Seorang mahasiswi yang harus rela menikah dengan brondong.
Karena kejadian yang tidak mengenakkan. Di grebek warga saat di toilet. Dan menjadikannya harus menikah di saat itu juga.
Dia yang sudah berumur 21 tahun semester VI dan dengan terpaksa harus menikah dengan brondong 18 tahun. Masih SMA kelas 3.
Bagaimana kelanjutannya...?
Pantengin di sini ya??
Makasih sudah mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
.
.
.
Nesa memandang takjub waduk buatan yang ada di hadapannya. Dia baru tahu kalau di sini ada waduk yang begitu indah, apa lagi di malam hari terlihat begitu lebih lebih indah karena dihiasi lampu-lampu tumbler di sekelilingnya.
Sedang Jo menatap pemandangan yang ada di sampingnya, yaitu istrinya. Entah kenapa, malam ini Nesa terlihat begitu cantik tak seperti biasanya. Biasanya memang cantik, tapi aura yang dipancarkan oleh Nesa saat ini begitu berbeda.
"Nes..."panggil Jo pelan seraya berbisik.
Nesa sedikit memundurkan kepalanya karena jarak kepala Jo begitu dekat dekat wajahnya. Posisi mereka saat ini sedang berdiri di tepi waduk yang tanpa ada pembatas.
"I-iya..." Nesa jadi gugup sendiri. Seperti layaknya anak muda yang sedang falling in love , wajah Nesa terus menampakkan semburat merah muda.
"Aku ingin berkata sesuatu...." Jo menarik nafas dalam-dalam sambil menutup matanya sebentar. Kemudian dia membuka matanya kembali, menatap dalam manik mata istrinya berharap ada cinta juga di sana.
Nesa semakin gelisah tak menentu, apalagi sekarang Jo menggenggam jemarinya begitu erat.
"I love you..."
DEGggg... deggggg... deggggg...
Cukup 3 kata yang membuat jantung Nesa bergemuruh deg-degan. Berkali-kali Nesa mengerjapkan matanya. Berharap ini bukan mimpi. Tapi sepertinya ini memanglah bukan sebuah mimpi. Jadi benar, Jo menyatakan cinta untuknya. Nesa terharu, ingin rasanya dia menangis sekarang. Itu tandanya, cintanya terbalaskan. Nesa bernafas lega, akhirnya Nesa bisa merasakan sebuah cinta yang sesungguhnya. Mencintai dan dicintai.
"Aku cinta kamu Nes, aku sayang kamu..." Jo langsung memeluk Nesa dengan erat. Jo tak perlu jawaban, karena ini pernyataan cinta yang bukan untuk pacaran. Jadi apapun itu mereka tetap akan bersama entah tanpa cinta atau tidak. Jujur, sebenarnya Jo berharap Nesa juga mencintainya.
Nesa membalas pelukan itu, air matanya pecah membasahi sweater yang Jo kenakan. "I love you too Jo.... aku mencintaimu juga menyayangimu...."balas Nesa sesenggukan. Dia benar-benar bahagia saat ini.
Jo menganga tak percaya. Nesa juga mencintainya. Jo melepaskan pelukannya. "YESsss...."teriaknya dengan kencang. Lalu menarik pinggang Nesa. Diangkatnya pinggang sang istri sambil memutar tubuh keduanya. Reflek Nesa mengalungkan kedua tangannya ke leher Jo. Biar tidak jatuh.
Beberapa pengunjung yang lain ternyata menyaksikan moment itu. Hingga ada yang bersorak riuh menggoda.
"Woi.... di sini banyak jomblo woi..."
"Woi... tempat umum woiiii...."
Suiiiit... suiiiiit....
Jo langsung menurunkan Nesa. Mereka langsung salah tingkah, sedang Nesa langsung menunduk malu. Mereka lupa kalau ini adalah tempat umum. ckckck, Nesa geleng-geleng kepala tak percaya. Memang benar kata pepatah, orang jatuh cinta dunia serasa milik berdua.
Dengan langkah malu, Jo dan Nesa berjalan menjauhi orang-orang yang menontonnya tadi. Dan jangan lupakan tangan mereka, mereka masih saling menggenggam.
"Apa-apaan sih mereka,, norak banget..."celetuk Jo sedikit kesal, karena moment romantisnya diganggu.
"Hussss, ini tempat umum Jo. Jadi wajar kalau kita jadi tontonan gratis..."timpal Nesa sambil terus berjalan beriringan dengan suaminya itu.
"Yowes lah,,, kalau gitu kita cari sesuatu aja..."usul Jo yang melihat banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di atas trotoar.
"Boleh, aku pengen cilok..." jawab Nesa sambil menunjuk salah seorang pedagang cilok.
"Ya udah yuk....!!!" Jo menarik tangan Nesa lagi agar mengikuti langkahnya.
Tak cukup cilok, Jo dan Nesa juga membeli martabak, terang bulan, ote-ote, jus buah dan banyak lainnya. Untuk hari ini Jo gak melarang Nesa buat hemat. Loss pokok e.
Keduanya masih asyik menikmati momen jadian mereka. Eh jadian??? Iya, jadian setelah menikah. Gak ada salahnya kan??? Karena rasanya begitu indah buat mereka berdua.
Nesa dan Jo saling tertawa jika melihat sesuatu yang dirasa lucu. Tiba-tiba....
Bruuuukkkkk...
"Awwww...."pekik seorang gadis berkulit putih. Wajah mulus, rambut sepinggang idaman banyak lelaki. Termasuk Jo sendiri.
"Lia...." Jo tak percaya gadis yang ia tabrak adalah Lia. Adik kelas yang pernah singgah di hatinya. Hampir setahun ia tak bertemu karena pindah sekolah dan baru kali ini ia bertemu dengan gadis yang pernah ia puja dulu.
Nesa terdiam, melihat drama apa yang sedang ia hadapi sekarang. Mungkin saja teman Jo apa cinta monyetnya kalau tidak ya cinta pertamanya. Fikir Nesa yang merasa sedikit ada getaran panas menjalar di sekujur tubuhnya. Tak mau ambil pusing, Nesa langsung ninggalin Jo dan menghampiri penjual jagung bakar.
"Loh kak Jo???"tanya Lia balik.
"Iya aku,,, oh ya Lia tumben malem-malem masih ada di luar. Nanti dimarahin masmu lho??"tanya Jo yang sedikit khawatir sama keadaan Lia.
"Mas Aris udah ngijinin Lia keluar malem kok kak..."balas Lia sedikit gugup.
Flashback
"*Lia,,, mulai sekarang kamu harus mengambil hatinya Jo..."ucap Aris dengan tatapan yang begitu tajam.
"Aku gak mau mas... bukannya mas Aris sendiri yang minta aku buat gak deket-deket cowok. Kenapa sekarang malah maksa Lia???"tanya Lia tak percaya seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku gak perduli, pokoknya kamu harus deketin Jo. Ambil hatinya lagi, ajak dia pacaran. Ciuman atau ML kalo perlu..."kata Aris yang membuat Lia pusing. Ucapan Aris benar-benar tak masuk akal.
"Aku gak mau mas,,, gak mau..." Lia terus menggeleng-gelengkan kepalanya menolak.
PLAKkkk
Satu tamparan sudah mendarat di pipi putih Lia.
"Kamu harus lakuin itu Lia!!! Ini perintah.."Aris terus memaksa sang adik untuk mendekati Jo.
"Gak mas,,, Lia gak mau*..."
Perintah Aris itu masih terngiang-ngiang di telinga Lia. Bahkan Lia juga gak tahu pasti apa alasan Aris menyuruhnya untuk mendekati Jo.
"Lia, kamu gak pa-pa???" pertanyaan Jo barusan menbuyarkan lamunan Lia.
"Gak pa-pa kak??? Oya, lain kali Lia boleh nemui kak Jo kan??? Emmm sebagai teman..."ucap Lia hati-hati. Karena Lia yakin, Jo belum melupakan kejadian waktu itu. Dasar kakaknya rada sableng. Fikir Lia.
"Tentu Lia,, tapi kakak sudah hampir lulus..."terang Jo seraya mengingatkan.
"Gak masalah kak. Lia pulang dulu ya,,, takut kemaleman...."pamit Lia sambil melambaikan tangan. Jo pun membalasnya.
Nesa yang melihat kejadian itu semakin panas, dia menggigit jagung bakarnya dengan keras. Baru juga jadian, ada aja pengganggunya. Batin Nesa mulai terbakar api cemburu. Tapi dia enggan menunjukkan itu di depan Jo. Biarkan aja dulu, toh dia yang berhak akan Jo. Dia istrinya, dia akan berusaha percaya 100% dengan suaminya itu. Meskipun sakit, Nanti Nesa akan tanyakan langsung pada Jo, siapa gadis itu sebenarnya?
"Sayang,, kok disini sih??? Aku mencarimu tadi..."Tiba-tiba Jo datang di samping Lia.
Nesa terdiam. Sayang....
"Ehmmm, mulai sekarang kita manggilnya sayang ya..." Jo yang mengerti atas kediaman Nesa langsung berusaha menjelaskan.
Tentu Nesa seneng disuruh manggil seperti itu. Hingga dia melupakan niatnya untuk bertanya tentang gadis yang menabrak Jo tadi.
"Ciyeeee yang baru jadian...." goda penjual jagung bakar itu yang sok tahu.
"Gak jadian lagi pak... kita sudah nikah!!!"balas Jo tajam.
"Weleh,,, masih bocah kok yo wes nikah wae???"jawab penjual itu sambil menggelengkan kepala tak percaya.
"Emang gak boleh pak???"balas Jo lagi.
Penjual itu pun terus menjawab dan bertanya-tanya. Nesa jadi kesal sendiri.
"Udah ah,,, nih Pak duit jagungnya..." Nesa menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan. Kemudian berjalan meninggalkan Jo yang masih asyik berdebat dengan penjual itu.
"Eh sayang,, kok ditinggal sih???" Jo berusaha menyamai langkah Nesa. Entahlah, Jo jadi ngerasa manja saat didekat sang istri.
"Abisnya kamu kayak gak ada kerjaan tau gak, pake bales omongan pak e tadi..."
"Ya habisnya dia kepo banget. Aku jadi geregetan sendiri..."
"Udah???"tanya Nesa kemudian.
"Udah apanya...??"tanya Jo bingung.
"Ngomelnya, hahaha..."Nesa tertawa terbahak-bahak melihat wajah Jo yang kebingungan.
"Ish, jail ya... awas malam ini gak ada ampun..." Jo langsung mengambil beberapa kantong plastik yang ada di tangan Nesa. Yang isinya ya jajan kuliner yang sudah dibeli tadi.
Nesa masih menyunggingkan senyum. Dia tak memikirkan kata ampun yang keluar dari mulut Jo barusan. Nesa kan sudah siap lahir dan batin sekarang.
Bersambung dulu. Makasih sudah ngevote.
Moga gak bosen.
DN OTHOR SNANG BANGET BUAT CERITA KONFLIK YG GK HABIS2
BETUL KATA JO, KLO GK ADA YG JAWAB SAJA