"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pindah
"Kenny membawa Ribka ke komplek perumahan elit. Ribka yang awalnya tidak menyadari, karena mengira mereka hanya melintas saja. Menjadi heran saat mobil berhenti.
"Kita sudah sampai Tante." Kenny mematikan mesin mobil.
Ribka menatap Kenny bingung. Lalu melihat ke sekeliling. "Kok, kita kesini? Ini kan komplek perumahan orang berada Ken? "
"Iya, Tante akan tinggal di komplek ini."
"Apa? Kenny, kamu jangan bercanda kepada Tante. Mana bisa Tante membayar uang kontrak disini?"
"Nanti Kenny jelaskan Tante. Kita masuk dulu." Kenny keluar dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil.
Ribka terpaksa keluar. Mengikuti Langkah Kenny. Mereka disambut sepasang suami istri. Merekalah yang menjaga dan merawat rumah itu selama ini.
"Selamat datang Tuan Muda." pasangan suami istri itu menyambut mereka dengan hormat.
"Apa khabar Paman Surya dan Bibik Risma?" sapa Kenny hangat.
"Khabar baik, Tuan. Tuan kok mendadak datang kemari. Tidak bilang-bilang dari kemarin?" sahut Paman Surya.
"Rencananya juga mendadak Paman. Oh, ya Paman, Bik. Kenalkan, Tante Ribka. Beliau akan tinggal bersama Paman dan Bibi disini." Ribka tersenyum ramah. Menyalami Paman Surya dan Bibik Risma bergantian. Saat Kenny memperkenalkannya kepada pasangan paruh baya itu.
"Saya Ribka. Panggil saja Bu Ribka." ucap Ribka mengimbangi keramah tamahan pasangan suami istri itu. Lalu gantian mereka memperkenalkan diri.
Paman Surya dan Bibik Risma, menatap Ribka. Lalu beralih ke Tuan Muda mereka. Ada yang janggal di dalam hati mereka. Kenapa Kenny lebih mirip kepada Ribka dari pada mendiang Nyonya mereka?
Paman Surya dan Bibik adalah pasangan suami istri tanpa anak. Mereka sudah tinggal di rumah itu ketika Kenny berusia sepuluh tahun.
Jadi mereka ingat betul masa kecil Kenny. Kenny sangat mirip dengan Ribka. Terutama dengan senyum dan matanya.
"Ada apa, Paman. Kenapa Paman dan Bibik menatap Tante Ribka seperti itu?"
"E-gh, maaf Tuan Muda. Melihat Bu Ribka, mengingatkan Bibik saat kamu masih kecil."
"Betul, Tuan Muda sangat mirip ketika masih kecil. Sekarang, karena badan Tuan Muda udah berotot di mana-mana ya jadi semakin samar. Tapi senyumnya gak berubah, masih tetap sama."
"Hah, yang bener saja, Bik. Tapi jujur aku senang kalau aku mirip dengan Tante Ribka." ucap Kenny konyol. Mereka berempat tertawa serempak. Mendengar guyonan Kenny.
Dalam hati, jantung Ribka juga bertalu riuh. Dia juga menilai hal sama, saat pertama kali bertemu Kenny. Senyumnya mengingatkannya pada Jason kecil.
Ribka sempat mengira kalau mereka adalah orang yang sama. Kenny, adalah Jason kecilnya yang telah dewasa. Terlebih dia merasakan hal aneh setiap kali dekat dengan Kenny. Seolah mereka pernah terhubung di masa lalu.
Jason memiliki tanda lahir. Bercak merah di sudut mata kanannya. Memanjang hingga ke dahinya. Sedangkan Kenny tidak. Wajahnya tampak bersih tanpa ada tanda lahir.
Hal itulah yang membuat Ribka meragukan dugaannya.
"Oh, ya Tan. Aku akan antar Tante ke kamar Tante. Bik, dak apa-apa kan, Kenny minta disiapin makan siang."
"Tentu saja tidak apa-apa Tuan. Bibi dan Paman pamit ke dapur dulu."
"Iya Bik."
"Ayo Tan." Kenny menyeret koper Ribka. Tapi Ribka tidak bergerak. Karena masih fokus dengan pikirannya tentang Kenny.
"Tante?" Kenny menepuk pelan lengan Ribka. Heran melihat Ribka terdiam. Ribka kaget. Membuatnya tergeragap.
E-gh i-iya. Biar Tante saja yang bawa." Ribka meraih kopernya. Tetapi sudah keduluan sama Kenny.
"Biar Kenny saja, Tan."
"Ini kamarnya Tan. Semoga Tante betah tinggal di rumah ini."
Ribka menatap takjub ruang kamar yang cukup luas itu. Jauh lebih luas dari kamar di rumahnya.
"Kenny, kenapa mengajak Tante tinggal di rumah ini. Apa ayah kamu nanti tidak keberatan Tante tinggal disini?" ucap Ribka merasa tidak enak juga.
"Tante tenang saja. Papa jarang datang ke rumah ini, sejak Mama meninggal. Rumah ini meninggalkan banyak kenangan. Yang membuat Papa teringat terus kepada Mama. Jadi Papa lebih betah tinggal di kantornya sendiri.
"Saya sendiri juga memilih tinggal dekat kantor, tempat saya bekerja, Tante. Biar gak bolak balik ke rumah ini."
"Tapi, Tante merasa sungkan tinggal disini. Karena Tante juga mau cari pekerjaan. Tinggal di rumah sebesar ini, apa tidak akan membuat tetangga curiga?"
"Aduh, Tante. Tidak akan ada yang peduli dan keberatan. Memang kenapa kalau rumah ini besar. Tante tinggal bersama Paman dan Bibik. Tante bantu mereka merawat rumah ini."
"Kalau soal pekerjaan, Kenny akan rekomendasikan Tante nanti. Sepertinya ada lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan. Kenny akan tanya nanti, Tante."
"Aduh, maaf ya. Tante telah merepotkan kamu." Ribka merasa tidak enak hati juga. Menerima kebaikan Kenny.
"Tidak apa Tante. Kenny peduli kok sama Tante. Lagian Mirza kan sudah mengamanatkan untuk menjaga Tante. Selama dia tidak ada."
"Terima kasih ya. Kamu benar-benar anak yang baik." Tangan Ribka terulur menyibakkan rambut Kenny yang menutupi keningnya. Sengaja dia lakukan untuk memperjelas apakah ada sesuatu disana.
Tapi bersih. Wajah Kenny terlalu bersih sehingga akan mudah melihat tanda itu. Tetapi tidak ada sama sekali.
Kenny menahan tangan Ribka diwajahnya. Membuat Ribka tertegun.
"Tan, saat pertama kali Tante lakukan hal seperti ini kepadaku. Mengusap wajahku. Kenny merasa sangat bahagia. Sentuhan lembut seorang ibu yang baru pertama kali aku rasakan."
Ribka menarik tangannya perlahan. Ucapan Kenny terdengar aneh. Bukankah dia memiliki ibu juga. Dan sudah meninggal. Kenapa dia berkata seperti itu?
"Kenny, bicaramu kok aneh. Kamu pernah bilang sangat mencintai Ibu kamu. Tetapi kenapa kamu malah berkata seperti itu?" Ribka menatap dalam ke iris mata Kenny. Ingin menguak misteri apa di kedalaman mata itu.
"Aku memang mencintai Mama. Tapi hati Mama bukan untukku. Aku hanya anak adopsinya. Antara aku dan Mama selalu ada jarak yang tidak bisa disatukan. Atau tepatnya, mungkin aku yang membuat jarak itu. Sepertinya ada trauma yang tidak aku ingat jelas. Tetapi alam bawah sadarku selalu memberi sinyal untuk merasakannya.
"Berbeda dengan Tante. Saat pertama kali bertemu. Tante seolah tidak asing denganku. Sepertinya kita pernah terhubung. Tapi Kenny tidak punya petunjuk apa-apa."
Ribka terguncang mendengar setiap kata itu. Ingatannya akan Jason melintas tak terkendali. Dia yang seperti orang gila, saat anaknya hilang. Menyusuri pasar berkali-kali. Mememeriksa setiap sudutnya. Siapa tahu putranya berada disana.
Membayangkannya ketakutan, kelaparan, sendirian dan terbuang. Membuat jiwanya serasa mati.
Bertahun-tahun dia tidak berhenti berdoa untuk keselamatannya. Berharap dia baik-baik saja.
Dia sendirian dengan semua perasaan bersalah serta penyesalan yang meruntuhkan kekuatannya. Menghukum dirinya. Menerima setiap perlakuan suaminya sebagai penebusan dosa dan rasa bersalahnya.
Dia sudah bertahun-tahun ditindas. Dimanfaatkan. Dikhianati. Hingga kesadarannya muncul, dan menyadari semua pengorbanannya sia-sia oleh penghianatan suaminya. ***
Dan aku rasa Mirza itu anaknya Raymond dengan Kathy.