NovelToon NovelToon
"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:603
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.

​Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.

penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Hening mencekam menyelimuti koridor di depan kamar Evelyn. Arkan berdiri kaku, jemarinya masih menggenggam botol vitamin C seolah benda itu adalah satu-satunya pegangannya pada realitas. Suara dingin yang baru saja ia dengar dari balik pintu—suara yang tajam, penuh otoritas, dan sangat tidak "nerdy"—masih terngiang di telinganya.

“Permainan yang bagus, Arkan... aku baru saja meruntuhkan kerajaan musuhmu lewat brokoli.”

Rahang Arkan mengeras. Brokoli? Kerajaan musuh? Tanpa membuang waktu, Arkan memutar kenop pintu. Ia tidak mengetuk. Ia tidak menyemprotkan cairan antiseptik ke gagang pintu. Ia langsung masuk dengan tatapan yang sanggup membekukan kuman paling tangguh sekalipun.

Brak!

Evelyn tersentak. Dalam hitungan milidetik, ia melempar tablet komunikasinya ke bawah bantal dan menjatuhkan dirinya ke lantai dengan posisi yang sangat artistik—seolah-olah ia baru saja terpeleset kulit pisang imajiner.

"Hwaaaa! Tuan Arkan! Kenapa masuk tidak bilang-bilang? Eve kaget sampai mau copot jantungnya!" teriak Evelyn dengan suara cempreng andalannya. Ia segera membetulkan kacamatanya yang miring, menatap Arkan dengan wajah polos bin bingung.

Arkan tidak bergerak. Ia berdiri di ambang pintu, matanya menyapu setiap sudut kamar yang sedikit berantakan dengan buku-buku fisika dan beberapa helai daster cadangan.

"Tadi kau bicara dengan siapa?" tanya Arkan, suaranya rendah dan mengancam.

Evelyn mengerjapkan mata. "Bicara? Oh! Eve tadi lagi latihan drama, Tuan! Buat tugas kuliah Metodologi... judul dramanya 'Ratu Brokoli yang Kejam'. Tuan dengar ya? Wah, akting Eve bagus sekali ya sampai Tuan kaget begitu!"

Evelyn tertawa cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Arkan melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan tempat tidur. "Ratu Brokoli? Dan kau menyebut namaku dalam 'drama' itu?"

"Iya! Kan Tuan pemeran utamanya, Tuan jadi 'Pangeran Disinfektan' yang mau membasmi Eve si Ratu Brokoli! Seru kan?" Evelyn berdiri, mencoba menepuk debu di dasternya, namun Arkan segera mundur satu langkah demi menjaga jarak radius satu meter.

Arkan menatap mata Evelyn di balik lensa tebal itu. Ada kilatan cerdas yang tertutup oleh akting bodoh, namun ia tidak bisa membuktikannya sekarang. "Ambil ini. Vitamin C dosis tinggi. Aku tidak mau kau jatuh sakit karena bakteri tanah tadi, lalu menularkannya padaku."

Arkan meletakkan botol vitamin itu di atas meja belajar dengan tisu sebagai alasnya. "Dan satu lagi... jangan pernah latihan drama di tengah malam. Suaramu... terdengar seperti orang lain."

Setelah Arkan keluar dan menutup pintu, Evelyn menghela napas panjang hingga bahunya merosot. "Ed... hampir saja. Dia mulai curiga secara frontal."

"Hati-hati, Queen. Arkan bukan King Mafia karena keberuntungan. Dia memiliki insting pemburu," suara Edward terdengar dari jam tangan Evelyn.

Keesokan paginya, suasana sarapan terasa berbeda. Lana turun dengan wajah bengkak karena kurang tidur, tapi matanya langsung berbinar saat melihat Arkan dan Evelyn duduk berhadapan.

"Pagi, Kak Arkan! Pagi, Kak Eve si jagoan brokoli!" sapa Lana riang. Ia duduk dan langsung mengambil sepotong roti dengan tangan kosong, membuat Arkan hampir tersedak kopinya.

"Lana! Cuci tanganmu pakai alkohol 90% sekarang juga!" perintah Arkan.

Lana hanya menjulurkan lidah. "Kak Arkan, daripada ngurusin tanganku, mending urusin tuh markas Sebastian Black di pinggiran kota. Katanya semalam meledak karena korsleting listrik di gudang senjatanya. Aneh ya? Padahal pengamanannya ketat."

Arkan terhenti. Ia melirik Samuel yang berdiri di sudut ruangan membawa tablet laporan. Samuel mengangguk kecil, membenarkan berita itu.

Mata Arkan beralih ke arah Evelyn yang sedang sibuk menuangkan madu ke sereal hingga tumpah ke meja. "Korsleting listrik? Kebetulan yang sangat menarik."

"Iya, Tuan! Mungkin kabelnya digigit tikus yang haus," celetuk Evelyn tanpa dosa.

Lana menahan tawa hingga wajahnya merah. Ia tahu betul "tikus" mana yang dimaksud. "Oh iya, Kak Arkan! Hari ini aku mau ajak Kak Eve ke pameran teknologi di J-Hall. Boleh ya?"

Arkan menyipitkan mata. "Pameran teknologi? Tempat itu penuh dengan orang yang saling bersentuhan bahu dan berbagi udara yang sama. Tidak."

"Tapi Tuan... di sana ada demo robot pembersih debu terbaru yang bisa membasmi tungau sampai ke akar-akarnya lho!" goda Evelyn, tahu persis titik lemah suaminya.

Arkan terdiam sejenak. Robot pembersih tungau? "Baiklah. Tapi aku akan ikut. Dan kalian berdua harus memakai masker N95 berlapis-lapis," putus Arkan akhirnya.

Evelyn tersenyum manis di balik mangkuk serealnya. Misi selanjutnya dimulai. Di pameran itu, Edward mengabarkan bahwa akan ada prototipe software enkripsi terbaru yang akan diperebutkan oleh Black Eclipse dan faksi musuh. Sebagai Queen EVG, Evelyn harus memastikan data itu tidak jatuh ke tangan Arkan maupun Sebastian.

Sesampainya di J-Hall, Arkan tampil seperti agen antariksa. Ia memakai jas pelindung khusus yang terlihat modis namun kedap debu, lengkap dengan sarung tangan kulit yang sudah dilapisi cairan pelindung.

"Ingat, jangan menyentuh apapun tanpa seizinku," peringat Arkan pada dua wanita di sampingnya.

Saat mereka berkeliling, Lana sengaja menarik Arkan ke stan "Simulasi Vacuum Cleaner Berkekuatan Turbo" untuk memisahkan kakaknya dari Evelyn.

"Kak Arkan! Lihat! Alat ini bisa menghisap jiwa kuman sampai bersih!" teriak Lana menarik perhatian Arkan.

Evelyn segera menghilang ke arah stan Cyber Security. Ia melihat Edward yang sudah menyamar menjadi staf teknis di sana.

"Queen, koper datanya ada di dalam brankas pameran. Arkan sudah mengirim Kenan untuk memantau dari jauh," bisik Edward sambil pura-pura menjelaskan spek komputer pada Evelyn.

"Aku akan buat pengalihan. Siapkan virus 'Hantu Bersin' lagi di sistem utama gedung ini. Begitu Arkan panik karena suara bersin massal, aku akan ambil kopernya," perintah Evelyn.

"Siap, Queen!"

Evelyn kembali ke sisi Arkan tepat saat Lana sedang sibuk berargumen dengan staf tentang warna vacuum cleaner.

"Tuan Arkan... Eve kelihatannya pusing, udaranya terlalu banyak karbon dioksida," keluh Evelyn sambil memegangi kepalanya, pura-pura lemas.

Arkan menoleh, tampak khawatir. "Sudah kubilang, tempat ini kotor. Ayo kita cari ventilasi yang..."

Tiba-tiba... HACHIIIII! HACHIIIII! HACHIIIII!

Suara bersin massal menggelegar dari sistem speaker seluruh gedung. Bukan suara bersin biasa, tapi suara bersin yang terdengar sangat "basah" dan menjijikkan.

Arkan membeku. Wajahnya memucat seketika. "D-droplet... di mana-mana..."

Seluruh pengunjung pameran bingung, sementara Arkan mulai berputar-putar dengan botol disinfektan di kedua tangannya, menyemprot udara secara membabi buta. "JANGAN MENDEKAT! SEMUANYA TERKONTAMINASI!"

Dalam kekacauan itu, Evelyn menghilang. Ia berlari menuju ruang brankas, melumpuhkan dua penjaga dengan teknik aikido cepat, dan meretas kode brankas hanya dalam waktu 15 detik. Ia mengambil hard drive berharga itu, menyelipkannya di balik daster semangkanya, dan kembali ke sisi Arkan tepat saat Arkan sedang mencoba memanjat stan untuk menghindari "lantai yang penuh kuman".

"Tuan Arkan! Turun! Eve temukan jalan keluar yang steril!" teriak Evelyn menarik ujung celana Arkan.

Arkan melompat turun, langsung merangkul bahu Evelyn (tanpa sadar ia tidak lagi peduli pada jarak aman) dan berlari keluar gedung seolah-olah dikejar monster kuman raksasa.

Sesampainya di parkiran, Arkan terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya. Ia masih memeluk Evelyn dengan erat.

"T-tuan... Tuan peluk Eve kencang sekali," cicit Evelyn, wajahnya memerah bukan karena akting, tapi karena posisi jantung Arkan yang berdegup kencang tepat di dekat telinganya.

Arkan tersentak dan melepaskan pelukannya. Ia berdehem keras, berusaha kembali ke mode CEO dingin. "Tadi itu... keadaan darurat. Aku hanya memastikan kau tidak terinjak orang-orang yang tidak higienis itu."

Lana muncul sambil membawa es krim yang hampir meleleh, menatap mereka dengan senyum jahil. "Wah, mesra banget ya di tengah wabah bersin buatan."

Evelyn hanya bisa tersenyum culun, sementara tangannya diam-diam meraba hard drive yang tersimpan aman di balik bajunya.

Hari ini: Data aman, Arkan selamat, dan bonus pelukan dari si Tuan Higienis, batin Evelyn puas.

Namun, di dalam mobil, Arkan diam-diam memperhatikan cermin tengah. Ia melihat pantulan mata Evelyn. Untuk sesaat, kacamata Evelyn miring dan ia melihat tatapan tajam nan dingin yang sama dengan wanita di gudang waktu itu.

Permainan ini baru saja dimulai, Evelyn Valentina Grant, batin Arkan sambil mengepalkan tangannya yang masih berbau alkohol.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!