Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar kamu
🍂🍂🍂
Saat Rindu memasuki lobi gedung itu. Semua mata yang ada disana meliriknya. Mereka seakan bertanya. Siapakah orang yang datang bersama pak Ejja asisten kepercayaan CEO? Apakah dia talent baru? Bukankah para talent biasanya ditangani oleh manajer. Mereka semua melihat Rindu dengan ekspresi wajah yang berbeda. Ada yang kagum, berbinar, tatapan suka, bahkan ada tatapan sinis padanya.
Rindu membiarkan mereka semua memandang ke arahnya. Beberapa orang tersenyum dan Rindu membalasnya. Pasalnya penampilan Rindu lebih mirip seorang talent atau calon artis baru. Ditambah lagi dengan parasnya yang mendukung perkiraan mereka semua. Mereka pikir orang yang datang bersama karyawan khusus CEO bukanlah orang biasa.
Ejja mengajak Rindu naik ke lantai 11, kantor Ardian dan beberapa karyawan khusus CEO lainnya.
"Silahkan nona, kantor pak Ardian ada di ujung sana."
Rindu pun melangkahkan kakinya menuju kantor Ardian yang ditunjuk oleh sang asisten. Ejja mengikuti langkahnya dari belakang. Setelah mendekat, seorang sekretaris yang duduk di meja depan kantor itu menyambut mereka. Nona sekretaris itu menyapa seraya membungkuk, Rindu membalas sapaan itu dan tersenyum.
Ejja mengetuk pintu dan membukanya. Rindu mengintip sebentar ke dalam ruangan itu. Ardian sedang duduk di kursi kebesaran seorang CEO. Ia sedang serius bekerja memeriksa kertas-kertas laporan. Saat menyadari bahwa ada yang datang, ia pun menghentikan pekerjaannya. Kedatangan Rindu sudah dinantikannya sejak tadi. Dan Rindu pun masuk mengikuti langkah Ejja.
"Sayang… kamu sudah datang!" sapa Ardian saat menghampiri Rindu. Pria itu tersenyum tanpa rasa bersalah.
Rindu berdiri dengan berkacak pinggang ke arah Ardian. Ejja yang melihat sambil menutup pintu menautkan kedua belah alisnya. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apakah bosnya baru saja tersenyum? Sayang? Panggilan itu begitu lembut, ia tidak pernah melihat Ardian bersikap selembut ini. Biasanya Ardian hanya memperlihatkan ekspresi wajahnya yang dingin sedingin balok es.
"Stop…!"
Rindu berteriak, Ardian menghentikan langkahnya. Satu kakinya di depan dan satu lagi ada dibelakang. Ia diam seperti patung.
"Ada apa sayang?"
"Tetap diam di situ…! Apa alasannya kamu mengganti pekerjaanku seenak jidatmu?"
Ejja tersenyum menutupi mulutnya. Baru kali ini ia melihat bos nya bisa takluk terhadap perintah seorang wanita. Melihat itu Ardian pun mendelik padanya. Dan ia pun terdiam sambil menahan tawanya.
"Ardi… jawab!"
"Sayang… bisa kita duduk dulu?"
"Baiklah, aku akan duduk."
Lalu Rindu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dan Ardian pun mulai menggerakkan lagi tubuhnya. Lalu ikut duduk di sebelah Rindu.
"Heeii… siapa yang menyuruh kamu juga duduk! Aku bilang aku akan duduk, bukan kamu…! Cepat kembali ke posisi mu yang sebelumnya!" perintah Rindu dengan nada tinggi.
Prruuupp… Ejja hampir meledakkan tawanya. Secepat kilat ia menutup mulut dengan telapak tangannya."Ternyata suara Rindu ketika marah tidak kalah bagus dengan suaranya saat menyanyi. Buktinya suara itu mampu menaklukkan si balok es itu! Hahahaha…," cengir Ejja diam-diam.
Ardian berdiri dan kembali ke posisinya semula. Dengan posisi kaki dan tangan yang sama. Ia kembali menjadi patung. "Rindu yang sekarang adalah wanita bar-bar…!" gumamnya dalam hati.
"Rin… aku boleh bergerak sekarang? ini sudah 15 menit, kakiku kram!" ucapnya sedikit menghiba.
"Lima menit lagi. Itu hukuman, kamu sudah membuatku berhenti bekerja di dua tempat hanya dalam waktu dua hari!" ucapnya dingin.
Ardian menghela nafasnya berat. Rindu mendelik tajam ke arahnya.
"Kamu keberatan? bukankah kamu akan melakukan apapun untukku?"
"Ti… tidak… aku akan melakukan apapun keinginanmu."
"Bagus… teruslah seperti itu 5 menit lagi."
Pria itu tidak bisa berkutik lagi. Ia melihat ke arah Ejja yang cengengesan dari tadi. Saat ini Ejja telah duduk di meja kerjanya yang juga satu ruangan dengan kantor CEO. Tempatnya bekerja hanya ruangan kecil berukuran 2x3 yang disekat dengan kaca. jadi dia bisa melihat dan mendengar apapun yang terjadi di ruangan kantor itu.
Rindu menyesap teh yang disajikan oleh Mira sekretaris Ardian. Saat ia tadi masuk ke dalam, Mira juga sangat terkejut. Ia melihat bosnya itu terdiam seperti patung. Saat ia ingin menyapa, muka bosnya itu tiba-tiba memerah padam karena malu. Ia pun segera keluar karena melihat tatapan mata Ardian yang tajam.
"Rin… sayang… sudah?"
Rindu melirik jam di dinding atas kantor itu. Ia mengangguk pelan menandakan hukuman telah selesai. Sebenarnya ia telah menahan dirinya sejak tadi. Ia ingin sekali menertawakan Ardian yang patuh begitu saja pada perintahnya. Ardian akhirnya bisa bernafas lega. Ia pun segera duduk bersandar di sofa dan merentangkan kedua kakinya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rindu santai.
"Ahh… lumayan sayang, capek!"
"Ermm… lumayan, apakah masih kurang?"
"Tidak… tidak, cukup ya…!"
"Hmmm… baiklah, aku tidak tahan lagi. Hahahaha….!"
Dan akhirnya meledakkan tawanya. Ia tertawa sampai terpingkal-pingkal. Ardian yang merasa bingung menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Aku menertawakanmu… hahaha… kamu mau tahu bagaimana tampangmu ketika mematung tadi?"
"Haahh… jadi tadi itu kamu mengerjai ku?"
Ardian mendengus kesal. Dia pikir Rindu benar-benar marah padanya. Bahkan tadi ia sempat memikirkan cara membujuk wanita itu. Ardian hanya bisa menggeleng tidak percaya dengan kelakuan Rindu.
"Hahaha… tentu saja… hahaha, lihatlah ini."
Rindu memperlihatkan foto yang diambilnya tadi ketika Ardian berdiri mematung. Rindu mengambil foto itu secara diam-diam. Disana Ardian terlihat sangat tertekan. Mukanya kaku, matanya melotot. Sangat lucu sekali, Rindu tidak bisa berhenti tertawa.
"Heii… kamu mengambil foto ku?"
"Iya… buat bukti bahwa kamu takluk pada perintahku!"
"Dasar kamu ya…!"
Ardian mencubit pipi kiri Rindu gemas. Rindu mengaduh kesakitan lalu mengusap-usap dengan telapak tangannya.
"Sudah mulai jahil ya sekarang… dulu kamu yang selalu aku jahili, sekarang semua seperti berbalik kepada ku!"
Dalam pikirannya, sejak kapan Rindu berubah seperti ini. Apakah begini caranya menutupi kesedihannya? Beginilah cara melupakan masa lalunya? Jika benar, Rindu adalah wanita kuat, sangat kuat. Namun apakah ini tidak berpengaruh pada mentalnya kemudian. Ardian harus segera menanyakan kepada Dokter. Ardian sendiri belum tahu persis apa cerita di balik Taruma yang Rindu derita.
"Hahaha… aku seperti itu hanya padamu. Aku belum pernah melakukanya dengan orang lain."
"Benarkah… kalau begitu aku mau kamu menjahili ku setiap hari," katanya dengan senyuman menggoda.
"Wwooow… kamu mungkin akan lari dariku," candaan Rindu.
"Tidak… itu tidak akan pernah terjadi!"
"Kamu seperti yakin sekali?"
"Tentu saja… karena kamu satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan aku selama delapan tahun ini."
"Oohh… benarkah? jadi tidak ada satupun yang bisa menaklukkan hatimu?"
Mereka mengobrol hingga lupa waktu. Bahkan mereka melupakan apa tujuan Rindu datang kesana. Ejja yang telah sibuk menggantikan pekerjaan Ardian sedari tadi, datang menghampiri mereka.
"Ya… dan...kamu…."
"Errggmm… errgmm…."
Ejja mendehem menghentikan obrolan itu yang tak ada habis-habisnya. Mereka pun menoleh secara bersamaan.
"Maaf pak Ardi… anda tidak lupa bukan, hari ini kita ada rapat dengan investor?"
Ardian melihat jam di dinding. Waktu untuk rapat tinggal sebentar lagi, dan benar Ardian melupakannya. Rindu hanya diam saja mendengarkan.
"Emm… baiklah…."
"Satu hal lagi pak… nona Rindu akan ditempatkan sebagai asisten produser."
"Dia, menerimanya?"
"Iya!"
"Ok… baiklah. Aku sendiri yang akan mengantar Rindu ke sana."
Sang asisten pun pamit dan beranjak dari tempatnya. Kemudian Ardian bangun dan mengulurkan tangannya. Rindu menyambut uluran tangan itu.
"Ayo… aku akan mengantarmu ke tempat kerja barumu."
"Oohh… baik. Tapi, dia itu siapa?"
"Kamu akan tahu nanti!"
Rindu mengedikkan bahunya. Ia menurut apapun yang akan dilakukan Ardian padanya. Ia percaya pada laki-laki itu.
*
*
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya...
LoPe dan JemPol kamu yang berharga. 🥰
Komen Yuk ramein, biar Aku semangat nulisnya...
Dukung terus author ya...
Love U all ☺️😘
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣