Tidak sengaja menemukan korban kejahatan yang terluka parah dan mengalami amnesia, siapa sangka kisah Maura dan Shaka dimulai di hari itu. Maura berusaha membantu Shaka untuk sembuh dan kembali mengingat jati dirinya.
Namun, saat cinta mulai tumbuh di hati mereka, ingatan Shaka kembali, laki-laki itu mengingat bahwa cintanya hanya untuk seorang wanita yang dia janjikan pernikahan.
Apakah Shaka akan kembali pada cinta pertamanya? Ataukah Shaka memilih Maura yang dengan tulus membantunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Kalau kamu belum siap cerita, nggak apa-apa, kamu pasti masih sangat shock, 'kan? Lebih baik kamu istirahat dulu aja," ujar Alisha. Wanita itu memberikan waktu dan ruang untuk Maura mengistirahatkan tubuhnya yang penat usai terguncang karena peristiwa di hotel sebelumnya.
Namun, tentu saja gadis itu tak dapat tertidur nyenyak meskipun raganya sudah terasa lelah. Bayang wajah Reyhan masih terngiang-ngiang di kepalanya dan tak dapat ia hilangkan begitu saja dari pikirannya.
Hingga larut malam, gadis itu masih juga tak dapat memejamkan mata. Maura pun bangkit dari ranjang dan duduk termenung di dalam kamar sembari menatap langit malam dengan pandangan kosong. Gadis itu masih menampakkan wajah murung, mengingat kejadian buruk yang menimpanya karena ulah calon suaminya.
Tak hanya itu, Maura juga terlihat resah dan gelisah memikirkan ibu tirinya yang mungkin saat ini tengah mengamuk karena dirinya yang tak kunjung pulang.
"Apa yang akan dilakukan wanita itu jika aku tidak pulang? Dia tidak akan mengirim preman untuk menerobos masuk ke rumah ini, kan?" gumam Maura cemas memikirkan ibu tirinya yang mungkin akan melakukan hal nekad demi membawa Maura kembali pulang.
Suara pintu pun membuat lamunan gadis cantik itu buyar seketika. Maura sontak menoleh ke arah pintu dan melihat Alisha, ibu dari Shaka yang sudah berdiri di ambang pintu sembari melempar senyum ke arah Maura.
"Tante?" Maura segera merapikan rambutnya yang agak berantakan serta piyama tidurnya yang compang-camping, kemudian melempar senyum manis pada sang nyonya rumah yang sudah berbaik hati membiarkan dirinya tinggal.
"Kamu belum tidur?" tanya Alisha pada Maura. Awalnya wanita paruh baya itu hanya ingin memeriksa keadaan Maura di kamar. Namun, ia justru menemukan gadis malang itu ternyata masih terjaga di dalam sana.
Maura menggeleng pelan sembari melempar senyum tipis pada Alisha. Bagaimana mungkin gadis itu dapat tidur nyenyak setelah mendapatkan musibah yang membawa trauma? Terlebih lagi Maura juga masih menjadi incaran ibu tirinya.
Alisha mengulas senyum, kemudian membelai rambut Maura dengan penuh kasih. "Gimana perasaan kamu, Maura? Sudah lebih baik? Atau sebaiknya kita konsultasi ke psikolog aja?" ajak Alisha pada gadis malang yang sepertinya masih terbelenggu trauma mendalam itu.
"Kamu pasti masih ketakutan banget. Kalau ada apa-apa, bilang sama Tante, ya? Kita bisa minta bantuin tenaga profesional buat bantu sembuhin trauma kamu," usul Alisha.
Maura tak henti-hentinya bersyukur dalam hati karena telah dipertemukan dengan keluarga yang baik hati dan mau menolongnya hingga sejauh ini. Sayangnya, berada di rumah tersebut membuat Maura merasa aman, tapi juga merasa tak nyaman.
Separuh hati Maura merasa cukup bahagia, dirinya bisa kembali melihat wajah Shaka setiap hari. Namun, separuh hatinya justru merana, jika Maura mengingat fakta kalau pria idamannya sudah ada yang punya.
"Terima kasih banyak atas perhatian Tante. Maura baik-baik aja kok," sahut Maura. "Maaf, Maura udah bikin repot Tante sekeluarga," ucap Maura penuh sesal.
Maura terlihat sungkan dan merasa tak enak hati pada keluarga Shaka. Terlebih lagi, Maura sudah membuat keluarga Shaka terlibat dalam masalahnya yang rumit dengan ibu tirinya.
"Kamu kenapa, Maura? Ada yang kamu pikirin?" tanya Alisha.
Maura memainkan jemarinya dengan kepala tertunduk. Gadis itu nampak bingung bagaimana ia harus menjelaskan tentang kegundahan di hatinya saat ini karena sang ibu tiri.
"Maura ... nggak enak kalau sampai bikin keluarga Tante terlibat sama masalah Maura. Terima kasih banyak, Tante sekeluarga udah ngasih perlindungan buat ayah sama ibu Maura, tapi ... Maura nggak mau keluarga Tante terlibat makin jauh," ungkap Maura dengan wajah muram.
"Kamu ngomong apa, Maura? Sudah sepatutnya kami membantu kamu," tukas Alisha.
Maura menghela napas berat dan berusaha memberikan penjelasan kalau ibu tirinya bukanlah seseorang yang bisa ia lawan. "Ibu tiri Maura bukan orang sembarangan, Tante. Dia bisa lakuin apa pun yang dia mau demi meraih tujuannya. Maura nggak mau bikin banyak orang terlibat lagi. Pertama Mas Faisal, sekarang ayah sama ibu Maura. Maura nggak mau ada korban lagi gara-gara Maura," terang Maura dengan manik mata mengembun.
"Memangnya ibu tiri kamu itu siapa sebenarnya Maura?" tanya Alisha penasaran kenapa Maura begitu takut pada ibu tirinya hingga tunduk begitu saja pada semua perintah sang ibu.
Maura kembali menatap ke arah langit. Pikiran gadis itu kembali melayang, mengingat pertemuan pertamanya dengan sang ibu tiri. Sejak awal menikah dengan ayahnya, ibu baru dari Maura itu memang sudah menunjukkan banyak sikap tidak menyenangkan. Sangat terlihat jelas jika wanita itu menikahi ayah Maura hanya demi mengincar hartanya saja.
"Ibu tiri Maura ... berasal dari kalangan komplotan mafia yang terlibat dengan banyak bisnis ilegal, termasuk distribusi senjata api dan perdagangan organ. Setahu Maura, ibu tiri Maura mempunyai pabrik yang memproduksi senjata api ilegal," jelas Maura.
Dia sudah berpikir matang-matang untuk memberitahu Alisha. Tujuannya, supaya Alisha dan keluarganya lebih waspada dan tidak sembarangan meremehkan ibu tirinya.
Alisha cukup terkejut saat mengetahui ternyata ibu tiri Maura merupakan seorang pebisnis di dunia hitam yang berkecimpung dalam banyak kegiatan ilegal. "Itu beneran ibu tiri kamu? Kenapa ayah kamu bisa kenal sama orang berbahaya begini?" tanya Alisha.
"Nggak cuma itu, Tante. Ibu tiri Maura nggak akan segan-segan nyingkirin siapa pun yang berusaha menghalang-halangi rencananya. Maura takut ... keluarga Tante akan jadi sasaran berikutnya nanti."
****
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
ternyata berakhir sama Maura ya.. 💞💞💞
rasa cinta ke Bianca kayaknya cuma sekedar obsesi karena ditolak terus..
ato mungkin emang udah semakin berkurang sejak kecelakaan karena udah semakin nyaman sama Maura..
yg penting happy ending..
suka banget apalagi ada part mafianya..
benernya masih kurang bacanya kak, babnya dikit banget dibanding ceritanya Satria..
tapi ya sudahlah, Terima kasih udah susah payah buat nulis cerita yg keren ini.. 😘😘😘
oke deh lanjut ke novel berikutnya..
semoga sehat selalu ya kak..
tetap semangat dalam berkarya.., 💪🏻😘🥰😍🤩