Desri Winandra, gadis yang dibayar menikahi lelaki lumpuh untuk melunasi hutang-hutang biaya pengobatan almarhum ayahnya.
Ternyata lelaki lumpuh itu Arkhan Ghani, dia tak lain CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Lelaki yang selama dua tahunan ini dia kagumi. Lelaki yang begitu dingin dan seolah bersikap tidak menyukainya.
Dibalik kisah hidupnya yang penuh lika-liku dan penderitaan yang selalu datang bertubi-tubi, Desri memiliki sikap tegas, baik, tulus dan penyayang.
Di dalam kisah mereka, kalian juga akan tertarik dengan beberapa karakter pendukung lainnya yang menjadi lakon utama pada diri mereka masing-masing. Terutama sang pengawal tampannya keluarga Arkhan.
Mampukah Desri melalui penderitaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Dapatkah dia memikat hati Arkhan yang dikaguminya selama dua tahun itu?
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNTUK PERTAMA KALINYA
Nur menarik napasnya pelan dan kembali membuangnya. Dia melirik ke samping tempat tidurnya, terdapat sebuah kotak kecil di atas nakas.
"Di dalam kotak kecil itu ada kunci kamarnya Arkhan... Tapi kamu harus janji, jangan masukin ke hati apa pun yang kamu lihat dan yang kamu dengar dari mulutnya. Emosinya tidak akan stabil jika bukan Mama yang menemuinya." Ujar Nur seakan ada keraguan di hatinya.
"Iya, Ma... Mama tidak usah mikir yang macam-macam... Desri pasti akan baik-baik saja kok, Ma..." Sahut Desri sembari merogoh kotak itu dan mengambil sebuah kunci dari dalamnya.
"Yuni Sayang..." Panggilnya kepada Yuni.
"Iya, Kak...?" Sahut Yuni mendongakkan kepalanya menghadap Desri yang berdiri di sampingnya.
"Kamu ada mata kuliah hari ini, Dek?" Tanya Desri.
"Kebetulan untuk dua hari ini tidak ada, Kak... Jadi, Yuni di rumah aja temani mama." Ujarnya sambil memijit-mijit kecil tangan Nur yang masih lemah.
"Ya udah, kalau gitu... Sebentar lagi pelayan akan datang membawakan obatnya mama... Lihat aturan pakainya ya, Sayang... Jika harus setelah makan meminumnya, kamu minta bibi ambilkan sarapan ya, dek... Tadi kakak sudah bikin bubur kacang ijo sama sop ikan..." Ujar Desri kemudian mencium punggung tangan mertuanya itu dan berlalu hendak keluar.
*****
Desri membuka pintu kamar yang tak lain milik Arkhan, suaminya. Di tangannya membawa sebuah nampan yang berisikan segelas teh manis dan semangkuk bubur.
Ketika Desri telah mencapai kamar dan menutup pintu itu kembali, dia menoleh ke Arkhan yang tengah selonjor di lantai bawah tempat tidurnya.
Mereka sama-sama terkejut.
Desri memejamkan matanya dan menghirup udara dalam-dalam, kemudian di hempaskan nya lagi dengan kasar. Dia seakan mengumpulkan banyak tenaga dan kekuatan sebagai antisipasi jika Arkhan memberontak dan memakinya.
"Ngapain kamu kesini? Keluar!!" Teriak Arkhan keras.
Benar saja, kan? Baru masuk saja dia sudah mendengar bentakan kasar suaminya itu.
Tetapi dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk mencobanya.
Desri meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja sofa dalam kamar itu. Kemudian dia menyingsing kedua lengan bajunya dan menghampiri Arkhan.
"Kamu tidak dengar, ya??? Apa kamu tuli?" Bentak Arkhan lagi.
Desri tetap tidak menjawabnya. Dia menyibakkan seprai yang terbentang di atas kasur. Kemudian menarik selimut yang melilit tubuh Arkhan. Sekuat tenaga Arkhan menahannya, dan sekuat tenaga itu pula Desri menariknya kembali.
"Keluaarrr...!" Teriak Arkhan lagi.
Desri tetap dalam pertahanannya.
"Mamaaaaaaa..." Teriak Arkhan lagi. Dia memencet-mencet remot nya dengan keras. Desri yang menyadari hal itu, ia segera merampas remot di tangan Arkhan dan membantingnya hingga remot itu berserakan di lantai sudut kamar.
Melihat remot itu rusak, Arkhan meremas tangannya dengan geram.
"Kauuuu.... Beraninya kauu... Keluaarrr kataku...!" Seru Arkhan murka.
Desri tetap tak menggubrisnya. Dia kembali menarik selimut di tubuh Arkhan hingga terlepas. Terlihat sekali di celah celana Arkhan basah kuyup dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Melihat keadaan Arkhan seperti itu, sontak saja emosi Desri mencuat hingga ke ubun-ubun.
"Kauuuu!!! Kenapa kau tidak mati saja, hah???" Sekarang giliran Desri yang berteriak murka. "Bisa-bisanya kau merepotkan mamamu seperti ini... Tidak-kah kau lihat dari wajahnya yang lelah menyimpan jutaan harapan untukmu? Memikirkan semua yang terbaik untukmu dan adikmu?" Ujar Desri lagi dengan amarah yang memuncak. Dia menyeka air matanya yang menyelinap keluar tanpa seizinnya.
Arkhan terkejut dan menunduk mendengar kata-kata Desri.
"Kau tau kenapa aku berada disini sekarang?? Karna mamamu pingsan dan baru saja siuman... Anak macam apa kau, hah???" Teriak Desri lagi. Dia benar-benar ingin mengeluarkan semua beban di hatinya itu.
Mendengar mamanya pingsan, Arkhan terbelalak dan berusaha ngesot untuk menggapai sesuatu. Dalam pikirannya hanya ada mamanya. Bahkan malu yang ditahannya sedari tadi hilang entah kemana.
Desri sekuat tenaga menahan Arkhan dan menariknya tubuh suaminya itu ke kamar mandi, dan kemudian memasukkannya ke dalam bath up.
Desri memandikan suaminya itu hingga bersih. Arkhan pun sudah mulai sedikit tenang dan tidak memberontak lagi.
Setelah memandikan Arkhan, Desri mendudukkan suaminya di kursi roda dan menghadapkannya keluar jendela agar terkena cahaya pagi. Dia mengeringkan rambut suaminya itu dengan handuk kecil.
Apa yang saat ini aku rasakan, Tuhan??? Kenapa dadaku sesak begini??~ Gumam Arkhan dalam kebisuannya.
Setelah memberikan teh dan bubur yang masih hangat karna ditutupnya tadi, Desri berlalu meninggalkan Arkhan menuju ke kamar mandi lagi. Dia merendam semua kain yang terkena kotoran suaminya itu.
Desri keluar dari kamar mandi dan membereskan kekacauan yang diakibatkan suaminya tadi. Sesekali Arkhan melirik pandang kearah Desri yang tengah di sibukkan dengan memasang seprai tempat tidur Arkhan yang telah dikeringkan dan di semprot wewangian.
Setelah dirasa selesai, dia kembali ke kamar mandi untuk memastikan kain-kain itu sudah tidak berbau lagi, dan kemudian memerintahkan pelayan untuk membawanya ke tempat pencucian.
Arkhan pun tampak telah menghabiskan teh dan buburnya. Desri mengambil nampan dan meletakkan piring serta gelas kotor makan suaminya itu. Dia hendak berlalu tetapi di cegat Arkhan dengan pertanyaan.
"Bagaimana mama??" Tanya Arkhan sambil memandang punggung Desri.
Desri menoleh... "Kamu lihat saja sendiri... Buat beliau senyaman mungkin, dan jangan menyusahkannya lagi..." Tegas Desri penuh penekanan dan berlalu meninggalkan Arkhan.
.
.
.
.
.
dulu iparku anemia , bukan amnesia biasa ada jenisnya jg , selalu operasi melahirkan anaknya ... Alhamdulillah selamat .
semoga ada keajaiban untuk Desri .
kasihan klo Desrinya metong .
perempuan utama baik begitu.
sementara ayah arkhan bisa aja sengaja di celakai jg , sama halnya seperti arkhan.
jodoh Yuni siapa ya .
rival atau Endro
kasihan jg si Endro .
apa maksudnya dengan mentari yang sama?🤔
enakan melawak aja ndro jangan ganti profesi🤭😁
kakak ipar idaman
menantu idaman.