Pernikahan bukanlah akhir dari kebahagiaan. Tapi pernikahan, adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya.
Cinta tak selamanya indah, ketika apa yang di pertahankan dan di pertaruhkan kini menjadi alasan untuk di tinggalkan.
Bagaimana kisah kelanjutan pasangan muda mantan aktor ternama dengan seorang gadis yang selalu di manja oleh keluarganya.
Mampukah mereka menghadapi lika liku perjalanan rumah tangga yang sesungguhnya?
Ikuti terus kisah Batara dan Zefanya...
jangan lupa follow akun Noveltoon Mommy ya...
IG : Mommy_Ar29
Tiktok : Mommy_Ar95
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
...~Happy Reading~...
Brukkk!’
Sebuah lemparan bantal yang cukup keras kini berhasil mendarat dengan sempurna pada tubuh sosok laki laki yang baru sja memasuki rumah sahabat nya. Ben, setelah dua hari ia berada di markas Klan C, kini akhirnya ia kembali ke Jakarta dan menemui sahabatnya.
Seperti yang sudah ia duga, saat ia datang tentu saja ia akan mendapatkan sambutan luar biasa dari kedua sahabat nya. Dan benar saja, sebuah bantal sofa yang terasa cukup keras berhasil mendarat menghantam wajah dan dada nya kala ia baru memasuki rumah tersebut.
“Ngapain lo datang! Repot banget kesini, pulang lagi sono!” usir laki laki itu yang tak lain adalah Batara. Ia sangat kesal dan kecewa pada sahabat nya, karena sudah keluar dari penjara sejak dua hari yang lalu, akan tetapi baru datang menemui nya sekarang.
Dua hari Batara dan Alvin mencari keberadaan Ben ke seluruh tempat, dari lapas, apartemen dan beberapa lokasi yang mungkin di datangi Ben, yakni rumah kedua orang tua angkat nya.
Tapi ternyata tidak ada, hasil nya nihil. Hingga membuat keduanya menyerah, dan kini pagi pagi sekali sosok yang ia cari selama dua hari itu datang dan dengan santai nya memasang senyuman merekah lebar seolah tak memiliki salah sama sekali.
“Kemana aja sih? Gak tahu ya, aku sama Batara udah keliling Jakarta nyariin kamu, takut di bawa kalong wewe, karena udah dua hari ngilang!” sambung Alvin kini menarik tangan ben dan mengajak nya untuk duduk di sofa.
“Nanggung banget lo ngilang Cuma dua hari, gak sekalian besok aja lo datang nya, biar tiga hari sekalian, biar gue bisa laporin kantor polisi itu karena sudah ngilangin lo selama tiga hari!” cetus Batara yang masih saja menggerutu kesal.
Ben menghela napas nya cukup berat sambil menyandarkan kepala nya pada sandaran sofa, “Gue datang salah, gue gak datang salah. Maunya kalian berdua apa sih? Kenapa gue yang selalu salah.” Imbuh nya memanyunkan bibir mencoba memasang wajah memelas.
“Ya karena elo emang salah!” seru Batara dan Alvin bersamaan dengan nada suara yang cukup tinggi, hingga membuat Ben seketika langsung terdiam dengan posisi duduk yang lebih tegak dari sebelumnya.
“Sejak kapan kalian berdua begitu kompak?” tanya Ben sedikit lirih.
Batara menghela napas nya sedikit kasar, ia menatap Ben dengan begitu intens, “Bayar hutang lo sama gue.”
Seketika itu juga, Ben langsung mengerutkan dahi nya saat ia di tagih hutang oleh Batara. Sejak kapan dirinya memiliki hutang, justru yang ada Batara lah yang memiliki banyak hutang padanya, karena upah kerja nya yang beberapa bulan terakhir belum di di berikan oleh laki laki tersebut. Lantas, mengapa kini terbalik? Bukankah seharusnya Ben yang menagih hutang, mengapa jadi Batara, batin nya berdecak dalam hati.
“Hutang penjelasan, bukan hutang duit! Kalau itu gue tahu, dan akan gue tranfer nanti setelah lo bayar hutang lo dulu!” Seolah tahu dengan apa yang di pikirkan oleh Ben, dengan cepat Batara lebih dulu berucap kembali dan menjelaskan apa yang ia maksud dnegan hutang yang sebenarnya.
“Penjelasan apa?” tanya Ben berpura pura tidak mengerti atau bahkan berpura pura lupa itu akan lebih baik pikir nya.
“Ben, jangan sampai sendal gue melayang ya! Gue udah nahan diri dari semingguan yang lalu, lo bilang bakal jelasin sama gue, dan juga mumpung ada Alvin juga disini, cepat jelasin sebelum gue—“
“Iya iya gue jelasin!” potong Ben dengan cepat sambil memijit pelipis nya, ia kembali menyandarkan kepala nya pada sandaran sofa. Tidak menyangka jika apa yang ia ucapkan asal kala itu, masih terus di ingat oleh Batara bahkan kini dirinya di tagih.
...~To be continue ......
,/Grin//Grin/