Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Hujan yang turun di luar sana semakin deras, membasahi kaca depan mobil muscle Ezzra hingga menciptakan tirai air yang memisahkan mereka dari dunia luar.
Di dalam kabin yang sempit dan beraroma maskulin itu, ketegangan merayap naik seperti kabut dingin. Ezzra mencengkeram kemudi dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, dan tatapannya terpaku lurus pada jalanan yang mulai licin, namun pikirannya jelas tertinggal di depan gerbang apartemen tadi.
"Apa Felix benar-benar cinta pertamamu, El?" tanya Ezzra tiba-tiba. Suaranya rendah, namun ada getaran tajam yang tak bisa disembunyikan. Itu bukan sekadar rasa ingin tahu; itu adalah nada cemburu yang murni dan pahit.
Elowen tersentak, kepalanya yang sedari tadi bersandar di jendela kini tegak sempurna. Ia menoleh ke arah Ezzra, melihat profil samping wajah pria itu yang tampak begitu kaku. "Ezzra, Jeff hanya bicara sembarangan. Kau tahu bagaimana dia suka berasumsi tentangku."
"Jeff memang menyebalkan, tapi dia tidak akan menyebut nama kakak kandungmu sebagai saingannya jika tidak ada dasarnya," sahut Ezzra, kini suaranya meninggi satu oktav. "Cinta pertama? Pria yang kau cari bayangannya dalam diri setiap orang? Apa itu alasan kau membiarkan si pengecut Jeff itu mengurung mu? Karena kau melihat Felix kakak mu dalam dirinya?"
Elowen merasakan dadanya sesak. Membahas Felix adalah seperti mengorek luka lama yang belum benar-benar kering. "Ezzra, kumohon... jangan bahas Kak Felix lagi."
"Kenapa? Karena itu menyakitkan? Atau karena kau takut aku akan tahu seberapa besar tempat yang ia miliki di hatimu yang bahkan tidak bisa ku sentuh?" Ezzra memukul kemudi dengan telapak tangannya, menciptakan bunyi klakson singkat yang membelah keheningan hujan.
Elowen belum pernah melihat Ezzra seperti ini. Pria ini biasanya selalu punya kendali, selalu merasa di atas angin dengan segala kesombongannya. Namun sekarang, di depan matanya, Ezzra Velasquez tampak seperti anak kecil yang sedang ketakutan kehilangan mainan berharganya. Ada kerentanan di balik amarahnya yang meledak-ledak.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elowen merasa perlu melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: membujuk seorang pria.
"Ezzra, lihat aku," bisik Elowen, tangannya yang gemetar perlahan terulur dan menyentuh lengan kekar Ezzra yang masih mencengkeram kemudi. "Jangan cemburu pada bayangan masa lalu. Kau... kau tetap pemenangnya, Ezzra. Kau yang ada di sini sekarang."
Namun, Ezzra tidak melunak. Ia justru mendengus sinis, matanya berkilat marah. "Pemenang? Bagaimana aku bisa menang melawan seseorang yang sudah menjadi standarmu dalam mencintai? Aku ini hanya berandal yang merusak hidupmu, El. Sedangkan dia? Dia adalah malaikat pelindungmu yang suci."
Elowen menarik napas panjang, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka selama beberapa detik sebelum Elowen akhirnya membuka suaranya dengan nada yang sangat lirih.
"Kau ingin tahu alasan sebenarnya kenapa aku mencoba bunuh diri di hotelmu waktu itu?"
Ezzra tertegun. Injakan nya pada pedal gas mengendur. Ia melirik Elowen, melihat gadis itu kini menangis tanpa suara.
"Aku merasa lebih baik mati saja, Ezzra," lanjut Elowen, suaranya bergetar hebat. "Setahun aku bersama Jeff, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku sudah sembuh. Tapi kenyataannya? Perasaanku pada Kak Felix tidak pernah bisa hilang. Itu adalah perasaan terlarang, sesuatu yang menjijikkan, namun aku tidak bisa mengontrolnya. Jeff... dia hanya topeng. Aku bersamanya hanya untuk menghukum diriku sendiri, mencari sosok pelindung agar aku tidak gila karena merindukan Felix."
Ezzra mendadak menginjak rem dengan cukup keras, membuat mobil itu berhenti di bahu jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah Elowen, wajahnya pucat pasi. Informasi ini menghantamnya lebih keras daripada kecelakaan balap mana pun yang pernah ia alami.
"Kau... kau melakukan itu karena kau mencintai kakakmu sendiri?" tanya Ezzra, suaranya hampir tidak terdengar.
Elowen mengangguk pelan, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya. "Aku tidak tahan dengan rasa bersalah itu. Aku merasa tidak pantas hidup di tengah keluarga Valerio yang begitu sempurna. Malam itu, aku merasa sudah mencapai titik nadir. Aku ingin semuanya berhenti."
Ezzra terdiam. Amarahnya yang meluap-luap tadi menguap begitu saja, digantikan oleh rasa iba dan protektif yang sangat dalam. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan dan kecantikan Elowen, ada sebuah tragedi sunyi yang menghancurkan gadis ini dari dalam.
Tanpa berkata apa-apa, Ezzra melepaskan sabuk pengamannya dan menarik Elowen ke dalam pelukan yang sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di leher Elowen, menghirup aroma rambut gadis itu yang selalu membuatnya tenang.
"Hanya dalam waktu sebentar setelah malam pertama kita... aku langsung jatuh cinta padamu, El," bisik Ezzra di telinga Elowen. "Padahal selama ini, kau tahu sendiri, tidak ada satu pun wanita yang benar-benar singgah di hatiku. Mereka hanya pelampiasan. Tapi kau... kau berbeda."
Elowen terisak di dada Ezzra, merasakan kehangatan yang belum pernah ia dapatkan dari Jeff.
"Semoga kau juga bisa merasakannya suatu saat nanti," lanjut Ezzra, suaranya kini terdengar penuh harap. "Semoga kau bisa melupakan Felix. Aku tidak peduli seberapa rusak hatimu, aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta padaku. Aku akan memberikanmu alasan untuk hidup yang bukan karena rasa bersalah, tapi karena kau ingin bersamaku."
Elowen perlahan menjauhkan wajahnya dari dada Ezzra. Ia menatap wajah pria di depannya. Ia baru menyadari bahwa sudut mata Ezzra juga basah. Pria yang ia anggap berandalan tak berperasaan ini sedang menangis untuknya.
Elowen mengulurkan tangannya, menghapus air mata di pipi Ezzra dengan ibu jarinya. Sebuah senyum tipis, namun tulus, muncul di bibir pucat-nya.
"Terima kasih, Ezzra," ucap Elowen lembut. "Kehadiranmu saja... sebenarnya sudah cukup. Kau sudah melakukan lebih banyak daripada yang kau sadari."
Ezzra meraih tangan Elowen dan mencium telapak tangan itu hingga ke bekas luka di pergelangan tangan nya dengan penuh hormat, sebuah gestur yang sangat tidak "Ezzra" namun terasa sangat nyata. "Aku tidak akan membiarkanmu merasa ingin mati lagi. Mulai hari ini, setiap kali kau merindukan Felix, panggil aku. Aku akan membuatmu melupakan namanya dengan caraku sendiri."
Elowen terkekeh kecil di tengah sisa tangisnya. "Kau benar-benar sombong, Velasquez."
"Aku memang sombong karena aku tahu aku lebih baik untukmu daripada bayangan mana pun," jawab Ezzra, kini kembali dengan kepercayaan dirinya yang biasa.
Ia menyalakan kembali mesin mobilnya, deru mesin yang kuat kembali memenuhi kabin. Hujan masih turun, namun suasana di dalam mobil tidak lagi mencekam. Ada pemahaman baru yang terbangun di antara mereka—sebuah rahasia yang kini mereka bagi berdua.
Ezzra melajukan mobilnya menuju tempat observasi Elowen. Sepanjang sisa perjalanan, tangan kirinya tidak pernah melepaskan genggaman tangan kanan Elowen, seolah ia takut jika ia melepaskannya, gadis itu akan kembali menghilang ke dalam kegelapan pikirannya sendiri.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah gedung tua di pinggiran kota, tempat di mana Elowen harus melakukan tugasnya. Ezzra memarkirkan mobilnya dan menatap Elowen sekali lagi.
"Aku akan menunggumu di sini. Jangan lama-lama, atau aku akan masuk dan menyeret mu keluar jika aku merindukanmu," goda Ezzra.
Elowen tersenyum, kali ini matanya benar-benar berbinar. "Tunggu aku, Sayang."
Mendengar kata itu keluar secara alami dari bibir Elowen, Ezzra merasa jantungnya meledak. Ia melihat Elowen turun dari mobil dengan langkah yang lebih ringan.
Jeff mungkin memegang masa lalu Elowen dengan topeng keselamatannya, tapi Ezzra tahu, hari ini ia baru saja memenangkan satu pertempuran paling krusial dalam merebut jiwa Elowen Valerio dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...