NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog—Pelacur

Ibu ku bukanlah seorang pelacur, tetapi ia adalah korban pemerkosaan. Pemerkosaan yang di lakukan delapan pria—lima diantaranya sudah menikah, sedangkan untuk sisanya adalah pria lajang. Mereka memanfaatkan kesempatan dimana ibu hanya tinggal berdua dengan ku, tanpa orang yang bisa menjaganya, tanpa seorang keluarga yang bisa membelanya, dan yakin bahwa anak berusia 8 tahun seperti ku tak bisa berbuat apa-apa.

Mereka memegangi ibuku dengan kuat, melepaskan satu demi satu pakaiannya tanpa memperdulikan teriakan ibuku yang ketakutan. Mereka hanya tertawa dan menikmati momen tersebut. Tidak puas hanya memasuki nya, mereka bahkan memukul ibuku di muka, di dada, dan perut.

Rasa marah, jijik, dan sedih bercampur menjadi satu, memenuhi dadaku hingga terasa sesak. Tanganku gemetar, bukan karena takut, melainkan karena apa yang kulihat di depan mataku. Tubuh ibuku diperlakukan seolah tak memiliki harga diri. Tawa mereka terdengar rendah dan kotor, membuat perutku mual. Dunia seakan menyempit, menyisakan satu hal saja, yaitu kemarahan yang tak lagi bisa kutahan.

Tanpa benar-benar menyadari kapan aku mulai bergerak, kakiku membawaku ke dapur. Tanganku meraih sebuah pisau yang biasa ibuku gunakan untuk memasak. Dingin gagangnya terasa nyata, kontras dengan panas yang membakar pikiranku. Aku kembali dengan langkah kecil, nyaris tanpa suara. Mereka terlalu sibuk untuk menyadari kehadiranku.

Aku berhenti tepat di belakang salah satu dari mereka. Untuk sesaat, waktu terasa lambat, bahkan napasku terdengar jelas di telingaku sendiri. Lalu, sebelum pikiranku sempat berubah, tanganku bergerak.

Teriakan memecah ruangan.

Pria itu menoleh dengan wajah terkejut, tak menyangka bahwa ancaman datang dari seseorang yang selama ini mereka anggap lemah. Aku tidak berhenti, aku kembali menusuk pria itu di ulu hatinya, kemudian aku menarik pisau itu kebawah sehingga membuat perut pria itu terbuka lebar. Ruangan yang tadinya dipenuhi tawa kini berubah menjadi kekacauan.

Mereka semua tak sempat bereaksi, hingga salah satu pria mengambil lentera lampu yang merupakan barang terdekatnya, yang kemudian ia pukul kan lentera itu padaku dan mengenai sisi kiri wajahku. Rasa panas, serta perih dari pecah kacanya membuat mata serta kulit wajahku terkelupas dan berdarah. Tetapi rasa sakit itu tak bisa mengalahkan rasa marahku, dengan cepat aku mengambil kembali pisau dan menusuknya di alat vital pria itu sampai membuat cacing hitam itu terlepas dari tubuhnya.

Pria lainnya tak diam saja kali ini. Mereka menendang, memukul, membanting, dan menusuk ku menggunkan pedang tepat di perut bagian kanan ku.

Akibat suara gaduh yang besar beberapa warga mulai berdatangan. Hal itu membuat para bajingan itu kelabakan, mereka menyembunyikan ku didalam kamar dan mengunciku disana. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan pada ibuku, tetapi yang pasti aku mendengar suara para ibu rumah tangga yang mencaci-maki ibuku.

Teriakan mereka melengking tinggi, menusuk telinga. Dengan suara yang penuh amarah dan kebencian, mereka menuduh ibuku sebagai perempuan tak tahu malu—seorang penyembah iblis yang melakukan ritual mengerikan. Ibuku berusaha menyangkal dengan suaranya serak dan napasnya tak teratur, tetapi ia tetap berbicara. Ia mengatakan bahwa semua itu tidak benar. Namun kata-katanya tenggelam dalam kerumunan, di hadapan amarah massa, kebenaran tidak lagi memiliki tempat.

Ada dua hal yang mereka jadikan bukti, satu tubuh pria yang terbujur tak bernyawa. Dan satu lagi adalah pria dengan cacing hitam lepas dari tubuhnya.

Bagi warga, itu sudah cukup. Mereka tidak mencari kebenaran, yang hanya mereka cari adalah siapa yang bisa disalahkan. Seseorang membawa obor, yang kemudian diikuti oleh yang lain. Dalam hitungan detik, cahaya api berkumpul di depan rumah kami, seperti sekumpulan mata merah yang haus pembenaran. Bau kayu terbakar mulai memenuhi udara sebelum api benar-benar menyentuh dinding.

Aku yang disembunyikan di kamar, menyadari ada asap yang menyusup melalui celah-celah kecil, membuat dadaku sesak. Di luar, suara kayu retak dan kaca pecah terdengar seperti teriakan panjang rumah yang menyerah pada panas. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ibuku masuk dengan wajah dipenuhi jelaga dan mata yang memerah, tanpa berkata apa pun, ia memelukku erat. Pelukannya hangat, meski dunia di sekitar kami terasa membara.

“Ayo,” bisiknya. Ia menggendongku meski tubuhnya sudah gemetar. Api menjalar cepat di langit-langit. Panasnya menyengat kulit, ia menendang dan memukul jendela dengan tangan kosong, sekali, dua kali—hingga akhirnya kaca itu pecah dengan suara nyaring.

Udara malam menyambut kami. Tanpa menoleh ke belakang, ia melompat keluar. Kakinya berlari melewati bayangan dan cahaya obor yang bergerak liar. Warga terlalu sibuk memastikan rumah itu benar-benar habis terbakar untuk menyadari kami telah menghilang. Kami terus berlari hingga desa hanya tinggal cahaya kecil di kejauhan, dan hutan menyambut kami dengan gelap dan sunyi. Di sana, tak ada teriakan, tak ada tuduhan, yang ada hanya suara napas kami yang berat dan detak jantung yang masih belum tenang.

Sejak detik itu, kami menetap di gua yang ada di hutan itu. Saat pertama kali sampai disana ibuku mengobati luka ku menggunkan energi qi nya hingga hanya menyisakan bekas luka di tubuhku. Tetapi setelah itu ia jatuh pingsan.

Kami menempati gua ini tanpa perbekalan, tanpa perabotan, dan hanya ada pakaian tipis yang terakhir kali digunakan. Ironisnya, ibuku mengenakan pakaian yang menjadi saksi pelecehan tersebut, bahkan ia kini mengalami trauma berat setelah sadar dari pingsannya. Ia juga menjadi pasif dan tak pernah berbicara lagi dengan ku, ia hanya terdiam seraya memeluk dirinya sendiri, bahkan tak ingin disentuh oleh ku yang merupakan seorang laki-laki.

Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa bertahan hidup dengan mencari buah-buahan di hutan, tak jarang pula aku dikejar-kejar hewan buas di hutan itu, namun aku selalu berhasil kabur. Tentu buah-buahan itu juga aku berikan pada ibu, tetapi aku hanya bisa meletakan buah itu didekatnya tanpa menyentuhnya. Aku pun tak pernah tidur di gua karena ibu ku akan berteriak histeris, dan lebih sering tidur di atas pohon besar yang berada di dekat gua itu.

Di dekat gua itu terdapat juga sungai yang mengalir tenang. Aku selalu membersihkan diriku di sungai tersebut, dan selalu membawa air dari sana untuk diminum juga. Sedangkan untuk ibuku, aku sulit untuk memandikan nya, bahkan aku tak memiliki alat untuk membawa air itu ke gua selain cangkir kecil yang terbuat dari kulit jeruk untuk diminum.

Seiring berjalannya waktu aku mulai beradaptasi di hutan itu. Aku juga mulai bisa membunuh beberapa hewan buas menggunkan tongkat kayu yang di tajamkan menggunkan batu tajam. Karena dahulu aku pernah melihat ibuku menyalakan api menggunkan dua buah batu dan ranting, aku mencoba cara itu untuk memanggang daging. Walau sedikit sulit, aku berhasil membuatnya dengan beberapa kali percobaan.

Terkadang aku selalu mengintip kearah desa dibalik pepohonan. Disana aku melihat terdapat beberapa orang yang menjual kulit binatang dan dagingnya secara bersamaan. Dari sana aku mendapatkan ide untuk menjual hasil buruan ku juga, yang mana uangnya aku pakai untuk membelikan pakaian baru untuk ibuku. Karena ia selalu merasa bahwa pakaian itu adalah barang menjijikan yang menjadi saksi trauma nya.

Tetapi suatu hari, ada sebuah kejadian kecil yang berhasil mengubah hidupku…

1
KuntilTraanak
Maaf ya guys update bab nya telat, soalnya akhir-akhir ini disekolah sibuk banget. Buat permintaan maafnya, saya update 3 bab buat kalian.
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!