Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Alisha Menghilang
Alvaro masih berdiri di depan kafe yang sudah tutup.
Lampu di dalam ruangan sudah dimatikan. Jalan di depan kafe terlihat sepi. Hanya beberapa kendaraan yang sesekali lewat di jalan utama.
Di tangannya masih ada tas kecil milik Alisha.
Alvaro menatap tas itu beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke sekitar trotoar.
Ia mencoba mengingat apa yang mungkin terjadi di tempat itu.
Tas jatuh di jalan.
Ponsel juga terlempar tidak jauh dari sana.
Alisha tidak mungkin meninggalkan semua itu begitu saja.
Kesimpulannya hanya satu.
Seseorang telah membawanya pergi.
Alvaro berjalan beberapa langkah di sekitar tempat itu.
Matanya menyapu setiap sudut jalan.
Ia berharap menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.
Tetapi tidak ada apa pun.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan kafe.
Damar turun dari mobil dengan langkah cepat.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
Alvaro langsung menyerahkan tas Alisha.
“Aku menemukan ini di jalan.”
Damar mengambil tas itu lalu melihat ke dalamnya.
“Ponselnya?”
Alvaro mengangkat ponsel yang tadi ia temukan.
“Ini juga jatuh di dekat tasnya.”
Damar menatap jalan di sekitar mereka.
“Dia pasti diculik.”
Alvaro tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah menunjukkan bahwa ia berpikir hal yang sama.
Damar berjalan beberapa meter menyusuri trotoar.
Ia mencoba melihat apakah ada tanda lain.
Bekas perkelahian.
Jejak sesuatu.
Tetapi jalan itu sudah terlalu bersih.
“Kejadiannya tidak lama,” kata Damar akhirnya.
Alvaro menoleh.
“Maksudmu?”
“Kalau kita terlambat lebih lama, mungkin barang-barang ini sudah tidak ada di sini.”
Alvaro mengepalkan tangannya.
“Berarti mereka baru saja membawanya pergi.”
Damar mengangguk.
“Ya.”
Ia melihat ke arah persimpangan jalan di depan.
“Kita harus mencari kamera pengawas.”
Alvaro langsung mengerti.
Jika ada kamera di sekitar tempat itu, mereka mungkin bisa melihat apa yang terjadi.
“Di ujung jalan ada minimarket,” kata Damar.
“Kamera mereka mungkin mengarah ke jalan ini.”
Mereka berdua segera berjalan menuju tempat itu.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan minimarket yang masih buka.
Damar masuk lebih dulu.
Ia berbicara dengan penjaga toko.
Setelah menjelaskan situasi yang terjadi, penjaga toko akhirnya mengizinkan mereka melihat rekaman kamera.
Mereka masuk ke ruangan kecil di belakang toko.
Sebuah layar komputer menampilkan rekaman dari beberapa kamera.
Damar memutar rekaman sekitar satu jam sebelumnya.
Alvaro berdiri di sampingnya dengan wajah serius.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya sesuatu muncul di layar.
Seorang gadis terlihat berjalan di trotoar.
Alvaro langsung mengenalinya.
“Itu Alisha.”
Damar memperbesar gambar.
Beberapa detik kemudian sebuah mobil berhenti tidak jauh dari Alisha.
Dua pria keluar dari mobil.
Salah satu dari mereka mendekati Alisha.
Rekaman itu terlihat jelas.
Alisha terlihat berbicara sebentar.
Kemudian seseorang muncul dari belakang.
Alisha mencoba melawan.
Alvaro mengepalkan tangannya saat melihat itu.
Pria-pria itu memaksanya masuk ke dalam mobil.
Mobil itu langsung melaju meninggalkan tempat tersebut.
Ruangan itu menjadi sunyi.
Damar menghentikan rekaman.
“Kita punya mobilnya.”
Ia mencoba memperbesar gambar bagian depan kendaraan.
Plat nomor terlihat tidak jelas.
Sepertinya plat sementara.
“Sulit dilacak,” kata Damar.
Alvaro masih menatap layar.
Matanya dipenuhi kemarahan.
“Setidaknya kita tahu mobilnya.”
Damar mengangguk.
“Aku akan mencoba mencari kamera lain di jalan utama.”
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju di jalan yang jauh lebih sepi, Alisha masih duduk di kursi belakang.
Tangannya dipegang oleh pria di sampingnya.
Mobil itu melaju cukup cepat.
Lampu kota mulai jarang terlihat.
Jalan yang mereka lewati terasa semakin gelap.
Alisha mencoba melihat ke luar jendela.
Tetapi kaca mobil terlalu gelap.
Ia tidak bisa mengenali tempat yang mereka lewati.
“Kalian mau membawaku ke mana?” tanyanya lagi.
Tidak ada jawaban.
Pria di kursi depan tetap fokus mengemudi.
Pria di sampingnya juga tidak berbicara.
Beberapa menit kemudian ponsel salah satu pria berdering.
Ia menjawab panggilan itu.
“Ya.”
Suara perempuan terdengar dari seberang.
“Bagaimana?”
Pria itu menjawab singkat.
“Target sudah kami bawa.”
Beberapa detik suasana menjadi sunyi.
Perempuan itu akhirnya berkata lagi.
“Pastikan tidak ada yang mengikuti kalian.”
“Tenang saja.”
“Bawa dia ke tempat yang sudah kita siapkan.”
“Baik.”
Telepon ditutup.
Alisha memperhatikan percakapan itu dengan jantung berdebar.
Ia tidak bisa mendengar dengan jelas siapa yang berbicara di telepon.
Tetapi satu hal yang ia pahami.
Semua ini sudah direncanakan.
Mobil itu terus melaju.
Beberapa menit kemudian mereka meninggalkan jalan raya.
Mobil masuk ke jalan yang lebih sempit.
Lampu jalan semakin jarang.
Bangunan di sekitar juga terlihat lebih tua.
Alisha mulai merasa semakin takut.
Di tempat lain, Alvaro dan Damar masih berada di ruangan kecil minimarket itu.
Damar menyimpan salinan rekaman kamera.
“Kita punya waktu sekitar dua puluh menit sejak penculikan sampai kamu menemukan tasnya,” katanya.
Alvaro menatap layar.
“Berarti mereka belum terlalu jauh.”
Damar menoleh.
“Kita akan menemukan mereka.”
Alvaro tidak menjawab.
Tatapannya terlihat dingin.
Ia memikirkan satu hal.
Siapa yang melakukan ini.
Beberapa menit kemudian mereka keluar dari minimarket.
Alvaro berdiri di dekat mobilnya.
Ia melihat jalan yang gelap di depan.
“Siapa pun yang melakukan ini,” katanya pelan.
“Aku akan menemukannya.”
Sementara itu mobil yang membawa Alisha akhirnya berhenti di sebuah tempat yang sangat sepi.
Di depan mereka berdiri sebuah bangunan besar yang sudah tua.
Gudang lama di pinggir kota.
Mesin mobil dimatikan.
Pintu belakang dibuka.
Salah satu pria menarik Alisha keluar.
Ia mencoba melawan, tetapi tidak berhasil.
Lampu di dalam gudang menyala redup.
Bayangan panjang terlihat di lantai beton.
Alisha dipaksa berjalan masuk ke dalam bangunan itu.
ia baru menyadari bahwa tempat itu jauh lebih menakutkan dari yang ia bayangkan.
Pintu gudang tertutup dengan suara berat.
Suasana di dalam ruangan itu terasa dingin dan sunyi.
Lampu bohlam yang tergantung di langit-langit hanya memberikan cahaya redup.
Alisha berdiri beberapa langkah dari pintu.
Jantungnya berdetak sangat cepat.
Ia mencoba melihat sekeliling.
Gudang itu terlihat tua.
Beberapa peti kayu tersusun di sudut ruangan. Dindingnya terlihat kusam dan penuh debu.
Tempat itu jelas sudah lama tidak digunakan.
“Jalan,” kata salah satu pria di belakangnya.
Tangan Alisha ditarik lagi.
Ia dipaksa berjalan lebih ke dalam gudang.
Langkahnya terasa berat.
Setiap suara langkah mereka menggema di ruangan besar itu.
Alisha mencoba menenangkan dirinya.
“Kalian salah orang,” katanya dengan suara gemetar.
“Aku bukan siapa-siapa.”
Tidak ada jawaban.
Pria yang berjalan di belakangnya hanya mendorong bahunya sedikit lebih keras.
“Diam.”
Beberapa meter kemudian mereka berhenti di dekat kursi besi yang berada di tengah ruangan.
Salah satu pria menarik kursi itu.
“Duduk.”
Alisha menggeleng.
“Apa yang kalian inginkan dariku?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia langsung mendorong Alisha hingga duduk di kursi tersebut.
Tangan Alisha segera ditarik ke belakang.
Tali kasar melilit pergelangan tangannya.
Alisha mencoba melawan.
“Lepaskan aku!”
Salah satu pria langsung menatapnya tajam.
“Kalau kamu terus berteriak, itu hanya akan membuat keadaan lebih buruk.”
Alisha terdiam.
Napasnya masih tidak teratur.
Ia mencoba berpikir.
Siapa yang melakukan ini?
Apa tujuan mereka?
Beberapa menit kemudian salah satu pria berjalan menjauh.
Ia mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
“Ya,” katanya singkat.
“Target sudah sampai.”
Suasana menjadi hening selama beberapa detik.
Pria itu kembali berbicara.
“Tempatnya aman.”
Alisha memperhatikan pria itu dengan penuh kecemasan.
Ia mencoba mendengar siapa yang berbicara di telepon.
Tetapi suara dari seberang terlalu pelan.
“Baik,” kata pria itu lagi.
Telepon ditutup.
Ia kembali berjalan ke arah Alisha.
Gadis itu menatapnya dengan mata penuh ketakutan.
“Apa yang kalian inginkan dariku?” tanyanya lagi.
Pria itu hanya berdiri diam beberapa detik.
Kemudian ia berkata pelan.
“Sebentar lagi kamu akan tahu.”
Di tempat lain, mobil Alvaro melaju cepat di jalan raya.
Damar duduk di kursi penumpang sambil menatap layar laptopnya.
Ia mencoba mencari kamera lain di sekitar daerah tersebut.
“Kalau mobil itu lewat jalan utama,” katanya, “harusnya ada kamera yang menangkapnya.”
Alvaro tidak mengalihkan pandangannya dari jalan.
“Temukan apa pun yang bisa menjadi petunjuk.”
Damar mengangguk.
Beberapa menit kemudian ia berkata lagi.
“Ada satu rekaman lagi.”
Alvaro langsung menoleh sedikit.
“Apa?”
Damar memperbesar gambar di layar.
Sebuah mobil terlihat melewati persimpangan tidak jauh dari kafe.
Mobil yang sama seperti di rekaman sebelumnya.
“Arah mereka ke pinggir kota,” kata Damar.
Alvaro menggenggam setir lebih kuat.
“Aku tidak peduli ke mana mereka pergi.”
Tatapannya terlihat dingin.
“Aku akan menemukan mereka.”
#bersambung
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~