Selama belasan tahun Alesha Kamil sendirian membesarkan keponakannya, Azzam. Ia berharap seluruh cinta yang ia berikan dapat menggantikan figur ayah yang tak pernah dikenal anak itu.
Namun tiba-tiba, suatu hari Keenandra Malik Gunawan mendatangi Alesha di rumahnya. Musisi yang terkenal playboy itu sebetulnya ayah kandung Azzam, dia datang karena surat-surat kaleng yang berisi pemberitahuan jika dia memiliki seorang anak.
Akankah Keenan mengambil Azzam dari Alesha yang sudah mengurus dan membesarkannya? atau Keenan justru menginginkan yang lain?
Yuk baca selengkapnya di Dia juga Anakku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Ketika Alesha membuka matanya, Azzam masih menatapnya dalam-dalam. Ia berjalan mengitari kursi tempatnya bersandar dan pelan-pelan duduk di atasnya, seolah jika ia bergerak terlalu cepat ia akan langsung roboh.
Alesha menatap Azzam yang sekarang berada di ambang kedewasaan, bocah yang dirawatnya dan dicintainya sejak keluar dari ruang persalinan rumah sakit.
Cuplikan-cuplikan babak dalam kehidupan Azzam berkelebatan di benaknya sejelas foto-foto di album. Dalam hitungan detik, ingatannya menyusun kembali kehidupan mereka bersama, saat-saat penuh tawa, saat-saat yang menyedihkan, saat-saat mereka bertingkah konyol, saat-saat mereka merenungi misteri kehidupan, saat-saat mereka berpelukan dan beberapa saat yang jarang terjadi ketika mereka marah satu sama lain.
Azzam harus dihibur setelah menonton film Inside Out dan dimarahi karena terkekeh-kekeh di mesjid ketika permen karetnya secara tidak sengaja jatuh ke karpet.
Alesha mengenang rasa cemas yang menekannya saat Azzam untuk pertama kalinya pergi selama seminggu mengikuti kemping Pramuka di pedalaman dan rasa bangga yang menyesakkan dadanya ketika Azzam dinobatkan sebagai juara umum, anak paling berprestasi di acara kelulusan SMP-nya.
Mungkin ia bisa mendapat sedikit pujian atas pertumbuhan Azzam hingga menjadi dirinya yang sekarang ini. Tapi pujian yang sebenarnya menjadi milik orang lain: seorang pria remaja tinggi, atletis, yang memang punya sifat bersaing untuk menang.
“Ya, Azzam. Keenandra Malik Gunawan adalah ayahmu.”
Azzam mengembuskan napas panjang dan berat, menandakan betapa tegang dirinya. Ia membiarkan dirinya menyerap kebenaran itu selama beberapa saat sebelum ia berbicara kembali. “Apakah Ibu adalah Ibuku? Ibu kandungku, maksudku.”
“Bukan,” tukas Alesha, menggelengkan kepala dengan lembut. “Bukankah kau sudah tahu Ibu kandungmu Kak Nissa? Lagi pula kita hanya selisih enam belas tahun, apa kau lupa itu?”
“Salah seorang teman sekelasku hamil tahun lalu.”
“Yah. Tapi Ibu tidak pernah tidur dengan…” Alesha terdiam untuk menelan ludah, yang dilakukannya dengan susah payah. “Seperti yang kau tahu dari dulu sampai sekarang Ibu tidak pernah dekat dengan pria manapun.”
“Bu, ceritakan lebih rinci mengenai Mama dan Om Andra,” pinta Azzam dengan penuh harap.
“Kau hampir mengetahui semuanya, Nak. Mamamu bertemu dengan Om Andra di sebuah pesta dan mereka melakukan yang seharusnya tidak mereka lakukan, hingga akhirnya Mamamu mengandung dirimu.” Alesha mempersingkat peristiwa-peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu.
Alesha menatap Azzam dengan cemas. "Meskipun demikian, kau begitu berharga bagi Ibu, Ibu sangat menyayangimu." Ia tak ingin Azzam merasa tak berharga karena lahir dari sebuah kesalahan. "Berjanjilah pada Ibu, kau tidak akan melakukan hal-hal yang di larang oleh agama."
Azzam tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Aku janji. Tapi apa yang membuat Om Andra tiba-tiba ingin bertemu denganku setelah sekian lama?”
Melihat rasa keingin tahuan dan kemarahan yang menumpuk di mata anaknya, Alesha mengulurkan tangannya ke seberang meja, menggenggam tangan Azzam. “Om Andra tidak pernah tahu tentang dirimu. Tidak pernah, Azzam. Kau harus percaya itu. Dia bahkan tidak ingat ibumu sampai beberapa waktu lalu ini.” Dengan cepat Alesha memberitahunya tentang surat-surat itu.
“Jadi Eyang yang memberitahu Om Andra?”
“Iya.”
“Kenapa Eyang memberitahu Om Andra?”
“Sebetulnya baru kemarin Ibu tahu bahwa Eyang lah yang mengirim surat-surat itu. Ibu belum sempat membicarakan hal itu dengan Eyang. Itu sudah tidak penting lagi, kan? Om Andra sudah tahu tentangmu, itu yang penting.”
“Kenapa Ibu tidak pernah memberitahu Om Andra sebelumnya?”
Alesha menyandarkan punggungnya dan menarik napas dalam-dalam. “Banyak alasannya, Azzam. Salah satunya adalah Eyang Kakung tak merestui Mamamu menikah dengan Om Andra karena dia seorang pemabuk. Kita berasal dari dunia yang berbeda, kita memiliki kehidupan sendiri dan tak akan mungkin bersatu dengannya.” Ia menatap anaknya lekat-lekat. “Apakah kau menyalahkan Ibu karena tidak menghubunginya? Apakah kau berharap Ibu melakukannya?”
“Ya, semacam itulah.”
Jawaban Azzam yang jujur membuat hati Alesha pedih. “Eyang hanya menduga Om Andra adalah ayahmu, tapi Ibu adalah satu-satunya orang selain Mamamu yang tahu hal itu.”
Mata Alesha menatap Azzam memohon pengertian. “Ibu segan padanya. Terlebih lagi, Ibu takut dia akan menolakmu, Azzam.”
“Apakah dia menolakku?” Tiba-tiba saja suara Azzam terdengar sangat rapuh.
“Menurutmu bagaimana?”
Sudut-sudut bibir Azzam sedikit tertekuk sebelum akhirnya menyunggingkan senyum lebar. “Kurasa Om Andra menyukaiku. Meskipun sedikit.”
“Dia sangat menyukaimu.”
Azzam bangkit dari kursinya dan mulai berjalan mondar-mandir mengelilingi dapur tanpa tujuan, menyentuh benda-benda yang ada di sekitarnya.
“Sulit dipercaya rasanya. Aku selalu bertanya-tanya siapa ayahku, tapi… Seorang Keenandra Malik Gunawan. Astaga,” bisiknya, tangannya disisirkan ke rambutnya, “Aku, aku… masih tidak percaya akan hal ini.” Ia tersenyum malu pada ibunya.
“Kemarin setelah pertandingan basket, semua orang bilang kami mirip. Menurut Ibu, Om Andra dan aku mirip, tidak?” Ia menunggu jawaban Alesha dengan cemas dan tersenyum lebar ketika Alesha berkata, “Bagai pinang dibelah dua.”
“Bolehkah aku meneleponnya? Bolehkah aku memberitahunya bahwa aku sudah tahu?”
“Mmm...”
“Please? Ibu juga sebenarnya sudah mau memberitahuku, kan? Atau Om Andra sendiri yang akan melakukannya?”
“Sebetulnya sih iya, tapi...”
“Kalau begitu aku akan meneleponnya sekarang dan mengatakan padanya bahwa Om Andra tidak usah memberitahuku. Aku sudah menebaknya sendiri. Boleh ya, Bu? Ya?”
Segalanya berlangsung terlalu cepat bagi Alesha, ia masih merasa limbung. Tapi Azzam menatapnya dengan begitu gembira dan berapi-api, ia tidak sampai hati untuk menolaknya.
“Bo-boleh..”
Azzam melompat dan langsung meraih handphone ibunya. “Ibu simpan apa namanya?”
“Ibu tidak menyimpannya. Tapi kartu namanya ada di meja kerja Ibu.”
Azzam bergegas pergi ke ruang kerja ibunya, ia langsung menemukan kartu nama itu di atas meja dan kembali pada ibunya di dapur. “Aku baru menyadari jika nama kita sama-sama ada Maliknya.”
Alesha mengangguk, takut suaranya akan pecah jika ia berusaha untuk bicara. Saat aqiqah Azzam berlangsung, orang tuanya sudah memilih nama Azzam. Annisa sama sekali tidak peduli. Alesha ingat nama lengkap Andra dari akun media sosial Andra, sehingga ia menyisipkan nama Malik di tengah nama Azzam.
Andra sama sekali tidak melihat nama itu di akte kelahiran saat ia melihat album. Alesha sengaja tidak menunjukkan hal itu padanya karena hal itu semakin memperjelas hak Andra terhadap anaknya.
“Halo, Om Andra,” ujar Azzam di telepon, “Ini Azzam. Om Andra masih ingat kan?” Sesaat ia terdiam. “Tidak, Ibu baik-baik saja. Ibu sedang di sampingku,” ujarnya seraya tersenyum pada Alesha.
“Sampaikan salamku padanya.”
“Sudah aku sampikan. Alasan aku menelepon Om Andra adalah, eh, begini…“ Azzam menggerak-gerakkan kakinya serta berbicara tergagap-gagap, dua hal yang sama sekali tidak pernah dilakukannya. “Aku tahu bahwa Om Andra…"
Secercah senyum sepolos dan secerah matahari yang baru terbit menghiasi wajahnya. "Yeah. Aku sudah mengetahui semuanya. Hai, Ayah.”
***
Lanjut lagi Senin ya...
Terima kasih sudah membaca ❤