NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota tanpa wajah Dan gadis penenun Racun

Tanah Tak Bertuan bukan sekadar wilayah yang tidak berpenghuni; itu adalah sebuah labirin hidup di mana hukum alam telah bengkok. Di sini, gravitasi terkadang terasa dua kali lebih berat, dan kompas hanya akan berputar gila seperti mengejek penggunanya.

Ming Luo berjalan terseok-seok, menggunakan dahan pohon hitam yang mati sebagai tongkat penyangga. "Secara logika," ia mengatur napas, "jika kita terus berjalan tanpa arah di bawah kabut ungu ini, paru-paru kita akan berubah menjadi kristal dalam waktu enam jam. Kita butuh tempat untuk memurnikan udara."

Yuan berhenti di depan sebuah jurang yang tertutup kabut tebal. Matanya yang merah berkilat, mencoba menembus tabir sihir yang menyelimuti tempat itu. "Ada pemukiman di bawah sana. Aku mencium bau asap pembakaran... dan bau besi yang sangat kuat."

"Asap? Di tempat seperti ini?" Ming Luo mengernyit. "Hanya orang gila atau monster yang mau membangun kota di wilayah anomali."

"Atau orang-orang yang tidak lagi dianggap manusia oleh Kekaisaran," jawab Yuan dingin.

Kota Tanpa Wajah

Setelah menuruni tebing terjal, mereka sampai di depan sebuah gerbang kayu yang dihiasi dengan ribuan topeng manusia yang berbeda ekspresi—ada yang menangis, tertawa, hingga berteriak ketakutan. Nama tempat itu terukir di papan tua yang hampir busuk: Kota Tanpa Wajah.

Begitu mereka masuk, suasana terasa mencekam namun sibuk. Penduduknya berjalan dengan wajah yang ditutupi kain hitam atau topeng kayu. Tidak ada yang bicara. Semua komunikasi dilakukan dengan isyarat tangan.

"Ming Luo, jangan lepaskan pedangmu," bisik Yuan. Ia merasakan ribuan pasang mata sedang mengawasi mereka dari balik jendela-jendela rumah yang reyot.

Tiba-tiba, seorang gadis kecil dengan pakaian compang-camping berlari ke arah mereka. Namun, bukannya meminta koin, ia melempar sebuah bola kecil berisi asap hijau ke arah kaki Ming Luo.

Pshhhhh!

"Ugh! Racun?!" Ming Luo segera menutup hidungnya. "Secara logika, penyambutan ini sangat tidak sopan!"

"Jangan bergerak," sebuah suara perempuan yang jernih namun sedingin es terdengar dari atas atap bangunan.

Seorang wanita melompat turun dengan anggun. Ia mengenakan pakaian kulit berwarna hijau tua dengan banyak kantung kecil berisi botol-botol kimia di pinggangnya. Di tangannya, ia memegang sebuah jarum panjang yang mengeluarkan uap beracun.

"Pemanah Naga dan Jenderal Pengkhianat," ucap wanita itu sambil menyilangkan tangan. "Kabar tentang kalian berdua menyebar lebih cepat daripada wabah. Kekaisaran menawarkan sepuluh kota bagi siapa saja yang bisa membawa kepala kalian ke Ibukota."

Yuan mengangkat Busur Kerangka Naganya, namun ia tidak menarik tali busurnya. "Dan apakah kau salah satu pemburu hadiah itu... Gadis Penenun?"

Wanita itu tertawa hambar. "Namaku Yue Yin.

Dan di kota ini, kami tidak butuh emas Kekaisaran. Kami butuh sesuatu yang lebih berharga: Darah Naga untuk menghentikan kutukan anomali di wilayah ini."

Ming Luo melangkah maju, meskipun wajahnya pucat. "Dengar, Yue Yin.Secara logika, jika kau membunuh kami sekarang, kau hanya akan mendapatkan darah naga yang terkontaminasi amarah. Tapi jika kau membantu kami memulihkan diri, kami bisa memberikanmu akses ke arsip pengobatan Kekaisaran yang aku curi."

Yue Yin terdiam sejenak. Matanya yang tajam menatap luka di perut Ming Luo, lalu beralih ke aura gelap yang menyelimuti Yuan. "Luka temanmu itu terkena racun energi Tetua Agung. Jika tidak diobati dengan ekstrak bunga Nightshade yang hanya tumbuh di perut monster Earth-Crusher, dia akan berubah menjadi patung batu dalam dua hari."

Yuan menatap Ming Luo yang mulai membeku di bagian ujung jari-jarinya. Kemarahan kembali membakar dadanya. "Di mana monster itu?"

"Di lembah terdalam Tanah Tak Bertuan," jawab Yue Yin "Tapi kau tidak bisa pergi sendirian. Monster itu kebal terhadap serangan fisik murni. Kau butuh racun pelunak zirah buatanku."

"Apa maumu sebagai imbalan?" tanya Yuan.

Yue Yin mendekati Yuan, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Yuan yang dingin. "Aku ingin kau membawa roh naga di dalam tubuhmu itu untuk masuk ke dalam 'Sumur Jiwa' kota ini. Kami butuh energinya untuk menyalakan kembali segel pelindung kami yang mulai meredup."

“JANGAN MAU, YUAN-ER! WANITA INI LICIK!” teriak Ao Kuang di kepala Yuan.

Namun Yuan melihat ke arah Ming Luo yang mulai menggigil hebat. Sahabatnya itu telah mempertaruhkan segalanya demi dirinya. Secara logika—seperti yang selalu dikatakan Ming Luo—ia tidak punya pilihan lain.

"Sepakat," ucap Yuan tegas.

Yue Yin tersenyum penuh rahasia. "Bagus. Selamat datang di Kota Tanpa Wajah. Tempat di mana masa lalu kalian tidak penting, tapi masa depan kalian adalah milikku."

"Jangan bergerak," suara itu terdengar seperti gesekan sutra di atas pedang.

Wanita itu melompat turun dari atap kuil tua yang miring. Jubahnya berwarna hijau lumut dengan sulaman perak yang membentuk pola jaring laba-laba. Di jemarinya, terselip jarum-jarum tipis yang mengeluarkan uap ungu samar.

"Pemanah Naga dan Jenderal Pengkhianat," ucap wanita itu dingin. "Namaku Yue Yin. Di Kota Tanpa Wajah ini, emas Kekaisaran tidak ada harganya. Kami hanya menerima bayaran berupa barter nyawa... atau sesuatu yang setara."

Yuan tidak menurunkan busurnya. "Ming Luo terkena racun energi dari Tetua Agung. Kau bilang kau punya penawarnya?"

Yue Yin melirik tangan Ming Luo yang sudah mulai mengeras seperti batu giok abu-abu. "Racun Penyegel Sukma. Secara logika—ah, Jenderal, aku tertular cara bicaramu—temanmu ini akan menjadi patung abadi dalam dua hari jika kau tidak memberinya sari bunga Nightshade dari jantung monster Earth-Crusher."

Misi di Lembah Besi Tua

Yuan menatap Ming Luo yang mulai kesulitan menggerakkan lehernya. "Yue Yin, katakan apa yang harus kulakukan."

"Ikut aku ke Lembah Besi Tua," jawab Yue Yin sambil memutar jarum di tangannya. "Monster itu memiliki zirah yang dibentuk dari kompresi mineral selama ratusan tahun. Panahmu akan patah sebelum menyentuh kulitnya. Kau butuh cairan Peluntur Tulang buatanku untuk melemahkan pertahanannya."

Mereka berangkat saat kabut beracun Tanah Tak Bertuan mulai menebal. Di tengah perjalanan, Yue Yin tampak memperhatikan busur Yuan dengan tatapan haus akan ilmu pengetahuan.

"Kau membawa roh naga kuno di punggungmu, Yuan. Kenapa kau tidak membiarkannya menelan kota ini dan menyembuhkan temanmu dengan paksa?" tanya Yue Yin memancing.

"Karena aku bukan monster," jawab Yuan pendek.

"Heh, jawaban yang membosankan," Yue Yin tersenyum sinis. "Tapi setidaknya kau jujur."

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergemuruh. Dari balik tebing, muncul raksasa berlapis batu hitam dengan mata yang menyala merah bara. Earth-Crusher telah bangkit dari tidurnya. Tubuhnya sebesar rumah, dan setiap langkahnya membuat retakan di bumi.

"Sekarang, Pemanah Naga!" Yue Yin melemparkan sebuah guci kecil berisi cairan bening ke udara. "Tembak guci itu tepat di atas kepalanya saat dia membuka mulut! Jika meleset, Jenderalmu itu akan selamanya menjadi hiasan taman di kotaku!"

Yuan menarik tali busur tulang naganya. Otot-otot lengannya menegang, aura hitam mulai melilit anak panahnya. "Ao Kuang, jangan buat aku malu di depan wanita ini!"

“MAKA JANGAN MELESET, BOCAH!”

Anak panah Yuan melesat bersamaan dengan hancurnya guci milik Yue Yin di udara. Cairan Peluntur Tulang itu menyiram punggung sang monster, mengeluarkan suara mendesis seperti daging yang dipanggang. Zirah batu yang tadinya tak tertembus kini mulai melunak dan mengeluarkan uap panas.

Earth-Crusher meraung kesakitan, suaranya meruntuhkan bebatuan di sekeliling lembah. Ia mengayunkan tangannya yang sebesar batang pohon purba ke arah Yuan.

"Yuan, awas!" teriak Ming Luo dengan suara yang sudah mulai kaku karena proses pembatuan yang mencapai dadanya.

Yuan berguling di tanah, menghindari hantaman itu hanya dengan selisih beberapa inci. Ia tidak punya banyak waktu. Zirah monster itu hanya akan melunak selama beberapa menit.

"Yue Yin! Alihkan perhatiannya!" seru Yuan.

Yue Yin mendengus. "Kau berhutang banyak padaku setelah ini!"

Ia melesat dengan kecepatan luar biasa, jarum-jarumnya terbang seperti hujan meteor, mengincar mata dan celah-celah zirah monster itu. Meskipun tidak membunuh, jarum-jarum beracun itu membuat sang monster kebingungan dan kehilangan arah.

Yuan berdiri tegak. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan insting Pemanah Naganya mengambil alih. Ia tidak lagi membidik dengan mata, melainkan dengan denyut jantung sang monster yang ia rasakan lewat getaran tanah.

"Audit... selesai," bisik Yuan, meniru kata-kata Ming Luo.

WUSSSS!

Panah itu meluncur bukan dengan ledakan besar, melainkan dengan putaran yang sangat cepat hingga membelah udara. Panah itu menembus titik lunak di leher sang monster, masuk jauh ke dalam jantungnya, dan meledakkan energi naga dari dalam.

Earth-Crusher jatuh berdentum, debu beterbangan menutupi lembah.

Yue Yin mendarat di samping bangkai monster itu, nafasnya sedikit memburu. Ia membedah dada monster itu dengan jarumnya dan mengambil sebuah bunga berwarna hitam legam yang bersinar redup. "Ini dia. Sari bunga Nightshade."

Ia segera mendekati Ming Luo yang sudah hampir sepenuhnya menjadi batu. Dengan telaten, ia meneteskan sari bunga itu ke bibir Ming Luo. Perlahan tapi pasti, warna abu-abu di kulit Ming Luo mulai luntur, kembali menjadi warna kulit manusia.

Ming Luo terbatuk hebat, menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Secara logika... aku baru saja melihat ajalku melambaikan tangan, tapi sepertinya dia salah alamat."

Yuan mendekati mereka, wajahnya terlihat sangat lelah namun lega. "Kau selamat, bodoh."

Ming Luo menyeringai lemah. "Tentu saja. Aku belum sempat mengedit bab terakhir dari perjalanan kita, bukan?"

Yue Yin berdiri, menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalian berdua benar-benar orang gila. Tapi orang gila biasanya adalah mereka yang berhasil mengubah sejarah. Sekarang, kembali ke kota. Ada tamu tak diundang yang menunggu kalian di gerbang."

Yuan menatap ke arah Kota Tanpa Wajah. Di kejauhan, ia melihat bayangan elang-elang mekanik mulai berputar-putar di langit. "Mereka menemukan kita."

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!