NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23.

Sore hari pun perlahan muncul, menggantikan teriknya matahari dengan cahaya keemasan yang lebih lembut. angin berhembus pelan, membawa kesejukan yang sejak siang tadi begitu dinantikan.

Di area belakang rumah, pekerjaan hari ini akhirnya mulai mereda. Suara cangkul, mesin, dan parang yang sejak pagi terdengar tanpa henti kini perlahan menghilang, berganti dengan helaan napas lega para pekerja.

Zee sudah berdiri lebih dulu di dekat meja panjang sederhana yang Dia siapkan.

Di atasnya, tersusun rapi hidangan untuk sore hari. Kopi susu hangat yang mengeluarkan aroma lembut, teh manis dengan uap tipis yang masih mengepul, serta aneka makanan ringan.

Roti isi daging, roti isi cokelat, dan pisang goreng keemasan yang tampak renyah. Semuanya terlihat sederhana... namun cukup membuat mereka para pekerja terharu merasa tenaga mereka sangat di hargai.

"Silakan, ini untuk bapak-bapak sekalian sebelum pulang ke rumah masing-masing ya." ucap Zee tenang saat para pekerja mulai berkumpul.

Beberapa dari mereka saling berpandangan. Namun kemudian, salah satu pria tersenyum kecil dan menggeleng kepala pelan.

"Maaf, Nona... Sepertinya masih kenyang," ujarnya jujur.

"Iya... makan siangnya tadi benar-benar mengenyangkan," sahut yang lain, sambil tertawa kecil.

Zee memperhatikan mereka sejenak, lalu mengangguk memahami. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat.

Akhirnya, para pekerja hanya mengambil minuman mereka masing-masing. Ada yang memilih teh hangat, ada pula yang memilih kopi susu. Mereka meminumnya perlahan, menikmati rasa hangat yang mengalir di tenggorokan sekaligus menghangatkan tubuh mereka.

Sementara itu... mata mereka sesekali melirik ke aneka makanan ringan yang tersusun rapi di atas meja.

"Nona, apakah makanannya boleh kami bungkus dan bawa pulang saja? tanya seorang pekerja dengan sedikit ragu.

Zee menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Tentu saja Pak, ini semua memang untuk kalian semuanya."

Jawaban itu seketika membuat wajah-wajah lelah itu berubah cerah.

"Itu ada kantong plastiknya, kalau mau bungkus makanan silakan saja." tambah Zee.

Tanpa ragu lagi, mereka segera mengambil kantong plastiknya, mulai membungkus roti dan pisang goreng dengan hati-hati. Semuanya di bagi rata, tidak ada yang mengambil lebih, atau berebutan.

Namun yang paling terlihat... bukan sekedar rasa senang karena mendapatkan makanan. Melainkan kebahagiaan karena bisa membawa sesuatu pulang untuk menikmatinya bareng keluarga.

"Anak-anak saya pasti senang..." bisik seorang pria pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Istri saya juga, pasti senang..." sahut yang lain, dengan tersenyum hangat.

Zee memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Hatinya terasa hangat melihat hal-hal kecil yang ternyata begitu berarti bagi mereka.

Langit di atas perlahan berubah jingga kemerahan, menandakan hari akan segera berakhir.

Saat minuman mereka habis, para pekerja mulai bersiap untuk pulang. Mereka mulai merapikan peralatan mereka, dan kembali berpamit pulang ke Zee.

"Terima kasih, Nona Zee, kami pamit pulang dulu," ucap mereka hampir bersamaan.

Zee mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis. "Iya, hati-hati di jalan semuanya, sampai ketemu besok lagi."

"Iya, Nona!"

Dengan semangat yang masih tersisa, mereka pun berjalan pulang membawa kebahagiaan kecil di tangan mereka.

Sedangkan Zee tetap berdiri, menatap lahan yang kini sudah mulai berubah.

Hari pertama telah selesai, tapi langkah kecil hari ini... akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Langit sore telah berubah menjadi jingga keemasan ketika para pekerja satu per satu meninggalkan area kerja. Di antara mereka, ada seorang pemuda bernama Rana berjalan pulang dengan langkah yang cepat dan ringan.

Di tangannya, tergenggam sebuah plastik putih berisi roti dan pisang goreng.

Meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, tapi hatinya terasa hangat. Ada perasaan bahagia yang sulit dia jelaskan. Mungkin karena hari ini dia tidak pulang dengan tangan kosong.

Langkahnya menyusuri jalan tanah menuju ujung desa. Semakin jauh dia berjalan, suasana di sekitarnya semakin sepi. Hingga akhirnya, terlihat sebuah rumah sederhana di dekat aliran sungai kecil menjadi batas dengan desa sebelah.

Rumah itu... bisa disebut gubuk. Karena tiang-tiangnya terbuat dari bambu yang mulai lapuk.

Dindingnya dari potongan triplek yang disusun seadanya, beberapa bahkan sudah retak dan berlubang.

Atap seng di atasnya tampak tak rata, sebagian berkarat, dan sebagian lagi seperti akan terlepas kapan saja.

Lantainya masih tanah, namun di situlah... keluarga kecil itu tinggal. Tempat bagi enam orang untuk berteduh.

Rama berhenti sejenak di depan pintu, menarik napas pelan, lalu tersenyum.

"Assalamualaikum, Bu... Mama... Reni Reno... Ayah pulang!" serunya.

Dari dalam, suara lembut langsung menyambutnya. "Wa'alaikum salam, Mas," jawab Ayu, istrinya.

Tak lama kemudian, dua anak kecil berlari keluar dengan wajah ceria. Sepasang anak kembar,Reni dan Reno, yang sudah berusia enam tahun namun belum juga bersekolah.

"Hore! Ayah sudah pulang!" teriak mereka kompak.

Di belakang mereka, seorang wanita tua yang berjalan perlahan mengikuti mereka sambil tersenyum hangat.

"Wa'alaikum salam, Nak," ucap Nenek Mina, Ibu Rama.

Rama menatap mereka satu per satu. Rasa lelahnya seolah hilang begitu saja saat melihat wajah-wajah orang yang dia cintai.

"Ayo, semuanya masuk dulu, Ayah bawakan sesuatu untuk kalian." katanya dengan semangat, dengan sedikit mengangkat plastik di tangannya.

Mata Reni dan Reno langsung berbinar. "Apa itu, Yah? Apakah itu ayam goreng seperti punya Aji?" tanya mereka kompak, penuh harap.

Rama hampir tertawa mendengar itu, namun sebelum Dia sempat menjawab, Ayu lebih dulu menimpali.

"Masuk dulu, kasihan Ayah capek habis kerja," ucapnya lembut, langsung menggandeng tangan kedua anak mereka masuk ke dalam rumah.

Rama hanya tersenyum kecil, dan mengikuti mereka dari belakang.

Di dalam rumah, suasana sederhana itu terasa hangat. Meski sempit dan jauh dari kata layak, ada kebersamaan yang begitu kuat di dalamnya.

Rama duduk perlahan di tikar yang sudah di siapkan oleh Ayu, lalu membuka plastik putih yang dia bawa.

Seketika aroma manis roti dan pisang goreng langsung menyebar. "Ini, Ayah bawa dari tempat kejadian." ucapnya pelan.

Reni dan Reno langsung mendekat, mata mereka berbinar melihat makanan itu.

"Yah... Ternyata bukan ayam goreng." gumam Reno sedikit pelan.

Namun sebelum rasa kecewa itu tumbuh, Rama tersenyum dan mengusap kepala mereka.

"Tapi ini rasanya lebih enak dari ayam goreng, kita makan sama-sama ya."

Ayu yang melihat itu hanya terdiam sejenak, dengan tatapannya yabg teduh.

"Makanan ini dari tempat kerja Mas?" tanyanya pelan.

Rama mengangguk. "Iya, Bosnya baik banget, kami di kasih makan pagi, siang, dan minum teh sore. Dan karena kami semua masih kenyang jadi di bawa pulang saja."

Nenek Mina yang duduk di sudut ruangan tersenyum haru. "Alhamdulillah, kalau kamu mendapatkan Bos yang baik Nak. Ingat harus rajin kerjanya dan juga jujur, jangan sampai mengecewakan orang yang sudah baik kepada kita." ucap Nenek Mina, sambil menasehati Rama.

Tak lama kemudian, mereka semua duduk bersama. Roti dan pisang goreng di bagi, agar cukup untuk semuanya.

Walaupun tidak banyak, namun cukup untuk mereka nikmati bersama di rumah kecil itu. Di rumah kecil itu, tawa anak-anak kembali terdengar.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Malam itu terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.

Senja benar-benar hilang, digantikan oleh gelapnya malam. Suasana yang tadinya ramai kini diganti oleh sunyi nya malam.

Bu Maya, Pak Ali dan yang lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Membawa lelah sekaligus harapan baru di hati mereka.

Zee yang berdiri di pintu belakang rumahnya, memandang ke arah lahan yang kini mulai berubah. Angin sore malam menyapu pelan wajahnya.

Lalau, tanpa berkata apa-apa, Dia berbalik. Pintu rumah ditutup rapat.

Klik...

Suara pintu tertutup. Zee melangkah masuk ke dalam kamarnya, Dia berdiri di tengah ruangan, memejamkan mata sejenak.

Dalam satu kedipan mata... tubuhnya langsung menghilang. Dan berpindah ke sebuah tempat yang sudah lama tidak Dia kunjungi.

Ruangan di dalam sumur tua. Udara di sana terasa berbeda, lebih sejuk, dan sunyi. Cahaya lembut memantul dari dinding, menciptakan suasana yang hampir tak nyata.

Zee membuka matanya perlahan. "Sudah lama banget aku tidak ke sini, dan semuanya tidak pernah berubah tetap sama." gumamnya pelan.

Dia menatap sekeliling, mengingat kembali awal mula semua yang Dia miliki sekarang. Tapi Dia tidak lama di sana, dengan satu kedipan mata, Dia kembali berpindah.

Kini, Dia sudah berada di dalam kamar apartemennya di bangunan lantai empat.

Ruangan modern itu terasa kontras dengan tempat sebelumnya, namun bagi Zee, semuanya sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Dia berjalan keluar kamar, menuruni tangga, hingga akhirnya sampai di luar bangunan. Dan di sanalah, pemandangan yang luar biasa terbentang di hadapannya.

Di sampingnya bangunan empat lantai itu, terbentang luas kebun buah-buahan. Pepohonan berdiri rapi, daunnya hijau segar, beberapa bahkan sudah mulai berbuah. Tak jauh dari sana, terlihat hamparan kebun sayur yang tertata dengan indah.

Lebih jauh lagi, area peternakan. Sapi-sapi berdiri tenang, kuda-kuda berlari kecil di kejauhan, ayam dan bebek bergerak ramai, sementara kambing, domba, bahkan rusa terlihat hidup berdampingan dengan damai.

Zee melangkah perlahan, menyusuri semua itu. Matanya menyapu setiap sudut, memastikan semuanya nyata.

Langkahnya terus berlanjut hingga Dia tiba di sebuah tempat yang paling Dia kenal.

Air terjun yang indah, airnya jatuh perlahan dari ketinggian. Mengalir lembut menuju danau berwarna biru jernih di bawahnya. Suaranya menenangkan, seperti lagu alam yang tak pernah berhenti.

Dan air itu bukanlah air biasa, itu adalah air suci. Air yang mampu menyembuhkan.

Zee berdiri di tepi danau, menatap permukaan nya yang berkilau.

Semuanya masih sama seperti pertama kali Dia datang ke tempat ini. Namun... seketika alisnya sedikit berkerut.

Ada sesuatu yang berbeda. Tak jauh dari danau biru itu, terlihat sebuah kolam yang sebelumnya tidak pernah ada. Ukurannya cukup besar, dengan permukaan air yang tenang.

Zee melangkah mendekat, semakin dekat... semakin jelas.

Di dalam kolam itu, ternyata ada berbagai jenis ikan yang sedang berenang dengan bebas.

Warna-warna mereka berkilau terkena cahaya, menciptakan pemandangan yang indah sekaligus menenangkan.

Zee berhenti tepat di tepi kolam tersebut. "Jadi ini juga termasuk hadiah yang aku dapatkan." gumamnya pelan.

Dia pun mengingat kembali notifikasi yang Dia terima sebelumnya.

Kolam dengan berbagai jenis ikan, hadiah dari AetherShop.

Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. Angin lembut kembali berhembus, membawa aroma taman bunga, suara air terjun dan gemericik air kolam yang saling berpadu.

Zee berdiri di sana dalam diam, di tengah semua keajaiban kini Dia miliki.

Dan untuk pertama kalinya, Dia benar-benar menyadari... dunia yang Dia pijak sekarang bukan lagi dunia yang biasa saja.

1
Chen Nadari
seandainya ada di dunia nyata ..jadi halu Thorr🤣
SyahLaaila: hehehe🤭
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!