itu. Ia merasakan ketakutan mereka, doa mereka, dan harapan mereka. "Matahari ke-15 Gerbang Pembebasan Universal!"

GLAAAARRRRR!

Sebuah ledakan cahaya putih yang lembut namun luar biasa kuat menyelimuti seluruh Galeri Dunia.

Bola-bola kristal itu tidak meledak, melainkan menghilang, berpindah secara instan ke koordinat-koordinat aman di alam semesta yang luas.

Raka berhasil mengirim mereka pulang.

Namun, harganya sangat mahal.

Mata Kosmik meledak sepenuhnya.

BOOOOOOMMMMMMMM!

Raka terlempar ke arah inti ledakan. Di tengah kobaran api kosmik, ia melihat bola emas kakeknya mulai retak.

Raka menjangkau dengan tangan gemetar, berhasil menangkap tubuh kurus sang kakek tepat saat mesin ekstraksi itu hancur. Mereka terlempar keluar ke ruang hampa angkasa.

Raka menggunakan sisa energinya untuk menciptakan gelembung udara kecil bagi kakeknya dan Bumi yang juga terlempar keluar. Di tengah kesunyian ruang angkasa, Raka melihat sisa-sisa Mata Kosmik yang kini hanya menjadi debu.

Namun, di kejauhan, ia melihat sesuatu yang jauh lebih menakutkan. Sebuah armada yang jumlahnya jutaan kali lebih besar dari satu Mata Kosmik ini. Ribuan "Mata" lainnya mulai berkedip, menyadari bahwa salah satu "gudang" mereka telah dihancurkan.

Raka jatuh pingsan di atas puing-puing logam, memeluk kakeknya. Bumi mencoba menarik ayahnya menjauh sebelum armada besar itu tiba.

"Ayah... kita selamat, tapi perangnya masih berlanjut," bisik Bumi sambil menatap lautan musuh di ufuk galaksi."

Planet Krios

Hampa udara dan dinginnya ruang angkasa seketika berganti dengan hantaman atmosfer yang panas dan bergejolak.

Sisa-sisa gelembung energi Raka yang retak meluncur jatuh seperti meteor menuju sebuah planet berwarna merah karat yang tersembunyi di balik sabuk asteroid raksasa.

DUARRRRR!

Hantaman itu menciptakan kawah sedalam lima meter di dataran berbatu Planet Krios. Debu belerang membubung tinggi, menutupi langit yang berwarna ungu gelap.

Bumi, putra Raka, merangkak keluar dari puing-puing dengan napas tersengal. Zirah emasnya kini retak dan kusam.

"Ayah... Kakek..." suara Bumi serak, tercekik oleh udara Krios yang berbau logam oksida.

Di tengah kawah, Raka terbaring tak berdaya. Tubuhnya dipenuhi luka bakar kosmik yang mengeluarkan uap keemasan.

Matahari ke-15 miliknya telah padam sepenuhnya, menyisakan tubuh manusia yang sangat rapuh. Di sampingnya, Sang Leluhur ke-13 juga pingsan dengan napas yang satu-satu.

Tiba-tiba, suara mekanis yang familiar terdengar dari balik bukit batu. Dua buah drone pengintai milik Sektor Terlarang muncul, lensa merah mereka berputar cepat mengunci posisi Raka.

Zinggg!

Laser pemusnah mulai terkumpul di ujung moncong drone tersebut.

Bumi mencoba berdiri, menghunuskan pedangnya yang hanya menyisakan pendar redup.

"Jangan... berani... mendekat!"

Duar!

Sebelum Bumi sempat menyerang, dua buah panah energi berwarna biru melesat dari arah kegelapan dan menghancurkan drone-drone tersebut hingga meledak menjadi serpihan logam.

BOOMS!

Sesosok bayangan melompat turun dari tebing batu dengan sangat gesit. Ia mengenakan jubah tempur taktis yang dilapisi kulit binatang lokal, wajahnya tertutup cadar hitam, namun sepasang mata tajamnya tidak bisa membohongi ingatan Raka.

"Kalian masih saja suka membuat keributan, ya?" suara wanita itu terdengar dingin namun ada nada kehangatan yang tersimpan.

Ia membuka cadarnya. Rambut pendeknya yang dulu hitam kini memiliki semburat abu-abu, dan ada bekas luka tipis di pipi kanannya, menambah kesan tangguh pada wajahnya yang masih cantik.

"Nara?" Raka berbisik lemah sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

Raka terbangun di dalam sebuah ruangan yang hangat, berbau ramuan herbal dan minyak senjata. Suara tetesan air yang jatuh ke dalam wadah logam terdengar teratur.

Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dada hingga ke ujung jarinya. Ia melihat tubuhnya dibalut oleh perban yang direndam dalam cairan berwarna biru, cairan penyembuh tingkat tinggi.

"Jangan banyak bergerak, Raka. Matahari ke-15 hampir meledakkan setiap sel di tubuhmu," ucap Nara yang sedang membersihkan belatinya di sudut ruangan.

"Nara... bagaimana kau bisa ada di sini? Terakhir kali kita bertemu di Kota Karang Hitam, puluhan tahun lalu," tanya Raka, mencoba mengatur napasnya.

Nara berdiri dan berjalan mendekati tempat tidur Raka. Ia menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan, kerinduan, penyesalan, dan kekaguman bercampur jadi satu.

"Setelah kau pergi ke dimensi atas, Sektor Terlarang menghancurkan Kota Karang Hitam karena dianggap sebagai tempat persembunyian benih-benih pemberontak. Aku tertangkap, dijadikan eksperimen, lalu dibuang ke planet pengasingan ini karena dianggap gagal.

Tapi mereka tidak tahu, kegagalan ini membangun pasukan di bawah hidung mereka."

Nara menjelaskan bahwa Krios adalah planet tambang yang ditinggalkan, dan di bawah permukaannya terdapat jaringan terowongan yang luas tempat ribuan pengungsi dari berbagai galaksi bersembunyi. Mereka menyebut diri mereka "Cahaya Terakhir".

"Bumi dan kakekmu selamat. Mereka sedang berada di ruang medikasi lain," tambah Nara.

Malam itu, di dalam markas bawah tanah yang sepi, Nara membawakan minuman hangat untuk Raka.

Suasana menjadi hening, hanya suara dengungan mesin generator di kejauhan yang terdengar."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!