Adelia adalah gadis yang pekerja keras, ia merantau di kota besar agar bisa memenuhi kebutuhan ayah dan kakanya yang berada di rumah. Semua ia berikan agar bisa membahagiakan kedua orang yang sangat ia sayangi namun penghianatan kakak Adelia dan Riki membuat dirinya dibunuh dan meninggal.
Tuhan masih berbaik hati memberikannya kesempatan kedua untuk hidup, namun masalahnya ia berada di tubuh orang lain. ia bertekad untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman
Karena yang saat ini Vanessa lihat adalah Aldi dan juga Alena kakanya Adelia. Vanessa menggeleng berusaha menampik jika apa yang ia lihat adalah ilusi atau hanya salah orang karena ia terlalu percaya dengan kinerja Aldi yang sebelumnya memuaskan.
Dan akan sangat mengecewakan dirinya jika Aldi berhianat bahkan dengan musuhnya yang paling ia benci dan sangat ingin di kirim ke penjara. Vanessa terlalu hanyut akan fikirannya hingga sebuah tepukan di bahu menyadarkan dirinya, ia menoleh ke samping mendapati mas Arya yang sudah datang.
"Mas Arya ta-tadi aku melihat Aldi dan kak Alena, dia__". Vanessa terlalu terkejut hingga sulit untuk mengatakannya, namun belum selesai menuntaskan apa yang hendak ia beritahukan, mas Arya lebuh dulu mengajaknya ke dalam kafe agar duduk terlebih dulu.
"Kau tadi mau bicara apa ?". Tanyanya saat mereka sudah duduk di sudut, dimana letak meja mereka agak berjauhan jadi bebas bicara jika pengunjung yang lain datang karena tak akan terlalu terdengar.
"Aku tadi melihat Aldi dan kak Alena sedang jalan bersama dengan mesra, aku takut jika Aldi akan berhianat, mereka tidak sedang pacaran kan mas ?". Sudut mata Vanesaa sudah tergenangi oleh air yang ia di lekehkan.
Ia terlalu takut jika rencananya malah akan menjadi bumerang, dimana ternyata Aldi adalah pacarnya Alena dan menghianati kepercayaannya. Ia terlalu takut semua harapannya untuk menjebloskan Alena akan sirna.
"Kau jangan khawatir, sebenarnya aku yang menyuruh Aldi untuk mendekati Alena agar lebih mudah mendapatkan titik kelemahannya dan bisa menjebloskan ke penjara dengan mudah, jadi cara paling aman adalah dengan mendekati Alena melalui perasaan".
Seketika Vanessa bernafas lega setelah mendengar penuturan dari mas Arya, ia sudah terlalu takut dan berfikiran kemana-mana. Tapi untunglah segala ketakutannya tidak menjadi kenyataan dan rencana menjebloskan Alena terus berlangsung.
"Aku sudah benar-benar takut tadi kalau Aldi akan menghianati kita". Vanessa berusaha agar lebih tenang dan menyakinkan dirinya sendiri jika semuanya akan berjalan lancar tanpa ada gangguan.
"Kau tenang saja, aku akan selalu ada bersamamu disini jadi jika terjadi kemungkinan terburuk Aldi akan berhianat maka aku akan turun tangan sendiri menyelesaikan semua sampai tuntas". Ujarnya lembut namun penuh penekanan seolah mas Arya tak main-main dengan ucapannya.
"Kita kembali ke tujuan pertama kita ke sini, ada apa kau menyuruhku kemari ?". Tanya seraya melihat sekeliling kafe yang letaknya cukup dekat dengan apartemen namun ia baru pertama kali datang ke sana.
"Aku ingin mentraktir mas Arya hari ini sekaligus perayaan berhasil mengirim Riki ke penjara". Ujarnya dengan penuh semangat, tak seperti tadi yang murung dan penuh kekhawatiran.
"Baiklah kalau begitu aku akan pesan yang banyak". Mas Arya mengambil deretan menu dan semuanya dengan rentang harga yang cukup bersahabat di kantong alias murah. "Kau curang mengajakku ke kafe yang harganya murah". Ujarnya dengan tertawa.
"Benarkah ? Aku bahkan baru kesini dan tidak tau, kalau begitu hari ini mas Arya pesanlah yang banyak". Mereka berdua tertawa tanpa menghiraukan pengunjung kafe yang lain. Karena saat ini kebahagiaan menyelimuti.
*****
Setelah cukup lama mendekati Alena atas perintah mas Arya, akhirnya Aldi berhasil menjadi pacarnya dan selama itu juga ia secara diam-diam memperhatikan gerak-gerik juga mencari tahu kelemahan Alena agar bisa memasukkan wanita itu ke penjara.
Awalnya Aldi ingin memoroti Alena agar menuruti apa yang ia inginkan hingga korupsi seperti Riki, tapi tak menyangka jika di tengah menjalankan rencananya ternyata ia menggantinya dengan menjebak Alena agar mabuk dan mengatakan semuanya termasuk kasus pembunuhan yang ia lakukan.
Layaknya dapat jack pot yang selama ini diinginkan oleh Vanessa dan mas Arya, tentu ia sangat antusias menanyai Alena sampai kebusukannya terkuak dan dapat di hukum berat. Ia bahkan dengan semangat langsung menyerahkan rekaman saat Alena mabuk.
"Sekarang informasi apa yang telah kau dapat ?". Tanya mas Arya setelah mendapat telefon dari Aldi yang ingin bertemu, disana juga ada vanessa yang sangat penasaran.
"Sebuah informasi besar karena aku rasa Alena akan bisa langsung masuk penjara saat ini juga". Riki lalu meletakkan alat perekam diatas meja dan memutarnya agar dapat didengar seksama.
"*Apa kau yang membunuh Adelia ?"
"Iya aku membunuhnya karena dia mengancam akan memberitahukan perselingkuhanku dengan ayah, ia sangat menyebalkan dari dulu selalu mengadu ini dan itu dan bertingkah sok baik, sok polos dan juga sok rajin, aku sangat muak kepadanya"
"Kenapa kau tega membunuhnya ?"
"Memangnya kenapa ? Lagipula dia sudah tak ku butuhkan lagi, tidak ada yang mengharapkan kehadirannya bahkan pacarnya saja selalu menjelekannya di depanku dan juga lebih sayang kepadaku dulu sebelum aku tau kalau ia playboy"
"Apakah ada buktinya kau telah membunuh adikmu ?"
"Tidak ada karena aku sudah membakar semua bukti beserta jasadnya jadi polisi tidak akan pernah tau jika selama ini aku yang telah membunuhnya hidup-hidup, puas sekali rasanya saat melihat api membakar tubuhnya*"
"Cukup". Vanessa tidak sanggup lagi mendengarkan rekaman bukti kekejian kakanya sendiri yang telah ia sayangi selama ini, bahkan ia sudah banyak berkorban hingga menjual dirinya sendiri tapi semuanya ternyata tak ada arti, bahkan dirinya tak lebih berguna dari sebuah keset yang terinjak berulang kali.
Mungkin Aldi tak mengetahui mengapa Vanessa menangis, ia hanya tau jika Alena sangat keji tanpa mengetahui fakta jika yang di bunuh oleh Alena masih hidup dalam raga Vanessa yang saat ini berada di depannya.
"Sudah jangan menangis lagi". Mas Arya meraih tisu dan ia berikan ke Vanessa untuk mengelap air mata yang sudah meleleh, ia juga ikut sedih dan marah akan kelakuan Alena pada Adelia selama ini, padahal Adelia gadis yang baik walau jarang tersenyum dan ia yakini kalau Adelia terlaku banyak tekanan mempunyai keluarga seperti itu.
"Jangan khawatir aku akan pastikan ia mendekam dan membusuk di penjara". Ujar mas Arya dengan nada penuh kemarahan namun masih ia tahan, mungkin jika Alena berada di depannya saat ini sebuah bogem mentah akan ia daratkan ke wajah wanita itu.
"Tolong pastikan ia tak akan pernah keluar dari penjara mas".
"Tentu saja".
aldikn gak tau
transmigrasi ke tubuh anak orang kaya men punya orang tua baik walaupun sibuk sama kerjaan jadi nggak perlu susah cari duit lagi