Di saat orang tua terlalu campur tangan dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya, maka kehancuran menunggu di ujung jalan.
______
Tidak ada pelakor di sini. Fokus cerita hanya tentang konflik sederhana yang sangat berpengaruh dalam keharmonisan sebuah rumah tangga.
Selamat membaca🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GDB 25
Sore harinya, ketika aku sedang menata pakaian yang sudah diseterika ke dalam lemari, tiba-tiba perutku terasa nyeri.
Pekerjaanku terhenti sejenak, sekadar untuk menahan rasa tak nyaman itu. Segera kuputar tumit, lalu mendudukkan tubuh di tepi ranjang secara perlahan.
Beberapa menit kemudian, sakitnya mulai mereda. Namun, selang sepuluh menit sakitnya datang kembali.
Aku pun mulai paham situasi. Lekas kumasukkan beberapa barang yang diperlukan untuk kebutuhanku selama di rumah sakit. Sebagian keperluanku, sebagian keperluan bayi--yang sudah kudaftar sebelumnya di dalam buku catatan.
Aku sendiri tak yakin bahwa akan melahirkan hari ini, namun hal tersebut kulakukan hanya untuk antisipasi jika memang hal itu terjadi. Namun, ada hal lain yang kupikirkan saat ini, Mas Labiq belum juga kembali sejak pamit untuk pergi ke Mako tadi siang. Apakah kondisi di sana semakin memburuk?
Setumpuk kekhawatiran mulai menjamah dada. Tadi siang, ia sempat mengungkapkan kalimat tentang kegundahan hati jika aku melahirkan tanpa kehadirannya. Apakah hal itu akan terjadi? Mungkinkah aku harus melahirkan tanpa ditemani sosok sang suami?
Perlahan aku bangkit setelah selesai mengepak semua barang. Kulangkahkan kaki ke luar kamar untuk memberitahu ibu mertua tentang kondisi badan. Walaupun rasa nyeri terus menyerang, aku masih bisa berjalan dengan lancar.
Saat ini pukul empat lewat tiga puluh menit sore, kulihat di ruang tamu tak ada orang yang datang bersilaturrahmi.
Di dapur juga tidak ada siapa-siapa. Ah, aku baru ingat, pada jam segini biasanya ayah dan ibu mertua sedang asik bersama tanaman-tanaman mereka di pekarangan belakang.
Gegas kuayunkan kaki ke sana. Dari kejauhan, tampak sosok ayah mertua sedang menyirami tanaman sayuran-mayur sambil bersiul ria.
Kuhampiri beliau dengan tetap memasang wajah meringis, menahan denyutan yang semakin lama semakin kuat.
"Kenapa, Nduk?" Sebelum sempat menyapa, ayah mertua lebih dulu menyadari kehadiranku.
"Ibu mana, Pak?" Kepalaku celingukan mencari keberadaan ibu mertua. Namun, tetap saja tidak ditemukan di mana-mana.
"Tadi dipanggil istrinya Pak Pairan, kamu kenapa? Sakit perut?" Sepertinya ayah mertua sudah mengerti kondisiku.
Sebelah tangan kutempelkan pada pinggang, sementara satunya lagi mengelus perut dengan ekspresi wajah terus menahan sakit.
Aku lantas menganggukkan kepala sebagai tanggapan atas pertanyaan beliau. Walaupun adanya sedikit rasa malu dan ragu untuk mengungkapkan kebenaran, namun situasi terjepit sukses membuatku kehilangan jati diri.
Sifat pemalu yang diwarisi dari almarhum bapak membuatku sedikit kesulitan untuk mengekspresikan diri di hadapan orang lain. Namun, tidak di depan ibu, Febri, dan Mas Labiq, mereka adalah tiga sosok yang bisa membuatku bebas berekspresi. Ditambah Aroha, yang merupakan sosok baru dalam hidupku. Sosok pelengkap sekaligus pendengar terbaik di kala aku butuh teman untuk berbagi. Pastinya tentang sesuatu yang tidak bisa kuceritakan pada ibu dan sang suami.
"Kamu masuk dulu, Nduk. Bapak mau panggil ibumu." Beliau melepaskan selang air yang tadinya dalam genggaman, kemudian bergegas menuju rumah Pak Pairan yang terletak tepat di samping kediamannya.
Aku pun gegas memasuki kamar untuk menghubungi Dokter Jovita. Karena sebelumnya ia pernah berpesan, jika perut dan pinggang mulai terasa sakit bersamaan, aku harus menghubunginya.
Tak berapa lama setelah itu ....
"April ...!"
Itu suara ibu mertua. Ia berhambur memasuki kamar, diekori oleh ayah mertua.
"Semakin sering sakitnya?" Ibu bertanya penuh kekhawatiran. Aku mengangguk pelan. Sepertinya ayah mertua sudah menceritakan tentang kondisiku padanya.
"Sudah telepon Labiq?" Sekarang ayah mertua yang bertanya. Aku menggeleng.
Tadinya, setelah menghubungi dokter, aku berniat menelpon Mas Labiq. Tetapi, setelah dipikir lagi, kurasa tidak baik membuatnya merasa kebingungan. Di satu sisi dia juga sedang dihadapkan pada sebuah konflik besar yang menyangkut tentang terorisme. Apakah bijak jika aku malah menambahkan konflik baru, yang pastinya akan membuat ia kesulitan untuk memilih?
"Kalau begitu, biar bapak saja yang menghubungi Labiq."
"Tapi, Pak ...."
"Setidaknya dia perlu tahu, bisa menemani persalinanmu atau tidaknya, itu kita lihat nanti."
Ayah mertua lantas meninggalkan kamar untuk mengabari suamiku. Sementara aku tiba-tiba teringat ibu dan Febri yang jauh di sana. Haruskah aku memberitahu mereka?
Tiba-tiba rasa nyeri seperti disayat-sayat kembali menggerogoti perut. Di tambah lagi, tekanan aneh di bagian kewanitaanku juga kian terasa. Aku hampir saja hilang kendali, jika terus seperti ini rasanya aku ingin mati.
"Tarik napas, terus embuskan perlahan!"
Saran dari Dokter Jovita kini berkelebat di kepala. Aku langsung mempraktekkannya. Dan ... benar adanya, sekarang terasa jauh lebih baik.
"Kita ke rumah sakit aja ya, Pril." Ibu mertua semakin gusar. Apalagi setelah melihatku seperti cacing kepanasan tadi.
Aku menggeleng pelan seraya bersandar di kepala ranjang.
"Dokter bilang, karena ini anak pertama, kemungkinan pembukaannya masih lama, Bu."
"Tapi, berdiam di rumah begini, malah bikin ibu tambah khawatir," katanya dengan wajah hampir menangis.
Aku kembali menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan. Di saat sakitnya datang, hanya dua hal itu yang bisa kulakukan.
kembalikan dulu Labiq
Emang nenek-nenek cuma satu di dunia??
Rasanya gue paham
pantes aja sering ditindas
Otak anak juga butuh nutrisi, Mak. Apa perlu Penulis Keparat yang jadi pengamat gizi biar ibu mertua bisa mingkem
jagoannya dataaaaang 🤣
benar-benar meragukan pembaca 🤣