Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.
Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Kekecewaan Tak Berarah
Tempat baru, suasana baru tak menjamin kau dijauhkan dari bencana. Garis hidup sudah tertulis rapi dalam takdir sang ilahi. Tak perlu pindah sekolah, Aluna kekeh satu sekolah dengan Tina. Pikir Aluna kenapa harus dia yang pindah, kenapa bukan Tina saja, dia seorang korban, apa harus kabur. Tina tak dapat menghakimi di sekolah saja nekat ke rumah, apalagi hanya beda sekolah. Hal jahat akan mudah jika diupayakan. Aluna memilih tinggal dikelasnya, namun tidak untuk duduk bersama Tina.
"Aluna maaf ya selama ini kita terhasut ucapan Tina."
"Maaf membencimu tanpa tahu fakta."
"Kalian mending hanya membenci, aku menyiksanya."
"Aku mengunci dia di kamar mandi waktu baru-baru masuk, parahnya ku tulis kamar mandi dalam perbaikan, dan WC mampet, alhasil dia sampai sore baru keluar."
"Heiii, itu belum seberapa, aku meramu minyak dan oli untuk membuatnya jatuh."
"Kalian melakukan itu karena Tina, aku justru karena kebencian diri sendiri, maaf membencimu."
"Salah target untuk dibenci harusnya dari awal kita tahu Tina tukang hasut, tampang lugu seperti gadis tersakiti taunya pemain."
Aluna memijat pelipisnya, cukup pening mendengar pengakuan dosa teman-temannya. "Hah, sudahlah semua berlalu dan kalian tahu yang sebenarnya, sekarang kembali ke bangku kalian, aku ingin sendiri dulu."
Tak langsung manut, mereka bebal dan terus berceloteh perkara dosa-dosa mereka dan permintaan maaf yang tak kunjung usai. Syukurnya guru penjas masuk, dan mereka diharuskan bersiap untuk latihan tes kebugaran, minggu depan ada pengambilan nilai. Aluna yang luka tak diperbolehkan ikut, hanya duduk di dekat sang guru sambil melakukan cek absen tugas dari gurunya.
"Aduh Bondan hati-hati dong, kau mengenai kepalaku." Teriak Wahyu, kena bola basket milik Bondan.
"Hahahahah maaf, lagian orang sudah teriak suruh minggir malah diam saja. Kupingmu terlalu sering di tutup headset jadi budek." Rasa bersalah ada, tapi membela diri juga perlu.
"Dasar, sini bolanya, biar impas ku lempar juga kepala mu." Wahyu gemas dengan tingkah Bondan yang selalu begitu padanya.
Bondan merangkul Wahyu. "Hatiku sedang gelisah, maaf ya kawan."
"Kalau gelisah kau selalu melimpahnya padaku." Sentak Wahyu.
"Hanya kau yang bisa ku ajak bicara." Jujur Bondan.
"Tapi kau terus mengataiku budek, kau datang kalau galau saja. Jangan bilang perihal Aluna yang semakin hari semakin digandrungi kakak tingkat?" Curiga Wahyu.
"Bukan." Hatiku justru belok, lanjut Bondan dalam hati.
"Tak jelas, Aluna ini Bondan mencari mu!" Wahyu teriak hingga Aluna menoleh di kejauhan.
"Apasih kau ini, aihh sudah di panggil dan menengok, aku kesana dulu." Bondan lari menghampiri Aluna.
"Katanya bukan, tapi masih doyan, dasar manusia tampan tapi koplaknya lebih dominan." Gerutu Wahyu.
Tanpa mereka sadari Eva mencuri dengar semuanya. Entahlah, Eva merasa sikap bucin Bondan ke Aluna sedikit berkurang. Bukan Eva khawatir Bondan berpaling, masa bodoh dengan itu semua. Masalahnya, jika Bondan seperti itu Eva jadi sendirian menjaga Aluna. Tadi saja Bondan sama sekali tak membantu Aluna saat kesulitan melewati portal masuk lapangan basket. Kalau begitu terus kan Eva juga yang repot. Sepertinya Eva harus mencari kandidat baru yang bucin pada Aluna lebih dari Bondan.
Penjaskes berakhir, semua siswa kembali ke kelas. Aluna masih kesulitan dengan luka di kaki yang belum sembuh total. Dengan perlahan dia masuk ke kelas, lantai antara kelas dan koridor depan lebih tinggi jadi kakinya harus diangkat. Nyaris berhasil, namun limbung karena tertabrak dari belakang.
"Upss, sowryyyy...."
Aluna melotot tak percaya, bagaimana mungkin ada Tina di sekolah. Bukankah harusnya hari ini dia masih di rutan. Jika sudah di sekolah pun, harusnya dari tadi pagi dia masuk. Apa yang dilewatkan Aluna hingga tak sadar. Kondisi bersimpuh di lantai, dengan kaki terluka mempersulit Aluna berdiri.
"Rasakan!" Tindasnya pada Aluna.
"Akhhhhh.....!!!!" Aluna tak sangka, Tina masih mengincarnya, menginjak kakinya yang di perban, kini lukanya terbuka kembali.
Teriakan Aluna mengundang teman-temannya yang berganti di kamar mandi, dan kelas samping segera menuju sumber suara. Betapa iba dan murka mereka melihat apa yang terjadi. Berbondong mengerubungi Tina dan Aluna.
Eva mengepalkan tangan, kali ini Tina keterlaluan. "Kau....berani.."
Plakkkkk. "Ini bonus untuk pengkhianat."
"Apa hakmu menampar ku?" Eva pikir Tina benar-benar tak waras.
"Loh ya jelas karena kau pantas, lagipula kau sudah sering di hajar ayah sendiri bukan." Beber Tina.
Tak bisa menahan diri dari perilaku Tina yang keterlaluan, Eva menerjang tubuh Tina hingga ambruk di koridor depan kelas mereka. "Jaga mulutmu, tahu apa kau tenang keluarga ku hah?"
"Kau anak terbuang, hahahahahahhaha. Ah kenapa harus marah sih, faktanya seperti itu." Memancing amarah semua orang adalah keahlian Tina.
"Gadis GILA....AKU .." Eva diluar kendali melesat satu tinjunya.
"Hei, kenapa menahanku?" Eva tak percaya, mengapa Aluna merelakan tubuhnya dihantam Eva untuk melindungi Tina.
"Dia sengaja memprovokasi mu, jangan terlibat dengannya, ayo pergi." Seru Aluna.
"Kau benar, kenapa juga kita membuang waktu untuk sampah sepertinya." Eva berdiri lebih dulu lantas mengulurkan tangan untuk Aluna.
Aluna berdiri dengan di papah Eva. Lalu terdengarlah teman-temannya bernyanyi atas keburukan Tina. Aluna serba salah, ingin melarang tapi mereka butuh melampiaskan kekesalan selama ini.
"Jala*ng mana ini?"
"Oh, ku dengar dia hamil ya makanya di keluarkan dari sekolah."
"Bukannya karena penyerangan ke Aluna?"
"Banyak masalahnya, bukan hanya hamil dan penindasan, kecoa bunting satu itu mengancam dan menyuap anak kelas lain saat mesum di sekolah."
"Astagfirullah, kena kutuk nggk sih sekolah ini kemasukan setan macam itu."
"Gila-gilanya, ngambil surat dikeluarkan sekolah juga masih berulah."
"Jangan dekat-dekat, ayo pergi takut kena tulah."
Itu dari sekian cemooh yang tertangkap telinga, yang lain bahkan ada yang menyumpahi dan meludah ke sisi Tina. Tanpa mereka sadar, ucapan mereka merundung Tina. Jiwa yang penuh emosi, dan kondisinya yang belum pulih semuanya, berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Meringis sakit, darah mengalir di sela kaki Tina yang masih dalam posisi duduk selonjoran di lantai sehabis di tejang Eva.
Kondisi mengenaskan, tapi rasa malu mengalahkan semuanya. Tina berdiri tanpa bantuan siapapun. Berjalan dengan santai, padahal di balik pakaian yang dikenakan terutama bagian bawah, bercak darah begitu ketara. Menyalip dan berjalan lebih dulu, lantas menghadap Aluna dan Eva, Tina petantang-petenteng di depan mereka.
"Awas saja kalau janinku sampai mati, kalian ku buat mati dengan cara apapun! Camkan itu baik-baik!" Ancaman dilontarkan, Tina melenggang pergi dengan memegangi perutnya yang terasa keram.
Aluna memegang dadanya yang bergemuruh, rasanya ada bagian hatinya yang tak terima, ada sisi kecewa, dan rasa iba masih dominan. Sepenggal kata yang merubah segalanya. Pandangannya masih sama, Tina bisa berubah. Namun kata-kata Tina barusan, menandakan seolah dendam akan bersemayam lama. Aluna ingin semua baik-baik saja, tapi dunia seolah tak setuju.
"Ckkk, benar-benar psikopat. Dia sungguh hamil, ada-ada saja pezina satu itu." Komentar Eva.
"Hushh ngawur, mungkin dia masih stress keluar dari rumah pendisiplinan." Timpal Aluna.
"Kebagusan amat bahasamu, tinggal bilang dari PENJARA." Tekan Eva di penghujung kata.
"Eh, hamil sama siapa sih, terus kok bisa ya dia kembang biak di sekolah, dengar-dengar di UKS loh berbuat yang begituannya." Eva mengeluarkan senjata fakta dari hasil ghibah.
"Waduh, mana kita mau ke UKS lagi. Kita ke rumah sakit saja yok, takut ada bekas mereka, ih kok aku geli sendiri membayangkan itu semua." Lagi-lagi Eva berceloteh tanpa memberi Aluna kesempatan menyahut.
"Pikiran mu ituloh, sampe kemana-mana." Akhirnya Aluna berhasil bicara.
"Tapi serius, jijik tidak sih pasti anak-anak PMR juga malas membersihkan bekas gitu-gituan, yok Aluna jangan ke UKS kita ke rumah sakit saja." Rengek Eva.
"Kau dapat info darimana, mereka emm anu....begitu di UKS." Terbata karena bingung harus berucap apa.
"Yaelah, ke pergok anak IPS. Eh dengar-dengar di suap." Oke, menggunjing orang di mulai.
"Kalau disuap tak mungkin bocor dong." Dipikir darimana, mana ada orang disuap malah membocorkan, dia juga kena aib dan imbasnya.
"Yah benar-benar kudet, yang mergok mereka begituan kan lima orang, eh di tawarin lah sama si Niki, terus digilir si Tina, tapi diantara lima orang itu ada yang cepu, cepunya ke temen nongkrong, eh malah sampe ke sekolah lagi ceritanya." Eva bicara dengan semangat empat lima.
"Hah, kok bisa, ah ngeri sekali itu sangat tak masuk akal loh Eva." Otak kecil Aluna masih tak bisa terima.
"Lah...lah..lah..emang susah gosip denganmu, ekspresinya tuh kurang mantap. Ku beri tahu ya, yang Cepu itu berbangga diri sudah mantab-mantab dengan cewe cantik, terus di kasih lihat foto mereka yang asdkshsksjsukaksnsb." Eva kelogetan seperti cacing.
"Hah?"
"Hah-heh-hoh mulu ih, jadi fotonya ke sebar waktu aku live di rumah mu pas Tina ngamuk sampe bakar rumah itu nah, terus jadilah rame jagat sosmed tanpa aku sendiri tahu." Eva menjitak kepala Aluna.
"Haaaahhh?"
"Bodo amatlah, makin panjang malah hah mu." Eva pundung di pojokan.
Bersambung
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
udah kayak rajaaa😂😂