REMINDER !! ADA Beberapa Adegan D3w4s4
Rendy dan Linda
Dua manusia yang bersatu atas dasar perjodohan. Tidak ada yang tahu cerita itu, bahkan sampai mereka tidak jadi menikah pun ceritanya di tutup rapat.
tapi kilat putih dimalam itu membawa cerita yang berbeda -----
#mohon maaf masih pemula 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Sumartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Chandra II
"Devan. Kakak kira kamu akan berlari dan memeluk Kakak setelah sekian lama." kata Rendy membuka suara untuk meramaikan suasana hening di dalam mobil sport ini.
Devan memandang saudaranya dengan tatapan aneh. "Kak, aku masih normal." ujar Devan sedikit menatap tajam kearah Rendy.
"Jangan menatap Kakak seperti itu. Kamu tidak sopan, Kakak lebih tua dari kamu." ucap Rendy melirik Devan dan kembali fokus menyetir.
"Apa Kak Linda sudah gak mau peluk Kakak lagi?"
"Huh? Kenapa kamu jadi bawa - bawa nama Linda." tanya Rendy.
"Jadi minta pelukan sama tunangan Kakak bukan sama aku." kata Devan dengan nada tenang namun sedikit protes.
"Kakak selalu peluk Linda." jawab Rendy dengan nada sombong.
"Kakak sangat mesum." jawab Devan singkat namun berhasil membuat Rendy menatap horor kearahnya.
Tanpa sadar mobil sport itu sudah mulai masuk ke halaman rumah keluarga Chandra, terparkir di tempat parkir di area belakang rumah tersebut.
Viona berkacak pinggang saat matanya menangkap rupa Devan yang mulai mendekat kearahnya.
"Ibu..."
"Rendy, anakku sayang. Kamu bawa tamu siapa nak? Ibu baru pertama kali melihatnya." sindir Viona menghindari Devan dan merangkul lengan Rendy.
"Ibu.. Tamu kita sudah lama tidak berkunjung kesini. Sepertinya kita harus berkenalan ulang." jawab Rendy yang mengikuti sandiwara Viona yang sangat kesal dengan Devan.
"Ibu.. Aku minta maaf Ibu.. Tolong jangan seperti itu, aku sangat sibuk dengan kelas online dan offline bahkan ujian-"
"Jean lebih sibuk dari kamu, tapi dia masih ingat punya keluarga." ucap Viona dengan nada tegas dan aura penuh penekanan.
Rendy menelan ludahnya. Lebih baik menghadapi Ayahnya yang marah daripada Ibunya. Jika tahu begini seharusnya dia ikut Ayah dan Kakaknya yang pergi memancing daripada disini. Aku baru mengerti kenapa mereka tiba - tiba pergi memancing. Ujar Rendy di dalam hati.
"Ibu aku minta maaf. Aku salah Ibu. Aku janji akan lebih sering hubungi Ibu." ujar Devan bersujud dan menggenggam erat tangan Viona dan menatap wanita itu dengan mimik wajah penuh penyesalan.
"Ibu tidak punya anak sepertimu. Anak Ibu hanya Jean dan Rendy." ucap Viona melangkah pergi dan duduk di sofa.
"Ibu.. Aku juga anak Ibu.. Ibu aku sayang Ibu, maafkan Devan ya." ucap Devan mendekap pinggang Viona dan mengecup pipi wanita tersebut.
"Jangan merayu Ibu seperti itu." kata Viona mendelik tajam kearah Devan.
"Devan. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana bisa kamu bahkan tidak menghubungi Ayah atau Ibu sama sekali? Kamu tidak tanya bagaimana kabar kita disini. Kamu mengabaikan panggilan telepon Ayahmu bahkan kamu tidak ada niat menghubungi kita balik saat kamu tidak mengangkat telepon dari kita. Sibuk apa sih yang kamu kerjakan sampai lupa dengan kita? Jean lebih sibuk tapi selalu bertanya kabar atau memberi kabar kepada kami. Bahkan Jean lah yang selalu memberi kami kabar bagaimana keadaan kamu disana. Ayah dan Ibu gak masalah kamu sekolah dimana, sejauh apa dari rumah. Tapi tolong sesekali kabari kami. Hati Ayah dan Ibu akan menjadi tenang saat mendengar suara kamu langsung Devan." ucap Viona meluapkan semua kekesalan amarahnya kepada Devan, namun tutur katanya sangat lembut khas seorang Ibu yang menasehati anaknya.
"Ibu aku minta maaf. Aku mengerti, aku salah Ibu." jawab Devan memeluk erat Viona.
"Jangan di ulangi nak. Ayah dan Ibu sangat khawatir selama ini, karena kami hanya menerima kabarmu dari Jean dan orang lain. Kami hanya mau kabarnya langsung dari kamu." ujar Viona mengelus mahkota putra bungsunya dengan kasih sayang seorang Ibu.
"Baik Ibu. Aku sangat menyesal. Maaf aku buat Ibu dan Ayah jadi khawatir, aku menyayangi kalian." ujar Devan dalam pelukan Viona.
Rendy tersenyum tipis menatap Ibu dan adiknya. Dia kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.
"Eh? Linda?"
Rendy terdiam di ambang pintu kamarnya. Memastikan bahwa dia tidak salah masuk rumah dan salah masuk kamar. Memang sebelumnya Linda memberi kabar akan datang berkunjung, tapi siapa sangka bisa secepat ini.
"Maaf Ren. Tadi aku baru saja datang, ketemu tante Viona. Tapi kata tante kamu lagi jemput Devan. Jadi aku di suruh tunggu di kamar kamu, katanya di ruang tamu akan ada huru hara yang sangat gawat. Apa yang terjadi Ren? Apa aku salah waktu berkunjung ya?" tanya Linda kebingungan.
Rendy buru - buru masuk kamarnya dan menutup pintu. Dia menghampiri Linda yang duduk di atas sofa di kamarnya. "Tidak ada. Hanya sedikit drama kehidupan tapi semua sudah kembali normal." ucap Rendy.
Linda masih menatap Rendy dengan pandangan bingung dan tidak mengerti, Rendy lantas mengusap halus kepala Linda. "Tidak ada hal gawat yang terjadi. Jangan dipikirkan ya. Lalu kenapa kamu datang kesini? Kangen sama aku ya?" goda Rendy mendekatkan dirinya.
"Jangan dekat - dekat Ren, mundur sedikit." kata Linda bergeser ke samping menjauhi Rendy.
Rendy menarik sudut bibirnya, wajah malu - malu Linda sangat manis. Dia menekuk kaki kanannya dan duduk setengah bersila. "Jangan lupa ini kamarku sayang." kata Rendy tersenyum misterius kearah Linda.
"Kamu mau ngapain? Jangan aneh - aneh Rendy." ucap Linda semakin merah merona.
"Ngapain ya? Gak janji loh. Masak ada santapan enak di depan mata gak aku makan sih." sahut Rendy menarik tangan Linda agar mendekat kearahnya.
"Rendy aku cuma mau minta tolong kamu temani aku cari hadiah untuk ulang tahun Bagas. Aku udah hubungi kamu, lihat aja ponselmu." ucap Linda menahan tubuh Rendy.
Rendy menarik tubuh mungil Linda, memeluknya erat dan menghirup dalam aroma vanilla kekasihnya. Dia menyampirkan rambut Linda yang tergerai indah kesamping bertumpu pada bahunya. Tanpa ijin, Rendy memberi kecupan ringan di leher Linda yang membuat kekasihnya menggeliat geli.
"Rendy.. Jangan... Tidak disini.." ucap Linda merasa agak menyesal sudah datang mencari pemuda ini.
Rendy mengunci bibir Linda, membaringkan wanitanya di atas sofa yang panjang. Dia sangat merindukan wanita ini, hasrat dan cinta yang besar terkadang membuat dia seperti seorang pria yang terobsesi dengan tunangannya. Merasa sangat marah jika Linda berdekatan dengan cowok lain, dia hanya mau wanita ini hanya untuk dirinya seorang.
Tangan yang terkunci, tubuh yang tertindih membuat Linda terkurung dan tidak bisa kabur. Hal yang bisa ia lakukan adalah mengimbangi kegilaan tunangannya yang melumat dalam bibirnya. "Rendy.. Sebentar.." ucap Linda di sela - sela ciuman panas itu, ketika ia merasa sebelah tangan Rendy sudah masuk kedalam kaosnya mencari pengait baju dalam yang ia kenakan. Sepertinya akan di lepas. Ucap Linda di dalam hati.
"Linda sayang. Aku bukan pria yang punya segudang kesabaran jika itu kamu yang ada di depanku. Maaf ya." ucap Rendy tersenyum misterius yang membuat Linda merinding.
Sementara itu di tempat memancing...
"Ayah, sampai kapan kita disini?" tanya Jean yang menatap alat pancing yang belum mendapatkan ikan.
"Sampai amarah Ibu reda nak." jawab Dion dengan tenang dan di balas bahasa tubuh setuju oleh Lazio yang berada di samping Dion.