Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Salah paham
“Widya?!”panggil Steven lagi.
Ia menatap kemeja putih Widya yang basah dan
sedikit kotor. Tangan Steven terulur mulai membuka pakaian Widya satu persatu.
*****
Diva menoleh kaget saat Widya berjalan masuk ke
dalam rumah dengan wajah pucat. Adiknya itu baru kembali pagi-pagi buta. Ia
menahan Widya yang hampir masuk ke dalam kamarnya, “Kemana aja kamu, Widya? Apa
yang terjadi semalam? Kakak terus nelpon ngirim chat juga, tapi HP-mu nggak
bisa dihubungi.”
Widya tercekat, ia menatap Diva lalu memeluk
kakaknya itu. “Kak... hu... hu... kak Akbar...”
Diva mendorong Widya, menatap dalam mata adiknya
itu. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Diva, jangan sampai Akbar melakukan
sesuatu pada Widya atau Diva tidak akan memaafkan pria itu.
“Apa yang terjadi, Widya? Kamu nggak.... Apa yang
sudah dilakukan Akbar?!”tanya Diva menekan keras kedua lengan Widya. Diva
semakin emosi melihat Widya malah menangis sedih tanpa menjawab pertanyaannya.
Diva memeluk Widya dengan erat, ia mulai berpikir
kalau Akbar sudah memaksa Widya. Semalam adiknya itu tidak pulang, entah kemana
Akbar membawa Widya lalu melakukan perbuatan itu.
“Aku harus bertemu Akbar. Dia harus bertanggung
jawab atas kamu, Widya!”kata Diva salah paham.
Widya bengong mendengar kata-kata Diva, ia mengusap
air matanya dengan cepat.
“Tapi, kak. Kak Akbar berkhianat sama kakak. Maksud
kakak apa? Kenapa kak Akbar harus bertanggung jawab sama aku?”tanya Widya
bingung.
Diva juga bengong mendengar kata-kata Widya. Ia
melengos duduk di sofa setelah menyadari kalau dirinya sudah salah paham. Widya
juga duduk disamping Diva, “Kak, kenapa reaksi kakak gini? Kakak udah tahu kalo
kak Akbar itu brengsek? Jawab, kak.”desak Widya menatap Diva yang menutup
wajahnya dengan kedua tangan.
Melihat Diva mengangguk, hati Widya mencelos. Ada
sedikit kebahagiaan bercampur kesedihan menyeruak di hatinya. Bagaimana bisa
kakaknya sudah tahu kalau pacarnya berkhianat, tapi malah tetap menjalin
hubungan dengannya.
Widya memaksa Diva memberinya penjelasan atas apa
yang ia dengar tadi, tapi Diva malah balik bertanya kemana dirinya semalam.
Widya beralasan kalau semalam ia menginap di hotel, karena sangat lelah. Ia
tidak sempat memberitahu Diva lantaran ponselnya mati kehabisan baterai.
Dengan wajah merah menahan malunya, Widya berjalan
cepat masuk ke dalam kamarnya sebelum Diva bertanya lebih lanjut. Widya menutup
pintu lalu bersandar pada pintu kamarnya. Ia teringat kejadian di hotel subuh
tadi.
...Flash back on...
Widya terbangun dengan kepala terasa berat dan
sedikit pusing. Ia juga merasakan tubuhnya sakit terutama di bagian pundak yang
membentur dinding gudang semalam. Deg! Saat Widya meraba pundaknya, ia
terperanjat melihat tubuhnya hanya terbalut pakaian dalam.
Uap air panas keluar dari kamar mandi yang
tiba-tiba terbuka pintunya. Steven keluar dari sana hanya berbalut handuk
dengan tangan membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
“Ach, kamu udah bangun. Mandi sana. Bajumu ada di
dalam kamar mandi.”kata Steven dengan santainya.
Wajah Widya merona merah menahan tangisan dan
amarah sekaligus. “Kau!! Apa yang kau lakukan? Semalam... kenapa aku bisa ada
disini?!”teriakan Widya.
Steven yang mendengar teriakan Widya, ingin
mengisengi gadis itu. “Apa kamu nggak ingat? Semalam kau pingsan di gudang. Aku
membawamu kesini, trus kamu sadar dan nggak mau nglepasin aku.”bohong Steven
dengan mimik wajah galau.
“Bohong!! Kau! Kita nggak mungkin...”kilah Widya
tidak percaya ucapan pria itu.
“Apa perlu kulakukan sekali lagi?”tanya Steven,
pria itu naik ke atas ranjang. Ia menangkap lengan Widya yang tidak sempat
menghindar. Tetesan air dari rambut Steven mengenai wajah Widya. Mata Steven
auto fokus menatap bibir pink gadis dibawahnya itu. Pipi Widya bersemu merah
melihat otot perut Steven yang mirip roti sobek.
Semalam Steven bahkan tidak tidur sama sekali.
Setelah membuka pakaian Widya, ia segera menyelimuti gadis itu dan membersihkan
pakaiannya di kamar mandi. Lalu Steven duduk di sofa, mengerjakan proyek
terbarunya dengan Reynold.
Jam lima pagi, Steven beranjak dari sofa, lalu
mengecek suhu tubuh Widya yang sedikit panas. Pria itu mengatur suhu kamarnya
agar tidak terlalu dingin sebelum masuk ke kamar mandi. Ketika keluar dari
kamar mandi, Widya sudah bangun dan menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak ia
lakukan.
“Wajahmu bisa juga punya ekspresi seperti itu ya.
Apa kau pikir aku pria brengsek?”tanya Steven menyentuh dagu Widya.
Widya memalingkan wajahnya, ia bersiap menendang
kaki Steven tapi pria itu sudah kapok menerima tendangan Widya. Steven menahan
kaki Widya hingga tubuh gadis itu terkunci sepenuhnya.
“Jangan bergerak, aku cuma pakai handuk. Kamu nggak
mau handuknya lepas, kan?”kata Steven memperingatkan Widya.
“Tolong lepasin, aku mau pulang.”ucap Widya hampir
menangis. Steven merapikan rambut Widya yang berantakan menutupi lehernya. Widya
tercekat saat merasakan benda lunak menempel di lehernya.
Steven mencium leher Widya, ia tidak bisa menahan
dirinya ketika melihat ekspresi wajah Widya tadi. Suara nafas yang cepat dengan
tubuh gemetar, membuat Steven tersenyum. Ia kembali menatap Widya, “Kamu mikir
apa? Aku bukan pria brengsek. Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa. Mandi
sana. Aku nggak akan ngintip.”
Widya melirik Steven yang sudah bangkit dari
ranjang dan berjalan mendekati lemari di samping kamar mandi. Pria itu kembali
mendekat sambil membawa bathrobe di tangannya. Setelah memberikannya pada
Widya, Steven kembali menjauh dari gadis itu.
Widya cepat-cepat memakai bathrobe itu lalu masuk
ke kamar mandi. Ia keluar dengan cepat sudah memakai pakaiannya lagi.
“Kak, makasih. Aku ingat kalau kemarin aku dikurung
di gudang sama temanku. Tapi gimana kakak tahu aku ada disana?”tanya Widya
heran.
Steven tersenyum, pria itu sudah memakai boxer dan
kaos polos bersiap untuk tidur. Ia mengatakan kalau alat pelacaknya masih
menyala sampai tengah malam dan Steven melihat ponsel Widya ada di ruang loker
karyawan. Steven mengatakan lagi kalau ia hanya mengecek ke bawah dan mendapati
Widya pingsan di gudang.
Widya terpana melihat Steven tersenyum, “Kak,
makasih sekali lagi. Aku pulang dulu ya. Sampai jumpa.”kata Widya beranjak ke
pintu.
Duk! Widya menoleh kaget saat Steven menahan pintu
kamar itu. “Aku nggak terima ucapan terima kasih, Widya.”
“Trus aku mesti gimana, kak?”tanya Widya mundur
sampai mentok ke pintu. Steven menunduk hampir mencium bibir gadis itu. Widya
memejamkan matanya ketakutan, “Kak Steven!”panggil Widya untuk menghentikan
Steven.
“Bawakan aku sarapan nanti jam sembilan ya. Aku mau
tidur dulu. Semalam aku sibuk bekerja. Bawakan kopi juga.”kata Steven sambil
membukakan pintu untuk Widya.
Widya bengong sesaat, ia merasa sedikit kecewa
karena Steven tidak jadi menciumnya. Malu sendiri, Widya mengulang sekali lagi
pesanan Steven sebelum keluar dari kamar itu.
...Flash back off...
Widya menggelengkan kepalanya, ia menepuk pipinya
sendiri yang bersemu merah. Gadis itu menghentakkan kakinya kemudian
melompat-lompat seperti kangguru. “Aarrgghh, malunya!!”pekik Widya. Ia menekan
dadanya yang bergemuruh kencang.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.