NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Pangeran Kecil vs Kak Zain”

"Diam! Jangan berisik!" teriak Arkan kesal.

Zain hanya terkekeh gemas.

"Nay, besok nonton yuk," ajak Zain sambil melirik lewat kaca spion.

Nayla menoleh ke arah Arkan, dan seketika hatinya mencelos.

Arkan sedang melototi Zain yang menyetir.

Ck, kapan bisa berduaan sama Nayla tanpa bocah ini… batin Zain resah.

"Gimana, Nay?" tanyanya lagi, tak mempedulikan tatapan Arkan.

Arkan langsung menoleh pada Nayla.

Nayla tersenyum canggung.

"Kak Zain juga tahu sendiri kan… susah," ucapnya pelan, sambil melirik si kecil yang masih menatapnya lekat.

"Nontonnya jam berapa emang? Terus mau nonton film apa?" tanyanya lagi, kali ini tanpa menoleh pada Zain—tatapannya masih tertahan pada Arkan.

Zain terdiam.

Ia berpikir keras, mencari cara bagaimana bisa nonton berdua tanpa Arkan.

"Jam tujuh-an, Nay. Kamu kan nggak suka keluar malam," ujarnya santai.

"Ada film baru, katanya bagus. Tentang misteri… agak horor gitu," terangnya lagi.

"Kalau judulnya…" Zain mengernyit, mencoba mengingat.

"Rahasia Suamiku," ucapnya pelan.

Arkan masih memonyongkan bibirnya, jelas tidak suka.

Zain melirik sekilas, lalu menyeringai tipis.

"Hei… pangeran kecil kamu mau ikut? Seram, tahu!" goda Zain.

"Aku nggak takut!" teriak Arkan tegas.

"Arkan, sayang…" tegur Nayla lembut.

"Aku nggak takut…" ulangnya, masih dengan wajah ngambek.

"Iya… Arkan nggak takut, kakak tahu," ucap Nayla sambil menarik hidung kecilnya gemas.

"Jam tujuh. Kalau durasinya dua jam, berarti selesai jam sembilan," jelas Zain santai.

"Enggak bisa sore saja, Kak?" tanya Nayla ragu.

Kalau Arkan nggak ikut sih… nggak masalah, batinnya pelan.

Zain menghela napas pelan, lalu melirik Arkan yang masih menempel di sisi Nayla.

"Sore juga bisa sih…" gumamnya, pura-pura berpikir.

"Tapi nanti nggak seru. Film horor itu enaknya malam, Nay," lanjutnya santai, meski matanya sekilas menantang Arkan.

"Aku tetap mau ikut!" sela Arkan cepat.

Zain menahan senyum.

"Loh, tadi katanya nggak takut. Tapi ikut kakak terus, gimana dong?" godanya.

Arkan langsung memeluk lengan Nayla lebih erat.

"Aku nggak takut! Aku cuma… nemenin Kak Nayla!"

Nayla tertawa kecil, menepuk kepala Arkan pelan.

"Iya, iya… nemenin ya?"

Zain mendecak pelan, lalu menggeleng.

Ck, susah juga kalau ada saingan sekecil ini… batinnya.

"Gini aja," ucap Zain akhirnya, sedikit merendahkan suaranya.

"Kita nonton. Tapi kalau nanti ada yang takut, jangan nangis ya."

Arkan langsung mendongak, menatap tajam ke arah kaca depan.

"Aku nggak bakal nangis!"

Zain tersenyum tipis.

"Kita lihat nanti…"

Nayla hanya bisa tersenyum canggung di tengah-tengah mereka.

Ini nonton… atau lomba gengsi, sih… batinnya.

"Tapi filmnya… ramah untuk anak-anak nggak? Soalnya, kadang film horor itu banyak 18+," tanya Nayla ragu.

Zain terdiam sejenak, bibirnya terlipat ke dalam, seperti menahan sesuatu.

"Ada sih, Nay…" jawabnya pelan.

Nayla langsung menepuk dahinya.

"Kak Zain…" tatapannya menyipit, penuh peringatan.

Zain mengangkat bahu santai.

"Ya… namanya juga film horor."

Nayla menghela napas panjang.

"Arkan masih kecil, Kak."

Arkan langsung menyela cepat.

"Aku nggak kecil!"

Zain menahan tawa, bahunya sedikit bergetar.

"Nanti kita bahas lagi, Nay. Aku sudah lapar nih," ucapnya santai dengan senyum jahil.

Nayla menghela napas, menyerah untuk sementara.

"Aku juga lapar!" sahut Arkan cepat, tak mau kalah.

Zain terkekeh pelan, lalu membelokkan mobil dan memarkirkannya di sebuah restoran seafood yang cukup ramai.

Zain bersandar santai di kursinya, menatap Arkan yang masih cemberut di samping Nayla.

"Makan yang banyak," ucapnya ringan. "Biar cepat besar."

Arkan mendengus kecil. "Aku udah besar."

"Iya, besar… tapi masih nempel terus sama Nayla," balas Zain cepat.

"Aku nggak nempel!" protes Arkan, wajahnya mulai memerah.

Zain terkekeh pelan, jelas menikmati reaksi itu.

Tanpa banyak bicara, ia meraih satu piring lauk, lalu dengan santai memindahkan beberapa potong ke piring Arkan.

"Nih. Makan."

Arkan melirik piringnya, lalu ke arah Zain, curiga.

"Aku nggak minta."

"Iya," jawab Zain singkat. "Tapi kamu laper."

Arkan terdiam sejenak, bingung harus membalas apa.

Nayla yang melihat itu hanya diam, sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Enak loh, pangeran kecil. Coba," ucapnya lembut.

Arkan akhirnya mengambil satu suapan, masih dengan wajah gengsi.

Zain memperhatikan sebentar, lalu menyeringai tipis.

"Gimana?"

Arkan mengunyah, lalu mengangguk kecil.

Zain langsung menyandarkan punggungnya lagi.

"Ya jelas. Aku yang pilih."

Arkan mendengus lagi, tapi kali ini tidak sekeras tadi.

Dan entah kenapa… suasana di meja itu terasa sedikit lebih hangat.

Arkan masih makan dengan wajah cemberut, sesekali melirik Zain dengan tatapan tidak suka.

Zain memperhatikannya sekilas, lalu menyeringai tipis.

"Habisin tuh. Jangan sisa-sisa," ucapnya santai.

"Aku juga nggak suka nyisain!" balas Arkan cepat.

"Iya, soalnya yang nyisain biasanya anak kecil."

Arkan langsung menatap tajam. "Aku bukan anak kecil!"

Zain terkekeh pelan, jelas puas.

Nayla menggeleng kecil melihat mereka.

Zain lalu mengambil segelas minuman, meminumnya sebentar… lalu mendorong gelas itu ke arah Nayla.

"Nih."

Nayla mengernyit. "Itu kan punya Kak Zain?"

"Iya," jawabnya santai. "Masih banyak."

Nayla ragu sejenak, tapi tetap mengambilnya.

"Ih, jorok!" celetuk Arkan spontan.

Zain langsung melirik.

"Cemburu ya?" godanya ringan.

"Aku nggak cemburu!" bantah Arkan cepat, wajahnya mulai memerah.

Zain menyeringai, lalu bersandar santai.

Nayla hanya bisa menahan senyum, meski pipinya sedikit hangat.

Arkan masih menatap gelas di tangan Nayla dengan wajah tidak suka.

"Ih, jorok…" gumamnya pelan.

Zain langsung menyandarkan dagunya di tangan, menatap Arkan santai.

"Kenapa? Mau juga?" godanya.

"Aku nggak mau!" sahut Arkan cepat.

Zain terkekeh pelan, lalu kembali makan dengan santai.

Beberapa detik kemudian, ia kembali bicara, nadanya ringan tapi sengaja.

"Nay, nanti kalau nonton… duduknya di tengah ya."

Nayla mengernyit. "Kenapa?"

"Biar aman," jawab Zain singkat.

Arkan langsung menyela, "Aku juga mau di tengah!"

Zain melirik cepat, lalu menyeringai tipis.

"Kursinya cuma tiga, Arkan."

"Iya, kan kita bertiga!" balas Arkan kesal.

Zain mengangguk pelan, pura-pura berpikir.

"Hmm… iya juga."

Ia lalu menoleh ke Nayla, matanya sedikit menyipit jahil.

"Tapi biasanya yang di tengah itu… yang paling penting."

Nayla langsung salah tingkah. "Kak Zain…"

Arkan mengerut, tidak terima.

"Aku juga penting!"

Zain menahan tawa.

"Iya, iya… kamu penting. Penting buat… ribut," balasnya santai.

"Aku nggak ribut!"

Zain terkekeh lagi, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arah Nayla.

"Nanti kita atur deh," ucapnya lebih pelan.

Nayla tidak langsung menjawab, hanya menunduk kecil, mencoba fokus ke makanannya.

Di sampingnya, Arkan masih menatap Zain dengan penuh kecurigaan.

Zain yang melihat itu hanya tersenyum tipis, puas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!