NovelToon NovelToon
Beyond Blessed

Beyond Blessed

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:970.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Upi1612

-TAMAT-

Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.


Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.

Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.

Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 26 - Kembali ke Pesantren

Akbar di makamkan di tempat pemakaman umum dekat rumahnya. Yuni memutuskan untuk kembali lagi ke rumah Robby. Dan wanita simpanan Robby telah pergi diusir oleh Robby. Berkat surat yang diberikan Akbar, Robby kini mulai berniat memperbaiki hubungannya dengan Yuni sesuai permintaan Akbar. Berkat surat itu juga, Robby sadar kalau wanita simpanannya sangatlah jahat.

Kini Gus Faiz dan Rizki berada di ruang tamu rumah Akbar. Tiba-tiba Robby mendekat dan duduk di sebelah Gus Faiz.

Gus Faiz hanya diam. Tidak berniat untuk mengajak Robby berbicara.

“Dulu usia saya 18 tahun dan istri saya 16tahun. Saya kelas 3 dan dia kelas 1 SMA.” kata Robby memulai sebuah percakapan.

Gus Faiz dan Rizki menoleh, lalu diam mendengarkan. Membiarkan Robby menjelaskan apa yang ingin dijelaskannya.

“Karena pacaran tidak sehat, kami melakukan kesalahan fatal.” kata Robby. Matanya menerawang jauh, ke masa-masa sekolahnya.

“Maaf, Om. Apakah Akbar..” tanya Rizki.

Gus Faiz sudah mengetahui ini semua dari Akbar. Dia tak lagi kaget mendengar fakta bahwa Akbar merupakan anak di luar nikah.

“Betul. Dulu kami tidak berpikir panjang. Hanya karena nafsu, Om merusak seorang gadis baik-baik, gadis yang sedang menuntut ilmu, dan gadis yang sedang sayang-sayangnya pada orang tua. Karena kesalahan itu Om membuatnya pergi dari rumah dan membuat keluarga Om kehilangan Om. Kami berdua dianggap aib dan memilih pergi mencari peruntungan di tempat yang jauh. Di tempat yang tidak ada seorangpun mengenali kami.” kata Robby.

Kali ini Rizki diam. Mencerna kata-kata Robby. Mata Robby kini mulai berkaca-kaca. Dia teringat akan kesalahannya, dia semakin menyesali perbuatannya.

“Di tempat ini, kami yang tak memiliki persiapan apa-apa membuat diri kami terlena pada aktivitas masing-masing. Kesibukan yang kami ciptakan sendiri untuk mengubur kerinduan kami terhadap orang tua kami. Hingga karena tidak siap memiliki anak dan terus dihantui bayang-bayang kerinduan dan penyesalan, kami mulai tidak peduli pada anak kami sendiri.” kata Robby. Kali ini ia menangis.

Gus Faiz mengusap bahu Robby. Mencoba menenangkan. Kini dia sadar, ada yang lebih terpukul atas kepergian Akbar, dan itu bukan dirinya melainkan orang tua Akbar. Robbypun memeluk Gus Faiz.

“Mungkin kalau dulu Om tidak pacaran dan tidak melakukan tindakan itu. Tidak akan ada kejadian ini.” kata Robby.

"Semua sudah terjadi, Om. Saran saya Om dan Tante temui orang tua Om dan Tante, meminta maaf atas apa yang telah Om dan Tante lakukan. Masa lalu memang tidak bisa diperbaiki karena telah terjadi, namun masa depan masih bisa diperbaiki. Bukan maksud saya menggurui Om, tapi hidup itu pilihan, Om. Pilihan hari ini akan menjadi hasil di hari esok, hasil hari ini merupakan pilihan dihari kemarin. Begitulah.." kata Gus Faiz.

"Akankah orang tua kami memaafkan kami?" tanya Robby pada Gus Faiz.

"Coba saja, Om. Kita tidak akan tahu bila tidak mencobanya. Namun, kalau Om dan Tante meminta maaf dengan tulus menurutku insyaAllah mereka akan memaafkan." kata Gus Faiz.

"Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak." kata Robby.

...***...

Keesokkan harinya.

“Kami pamit pulang, Om, Tante.” kata Gus Faiz pada Robby dan Yuni.

“Iya, hati-hati, Nak. Terima kasih banyak. Om harap kamu mau memaafkan kesalahan Om dan Tante.” kata Robby.

“Iya, Om. Sama-sama. Akbar teman saya jadi sudah selayaknya saya membantunya.” kata Gus Faiz.

“Kamu benar-benar anak baik, Nak. Akbar sangat beruntung memiliki teman sebaik kamu.” kata Yuni. Dia menatap Gus Faiz.

Gus Faiz mengangguk.

“Om antarkan ya?” kata Robby.

“Tidak perlu, Om.” kataku. “Lagi pula saya harus ke suatu tempat terlebih dahulu.” kata Gus Faiz.,

Gus Faiz teringat akan ponselnya yang ia gadaikan di dekat perusahaan penerbitan tempat Yuni bekerja.

“Tolonglah jangan menolak.” kata Robby. “Saya akan antarkan kamu kemana pun.” kata Robby.

Gus Faiz dan Rizkipun mengangguk.

“Ini, Nak. Untuk di pondok.” Kata Yuni memberikan bingkisan makanan kepada Gus Faiz. “Ambilah, saya akan sangat sedih bila kamu tidak mau mengambilnya.” kata Yuni.

Gus Faizpun mengambilnya, “Terima kasih, Tante.” kata Gus Faiz.

Gus Faiz merasakan perasaan dejavu. Dia pernah merasa berada di situasi ini. Saat itu, saat dia berada di kediaman Ilham. Memikirkan Ilham, hatinya kembali sedih.

“Kamu mau ke mana, Nak?” tanya Robby.

“Ke konter dekat tempat Tante Yuni bekerja, Om.” kata Gus Faiz.

“Lho, memang mau apa memangnya?” tanya Robby.

“Saya ingin mengambil ponsel saya, Om.” kata Gus Faiz jujur.

“Lho, ponselmu rusak?” tanya Robby.

“Tidak, Om.” jawab Gus Faiz.

“Lalu?” tanya Robby.

“Ingin saya tebus, kemarin saya gadaikan.” kata Gus Faiz.

“Ya Allah, Nak. Om jadi sangat merasa bersalah padamu. Uang itu pasti kau gunakan untuk kesana-kemari mengurusi Akbar kan?” tanya Robby tak enak hati.

“Saya gunakan untuk keperluan pribadi, Om.” kata Gus Faiz.

Robby diam-diam sangat kagum pada Gus Faiz. Alih-alih meminta ganti rugi atas ponselnya, Gus Faiz justru berbohong agar terlihat kalau ponsel itu tidak ada kaitannya dengan Akbar. Anak laki-laki yang kini sangat jarang di jumpai bagi Robby.

Sesampaainya di konter, mereka bertigapun turun. Robby menebus ponsel itu sesuai kesepakatan Gus Faiz dengan pemilik toko. Gus Faiz awalnya menolak Robby yang menebus ponsel miliknya, namun lagi-lagi Robby kekeh tidak mau mengalah, di saat-saat seperti ini, Gus Faiz tahu dari mana sifat keras kepala Akbar berasal. Itu pasti karena turunan dari Robby.

Setelah menebus ponsel milik Gus Faiz, merekapun mulai melanjutkan perjalanan menuju pondok. Sesampainya di pondok pesantren, Robby memarkirkan mobilnya di parkiran mobil pondok, lalu dia keluar mobil diikuti Gus Faiz dan Rizki.

“Om, terima kasih karena telah mengantarkan kami.” kata Gus Faiz.

“Iya, sama-sama. Saya doakan kamu menjadi anak yang sukses. Om harap, suatu saat meski Akbar sudah tidak ada, kamu tetap mau bersilaturahmi dengan kami.” kata Om.

“Baik, Om. Saya juga minta maaf atas sikap saya yang tidak sopan saat di rumah sakit pada Om dan Tante.” kata Gus Faiz lagi.

“Iya, Nak. Tidak apa-apa. Kami memang pantas menerimanya. Kalau begitu, Om pulang dulu ya.” kata Robby.

“Baik, Om. Hati-hati di jalan.” kata Gus Faiz, sambil mencium tangan Robby.

“Hati-hati, Om.” kata Rizki sambil mencium tangan Robby bergantian dengan Gus Faiz.

“Assalamualaikum.” salam Robby setelah mengangguk.

"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh." Gus Faiz dan Rizki menjawab salam Robby.

Robbypun masuk ke dalam mobil. Dan melajukan mobilnya keluar pondok setelah membunyikan klakson sekali. Setelah mobil Robby keluar dari pondok, Rizki dan Gus Faizpun masuk ke dalam pondok.

Namun, belum sempat Gus Faiz masuk lebih dalam, dia melihat Aisha yang sedang menaiki tangga ke sebuah pohon. Menyadari Aisha yang hendak jatuh, Gus Faizpun berlari ke arah Aisha. Dan benar saja, saat sudah dekat, Aisha pun terjatuh. Gus Faiz buru-buru menangkap Aisha.

“Aaaa!” teriak Aisha yang mengira dirinya akan jatuh sambil terpejam.

“Eh?” katanya. Saat merasakan dia tidak jatuh. Dia membuka mata karena merasakan seseorang yang kini tengah menangkapnya.

Aisha terkejut mendapati sosok yang menolongnya adalah Gus Faiz. Gus Faiz cepat-cepat menurunkan Aisha. Namun tangan Aisha tidak mau lepas sejak Aisha mengalungkan tangannya ke leher Gus Faiz.

“Lepaskan saya!” seru Gus Faiz tajam. Gus Faiz memandangnya kesal. Lalu mencoba meraih tangan Aisha agar terlepas.

Aisha membeku. Tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau dia berada di dalam pelukan Gus Faiz, seseorang yang telah mencuri hatinya, laki-laki yang selalu diimpikan, dan selalu mampir di doanya.

“Ekhm!” suara Abah Kyai.

Suara itu membuat Aisha melepaskan tangannya di leher Gus Faiz.

“Maaf, Abah. Saya hanya mencoba menyelamatkan Aisha yang hampir terjatuh.” kata Gus Faiz.

“Iya, Abah melihatnya. Terima kasih ya, Gus, telah menyelamatkan putri Abah.” kata Abah. Wajahnya begitu gembira.

Gus Faiz mendekati Abah dan mencium tangan beliau. “Abah, saya izin kembali ke kamar.” kata Gus Faiz.

Abah mengangguk. “Silakan, Gus. Nanti malam datanglah ke rumah.” kata Abah.

“Baik, Bah. Assalamualaikum.” salam Gus Faiz.

“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Abah dan Aisha menjawab.

Gus Faizpun pergi tanpa menoleh pada Aisha. Di luar dugaan, saat dia hendak pergi dia melihat banya santri putri yang melihat dan ada dua santri laki-laki yang melintas salah satunya Dimas. Asrama perempuan memang tepat di depan pintu masuk. Itulah mengapa Gus Faiz sering melihat Aisha bila ingin keluar dan masuk pondok.

Rizki mengekori Gus Faiz.

1
bunda syifa
bukan nya Nindy udah berdamai sama semua orang termasuk juga ayah nya pas masih d rumah sakit y Thor, kn waktu Nindy minta maaf sama ayah nya, ayahnya lagi d musholla rumah sakit
Ati Rohati: cuma aku baca yang terakhir
total 2 replies
bunda syifa
bukan nya yg bawa Nindy jalan" itu Ulfa y Thor
bunda syifa
bener sih, ibarat kata yg kecelakaan lagi sakarat tapi harus nunggu ambulans dulu yg masih d telfon trus berjalan k TKP, yg ada bukan tertolong malah meninggal duluan yg kecelakaan sebelum sampai rumah sakit karena udah kehabisan darah
bunda syifa
penulis kn ngetik Gus, bukan nulis d buka satu" kayak jaman dulu🤦🤦
bunda syifa
dan yg lebih d sayangkan lagi adalah qm Ulfa, padahal melihat dengan mata kepalanya sendiri segimana cinta nya Gus Faiz sama Nindy tetap aja rasa irinya membuat dia menginginkan Gus Faiz bahkan sampai Gus Faiz dn Nindy menikah
bunda syifa
lah banyak banget rasa iri mu mbak, kasih sayang orang tua udah qm kuasai sendiri, sekarang ada orang lain peduli sama Nindy pengen qm ambil jg😒😒
bunda syifa
bukan nya klo sandal emang ada pasangan nya y Bu, kiri sama kanan, masak iya mau d pakai cuma sebelah aja 😅😅😅
bunda syifa
ternyata emang dari awal si Ulfa tetap ular y Thor, aq pikir sempat berubah gt meskipun sebentar
Momy Haikal
segitu panik nya faiz ketika Nindy pergi sampai tidur yak nyenyak makan tak enak
Momy Haikal
aduh padahal nanggung itu
Momy Haikal
umi anakmu di aniaya😂
Momy Haikal
dari sini abah tau seberapa besar dua orang insan ini saling mencintai
Momy Haikal
lah kok takut 🤣🤣🤣😂
Momy Haikal
🤣😂🤣😂😂😂😂😂😂
Momy Haikal
ihh gemezzzzin
Momy Haikal
berarti faiz sebenarnya sudah suka sama Nindy sebagai gadis tirai sebelum faiz tau kalaw gadis yg dijodohkan Ilham adalah orang yang sama
Momy Haikal
🤣😂🤣 Nindy lucu bgd ya
Momy Haikal
o jadi ini mula nya arum takut liat mata faiz
Momy Haikal
gak aku baca surat nya.gakk kuattt😭😭😭😭😭
Momy Haikal
😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!