Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Salah Sangka
Drrt... Drrt..
Getar handphone di saku celananya, menyadarkan Kai bahwa ia tengah memeluk Gita. Ia buru-buru melepaskan Gita dari dekapannya, dan meminta maaf atas perbuatan lancangnya.
Gita tersenyum malu-malu, seolah mengatakan tidak apa-apa, ia sama sekali tak merasa keberatan Kai memeluknya. "Teleponnya." Gita menunjuk ke arah saku celana Kai.
"Oh.." Kai langsung merogoh saku celanya, ia langsung teringat jika batre handphonenya lemah dan bisa segera mati. Kai pun mengangkat telepon tanpa nama yang tertera di layar handphonenya. Ia nampak terdiam sejenak mendengarkan lawan bicaranya, kemudian ia berkata. "Oh.. Maafkan aku, aku akan segera mengembalikan motornya..." Dan benar saja belum selesai ia berbicara handphonenya mati.
Ia berbalik ke arah Gita dengan wajah kecewa karena harus segera pergi meninggalkannya. "Maafkan aku," ucapnya sedih. "Itu hanya motor pinjaman," ia menunjuk ke arah parkiran. "Dan aku harus segera mengembalikannya karena orangnya mau pakai."
"Tidak apa-apa, pergilah!!" Gita tersenyum pada Kai, ia sama sekali tidak keberatan jika memang Kai harus pergi, meski sebenarnya ia masih ingin ngobrol dengan pria itu.
"Tidak. Aku harus mengantarmu pulang, aku tidak ingin kau menganggapku tidak bertanggung jawab."
"Tidak perlu. Rumahku sudah dekat, paling jalan hanya 20 menit dari sini. Pemilik motor itu lebih memerlukan motor yang kau pinjam, di banding aku." Gita justru merasa lega, Kai tidak mengantar dirinya pulang. Sebab ia khawatir nantinya Kai bertemu dengan Jiva.
"Tapi..." Wajah Kai terlihat semakin merasa bersalah
"Aku janji tidak akan menganggapmu pria yang tak bertanggung jawab, aku senang bertemu denganmu malam ini," Gita kembali tersenyum untuk menenagkan Kai.
"Benarkah kau senang bertemu denganku?"
Gita mengangguk yakin.
"Kalau begitu apa kau mau bertemu lagi denganku?"
"Tentu saja." Gita menyodorkan handphonenya, meminta Kai untuk menyimpan nomornya sendiri.
Tanpa berpikir panjang, Kai langsung menyimpan nomor pribadinya di handphone Gita. "Terima kasih banyak," ucapnya lega seraya mengembalikan handphone Gita.
Langkah kaki terasa berat meninggalkan Gita, tapi benar yang di sampaikan Gita jika pemilik motor yang ia pinjam membutuhkan motornya untuk pulang. "Jangan lupa hubungiku ya..." pinta Kai.
Gita tersenyum sembari mengangguk, kemudian ia mengacungkan ibu jarinya. "Pasti." ia melambaikan tangan ke arah Kai. "Hati-hati."
"Kau juga hati-hati, jangan lupa kabari aku..." Kai tersenyum puas, ia berlari menuju parkiran dan bergegas pergi.
Sementara Gita memandangi nomor handphone Kai di layar handphonenya untuk sesaat, baru kemudian ia berbalik pergi meninggalkan taman menuju kediamannya. Sepanjang jalan ia terus memikirkan Kai, untung saja ia sempat membuka blog Jiva dan datang tepat waktu sebelum Jiva bertemu dengan Kai, pikir Gita.
Sesampainya di rumah, Jiva langsung menghampiri dan memberondongi Gita dengan banyak pertanyaan. "Dimana dia? Kau pulang naik apa?" Jiva celangak-celinguk memastikan ia tak mendengar kendaraan berhenti di depan rumah Gita.
"Jalan kaki," jawab Gita santai.
"Jalan kaki?" Jiva begitu terkejut dengan jawaban Gita. "Kau jalan kaki sendirian dari Flavor Frenzy? Kenapa kau tidak naik taxi saja, biar aku yang bayar. Dasar laki-laki kurang ajar, tidak bertanggung jawab. Untung saja aku tidak mau bertemu dengannya," maki Jiva emosi.
"Kau ini berlebihan sekali, aku cuma jalan dari taman depan situ aja kok enggak jauh." Ia menceritakan jika motor yang di pinjamnya sudah harus di kembalikan.
"Pria miskin." Lagi-lagi Jiva merasa beruntung tak bertemu dengan Kai. "Ngapain aja kalian di taman?" tanyanya penasaran.
"Makan mie instan cup."
"Makan mie instan?" Jiva kembali terkejut dengan jawaban Gita. "Bukannya kalian makan di Flavor Frenzy?"
Gita menggeleng. "Dia lupa bawa dompet, dan keberatan jika pake uangku. Makanya tadi kita ke taman, makan mie instan sambil ngobrol-ngobrol," terang Gita lebih jauh.
Tiba-tiba Jiva tertawa terbahak-bahak. "Gita, kau percaya jika dompet dia ketinggalan?"
Gita mengangguk.
"Kau ini polos sekali." Jiva memegang bahu Gita dan menatapnya dengan serius "Dengarkan aku baik-baik, dia itu penipu. Motor saja dia pinjam, jadi tentu dia tidak punya uang untuk mentraktirmu di Flavor Frenzy. Dia sengaja memakai tempat itu agar aku mau datang. Tapi untungnya aku tidak masuk ke dalam jebakannya, aku sungguh beruntung. Aku sangat berterima kasih sekali padamu untuk malam ini."
Jiva melepaskan tangannya dari bahu Gita, kemudian ia merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop coklat berisi uang tunai. "Ini uang yang aku janjikan." Ia menyodorkannya pada Gita.
Namun dengan tegas Gita menolaknya. "Aku tidak mau uangmu, aku mau yang lain."
Jiva mendesah kesal. "Harus berapa kali aku katakan aku tidak bisa bermain di taman rekreasi, Daddyku bisa marah kalau melihat aku bermain di tempat seperti itu."
"Bukan bermain di taman rekreasi," ucap Gita serius.
"Lalu?"
"Aku ingin melanjutkan pertemananku dengan pria itu, apa kau keberatan?"
Jiva mengerutkan keningnya, untuk sekian kalinya ia terkejut dengan ucapan ya g di lontarkan Gita. "Aku sih sama sekali tidak keberatan, malah bagus. Karena artinya dia tidak akan menggangguku lagi, tapi apa kau yakin akan berteman dengan seorang penipu?"
"Aku percaya padanya, dan aku sudah menyimpan nomornya. Kalau kau tidak keberatan, nanti aku akan menghubunginya."
Jiva tertawa mengejek. "Ya baiklah. Silahkan berteman dengannya, kalian sama-sama miskin jadi tidak ada yang di rugikan."
"Tutup mulutmu dan cepat pergi!" ucap Cempaka dari seberang ruangan, ia tampak geram dengan ejekan Jiva pada cucunya.
"Baiklah Nenek, aku akan pergi. Terima kasih atas makan malamnya," ia melirik ke arah Cempaka, kemudian berbalik pada Gita. "Selamat berteman dengannya, aku akan mematikan akun YM ku." Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Gita.
Setelah Jiva keluar dari kediamannya, Cempaka menghampiri Gita seraya memegang kepalanya. "Siapa dia? Mengapa kau punya teman seberisik dia, kepala Nenek hampir mau pecah mendengar ocehannya sejak dia datang."
Gita membimbing Cempaka duduk di ruang tamu. "Teman waktu aku di panti dulu," jawab Gita.
"Teman di panti?" Cempaka terkejut mendengarnya. "Tapi lagaknya seperti orang kaya."
"Dia memang orang kaya, dia di adopsi oleh keluarga pemilik Confident Company."
"Benarkah? Tapi dia seperti orang tiga hari tidak makan." Cempaka menceritakan jika jatah makan malam Gita dan Gala di habiskan oleh Jiva sekaligus tanpa sisa.
"Gala?" Gita langsung teringat pada atasannya. Terlalu fokus pada Kai membuat Gita melupakan Gala. "Nek, apa tadi dia kemari atau menghubungi Nenek?"
Cempaka menggeleng. "Itu yang mau Nenek tanyakan, kenapa kau dan Gala tidak datang? Yang datang malah Mak Lampir kelaparan dan tidak tahu malu. Apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa pria yang di bicarakan oleh Mak Lampir itu?"
Gita belum bisa menceritakan tentang pertemuannya dengan Kai, ia ingin membuat moment special untuk pertemuan antara nenek dan cucu kandungnya. "Maaf Nek, aku belum bisa cerita sekarang. Tapi Gita janji, secepatnya Nenek akan mengetahui semuanya."
"Baiklah, Nak. Tapi Nenek minta kau jangan berurusan lagi dengan wanita sombong itu lagi. Nenek tidak suka dengannya."
Sepertinya Jiva sudah benar-benar tidak ingin mengenal Kai, dia juga bahkan sudah memiliki pria yang diincarnya. Jadi seharusnya Gita sudah tidak perlu lagi berurusan dengan Jiva. "Nenek tenanglah, orang seperti dia tidak akan mau lagi menginjakan kakinya kemari."
"Itu harapan Nenek."
Atau kalaupun emang benaran ada, apa yang membuatnya langsung tertarik sama Gita? 😕
galaa semoga kamu cepat balik pulang
kasihan banget kamu kiranaa