NovelToon NovelToon
Cinta Kembarku

Cinta Kembarku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Badboy / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sanny Rama

Sequel DUREN MANIS...

Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.

Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.

Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?

Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.

Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.

Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?

Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Salah paham

“Widya?!”panggil Steven lagi.

Ia menatap kemeja putih Widya yang basah dan

sedikit kotor. Tangan Steven terulur mulai membuka pakaian Widya satu persatu.

*****

Diva menoleh kaget saat Widya berjalan masuk ke

dalam rumah dengan wajah pucat. Adiknya itu baru kembali pagi-pagi buta. Ia

menahan Widya yang hampir masuk ke dalam kamarnya, “Kemana aja kamu, Widya? Apa

yang terjadi semalam? Kakak terus nelpon ngirim chat juga, tapi HP-mu nggak

bisa dihubungi.”

Widya tercekat, ia menatap Diva lalu memeluk

kakaknya itu. “Kak... hu... hu... kak Akbar...”

Diva mendorong Widya, menatap dalam mata adiknya

itu. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Diva, jangan sampai Akbar melakukan

sesuatu pada Widya atau Diva tidak akan memaafkan pria itu.

“Apa yang terjadi, Widya? Kamu nggak.... Apa yang

sudah dilakukan Akbar?!”tanya Diva menekan keras kedua lengan Widya. Diva

semakin emosi melihat Widya malah menangis sedih tanpa menjawab pertanyaannya.

Diva memeluk Widya dengan erat, ia mulai berpikir

kalau Akbar sudah memaksa Widya. Semalam adiknya itu tidak pulang, entah kemana

Akbar membawa Widya lalu melakukan perbuatan itu.

“Aku harus bertemu Akbar. Dia harus bertanggung

jawab atas kamu, Widya!”kata Diva salah paham.

Widya bengong mendengar kata-kata Diva, ia mengusap

air matanya dengan cepat.

“Tapi, kak. Kak Akbar berkhianat sama kakak. Maksud

kakak apa? Kenapa kak Akbar harus bertanggung jawab sama aku?”tanya Widya

bingung.

Diva juga bengong mendengar kata-kata Widya. Ia

melengos duduk di sofa setelah menyadari kalau dirinya sudah salah paham. Widya

juga duduk disamping Diva, “Kak, kenapa reaksi kakak gini? Kakak udah tahu kalo

kak Akbar itu brengsek? Jawab, kak.”desak Widya menatap Diva yang menutup

wajahnya dengan kedua tangan.

Melihat Diva mengangguk, hati Widya mencelos. Ada

sedikit kebahagiaan bercampur kesedihan menyeruak di hatinya. Bagaimana bisa

kakaknya sudah tahu kalau pacarnya berkhianat, tapi malah tetap menjalin

hubungan dengannya.

Widya memaksa Diva memberinya penjelasan atas apa

yang ia dengar tadi, tapi Diva malah balik bertanya kemana dirinya semalam.

Widya beralasan kalau semalam ia menginap di hotel, karena sangat lelah. Ia

tidak sempat memberitahu Diva lantaran ponselnya mati kehabisan baterai.

Dengan wajah merah menahan malunya, Widya berjalan

cepat masuk ke dalam kamarnya sebelum Diva bertanya lebih lanjut. Widya menutup

pintu lalu bersandar pada pintu kamarnya. Ia teringat kejadian di hotel subuh

tadi.

...Flash back on...

Widya terbangun dengan kepala terasa berat dan

sedikit pusing. Ia juga merasakan tubuhnya sakit terutama di bagian pundak yang

membentur dinding gudang semalam. Deg! Saat Widya meraba pundaknya, ia

terperanjat melihat tubuhnya hanya terbalut pakaian dalam.

Uap air panas keluar dari kamar mandi yang

tiba-tiba terbuka pintunya. Steven keluar dari sana hanya berbalut handuk

dengan tangan membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

“Ach, kamu udah bangun. Mandi sana. Bajumu ada di

dalam kamar mandi.”kata Steven dengan santainya.

Wajah Widya merona merah menahan tangisan dan

amarah sekaligus. “Kau!! Apa yang kau lakukan? Semalam... kenapa aku bisa ada

disini?!”teriakan Widya.

Steven yang mendengar teriakan Widya, ingin

mengisengi gadis itu. “Apa kamu nggak ingat? Semalam kau pingsan di gudang. Aku

membawamu kesini, trus kamu sadar dan nggak mau nglepasin aku.”bohong Steven

dengan mimik wajah galau.

“Bohong!! Kau! Kita nggak mungkin...”kilah Widya

tidak percaya ucapan pria itu.

“Apa perlu kulakukan sekali lagi?”tanya Steven,

pria itu naik ke atas ranjang. Ia menangkap lengan Widya yang tidak sempat

menghindar. Tetesan air dari rambut Steven mengenai wajah Widya. Mata Steven

auto fokus menatap bibir pink gadis dibawahnya itu. Pipi Widya bersemu merah

melihat otot perut Steven yang mirip roti sobek.

Semalam Steven bahkan tidak tidur sama sekali.

Setelah membuka pakaian Widya, ia segera menyelimuti gadis itu dan membersihkan

pakaiannya di kamar mandi. Lalu Steven duduk di sofa, mengerjakan proyek

terbarunya dengan Reynold.

Jam lima pagi, Steven beranjak dari sofa, lalu

mengecek suhu tubuh Widya yang sedikit panas. Pria itu mengatur suhu kamarnya

agar tidak terlalu dingin sebelum masuk ke kamar mandi. Ketika keluar dari

kamar mandi, Widya sudah bangun dan menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak ia

lakukan.

“Wajahmu bisa juga punya ekspresi seperti itu ya.

Apa kau pikir aku pria brengsek?”tanya Steven menyentuh dagu Widya.

Widya memalingkan wajahnya, ia bersiap menendang

kaki Steven tapi pria itu sudah kapok menerima tendangan Widya. Steven menahan

kaki Widya hingga tubuh gadis itu terkunci sepenuhnya.

“Jangan bergerak, aku cuma pakai handuk. Kamu nggak

mau handuknya lepas, kan?”kata Steven memperingatkan Widya.

“Tolong lepasin, aku mau pulang.”ucap Widya hampir

menangis. Steven merapikan rambut Widya yang berantakan menutupi lehernya. Widya

tercekat saat merasakan benda lunak menempel di lehernya.

Steven mencium leher Widya, ia tidak bisa menahan

dirinya ketika melihat ekspresi wajah Widya tadi. Suara nafas yang cepat dengan

tubuh gemetar, membuat Steven tersenyum. Ia kembali menatap Widya, “Kamu mikir

apa? Aku bukan pria brengsek. Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa. Mandi

sana. Aku nggak akan ngintip.”

Widya melirik Steven yang sudah bangkit dari

ranjang dan berjalan mendekati lemari di samping kamar mandi. Pria itu kembali

mendekat sambil membawa bathrobe di tangannya. Setelah memberikannya pada

Widya, Steven kembali menjauh dari gadis itu.

Widya cepat-cepat memakai bathrobe itu lalu masuk

ke kamar mandi. Ia keluar dengan cepat sudah memakai pakaiannya lagi.

“Kak, makasih. Aku ingat kalau kemarin aku dikurung

di gudang sama temanku. Tapi gimana kakak tahu aku ada disana?”tanya Widya

heran.

Steven tersenyum, pria itu sudah memakai boxer dan

kaos polos bersiap untuk tidur. Ia mengatakan kalau alat pelacaknya masih

menyala sampai tengah malam dan Steven melihat ponsel Widya ada di ruang loker

karyawan. Steven mengatakan lagi kalau ia hanya mengecek ke bawah dan mendapati

Widya pingsan di gudang.

Widya terpana melihat Steven tersenyum, “Kak,

makasih sekali lagi. Aku pulang dulu ya. Sampai jumpa.”kata Widya beranjak ke

pintu.

Duk! Widya menoleh kaget saat Steven menahan pintu

kamar itu. “Aku nggak terima ucapan terima kasih, Widya.”

“Trus aku mesti gimana, kak?”tanya Widya mundur

sampai mentok ke pintu. Steven menunduk hampir mencium bibir gadis itu. Widya

memejamkan matanya ketakutan, “Kak Steven!”panggil Widya untuk menghentikan

Steven.

“Bawakan aku sarapan nanti jam sembilan ya. Aku mau

tidur dulu. Semalam aku sibuk bekerja. Bawakan kopi juga.”kata Steven sambil

membukakan pintu untuk Widya.

Widya bengong sesaat, ia merasa sedikit kecewa

karena Steven tidak jadi menciumnya. Malu sendiri, Widya mengulang sekali lagi

pesanan Steven sebelum keluar dari kamar itu.

...Flash back off...

Widya menggelengkan kepalanya, ia menepuk pipinya

sendiri yang bersemu merah. Gadis itu menghentakkan kakinya kemudian

melompat-lompat seperti kangguru. “Aarrgghh, malunya!!”pekik Widya. Ia menekan

dadanya yang bergemuruh kencang.

*****

Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu

rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.

1
Eka Sari Agustina
👍👍👍👍👍
G
lanjut
Mella Soplantila Tentua Mella
dasar Reva mesuuum... ha ha hahaaa ketangkap basah sm ibu negara
Martini
di tunggu kelanjutannya Thor kan flora hamil
Martini
wah dapat mantu Sekai 2 mama jelita god
Martini
anaknya mami jelita gresek semua
Martini
bakal kena semprot tu jeny
Martini
gawangnya udah gol ya reva
Martini
selalu seru aja Thor karyamu
Martini
hahaha camer sama menantu klop geseknya
Martini
pembantu ganjen di pecat aja Thor bisng kerok itu
Martini
iya Reva itu kan bucin
Martini
jangan bikin aq baper donk Thor kasihan ravanya
Martini
aq sampai ikut nangis Thor kasihan rava perjuanganya tidak ada artinya di depan diva
Martini
diva kok sadis tadi aja berharap sekarang malah bikin rava hanjur
Martini
semoga Frank ya thor
Martini
aq setuju kalau Roger sama jeny
Martini
mungkin lagi berhai hai Thor Reva sama flo
Martini
kayaknya dapat lampu hijau dech Juan Ama devina 👍👍👍
Martini
Devina kok hadi gadis bar bar sich
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!