NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum yang Dipaksa di Tengah Luka

POV Aluna

Akhirnya aku meiyakan permintaan walaupun mungkin aku akan mempermalukannya karena aku tidak berdansa

 Tangannya hangat.

Terlalu hangat untuk seseorang seperti dia.

Zayn menggenggam tanganku dengan mantap, menarikku perlahan ke tengah lantai dansa yang berkilau. Musik mulai mengalun—lembut, elegan, seperti sesuatu yang hanya cocok untuk orang-orang yang memang lahir di dunia ini.

Bukan aku.

Langkah kakiku terasa kaku.

Satu langkah maju.

Satu langkah mundur.

Aku bahkan tidak yakin aku melakukan ini dengan benar.

Semua mata tertuju.

Aku bisa merasakannya.

Tatapan yang sama seperti saat aku pertama kali masuk ke ruangan ini,menilai, membandingkan, mungkin… meremehkan.

Bedanya sekarang

Aku tidak sendirian.

Aku berdiri di samping Zayn.

Dan itu justru membuat segalanya terasa lebih menekan.

“Pelan.”

Suara Zayn rendah di telingaku.

Tangannya mengarahkan pinggangku dengan lembut tapi tegas.

Seolah tubuhku ini… hanya bagian dari gerakan yang harus ia kendalikan.

Aku menarik napas.

Mencoba mengikuti.

Mencoba tidak terlihat seperti orang bodoh di tengah semua ini.

Tapi tetap saja

Rasanya salah.

Semuanya terasa… bukan aku.

Aku mendekat sedikit, berdesis pelan agar hanya dia yang mendengar.

“Apa gunanya semua ini?”tanyaku

Zayn tidak langsung menjawab.

Kami masih bergerak mengikuti irama.

Langkahnya sempurna.

Langkahku… berusaha.

“Ini membosankan.”ucapku lagi

Aku mengatakannya jujur.

Tanpa ditahan.

Seperti biasa.

Zayn melirikku sekilas.

Tatapannya datar.

Lalu ia menjawab dengan nada yang hampir sama santainya

“Sama tidak bergunanya ketika kamu joget dangdutan.”

Aku langsung menatapnya.

Tidak percaya.

“Joget dangdutan itu bisa bikin keringat,” balasku cepat. “Bisa dibilang olahraga.”

Zayn mendengus pelan.

Dan untuk sesaat

Aku hampir melihat sesuatu seperti… senyum.

Tipis.

Hampir tidak terlihat.

“Anggap saja ini sama,” jawabnya.

Aku menghela napas.

Tidak tahu harus kesal atau… apa.

Langkah kami terus bergerak.

Musik masih mengalun.

Orang-orang masih memperhatikan.

Dan entah kenapa

Semakin lama aku di sini

Semakin terasa sesak.

Aku mengangkat wajah.

Menatapnya.

Benar-benar menatapnya.

“Kenapa kamu melakukan semua ini?”

Pertanyaanku keluar pelan.

Tapi lebih serius dari sebelumnya.

Zayn tidak langsung menjawab.

“Kamu tahu di sini banyak kamera,” lanjutku. “Media juga pasti sudah lihat.”

Aku melirik sekilas ke sekeliling.

Dan benar saja

Beberapa kamera masih mengarah ke kami.

Mengabadikan setiap gerakan.

Setiap ekspresi.

Setiap momen.

“Ini akan jadi masalah besar.”

Aku kembali menatapnya.

“Bagaimana nanti kamu menghadapi istrimu?”

Nada suaraku sedikit berubah.

Lebih tajam.

Lebih jujur.

“Yang drama queen itu.”lanjutku

Zayn berhenti sejenak.

Bukan langkahnya.

Tapi… tatapannya.

Lalu ia menjawab—

Tenang.

Dingin.

Seperti biasa.

“Itu urusan saya”

Aku terdiam.

“Kamu tidak perlu memikirkannya,” lanjutnya. “Nikmati saja acara ini.”

Tangannya masih memegangku.

Gerakannya tetap stabil.

Terkontrol.

“Dan tersenyumlah,” tambahnya.

Aku mengernyit.

“Untuk apa?”tanyaku

“Supaya Tuan Misra Devandra puas.”

Kalimat itu

Menusuk.

Lebih dalam dari yang aku kira.

Langkahku sedikit goyah.

Zayn menahannya.

“Tersenyum?” ulangku pelan.

Aku menatapnya.

Kali ini… lebih dalam.

Lebih lama.

“Bagaimana aku bisa tersenyum…”

Suaraku mulai bergetar.

Tanpa bisa dicegah.

“Kalau hatiku sudah terluka sejak pertama kali aku datang ke sini?”

Hening.

Musik masih berjalan.

Orang-orang masih melihat.

Kami masih bergerak

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi di dalam

Semuanya terasa berbeda.

Aku menggigit bibir.

Menahan sesuatu yang kembali naik.

“Kamu tahu rasanya seperti apa berdiri di ruangan ini?” tanyaku pelan.

Zayn tidak menjawab.

“Seperti semua orang melihatku… tapi tidak benar-benar melihat.”

Aku menelan ludah.

“Seperti aku salah berada di tempat ini.”

Tanganku sedikit menegang di genggamannya.

“Dan kamu…”

Aku menatapnya.

Lurus.

Tanpa menghindar.

“Kamu yang membawaku ke sini.”

Napas terasa berat.

“Tapi kamu juga orang pertama yang membuatku merasa… aku tidak pantas ada di sini.”

Kalimat itu keluar.

Tanpa bisa ditarik kembali.

Zayn terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak kami berdansa

Dia tidak langsung punya jawaban.

Aku tertawa kecil.

Pahit.

“Sekarang kamu minta aku tersenyum?”

Aku menggeleng pelan.

“Lucu.”

Langkah kami masih bergerak.

Tapi rasanya

Seperti dua dunia yang berbeda.

Dipaksa berjalan dalam satu irama.

“Aku sudah mencoba,” lanjutku pelan.

“Dari awal aku sudah mencoba.”

Mataku terasa panas lagi.

Tapi aku menahannya.

Tidak di sini.

Tidak di depan semua orang ini.

“Aku mencoba bicara… mencoba tidak terlihat bodoh… mencoba tidak mempermalukanmu…”

Aku menarik napas.

Dalam.

“Tapi ternyata itu tidak cukup.”

Hening.

Zayn masih memegangku.

Masih menuntunku.

Tapi aku bisa merasakan—

Ada sesuatu yang berubah.

Mungkin dia mulai mengerti.

Atau mungkin—

Dia juga bingung.

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu

"kamu masih membahas kesalahan saya,saya pikir kamu sudah memaafkan saya"ucapnya

Yang membuatku terdiam

Malam ini…

Bukan tentang dansa.

Bukan tentang acara.

Bukan tentang orang-orang yang melihat kami.

Tapi tentang satu hal sederhana—

Yang ternyata… terlalu sulit.

Menjadi diriku sendiri…

Di dunia yang tidak pernah menerimaku.

Bagaimana kisah Aluna dan Zayn selanjutnya???

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!