NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta ditengah Kiamat

Pagi di fasilitas karantina terasa berbeda. Matahari pagi yang menerangi area berpagar tidak lagi terasa seperti ancaman, tetapi seperti hadiah. Untuk pertama kalinya sejak mimpi buruk itu dimulai, mereka bisa menghirup udara (yang meskipun masih berbau disinfektan) tanpa harus terus-menerus memindai langit atau mendengarkan setiap suara desahan.

Mereka telah mandi, sarapan sederhana, dan beberapa bahkan berhasil tidur nyenyak-atau setidaknya, tanpa mimpi buruk yang membangunkan mereka dengan jeritan.

Jaemin berdiri sendirian di tepi sebuah taman kecil di dalam kompleks. Taman itu kosong, hanya beberapa bangku dan tanaman yang layu. Matanya menatap kosong ke kejauhan, pikiran melayang pada pelukan dengan Minjeong semalam, pada wajah-wajah teman yang hilang, pada ketidakpastian besok.

"Pagi," suara familiar memecah keheningannya.

Jimin menghampiri jaemin, berdiri di sampingnya. jimin juga terlihat lebih segar, meski lingkaran hitam di matanya masih dalam. "Lagi mikirin apa ?"

Jaemin tersenyum tipis. "Banyak. Tapi yang paling utama, gue lagi mikirin betapa lo hebat, Jimin. Lo bener-bener jadi tulang punggung kita. Dari awal sampe sini."

Jimin menghela napas, sedikit malu. "Gue cuma lakuin apa yang harus dilakuin. Dan gue gak sendirian. Ada Lo, Jaem. Lo juga hebat. lo selalu mikirin strategi, mikirin kelompok. Lo dan Minjeong... kalian bikin kita tetap berpikir logis di tengah kepanikan."

"Kita semua cuma saling melengkapi," jawab Jaemin sederhana. "Gue gak kebayang kalo gak ada lo yang tegas, atau Jeno yang cepat tanggap, atau Sungchan yang berani, atau... atau siapapun dari kita."

Diam sejenak. Lalu, tiba-tiba, tanpa peringatan, Jimin melangkah lebih dekat dan merengkuh Jaemin dalam pelukan hangat. Itu pelukan yang erat, penuh rasa terima kasih dan sesuatu yang lebih dalam.

...

...

Jaemin kaget, tubuhnya sedikit kaku. Tangannya tidak langsung membalas pelukan itu, hanya tergantung di sisi tubuhnya.

Jimin memeluknya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya melepaskannya. jimin mundur selangkah, wajahnya sedikit memerah, matanya menghindari kontak.

"Maaf," kata Jimin cepat. "Tiba-tiba. keliatan aneh."

"Gak kok, gak aneh," Jaemin membalas, masih sedikit bingung. "Cuma... gak nyangka aja."

Jimin menarik napas dalam, seperti mengumpulkan keberanian. jimin menatap lurus ke mata Jaemin.

"Gue... gue harus ngomong ini. " Suaranya bergetar halus.

"Gue suka sama lo, Jaemin. Bukan cuma sekedar temen atau partner dalam kepanikan. Tapi lebih dari itu."

Jaemin membeku. Ini... ini tidak terduga.

"Gue tau lo deket sama Minjeong," lanjut Jimin, tergesa-gesa, seolah takut kehilangan nyali.

"Dan gue lihat kalian semalem. Di lorong. Pelukan... . Dan gue ngerti. Gue gak mau bikin keadaan jadi ruwet, apalagi sekarang. Tapi... tapi setelah semua yang kita lewatin, setelah melihat betapa rapuhnya hidup ini... gue rasa gue harus jujur. Biar gak ada penyesalan."

jimin berhenti, menunggu reaksi Jaemin. Wajahnya campur aduk antara harap dan takut.

Jaemin memproses kata-kata itu. Hatinya berdesir campur aduk: terkejut, tersentuh, sedih, dan bingung.

"Jimin..." jaemin mulai, mencari kata-kata.

"Gue... gue gak pernah nyangka lo suka gue. Thanks gue rasa, gue... gue hormat banget sama lo. Sebagai pemimpin, sebagai teman. Lo kuat, lo peduli, lo everything . Tapi..." jaemin melihat ke arah jauh, ke arah barak dimana Minjeong mungkin sedang bersama yang lain. "Tapi maaf jimin perasaan gue... sudah ada di tempat lain.."

Jimin mengangguk pelan, ekspresinya sedikit lunglai, tapi dia tersenyum kecil-senyuman yang pahit namun menerima. "Gue tau. Gue cuma... pengen lo tau aja tentang perasaan gue. Dan gue minta maaf kalo tadi bikin lo uncomfortable. Pelukan itu... itu dari lubuk hati gue sebagai teman yang bersyukur masih bisa berdiri di sini bersama lo. Titik."

"Hei Gak perlu minta maaf," jawab Jaemin, kali ini dia yang melangkah mendekat dan meletakkan tangan di bahu Jimin. "makasih udah jujur. makasih udah jadi pemimpin yang kita butuhkan. Gue gak bisa bayangin gimana jadinya kalo gak ada lo."

Mereka saling memandang, sebuah pengertian baru terbentuk di antara mereka. Bukan sebagai rival, tapi sebagai dua sahabat yang telah melewati api bersama, dengan perasaan yang mungkin berbeda, namun dengan rasa hormat dan peduli yang sama besarnya.

"Jadi... we're fine?" tanya Jimin, sedikit ragu.

"Lebih dari baik-baik aja," Jaemin meyakinkannya dengan senyuman tulus. "Kita keluarga. Dan keluarga gak boleh hancur cuma karena perasaan yang gak bersambut."

Jimin mengangguk, lega. "Betul.

Udara pagi di fasilitas karantina seolah membawa gelombang keberanian baru. Setelah selamat dari neraka dan menyentuh sedikit rasa "aman", tembok-tembok pertahanan emosi mereka mulai retak, digantikan oleh kebutuhan mendesak untuk kejujuran.

DI DALAM TENDA MEDIS

Chenle duduk di samping tempat tidur lipat Ningning, yang sudah jauh lebih segar meski masih lemah. Suasana hening, hanya terdengar napas mereka dan suara dari luar tenda.

"Ning," Chenle mulai, suaranya gemetar. Tangannya menggenggam erat tepi tempat tidur. "Gue... gue harus ngomong sesuatu. Sebelum semuanya terjadi lagi."

Ningning menatapnya, mata besar itu penuh kelembutan. "Ngomong apa, Le?"

"Gue suka sama lo," Chenle melontarkannya langsung, tanpa filter, pipinya memerah. "Beneran. Bukan cuma karena kita sering ribut, itu malah... itu yang bikin gue suka. Lo kuat, lo ga takut ngomong apa yang lo pikirin, lo... lo Ningning." Air matanya mulai menggenang. "Dan waktu lo terluka parah... waktu lo pingsan di pundak gue, darah lo dimana-mana... dunia gue berhenti. Gue lebih takut kehilangan lo daripada takut mati dimangsa Klepek-Klepek."

chenle menunduk, tak sanggup menatap Ningning lagi, takut melihat penolakan.

Ningning tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat. Lalu, dengan usaha, dia mengangkat tangannya yang tidak terpasang infus dan merangkul Chenle, menarik kepala Chenle yang menunduk ke bahunya.

"Dasar idiot," bisik Ningning, suaranya serak namun hangat. "Lo pikir gue gak tau? Semua orang tau. Cuma lo aja yang pikir kita ribut beneran."

ningning menarik diri sedikit, lalu dengan lembut memegangi dagu Chenle, mengangkat wajahnya yang basah. "Hei, jangan nangis. Gue gak kemana-mana."

Matanya menatap langsung ke mata Chenle yang penuh harap dan ketakutan. "Oke Fine, gue juga, Gue juga suka sama lo, Le Chenle. Suka banget. Meskipun lo bawel, cengeng, dan nyebelin."

Dan sebelum Chenle bisa menjawab, Ningning mendekatkan wajahnya dan menciumnya. Bukan ciuman yang dalam atau penuh gairah, tapi ciuman yang lembut, penuh janji, dan kelegaan. Sebuah konfirmasi bahwa di tengah semua kehancuran, ada sesuatu yang manis dan murni yang berhasil bertahan.

...

...

Chenle membeku sejenak, lalu membalas ciuman itu dengan hati-hati, tangannya memegangi wajah Ningning seolah takut dia akan menghilang. Saat mereka berpisah, air mata Chenle sudah mengalir deras, tapi kali ini air mata bahagia.

"Jadi... kita official?" tanya Chenle, masih terisak.

"Iya, idiot." jawab Ningning, tersenyum kecil sambil mengusap air mata Chenle.

DI SEBUAH POJOK TAMAN

Carmen dan Jisung duduk di bangku yang sama, menjaga jarak yang sopan tapi dekat. Jisung masih terlihat agak gemetar sesekali, bekas trauma dari serangan di plaza.

"Jisung," Carmen memecah kebisuan.

"Gue... lo tau gak? gue selalu perhatiin lo. Dari dulu. Waktu lo lagi latihan basket, waktu lo ribut sama Haechan... bahkan waktu lo panik dan takut. Gue selalu ada di sana, ngeliatin lo."

Jisung menatapnya, terkejut. "Carmen? Beneran?"

"Iya. Dan waktu lo hampir... waktu di plaza itu," suara Carmen bergetar,

"gue gak kebayang kalo gue kehilangan lo sebelum gue bilang ini. Jadi... gue suka sama lo, Park Jisung. Mau lo terima atau nggak, itu perasaan gue."

Jisung diam sejenak, lalu wajahnya yang biasanya ceria perlahan-lahan merekah senyum kecil. "Gue... gue juga. Sebenarnya. Gue cuma malu soalnya lo selalu pede dan cool, dan gue... gue sering kelihatan konyol."

"Gue suka lo yang konyol itu," Carmen langsung menyambut, wajahnya merah padam. "Jadi...?"

Jisung menjawab dengan mengulurkan tangannya, dengan hati-hati memegang tangan Carmen. "Jadi kita pacaran i guess?. Tapi janji, kalo ada Klepek-Klepek lagi, kita lari bareng. Gak ada yang jadi pahlawan sendirian kayak Wonbin atau Shotaro."

...

...

Carmen mengangguk kuat, menggenggam tangan Jisung erat-erat. "Janji."

DI DEKAT GUDANG LOGISTIK

Suasana antara Giselle dan Jeno lebih tegang. Mereka berdua berdiri bersandar pada kontainer kosong, sikapnya sama-sama defensif.

"Awalnya gue pikir lo Deketin gue cuma karena gue pinter dan bisa bantu baca peta atau apalah," Giselle memulai, tanpa basa-basi. Matanya tajam.

Jeno mendengus. "Dan gue pikir lo pura-pura gak tau karena lo anggap gue cuma jock otak kosong."

"Ya karena lo emang sering acting kayak jock otak kosong!" balas Giselle.

"Dan lo acting kayak orang paling pinter yang gak butuh siapa-siapa!" Jeno membalas.

Mereka saling tatap, saling menantang. Lalu, tiba-tiba, keduanya menarik napas dalam hampir bersamaan.

"Tapi nyatanya gue suka sama lo," Jeno mengakui lebih dulu, rahangnya terkunci. "Suka sama cara lo mikir, sama cara lo tetep tenang pas ribut, sama... sama semuanya. Bahkan sama sarkasme lo yang nyebelin."

Giselle terkejut. Biasanya dingin, pipinya memerah. "Yailah, gue juga suka cara lo langsung action waktu dibutuhin. Cara lo jaga yang lain. Cara lo... gak pernah nyerah meskipun jelas-jelas takut."

giselle menunduk. "Dan gue tau lo PDKT in gue. Gue cuma... gak tau harus gimana. Dunia kita lagi mau hancur, hubungan kayak gini rumit. Apalagi sekarang."

"Sekarang justru lebih sederhana," kata Jeno, suaranya lebih lembut. "Kita gak tau besok masih hidup apa enggak. Jadi buat apa pura-pura? so,, Mau gak mau jadi pacar gue?."

Giselle akhirnya menatapnya lagi, lalu anggukan kecil keluar dari kepalanya. "Tapi kita tetep bisa debat. Dan lo harus nerima kalo analisis gue biasanya bener."

"Deal. Tapi lo juga harus nerima kalo insting gue di lapangan biasanya tajem," balas Jeno, senyum kecil akhirnya muncul.

...

...

Mereka tidak berpelukan atau berciuman. Hanya sebuah anggukan persetujuan, sebuah jabat tangan yang kuat, dan pandangan mata yang saling mengerti. Itu cukup. Bagi mereka, pengakuan itu sendiri sudah merupakan sebuah revolusi.

...

Sinar matahari pagi terasa menusuk dan tidak ramah bagi Hina. hina menemukan Haechan sendirian, tubuhnya meringkuk di bangku kayu yang lapuk, seolah ingin menyatu dengan bayangannya sendiri. Wajahnya yang biasanya penuh kelucuan dan sinar itu kini kosong, hampa, hanya mata merah bengkak yang menatap telapak tangannya sendiri yang masih ada bekas darah kering-mungkin darah Shotaro, atau darahnya sendiri.

"Haechan," suara Hina pecah, lebih lembut dari yang dia rencanakan. hina duduk di samping haechan, menjaga jarak yang cukup untuk sebuah pengakuan, namun cukup dekat untuk sebuah penolakan.

Haechan tidak langsung menoleh. Ketika akhirnya dia melakukannya, matanya yang kosong itu membuat hati Hina seperti diremas. "Hina?," gumamnya, suara serak tak berjiwa.

"Gue... ada yang harus gue katakan," Hina memulai, tangannya berkeringat dingin meski udara pagi tidak dingin. Setiap kata seperti batu yang harus dia angkat dari dadanya.

"Dari lama, sebelum dunia ini menjadi... ini. Gue selalu perhatiin lo. Saat lo nghidupin suasana kelas sama leluconmu yang receh, saat lu bisa ngebuat Chenle yang lagi panik tersenyum, bahkan saat lo pura-pura gak peduli padahal lo yang paling waspada."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata hina, tapi dia tahan. "Bagi gue, lo bukan sekadar badut. lo adalah... cahaya. Satu-satunya cahaya yang tetap menyala di tengah semua kegelapan ini. Dan gue... gue cinta sama lo, Lee Donghyuck."

Pengakuan itu menggantung di udara, rapuh dan berani. Hina menahan napas, menunggu dunia berhenti berputar.

Haechan menatapnya. Lama. Lalu, perlahan-lahan, sebuah ekspresi menyakitkan merambat di wajahnya. Bukan kejutan, tapi penderitaan yang semakin dalam. Sebuah tawa pahit terpotong dari bibirnya yang pecah-pecah.

suara haechan getir dan menusuk. "Cinta ? Hina? Lihat gue! gue cuma... cuma sampah yang beruntung masih bisa bernapas sampai detik ini! gue menjerit histeris saat mereka menyerang! gue hampir ngebunuh kita semua karena kepanikan gue! gue... gue biarin Shotaro..."

Suara haechan tercekat, tangannya mengepal hingga putih. "gue bahkan gak punya keberanian sebesar kelingkingnya! Dan lo bilang gue ini cahaya?!"

Setiap kata adalah cambukan bagi Hina, tapi juga bagi Haechan sendiri.

"Itu bukan-" Hina mencoba memotong, suaranya bergetar.

"Dan tentang perasaan gue..." Haechan memotong, matanya yang berkaca-kaca kini menatap jauh, melintasi lapangan, tertuju pada sosok Jimin yang sedang berdiri tegap mendengarkan briefing dari tentara.

"Sorry but Perasaan gue sudah terkubur di tempat lain. ke seseorang yang bahkan gak pernah ngeliat gue lebih dari sekedar si tukang iseng. orang itu begitu kuat, begitu... sempurna, sampai-sampai gue malu untuk sekedar mengakui." Air mata akhirnya jatuh, mengalir deras di pipinya yang kotor.

"Dan sekarang, setelah semua yang terjadi... gw gak pantes merasakan apapun, apalagi dicintai oleh seseorang sebaik lu, Hina."

Penolakan itu bukan sekadar "tidak". Itu adalah sebuah pernyataan hukuman untuk diri sendiri. Hina merasa dadanya sesak, bukan hanya karena ditolak, tetapi karena melihat orang yang dia cintai begitu hancur dan menyiksa diri sendiri.

hina meraih tangan Haechan yang dingin dan menggigil. "Denger hechanna," desisnya, dengan kekuatan yang tak disangka-sangka dari dalam dirinya.

"lu bukan sampah. lu manusia. Kita semua panik. Kita semua takut. lu tetep mencoba, tetep bertahan, tetep membuat kita tertawa di saat-saat yang hampir mustahil. Dan tentang perasaanmu... itu sah. Tapi jangan biarkan itu menguburmu." Air mata hina akhirnya jatuh, bercampur dengan air mata Haechan di tangan mereka yang tergenggam.

"Kita selamat, Haechan. Itu adalah kesempatan. gue akan tetep di sini. Bukan sebagai orang yang mencintaimu dengan romantis, tapi sebagai teman yang melihat cahaya itu-cahaya yang masih ada di dalam dirimu, meskipun lu sendiri tidak bisa melihatnya."

Haechan terisak, tubuhnya terguncang oleh tangisan yang tertahan terlalu lama. haechan tidak menarik tangan hina. haechan hanya menangis, untuk Shotaro, untuk ketakutannya, untuk cintanya yang tak tersampaikan, dan untuk kebaikan Hina yang justru datang saat dia merasa paling tidak layak.

Mereka duduk seperti itu untuk waktu yang lama, tangan tergenggam, di bawah matahari pagi yang kejam. Tidak ada pelukan romantis, tidak ada akhir yang bahagia. Hanya ada dua orang yang terluka, saling berbagi beban dalam keheningan yang lebih berbicara daripada kata-kata. Pengakuan Hina mungkin telah ditolak, tetapi persahabatan yang dia tawarkan justru menjadi jangkar yang mencegah Haechan tenggelam sepenuhnya dalam lautan rasa bersalah dan keputusasaannya sendiri. Di dunia yang telah berakhir ini, terkadang, jenis cinta yang bertahan justru adalah yang tidak meminta balasan.

...

Hari bergulir dengan lambat di dalam fasilitas. Kegiatan rutin-makan, pemeriksaan kesehatan, sesi debriefing singkat dengan psikolog-terasa seperti mimpi aneh. Tapi bagi Haechan, setiap detiknya dihantui oleh kata-kata Hina dan tangisannya sendiri di bangku itu. Dia merasa seperti pengecut. Hina, seorang gadis, telah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya meskipun tahu mungkin akan ditolak. Sementara dia, Haechan, yang selalu pura-pura berani dengan lelucon-leluconnya, ternyata hanya pengecut yang menyembunyikan perasaan selama bertahun-tahun.

Pandangannya tak lepas dari Jimin. Jimin yang sedang membantu membagikan selimut, Jimin yang berbicara dengan tenang kepada Sunkyung yang masih syok, Jimin yang bahkan di tengah kekacauan ini tetap menjadi poros yang memutar mereka semua. Cahaya itu-yang dulu dia kagumi dari kejauhan, yang kemudian membuatnya malu dan takut-kini terasa seperti magnet yang tak tertahankan. Jika besok tidak ada lagi... jika suatu saat Klepek-Klepek itu berhasil menerobos pagar ini... dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

Keberanian itu datang bukan seperti gelombang, tapi seperti tetesan yang perlahan mengikis batu ketakutannya. Saat matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya jingga tembaga yang indah dan ironis, Haechan melihat Jimin berjalan sendirian menuju area penyimpanan air di sudut fasilitas.

Ini waktunya.

Atau dia akan mati sebagai pengecut.

Dengan jantung yang berdebar kencang hingga terasa di tenggorokan, Haechan berjalan menyusul. Kakinya terasa seperti diisi beton.

"Jimin," suaranya terdengar serak dan aneh di telinganya sendiri.

Jimin yang sedang memeriksa jerigen air, menoleh. Ekspresi lelahnya sedikit tersaput kehangatan saat melihat Haechan. "Haechan. Ada apa? lu baik-baik aja?"

Pertanyaan sederhana itu nyaris membuat Haechan menangis. Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku jatuh cinta padamu dan aku takut dan aku merasa bersalah dan aku hampir mati.

"gue... gue perlu ngomong. Serius. Five minutes, please," pinta Haechan, mencoba meniru gaya jimin yang biasa, tapi itu jatuh datar.

Jimin mengamatinya, lalu mengangguk. "Oke. Ayo duduk di sini." jimin menunjuk dua balok beton di dekatnya.

Mereka duduk. Haechan menggigit bibirnya, matanya menatap tanah, tak sanggup melihat wajah Jimin.

"Jimin... lo tau gue dari dulu selalu ngejailin lo, gangguin lo, bikin lo kesel," Haechan mulai, kata-katanya berantakan.

"Itu... itu karena gue idiot. Dan pengecut. Gue pikir kalo gue bikin lu marah atau kesel, lu bakal nge-liat gue. Lebih dari sekedar... wakil ketua yang liat anggota nya kurang kerjaan."

Jimin terdiam, mendengarkan. "Ya terus?"

"Sebenernya..," Haechan menarik napas dalam, berusaha mengumpulkan semua sisa keberanian di jiwa yang remuk redam itu. "

Sebenernya, gue nge-liat lu bukan cuma sebagai wakil ketua kelas atau pemimpin. Gue liat lu sebagai... sebagai seseorang yang luar biasa. Dari dulu. Waktu lu latihan taekwondo sampek capek sendiri, waktu lo ngotot ngejar nilai bagus buat beasiswa, waktu lo tetep tegas meskipun semua pada ribut... gue selalu... kagum. Dan itu berubah jadi... jadi perasaan yang lain."

haechan berhenti, menunggu dunia runtuh. Tapi hanya ada keheningan.

"Dan waktu semua ini terjadi," lanjut haechan, suaranya semakin kecil, penuh rasa sakit. "Waktu lo berdiri di depan kita, ngejaga kita, bahkan nyaris mati... perasaan itu... itu jadi lebih kuat. Tapi juga sekaligus bikin gue makin malu. Karena lu pahlawan, dan gue... gue cuma Lee Donghyuck si pengecut yang bisanya cuma bikin lelucon."

Akhirnya, haechan memaksa dirinya untuk menatap Jimin. Air mata sudah mengalir tanpa disadari. "Yang perlu lo tau, Gue suka sama lo, Yu Jimin. Bukan sebagai teman, bukan sebagai pemimpin. Tapi lebih dari itu. Dan gue tahu ini gila, waktu yang salah, dan lu pasti punya perasaan sama orang lain atau... atau gak mau mikirin hal kayak gini sekarang. Tapi setelah Shotaro... setelah gue hampir kehilangan semuanya tanpa pernah ngomong... gue gak bisa diam lagi. Meskipun gue tau lu bakal nolak, marah, atau cuma kasihan... setidaknya sekarang lu tau perasaan gue."

Pengakuan itu tergantung di udara senja yang berdebu. Haechan merasa kosong, habis, seperti semua tenaga dan rasa malunya telah tercurah.

Jimin memandanginya. Wajahnya yang biasanya mudah dibaca-tegas, khawatir, marah-kini sulit ditebak. jimin tidak terkejut, tidak marah, juga tidak tersenyum. Ada sesuatu yang dalam dan rumit di matanya.

"Haechan-ah," ucap Jimin akhirnya, suaranya tenang namun berat.

"gue... gue ngehargain kejujuranmu. gue tahu butuh keberanian yang besar untuk mengatakan itu, apalagi sekarang."

jimin jeda, memilih kata-kata. "Dan gue gak marah kok. gue juga gak ngerasa kasihan. Yang gue rasain... adalah rasa terima kasih. Karena lu mempercayai gue."

Haechan menahan napas.

"Tapi," lanjut Jimin, dan kata itu seperti pisau tumpul di dada Haechan,

"lo benar. Ini adalah waktu yang sangat sulit. Dan perasaan gue... saat ini, tertuju pada gimana caranya jaga kita semua tetep hidup, tetap waras. Bukan pada hal-hal romantis"

Haechan mengangguk pelan, rasa hancur itu pasti terpancar di wajahnya, tapi dia berusaha tersenyum getir. "Gue ngerti. Bener-bener ngerti. Dan gue gak berharap apa-apa. Cuma... cuma pengen lo tau aja. Biar gue gak nanggung beban ini sendirian lagi."

Jimin menarik Haechan ke dalam pelukannya, erat. Sebuah pelukan yang kuat, menenangkan, dan penuh dengan pengertian. Tangannya yang satu menepuk-nepuk punggung Haechan, sementara yang lain membelai rambut Haechan yang kusut dengan lembut.

...

...

"Gak apa-apa, Chan," bisik Jimin di telinganya, suaranya berat namun menenteramkan. "Gak apa-apa udah ngomong. Udah gak usah dipendem sendiri lagi. Gue di sini. Kita semua di sini. lo bukan pengecut, Haechan. lo salah satu orang paling berani yang kukenal. Berani untuk tetep bisa tersenyum, berani untuk ngakuin ketakutan lo, dan sekarang, berani untuk jujur. gue akan selalu ngehargain lo, sebagai teman yang sangat berarti. Dan mungkin, suatu hari nanti, kalau dunia ini mulai berputar dengan benar lagi... kita bisa bicara tentang banyak hal. Tapi untuk sekarang, izinkan aku fokus menjadi pemimpin yang kalian butuhkan. Bisakah lo nerima itu?"

Haechan, yang selama ini menahan tangis, akhirnya pecah. haechan menangis tersedu-sedu, tubuhnya terguncang hebat. Bukan tangisan cengeng, tapi tangisan pelepasan dari semua ketakutan, rasa bersalah, dan beban yang telah dipendam terlalu lama. Tangisan untuk Shotaro, untuk dirinya yang merasa pengecut, untuk perasaannya yang tak tersampaikan, dan untuk kenyataan pahit bahwa dunia mereka telah berakhir.

Jimin hanya terus memeluknya, membiarkan Haechan menangis sampai habis. Dia tidak berkata-kata lagi. Hanya kehadiran dan pelukannya yang berbicara: Kau tidak sendirian. Kau diperbolehkan untuk hancur. Aku menangkapmu.

Itu bukan penolakan yang kejam. Itu penolakan yang penuh kasih dan tanggung jawab. Rasa sakit itu masih ada, tajam dan dalam, tapi ada juga kelegaan yang aneh. Beban itu akhirnya terangkat. Dan pengakuan Jimin bahwa dia 'berani' dan 'berarti'... itu lebih dari yang pernah dia harapkan.

...

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!