Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26.Teman di Saat Susah
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Suasana di dalam kamar masih terasa sunyi dan mendayu. Aisyah masih meringkuk di balik selimut, matanya yang bengkak menatap layar ponsel yang gelap, namun pikirannya terus menerus melayang memikirkan kemarahan Mama dan kebingungan tentang takdirnya.
Tiba-tiba...
TRING... TRING... TRING...
Nada dering ponselnya berbunyi nyaring memecah keheningan. Nama yang tertera di layar membuat Aisyah sedikit tersentak.
"ILVA ❤️"
Itu Ilva, sahabat dekatnya sejak lama. Teman yang paling tahu segalanya tentang Aisyah, teman yang selalu ada di saat senang maupun sedih.
Aisyah buru-buru mengusap air mata yang baru saja menggenang, lalu menggeser tombol hijau dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Halo..." jawab Aisyah pelan, suaranya terdengar sangat parau dan serak, jelas sekali terdengar baru saja habis menangis panjang.
"Assalamu’alaikum... Eh Aisyah? Lo kenapa suaranya gitu?!" terdengar suara Ilva dari seberang sana yang langsung terdengar kaget dan panik. "Lo sakit atau gimana? Tadi pagi gue liat absen lo kosong, gue kira lo telat bangun, tapi kok suaranya ancur banget gini?"
Aisyah menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh sahabatnya.
"Wa’alaikumsalam... Enggak Va... Gue nggak sakit badan kok..." jawab Aisyah terbata-bata. "Cuma... cuma lagi nggak enak badan dikit, terus juga... juga lagi sedih banget."
"Hah?! Sedih kenapa?! Ada apa sih Syah? Cerita sama gue! Jangan dipendam sendiri!" seru Ilva tidak terima, suaranya penuh perhatian. "Gue dengar-dengar dari orang kemarin di kampus ada kejadian heboh lho! Katanya pak Aqlan pingsan terus dilarikan ke RS? Terus katanya lo yang nemenin sampe nangis-nangis gitu? Beneran?"
Mendengar nama itu disebut, air mata Aisyah kembali tak tertahankan.
"Iya Va... Bener..." isak Aisyah pelan. "Tapi bukan cuma itu Va... Masalahnya sekarang... Mama Aisyah marah besar banget sama Aisyah. Mama marah karena kira Aisyah ngerebut laki-laki orang, padahal kan... padahal kan itu semua salah paham..."
"Hah?! Maksud lo apa? Salah paham gimana?" tanya Ilva makin bingung sekaligus geram. "Kan gue udah bilang dari dulu, cewek yang kemarin bareng Gus Aqlan itu adiknya! Bukan pacarnya! Kenapa Mama lo bisa mikir gitu sih?"
"Itulah Va... Mama kan dulu dengar kabar yang salah terus langsung percaya. Sekarang Aisyah mau jelasin, Mama malah makin marah dan ngamuk. Mama larang Aisyah ketemu Gus Aqlan lagi, Va..." Aisyah menangis semakin kencang di telepon. "Aisyah bingung banget... Kenapa ya jalan cinta kita selalu ada aja halangannya? Padahal baru kemarin ingatan dia balik, baru kemarin kita sadar kalau kita itu jodoh dari kecil..."
"HAH?! JODOH DARI KECIL?!" Ilva berteriak kaget di telepon. "Waduh! Serius lo Syah?! Jadi beneran gitu ceritanya? Ya Allah... Itu mah takdir banget!"
"Iya Va... Bunda Maryam sendiri yang cerita ke Aisyah. Tapi sekarang Mama nggak percaya dan nggak mau tahu. Aisyah harus gimana dong? Aisyah sayang banget sama dia Va... Aisyah nggak mau jauh-jauh..."
Ilva di seberang sana terdiam sejenak, lalu suaranya berubah menjadi lebih lembut dan menenangkan, berusaha menjadi pendengar dan penasihat terbaik bagi sahabatnya.
"Dengerin gue ya Sayang... Jangan nangis terus dong. Nanti cantiknya ilang lho," ucap Ilva lembut. "Mama lo marah gitu karena dia sayang sama lo, dia takut lo sakit hati karena salah paham dulu. Itu wajar kok sebagai seorang ibu."
"Tapi masalahnya kan sekarang semua udah jelas kan? Udah ketemu orang tuanya, udah ingat masa lalu..."
"Iya..." potong Aisyah lirih.
"Berarti tugas lo sekarang cuma satu... Sabar!" tegas Ilva. "Jangan lawan omongan Mama, tapi juga jangan nyerah sama perasaan lo. Biarin dulu emosi Mama reda. Nanti juga Papa lo atau Kak Fauzi yang bakal jelasin pelan-pelan sampai Mama ngerti."
"Lo itu kuat, Syah. Lo udah nunggu bertahun-tahun, masa cuma gara-gara marahan sebentar langsung nyerah? Ingat janji masa kecil itu! Ingat gimana susahnya dia ingat lagi!"
Ilva tertawa kecil di telepon, mencoba mencairkan suasana.
"Udah ah... jangan nangis mulu. Nanti Gus Aqlan tahu istrinya lagi nangis sedih gini, dia bisa kumat lagi pingsannya lho karena kasihan. Lo istirahat ya, nanti kalau udah agak enakan, gue main ke rumah ya bawain martabak kesukaan lo!"
Aisyah tersenyum tipis mendengar ucapan sahabatnya itu. Hatinya terasa sedikit lebih lega dan hangat. Ternyata, di dunia ini masih ada orang yang percaya padanya, yang mendukungnya, dan yang menyayanginya tulus.
"Makasih ya Va... Makasih banyak udah dengerin curhat gue yang panjang lebar..." bisik Aisyah.
"Santai aja! Sahabat buat apa selain buat gini? Udah ya, tidur lagi sana, istirahat! Bye bye Aisyah yang cantik!"
Tut... Tut... Tut...
Panggilan terputus. Aisyah meletakkan ponselnya di dada, menatap langit-langit kamar.
"Iya Va... Aisyah harus kuat. Aisyah nggak boleh nyerah. Ini cinta yang udah ditulis Tuhan dari lama, pasti ada jalan keluarnya..." gumamnya pelan menguatkan hati sendiri.
BERSAMBUNG...