No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh di Bawah Cermin Es
Sisa-sisa kelopak bunga persik yang layu terbang tersapu angin, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menekan daripada bisikan sebelumnya. He Xueyi tidak membuang waktu. Ia melangkah mantap, mengikuti tarikan benang energi ungu yang kini menunjuk lurus ke arah jantung hutan, di mana pepohonan pinus tak lagi melayang, melainkan tumbuh bengkok seperti jari-jari raksasa yang mencoba mencengkeram langit.
"Tuan, wanita tadi menyebut soal 'pengkhianat'," ucap Bian Zhi sambil membersihkan sisa salju di payungnya. Matanya tetap waspada, memindai setiap bayangan di antara pohon. "Secara logika, jika dia yang bangun, maka Jantung Naga hanyalah umpan untuk memancing Anda ke sini."
"Aku tahu, Bian Zhi. Logikanya sangat sederhana," He Xueyi menyahut tanpa menoleh. "Seseorang ingin memastikan aku berada di titik terjauh dari Paviliun saat segel ini pecah. Masalahnya adalah... siapa di antara kenalanku yang punya selera rendahan dengan aroma persik busuk seperti ini?"
Langkah mereka terhenti saat tanah di bawah kaki mereka tak lagi terasa seperti salju empuk, melainkan permukaan yang keras, licin, dan bening. Mereka telah sampai di Danau Cermin Biru. Di bawah lapisan es setebal lima meter, samar-samar terlihat siluet raksasa yang melingkar—sang Naga yang seharusnya tertidur. Namun, di atas dada sang Naga, tampak sebuah bola cahaya merah yang berdenyut tidak beraturan.
"Itu Jantung Naganya!" seru Xiao Bo, gemetaran di balik jubah He Xueyi. "Tapi... warnanya kenapa jadi merah darah? Biasanya kan emas suci!"
"Karena dia sedang 'diberi makan', Xiao Bo," mata He Xueyi menyipit. Ia berjongkok, menyentuh permukaan es dengan ujung jarinya yang dingin. "Bukan naga itu yang bangun. Lihat di bawah cakarnya."
Bian Zhi mendekat, dan jantungnya (yang seharusnya tenang) berdegup kencang. Di bawah cakar naga itu, tertindih di dasar danau, ada sebuah peti mati perak yang rantainya sudah putus satu per satu. Puluhan mayat prajurit berpakaian kuno Chang'an tampak membeku di sekelilingnya, posisi mereka seperti sedang berusaha menahan tutup peti itu agar tidak terbuka.
"Secara logika," He Xueyi berdiri kembali, suaranya kini terdengar sangat serius, "pencurian ini bukan tentang kekuatan naga. Ini tentang ritual pelelehan. Cahaya merah itu adalah panas yang dipaksakan untuk mencairkan es abadi ini dari dalam."
KREEEEKKKK...
Suara retakan besar bergema dari dasar danau. Getarannya sanggup membuat Xiao Bo terjungkal.
"Bian Zhi, tancapkan pedangmu ke titik pusat gravitasi es ini! Sekarang!" perintah He Xueyi.
Tanpa bertanya, Bian Zhi melompat ke udara, memutar tubuhnya, dan menghujamkan pedangnya ke permukaan danau. Ledakan energi Yin menghantam es, mencoba membekukan kembali retakan yang mulai menjalar. Namun, dari bawah sana, sebuah tangan pucat dengan kuku hitam panjang tiba-tiba menghantam es dari dalam, tepat di bawah kaki He Xueyi.
"He... Xue... yi..." sebuah suara parau, seperti gesekan logam berkarat, merembes keluar dari celah es.
He Xueyi tidak melompat mundur. Ia justru mengarahkan Lenteranya tepat ke arah tangan itu. "Secara logika, jika kau adalah pengkhianat yang dimaksud, seharusnya kau punya pintu masuk yang lebih elegan daripada menghancurkan properti alam seperti ini. Keluar kau, Jenderal Tua! Atau kau mau aku menuangkan minyak mawar mendidih ke dalam lubang itu?"
Permukaan danau meledak. Pecahan es raksasa melesat ke segala arah. Dari dalam air yang dingin mematikan, bangkitlah sosok pria tinggi dengan zirah Chang'an yang sudah hitam legam. Wajahnya tertutup topeng perunggu setengah hancur, namun matanya memancarkan api merah yang penuh kebencian.
"Lama tidak jumpa, Penjaga Paviliun," pria itu mengangkat pedang besarnya yang berlumuran darah hitam. "Terima kasih sudah membawakan Jantung Naga ini untukku. Tanpa energi murni dari lenteramu tadi, es ini tidak akan pernah cukup rapuh untuk kuhancurkan."
He Xueyi terdiam sejenak, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Ah, sial. Secara logika... aku baru saja kena tipu 'umpan balik'. Bian Zhi, sepertinya kita tidak jadi makan camilan malam ini. Kita harus mengubur orang ini lagi sebelum dia merusak tatanan logistik di Chang'an!"