Zihan, adalah seorang gadis yang dibawa ke dunia asing oleh penguni asli dunia itu. sebuah dunia pararel yang di huni oleh siluman dan praktisi saja. dengan sistem kerajaan. gadis itu dibawa untuk dijadikan wanita persembahan oleh salah satu siluman yang menyamar menjadi manusia di dunia asal Zihan.
siapa sangka, ia justru mendapatkan keuntungan dan hal tak terduga saat itu.
akankah Zihan kembali ke dunia asal nya? atau justru memilih tetap tinggal di dunia asing itu?
ayoo, cari tau.. 😚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bono Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
fakta terungkap
Zihan begitu menikmati perbincangan nya dengan Rajawali. ia pun terpikirkan untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang rajawali. ia begitu penasaran bagaimana kehidupan burung dan keluarga nya dalam konteks siluman burung.
" hmmm, oiya.. boleh aku bertanya sesuatu pada mu? " tanya Zihan meminta ijin.
" tentu.. katakan saja apa yang ingin kau tanyakan. aku pasti akan menjawabnya. " ujar Rajawali dengan yakin. ia pun terus menikmati masakan yang dibuat oleh Zihan.
" hhmm, apa kau memiliki keluarga? hmmmm maksudku, dimana ibu dan ayah mu, atau adik dan kakak mu... apa kau hanya sebatang kara? " tanya Zihan menyelidik.
" uhuk uhuk uhuk uhuk... " sontak Rajawali pun tersedak mendengar pertanyaan dari Zihan.
" ah, hati hati.. maaf, jika pertanyaan ku membuat mu terkejut.. " ujar Zihan yang sadar.
" ehem ehem.. tidak tidak.. tidak ada salah nya kau bertanya tentang itu.. hanya saja, aku terkejut karena kau seperti nya begitu penasaran tentang latar belakang ku.. " jawab rajawali
" ahahaha, sebenarnya aku penasaran.. bagaimana kehidupan siluman burung seperti mu.. karena yang ku tau, burung di dunia ku hidup bersama keluarga mereka dalam satu sarang.. " jelas Zihan agar tak ada kesalahpahaman.
" its ok.. aku mengerti... ibu dan ayah ku, mereka tinggal di seberang wilayah ini.. dan aku hanya memiliki seorang kaka laki laki. dan dia sudah berkeluarga. dia membuat sarang nya di dekat air terjun.. " jelas Rajawali detail.
" hmmm.. apa mereka tidak pernah mengunjungi mu? hmm atau kau yang mengunjungi mereka? " tanya Zihan lagi.
" sebenarnya mereka selalu ingin mengunjungi ku.. tapi, tujuan mereka mengunjungi ku hanya untuk menanyakan tentang jodoh, pasangan, calon istri... aah itu membuat ku pusing. maka jika mereka akan kemari, aku pasti tidak ada dirumah. " ujar Rajawali frustasi.
" hmmm, apa itu sangat mengganggu mu? sampai sampai kau tidak ingin menemui mereka? " tanya Zihan layaknya reporter
" tidak mengganggu, tapi mereka membuatku tidak nyaman dengan pertanyaan pertanyaan seputar pasangan hidup. sudah jelas aku ini sendiri, kenapa masih ditanya. " jawab rajawali sebal kala mengingat keluarga nya yang mendorongnya terus agar segera berkeluarga.
" hhmmm, maaf... kau tidak perlu menjawabnya jika tidak ingin.. aku mengerti. " jawab Zihan yang merasa tidak enak.
" sudahlah, itu sudah berlalu.. sekarang aku tidak tinggal bersama mereka, jadi jika kau ingin tau.. aku bisa membawamu kesana.. " ajak Rajawali pada Zaman untuk bertemu keluarganya.
" apakah itu hal yang baik jika kau membawaku menemui mereka? " tanya Zihan ragu.
" yaaa, selama kau tidak terganggu dengan pemikiran kolot mereka, bagi ku itu cukup baik. " ujar Rajawali
" baiklah... jika kau yakin, maka bawa aku bertemu mereka.. aku sangat ingin tau kehidupan keluarga burung di dunia ini.. " jawab Zihan yang begitu bertekat. ia pun mulai berdiri dari kursi dan berjalan ke sisi samping.
" sesuai keinginan mu nona cantik.. " balas Rajawali, ia pun berdiri dari kursi dan berjalan mendekati Zihan.
Zihan sedikit gugup dengan sikap Rajawali yang seperti lebih dekat pada nya.
" apa kau gugup? " tanya Rajawali seraya mendekatkan wajahnya ke depan wajah Zihan.
" a.. aku tidak.. " jawab Zihan sedikit terbata. sebenarnya ia sangat gugup. siapa yang tidak gugup mendapati wajahnya begitu dekat dengan wajah pria tampan. tapi Zihan memang menutupi nya
" baiklah.. kita berangkat.. " ujar Rajawali seraya melingkarkan tangannya ke pinggul Zihan, merapatkan tubuh mereka, kemudian mengepakkan sayapnya, dan terbaaaaanggg..
Zihan sungguh tak mampu berkata kata. karena itu terjadi sangat cepat.. ia hanya mampu memekik karena terkejut..
" aahhh" pekik Zihan yang merasa dirinya tiba tiba melayang. tanpa sadar, ia memeluk tekuk leher Rajawali, merangkul leher itu begitu erat. sang Rajawali pun hanya tersenyum penuh arti.
" pejamkan mata mu jika kau merasa takut. " ujar rajawali mencoba menenangkan Zihan.
" ba.. baiklah.. " jawab Zihan dengan gemetar. ia sebenarnya ingin menikmati penerbangannya di udara.. tapi karena hal itu terjadi tiba tiba, ia justru merasa degdegan.. akhirnya ia hanya bisa menutup mata nya untuk menenangkan dirinya sendiri
" ayolah Zihan... apa kau tidak ingin menikmati pemandangan dari atas langit?!!! kapan lagi kau bisa terbang seperti ini.. " gumam hati kecil Zihan pada dirinya sendiri.
dengan penuh pertimbangan, akhirnya Zihan pun memberanikan diri untuk membuka matanya. perlahan tapi pasti, ia pun berhasil.. dengan rasa takjub luar biasa, Zihan mulai melepaskan rangkulan tangan nya. ia mencoba membentangkan tangannya seperti sedang terbang.
melihat perubahan itu, rajawali tersenyum dan merubah posisi Zihan agar menghadap kedepan. itu berarti rajawali kini memeluk Zihan dari belakang. dan Zihan tidak fokus pada hal itu. ia justru semakin menikmati terbang di udara..
" apa kau menikmatinya? " tanya Rajawali di telinga Zihan.
" yaa!! ini sangat menakjubkan.. aku seperti bisa terbang!!! dan lihatlah, pemandangan dari atas sini terlihat begitu indah..." jawab Zihan begitu bahagia dan menikmati setiap detiknya.
" yaaa.. memang sangat indah.. " balas Rajawali yang justru memandangi Zihan dengan lekat.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
ke tempat lain..
Didalam penjara bawah tanah, istana milik tuan penguasa, kini Arsenio berhadapan dengan tiga tahanan baru nya di dalam sel penjara.
dengan sikap yang dominan, Arsenio pun membuka gembok pintu sel itu. ia pun masuk ke dalam dan menguncinya lagi.
ketiga orang yang melihat tingkah nya justru dibuat bingung. lantas, bertanya lah mereka.
" mau apa kau datang kemari?! hah?! " tanya Vero yang geram.
" ingin menjebak kami lagi?! tidak akan aku biarkan!! " timpal Renal yang juga merasa geram terhadap sikap Arsenio.
sedang Vania, ia masih terduduk dengan lemas. hanya mampu melihat ketegangan itu. sungguh ia merasa kesal, kenapa dunia para pria begitu suka kekerasaan. sedikit sedikit ribut, duel, dan terus diulang.
" apa kalian tidak lelah melakukan hal itu? " tanya Vania akhirnya angkat bicara.
ketiga pria itu pun menoleh ke arah nya.
" apa maksud mu Vania? " tanya Vero
" kau baru saja berkelahi dengan Renal, sampai kau memukul ku.. sekarang ada pria lain nya, kau dan Renal juga ingin berkelahi.. apa dunia kalian hanya sebatas berkelahi?!!! apa faedahnya?!!! jika tau begini, aku menyesal pergi bersama kalian!!! " ujar Vania tanpa pandang bulu. ia tau ada tuan penguasa disana, tapi ia pikir hidupnya sudah di ujung tanduk. maka ia tidak lagi perlu takut jika ia melakukan kesalahan. karena hasilnya tetap sama.
" Vania?! aku mencoba melindungi mu!! " pekik Bero yang tak Terima dengan pernyataan Vania
" heh, melindungi?? jelas jelas baru saja kau memukul ku dengan keras.. apa itu yang kau sebut melindungi?! " tanya Vania penuh sindiran.
" sudah ku bilang... " ucap Vero terhenti, karena Arsenio memotong pembicaraan nya.
" apa kau terluka? apa itu masih sakit? " tanya Arsenio seraya mendekati Vania.
Vero juga Renal justru semakin dibuat emosi dengan sikap Arsenio yang seakan tidak dihiraukan.
" brengsekk!! berani nya kau mendekatinya!!! " ucap Vero seraya melangkah menuju Arsenio.
"baiklah, maka aku tidak akan segan lagi.. " tambah Renal yang juga merasa tak terima dengan sikap Arsenio.
saat kedua pria itu mencoba untuk menghajar Arsenio, Arsenio justru tertawa kecil..
" hehe, jika kalian tetap ingin tinggal disini.. maka lakukan saja. " ucap nya ambigu.
" apa maksudmu..?! " tanya Vero segera. Renal dan Vania pun mengikuti dalam hati.
" apa kalian pikir aku akan tinggal diam saat kalian dibawa ke dalam sel tahanan bawah tanah?! " tanya Arsenio semakin tak dapat dipahami
" bukankah kau yang memerintahkan mereka untuk membawa kami kemari?!! " tanya Vero saat mengingatnya.
" apa kau pikun sampai kau lupa kejadian beberapa saat lalu?! " sindir Renal yang geram.
" hahahahaha" Arsenio justru tertawa terbahak bahak mendengar ucapan mereka.
" apa yang coba kau tertawakan?! apa kau menertawakan dirimu sendiri, karena merasa terpojok sekarang? " tanya Vania yang kini juga ikut menyudutkan Arsenio.
" bagus bagus bugus... sangat bagus.. awalnya aku mengira kalian dapat ku bodohi lagi.. tapi kalian ternyata cepat belajar.. itu cukup mengesankan untuk ku.. hahaha " ujar Arsenio
" brengseekk!!!! " umpat Renal yang tak bisa lagi diam menunggu. dengan gerakan cepat, ia pun melayangkan pukulan ke wajah Arsenio.
#buughh!!!!
itu pukulan yang cukup keras.. karena Arsenio sampai mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
" heh, apa hanya segini kemampuanmu? " tanya Arsenio dengan sengaja menantang.
" kau sialan!!! " ucap Renal lagi yang kembali memukul sisi lainnya dari wajah Arsenio.
# buughh!!!!
lagi lagi pukulan keras menghantam wajah Arsenio.
sebenarnya Arsenio bisa saja menangkis tau menghindari pukulan Renal. tapi ia memilih diam menerima pukulan itu. seperti memang sudah sepantasnya ia menerima pukulan itu.
" apa sudah cukup untuk menghilangkan amarah mu? jika belum, maka kau bisa lanjutkan. " ujar Arsenio yang lagi lagi memprovokasi Renal
namun, kini.. justru Vero yang lebih dulu maju dan melayangkan pukulan ke wajah Arsenio.
# buugh bughh!!!!
langsung 2x pukulan keras menghantam wajah Arsenio. seketika Arsenio pun jatuh terduduk. bahkan kini mulutnya mengeluarkan lebih banyak darah hingga terbatuk batuk..
" cukup.. aku mohon cukup.. aku tidak ingin ada perkelahian.. aku tidak ingin melihat darah... aku mohon cukup... huhuhu.. " pinta Vania yang tiba tiba histeris ketakutan. sebenarnya Vania takut darah. ia akan merasa terlalu cemas saat melihat darah. itu mengingatkan trauma nya tentang darah.
dengan segera Vero memeluk Vania yang kini menangis tersedu..
" baiklah baiklah.. tidak akan ku ulangi lagi. aku akan menahan tangan ku juga diriku.. tidak akan ada perkelahian apa lagi darah.. aku janji. maka berhentilah menangis.. " ujar Vero mencoba memberi kenyamanan. ia terus memeluk Vania dan memenangkan nya.
sedang Renal, ia mendekati Arsenio, dan berjongkok di depan nya..
" apa kali ini kau juga sengaja membuat masalah agar Vania menangis ketakutan?! " tanya nya sedikit berbisik.
" aku tidak menyangka nya.. jika dia memiliki trauma.. maaf aku tidak bermaksud..." kata maaf pun terlontar dari mulut Arsenio. itu cukup terdengar oleh ketiga nya. dan tentu membuat mereka bertiga semakin bergidik ngeri. Arsenio seperti bunglon, yang dapat berubah sikap sewaktu waktu dibutuhkan.
" sudahkah, lebih baik kau pergi dari hadapan kami sekarang juga! sebelum aku berubah pikiran. " ujar Vero menggertak.
"baikah baiklah...sudah cukup. sekarang biarkan aku memberi tau kalian satu hal. aku tau tujuan kalian datang menemui ku. dan aku tau dimana letak pintu itu. " ucap Arsenio dengan sangat misterius.
" apa maksudmu?! jangan mencoba menipu kami, atau aku akan langsung membunuhmu!! " ujar Renal dengan mencengkram. kerah baju Arsenio.
Arsenio hanya mengangkat kedua tangannya. seraya berkata " itu jika kalian ingin kembali. jika tidak, aku pun tidak akan memaksa kalian untuk mempercayai ku. " jawab Arsenio lagi
" bukankah kalian ingin kembali ke dunia asal kalian?! aku tau portal nya. " ucap Arsenio
" kau tidak mungkin menipu dan menjebak kami kan?! " selidik Renal.
" kalian bisa memukul ku atau bahkan membunuhku jika aku mengatakan hal yang bohong. " ucap Arsenio, itu cukup meyakinkan untuk ketiganya.
" jadi, kenapa tidak kau tunjukkan itu sekarang juga?! " pinta Vero dengan ketus.
" yaahh baiklah.. demi adik ku, aku akan mengalah padamu saat kau berkata ketus pada ku. " ucap Arsenio yang lagi lagi membuat bingung Vero dan Renal. tapi berbeda dengan Vania. ia sejak tadi hanya diam seperti mengetahui sesuatu.
" jangan selalu bermain tebak tebakan dengan ku.. aku tidak tertarik. cepat katakan apa maksud perkataan mu?! siapa yang kau maksud dengan adik?!! " tanya Vero tidak sabar
" gadis yang sekarang ada dipelukan mu, dialah adik ku.. Vania.. Vania Martadinata. " jawab Arsenio dengan memandangi wajah adik nya.
mendengar nama lengkap nya disebut, Vania sontak mendongak dan menatap Arsenio lekat.
" kau... dari mana kau tau nama lengkap ku?! aku tidak pernah menceritakan nya pada siapapun.. " tanya Vania yang begitu terkejut.
" jika aku bilang, aku tau nama lengkap mu karena kau adalah adik ku.. apa kau akan percaya Nia kecil? " tanya Arsenio dengan menyebutkan panggilan lain untuk Vania.
dengan airmata yang tak bisa terbendung lagi, Vania segera berlari memeluk Arsenio.
" kakak!!! apa ini sungguh dirimu?! huhuhuu... jangan membohongimu.. aku sangat merindukan mu kak.. " kata Vania dengan menangis tersedu di pelukan Arsenio.
Vero dan Renal benar benar tidak dapat berkata kata.. mereka sungguh tak mengira jika ada hal seperti ini.
" tenanglah Nia kecil.. jangan menangis.. kakak sudah disini. dan kakak tidak akan membiarkan mu pergi meninggalkan kakak lagi. kakak juga sangat merindukan mu.. kau sudah tumbuh besar sekarang. haruskan aku memanggilmu Nia besar sekarang? " goda Arsenio pada Vania.
" tidak mau!!! aku tetap ingin di panggil Nia kecil.. kakak tidak boleh seenaknya menganti panggilan tanpa persetujuan ku.. " ujar Vania sewot.
" baiklah baiklah.. kau selalu menjadi Nia kecil dikeluarga kita. " ujar Arsenio dengan memeluk Vania penuh kasih sayang.
sebenarnya Vero sangat iri dan cemburu melihat adegan itu. tapi entah mengapa, ia merasa Vania benar benar nyaman dipelukan pria lain, yang sebenarnya memang adalah kakak kandung Vania. sehingga Vero berusaha menepis rasa yang membuatnya tidak nyaman itu sesegera mungkin.
" ehem ehem... apa kita bisa segera pergi ke pintu portal yang kau maksud itu? " tanya Vero mengalihkan keadaan.
"oh ya.. maafkan aku.. aku terlalu hanyut dalam kebahagiaan karena bertemu kembali dengan adik ku.. aku akan menunjukkan nya sekarang. " ujar Arsenio, ia pun melepaskan pelukan nya dan tak lupa menghapus air mata sang adik dari wajah cantik nya.
" sudah, jangan menangis lagi.. sekarang kita pulang.. ibu dan ayah pasti sangat merindukan mu. mereka pasti bahagia melihat mu bisa kembali.. " ujar Arsenio seraya menggandeng tangan sang adik.
Vania pun hanya tersenyum penuh kebahagiaan. ia juga menganggukkan kepalanya menyetujui.