Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 26. Kekesalan Istri Muda
Keluar dari hotel di jam lima sore, wajah sepasang suami-istri itu nampak semakin cerah. Keduanya keluar dari hotel sembari bergandengan tangan dengan erat dan saling menggelayut manja di tubuh pasangannya seakan menegaskan bahwa keduanya tidak akan dan tidak ingin untuk dipisahkan.
Berkali-kali sang suami mengecup pucuk kepala sang istri seolah memamerkan kepada setiap orang yang berpapasan dengan mereka akan keromantisan yang ada dalam diri keduanya. Sang istri pun hanya menunduk malu. Namun tidak dapat dipungkiri jika setelah melakukan penyatuan raga bersama sang suami, membuat hormon endorfin yang dikeluarkan dari dalam otak lalu diteruskan ke dalam tubuhnya, membuat wanita itu terlihat lebih rileks dan lebih bahagia. Salah satu hormon dalam tubuh yang bisa memberikan efek bahagia bagi yang merasakannya.
Ganis merasa seperti kembali ke masa-masa awal pernikahannya sepuluh tahun lalu. Di mana di antara dirinya dengan sang suami hanya ada kebahagiaan di setiap detiknya. Saat inipun sejatinya pernikahannya begitu bahagia, hanya saja ada sebuah kerikil kecil yang menghalangi langkahnya. Ia menganggap keberadaan Dinda hanyalah sebuah kerikil kecil dalam perjalanan bahtera rumah tangganya. Ia pun percaya jika bisa menyingkirkan kerikil kecil itu tanpa harus melukai kakinya.
"Masih pukul lima sore, aku rasa kita tidak akan ketinggalan untuk menikmati suasana sunset dari tepi pantai Sayang."
Krisna sudah duduk manis di balik kemudi, bersiap untuk melajukan mobilnya. Diikuti oleh Ganis yang duduk di samping Krisna. Wanita itu terlihat memoleskan lipgloss untuk sedikit memberikan kesan segar di bibirnya.
"Memang jika dari sini, berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai ke pantai Mas?"
"Kira-kira sepuluh menit lagi kita akan sampai Sayang." Krisna mulai melajukan laju kendaraannya sambil sesekali menoleh ke arah sang istri yang masih terlihat sibuk dengan lipgloss yang ia aplikasikan di bibirnya. "Sayang..."
Ganis memasukkan kembali lipgloss yang ia pakai ke dalam pouch kecil khusus untuk make-up dan kemudian menoleh ke arah Krisna. "Ya Mas?"
"Mendekatlah kemari Sayang. Itu sepertinya ada sesuatu di bibirmu."
Ganis menyentuh bibirnya dengan tangan. "Sesuatu apa sih Mas? Perasaan tidak ada apapun."
"Kamu tidak akan tahu Sayang. Kemarilah, biar aku yang menghilangkannya."
Ganis percaya-percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Krisna. Ganis sedikit mencondongkan wajahnya ke arah wajah Krisna dan kemudian....
Cup...
Sebuah kecupan intens mendarat di bibir Ganis yang basah namun terlihat semakin sensual itu. Sebuah bibir yang selalu saja menggoda Krisna untuk selalu ingin mengecupnya. Dan sebuah bibir yang dari dalam sana selalu keluar nafas-nafas cinta yang seperti melumpuhkan pertahanan Krisna untuk selalu ingin berada di sisi istrinya ini. Dan hanya dengan berada di sisi istrinya inilah ia memiliki sumber kebahagiaan yang ia peroleh dari denyut-denyut jantung yang menyalurkan aliran cinta dari tubuh sang istri.
Aneh, ini sungguh aneh. Krisna merasa saat ini tidak ada yang bisa membuatnya bahagia selain ada di sisi sang istri. Padahal sebelumnya hati dan pikirannya hanya tertuju pada istri keduanya dan calon anak yang dikandungnya. Namun saat ini semua seakan kembali seperti saat awal pernikahannya dengan Ganis. Tidak ada siapapun selain mereka berdua.
Mata Ganis seketika terbelalak dan membulat sempurna. Entah mengapa ia semakin merasa jika sang suami begitu lihai dalam melajukan mobilnya. Dalam posisi mengemudikan mobil seperti ini saja, ia terlihat begitu mahir dalam melakukan dua hal sekaligus yaitu fokus ke arah jalan raya sambil mengecup bibirnya dengan intens.
"Iiihhhh... Mas... Fokus ke jalan. Masa iya kamu mengemudi sambil mengecup-ngecup bibirku?"
Dengan bibir sedikit mencebik, Ganis mencoba untuk protes dengan apa yang dilakukan oleh Krisna. Meskipun bibirnya mengerucut namun hatinya tetap seperti dipenuhi oleh bunga-bunga asmara yang bermekaran yang hanya menyisakan perasaan bahagia.
Krisna terkekeh. "Yang kamu pakai itu apa sih Sayang?"
Dahi Ganis mengernyit. "Pakai apa sih Mas? Memang apa yang aku pakai?"
"Itu yang kamu oleskan di bibirmu. Sehingga membuat bibir kamu terlihat sedikit basah dan seakan menggodaku untuk aku cicipi."
Lagi, bibir Ganis kembali mengerucut dibarengi dengan rona merah jambu menjalar di kedua pipinya. "Mas... Bicara apa sih? Aku malu tahu?"
Krisna tersenyum simpul. Ia raih jemari tangan Ganis dan mengecupnya. "Aku mencintaimu Sayang."
Entah sudah berapa kali sejak masuk ke dalam hotel, kata-kata cinta itu keluar dari bibir Krisna. Apalagi tatkala keduanya larut dalam lautan hasrat. Mereka seperti berada di antara gulungan-gulungan ombak yang membuat adrenalin keduanya memuncak dan hanya dengan saling mengeratkan pelukan sembari membisikkan kata-kata cinta, mereka dapat merasakan apa yang disebut dengan kenikmatan batin.
Ganis mengulas sedikit senyumnya. Ia usap lembut pipi sang suami dan sekilas memberikan kecupan singkat di sana. "Aku juga masih mencintaimu, Mas."
"Masih?" tanya Krisna dengan kernyitan di dahi. "Apa itu artinya satu hari nanti rasa cinta itu akan menghilang?"
"Akupun tidak tahu Mas," jawab Ganis yang mana jawabannya tidak membuat Krisna semakin tenang justru semakin takut. "Hmmmm.. Sepertinya kita sudah sampai ya Mas."
Saking fokusnya pada ucapan sang istri, sampai-sampai membuat Krisna tak sadar jika ia telah sampai di tempat tujuan.
"Betul Sayang. Kita cari tempat parkir dulu ya."
Ganis kembali menoleh ke arah depan. Baru saja ia sampai di tempat tujuan, sudah disuguhi dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata.
****
Ting....
Sebuah notifikasi di ponsel milik Rika berbunyi. Rika yang tengah berselancar di dunia maya untuk sejenak ia lupakan aplikasi tok-tok yang tengah ia jelajahi itu. Ia lihat notif apa yang ia terima.
"DIn!" teriak Rika sembari tubuhnya terperanjat. Ia menghampiri sang anak yang sedang duduk santai di balkon menikmati suasana malam ini.
"Ada apa Ma?" tanya Dinda yang juga berteriak lantang. Ia sungguh keheranan melihat sang mama yang begitu panik luar biasa seperti itu.
"Gawat Din. Paket obat pelancar haid yang kita pesan sudah datang."
"Kok gawat sih Ma? Bukankah harusnya Mama senang karena rencana itu bisa segera kita realisasikan?" ucap Dinda penasaran mengapa sang mama malah terlihat panik.
"Bukan masalah realisasi, Dinda. Tapi ini paket yang menerima siapa? Jangan-jangan yang menerima Ganis. Bisa gagal rencana kita!"
Dahi Dinda berkerut. "Diterima mbak Ganis? Memang Mama alamatkan di mana sih?"
"Di rumahmu Din!"
"Ya ampun, kenapa tidak di hotel ini saja sih Ma? Kalau di rumah bisa jadi yang menerima mbak Ganis," ucap Dinda sembari geleng-geleng kepala.
"Terus ini bagaimana Din?" tanya Rika sedikit frustrasi.
"Tenang. .. Tenang. . Jangan panik dulu." Dinda mencoba untuk merilekskan tubuhnya dengan menarik napas dalam lalu ia hembuskan. "Coba di bukti penerimaan, ada fotonya siapa Ma. Maksudku siapa yang menerima."
Rika membuka bagian bukti penerimaan barang. Nampak wajah Maryati yang ada di dalam foto itu.
"Ini pembantu di rumah Krisna ya Din?" tanya Rika sembari mengulurkan ponselnya.
"Oh betul, ini pembantu di rumah. Kalau yang nerima ini sih tidak perlu khawatir Ma. Sepertinya dia buta huruf jadi tidak bisa membaca," ucap Dinda sedikit lebih tenang.
"Hahhh... Syukurlah kalau begitu." Rika mengelus dada sebagai gambaran rasa lega yang ia rasa. "Eh seharian ini Mama kok belum lihat kamu video call sama suamimu? Memang kamu tidak rindu, sudah dua malam tidak bertemu?"
"Haaahhh... Aku lagi sebal sama mas Krisna, Ma. Sejak dia tidak mau menemaniku untuk tidur di hotel ini, rasanya aku marah sekali," gerutu Dinda mengungkapkan kekesalannya.
"Haisss... Kamu justru jangan seperti itu Din. Kalau kamu cuek seperti itu bisa-bisa Krisna lebih banyak bermesraan sama Ganis. Lebih baik tiap jam kamu video call Krisna biar tidak ada waktu untuk bermesraan dengan istri pertamanya itu."
Dinda mencoba mencerna perkataan Rika. Ia pun membenarkan apa yang diucapkan oleh sang Mama. Jika memang Krisna tidak mau menemaninya tidur di hotel, setidaknya ia juga harus mencegah suaminya bermesraan dengan istri pertamanya.
Dinda mencari nama kontak sang suami bermaksud untuk video call. Belum juga mendapat jawaban dari Krisna, wajah wanita itu lebih dulu ditekuk dengan bibir mengerucut. Pertanda wanita itu sedang dirundung oleh rasa kesal yang luar biasa.
"Hah.... telepon mas Krisna tidak aktif Ma."
"Waduuh.. Bisa-bisa dia sedang memadu cinta dengan Ganis, Din!" timpal Rika yang seketika membuat mood sang anak semakin berantakan.
.
.
.