tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
Di atas panggung marmer hitam yang diterangi oleh pendaran kristal ungu, Genevieve berdiri mematung layaknya sebuah arca es yang rapuh. Di tangan kirinya, botol kaca kristal berisi darah Kaelen Blackwood terasa berat, bukan karena massa fisiknya, melainkan karena bobot sejarah dan kutukan yang terkandung di dalamnya. Cairan merah kehitaman itu bergerak lamban di balik kaca, seolah memiliki kesadarannya sendiri, merayu Genevieve untuk segera menuangkannya ke atas altar obsidian dan melepaskan kekuatan yang tertidur selama berabad-abad.
Janji akan balas dendam yang instan menari-nari di pelupuk matanya. Ia bisa membayangkan wajah arogan Duke Alistair yang hancur oleh ketakutan. Ia bisa melihat Nyonya Besar berlutut memohon ampun di bawah kaki wanita yang dulu ia buang ke Jurang Hitam. Godaan itu begitu manis, begitu memabukkan, mengalir langsung ke pusat emosinya yang paling gelap.
Namun, Genevieve bukanlah seorang amatir yang dikendalikan oleh emosi sesaat. Kecerdasannya yang dingin dan penuh perhitungan adalah perisai utamanya.
Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan Suaka Gerhana menyelimuti dirinya. Di balik godaan kekuasaan itu, ia mendengarkan alarm dari tubuhnya sendiri. Telinganya berdenging nyaring, sebuah nada tinggi yang konstan dan menyiksa. Napasnya dangkal dan bergetar, paru-parunya seolah menolak untuk mengembang lebih dari beberapa sentimeter akibat rasa sakit yang menusuk dari tiga tulang rusuknya yang retak. Ujung-ujung jarinya mulai kebas, kehilangan sensasi sentuhan. Jantungnya berdebar dengan ritme yang tidak teratur, sebuah pertanda klinis dari kelelahan ekstrem yang nyaris memicu gagal jantung.
[Peringatan Kritis: Energi Vital 9 Poin. Kegagalan sistem motorik dalam 4 menit.]
Tulisan merah dari Sistem berkedip di balik kelopak matanya yang terpejam.
Dengan gerakan yang sangat kaku, Genevieve membuka matanya. Ia menatap botol darah itu sekali lagi, lalu memasukkannya ke dalam saku bagian dalam gaun linennya, menyembunyikannya dengan aman di balik ikat pinggang.
"Tidak hari ini," bisiknya parau, suaranya pecah oleh kelelahan. "Kekuatan yang tidak bisa kukendalikan sama berbahayanya dengan racun Gideon."
Ia tahu betul bahwa sihir kuno selalu menuntut bayaran. Membuka segel altar dari faksi Naga Berkepala Tiga dalam kondisi fisik yang nyaris mati adalah tindakan bunuh diri. Jika pelepasan segel itu memicu gelombang kejut magis, atau menuntut uji coba ketahanan mental, tubuhnya akan langsung hancur menjadi debu sebelum ia sempat mencicipi kekuatan tersebut. Sang Lady menolak mati di garis finis hanya karena ketidaksabaran.
Genevieve mengambil belati Nightfang dari atas meja altar, menyelipkannya di sisi pinggangnya yang mudah dijangkau. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuruni anak tangga panggung dengan sangat berhati-hati, memungut kembali mantel bulu Serigala Salju raksasanya yang tergeletak di lantai.
Beban mantel itu membuat lututnya nyaris goyah, namun ia memaksakan diri untuk menyeretnya menuju sudut ruangan yang paling terlindung. Matanya menyapu deretan rak buku dari kayu besi yang menjulang tinggi. Ia memilih sebuah ceruk sempit di antara dinding batu hitam dan bagian belakang salah satu rak buku terbesar. Posisi ini strategis; dari ceruk tersebut, ia memiliki pandangan lurus ke arah pintu perunggu ganda, sementara tubuhnya sendiri tersembunyi sepenuhnya dalam bayang-bayang. Jika ada sesuatu—atau seseorang—yang berhasil menyusulnya masuk, mereka tidak akan bisa menyergapnya dari belakang.
Genevieve menjatuhkan mantel bulunya ke lantai marmer yang dingin, melipatnya menjadi dua bagian. Bagian bawah yang lebih tebal akan menjadi alas tidurnya, menginsulasi tubuhnya dari suhu dingin batu, sementara bagian atasnya akan menjadi selimut.
Namun, sebelum ia bisa membiarkan dirinya jatuh ke dalam pelukan ketidaksadaran, ia harus menyelesaikan satu tugas terakhir yang paling menyiksa. Asupan kalori.
Ia merogoh saku luar mantelnya dan mengeluarkan sisa daging mentah dari paha Serigala Salju yang ia potong tadi pagi. Daging itu kini telah membeku sebagian, keras seperti batu bata berlumuran darah yang mengering. Bau anyirnya tidak lagi terlalu menyengat akibat suhu ruangan yang rendah, namun teksturnya sangat menjijikkan.
Genevieve duduk di atas lapisan mantelnya, menyandarkan punggungnya ke dinding batu. Ia memegang bongkahan daging mentah itu dengan kedua tangannya yang gemetar. Ia menatap daging itu dengan ekspresi kosong, mematikan sakelar emosi di otaknya. Ia tidak membayangkan dirinya sebagai seorang bangsawan yang terbiasa dengan hidangan angsa panggang dan anggur merah. Ia membayangkan dirinya sebagai mesin yang membutuhkan bahan bakar agar mesin itu tidak mati.
Ia membuka rahangnya, memaksa giginya menembus serat-serat alot dan beku dari daging monster tersebut. Rasa dingin dan besi mentah seketika meledak di lidahnya. Ia mengunyah dengan gerakan mekanis, air matanya menetes tanpa suara dari sudut matanya akibat perpaduan antara rasa sakit di rahangnya, rasa mual yang luar biasa, dan penderitaan dari tulang rusuknya yang bergerak setiap kali ia menelan.
Satu gigitan. Dua gigitan. Tiga gigitan.
Ia memaksa dirinya menelan tiga kepal kecil daging mentah itu sebelum perutnya bergejolak hebat, menolak asupan lebih lanjut. Genevieve segera meraih segenggam salju yang masih menempel di ujung mantelnya, memasukkannya ke dalam mulut, dan membiarkannya mencair untuk menetralkan rasa darah yang pekat.
"Sistem," gumamnya dengan napas terengah-engah, tubuhnya kini sepenuhnya terbaring meringkuk di atas mantel bulu, menarik sisa kulit serigala itu hingga menutupi dagunya. "Aktifkan Mode Istirahat Darurat. Pindai anomali di radius lima puluh meter selama aku tidak sadar. Bangunkan aku jika ada pergerakan atau perubahan suhu yang drastis."
[Perintah Diterima. Mode Istirahat Darurat Diaktifkan.]
[Mematikan input sensorik non-esensial untuk memaksimalkan regenerasi sel Tuan Rumah...]
Pendaran panel biru itu memudar menjadi kegelapan. Dan bersamaan dengan itu, kesadaran Genevieve langsung ditarik paksa ke dasar jurang ketidaksadaran. Tidak ada proses transisi, tidak ada kantuk yang lembut. Tubuhnya seketika mati, menyerahkan kendali sepenuhnya pada sistem biologis untuk memperbaiki kerusakan yang sangat parah.
Namun, tidur di dalam Suaka Gerhana tidak sama dengan tidur di dunia atas. Ruangan ini tidak sepenuhnya mati. Urat-urat kristal ungu yang merambat di dinding dan langit-langit bukan sekadar mineral pasif; mereka adalah reservoir memori, penyimpanan energi sisa dari para pengguna sihir Ordo Naga Berkepala Tiga yang telah lama dibantai.
Ketika pernapasan Genevieve melambat dan gelombang otaknya memasuki fase tidur paling dalam, hawa dari kristal-kristal itu mulai beresonansi dengan tubuhnya. Mungkin karena ia baru saja menelan daging Serigala Salju—hewan magis asli dari lembah ini—atau mungkin karena ia sedang membawa darah Kaelen Blackwood di sakunya, ruangan itu mengenalinya.
Genevieve tidak bermimpi tentang kehidupannya yang lalu, tidak pula tentang apartemen putihnya atau ibukota Aethelgard.
Ia terbangun dalam mimpinya.
Ia mendapati dirinya berdiri di tengah balairung yang sama, Suaka Gerhana. Namun, ruangan ini tidak lagi tertutup debu, dan suhunya tidak lagi dingin. Ruangan ini dipenuhi oleh cahaya ungu yang sangat terang benderang, menyilaukan mata, dan udara dipenuhi oleh aroma anggur merah, daging panggang, serta wewangian rempah yang eksotis.