Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Bian
Sudah sekitar pukul 11 malam, Bian masih setia menunggu di depan pintu apartemen Bunga, ia sengaja untuk menunggu gadis itu pulang. Bahkan sedetikpun ia tidak akan melewatkan untuk pergi dari tempat itu. Meski Bian akui, gadis itu sering kali pulang di pagi buta. Tetapi kali ini Bian tidak akan sampai kecolongan.
"Beg*!" umpatnya pada diri sendiri.
Cowok dengan perawakan tinggi dan wajah tampan itu mulai merasa jengah, ia mengambil ponselnya untuk bermain game seraya menunggu kepulangan dari gadis yang entah kenapa begitu menarik perhatiannya.
Setengah jam berlalu, Bian mulai bosan dengan game yang dimainkannya. Cowok itu memang tidak begitu menyukai permainan dalam bentuk online seperti teman-temannya. Ia lebih suka mencoret-coret bukunya atau kertas besar dengan bentuk gambar yang sedap di pandang mata.
Ceklek
Pintu apartemen Bunga terbuka. Membuat Bian buru-buru menoleh ke asal suara. Ada rasa terkejut melihat kemunculan Bunga dari arah dalam, itu berati gadis itu sedari tadi berada di dalam apartemennya.
"Ngapain?" tanya Bunga melihat wajah bodoh Bian yang sayangnya masih teta terlihat tampan.
"Minggir!" usir Bunga yang tidak mendapat jawaban dari Bian.
"Stop!" Bian menghentikan Bunga yang akan melangkah keluar dari apartemennya.
"Lo mau keluar dengan baju si*lan itu?" tanya Bian memperhatikan baju tidur Bunga yang jelas saja akan membuat semua mata yang melihat menegang seketika.
Sudah menjadi kebiasaan Bunga memang berpakaian sexy, bahkan bertelanjang juga sudah menjadi makanan disetiap malam Bunga, hanya saja Bian yang memang belum tahu, dia mengira apa yang dilakukan oleh Bunga bentuk dari pelampiasan masalah di keluarganya.
"Bukan urusan lo!" Bunga kembali berniat untuk pergi.
Dia memang ingin keluar sebentar untuk membeli makan. Tadi ia ketiduran karena begitu lelah meladeni Om Praja di sore hari.
Tetapi bukan Bian namanya jika membiarkan begitu saja. Dengan gerakan cepat Bian menggendong tubuh Bunga untuk menuju ke apartemennya. Sontak saja Bunga terkejut dan mencoba untuk berontak dengan sekuat tenaga. Sumpah serapah terus Bunga lontarkan untuk cowok yang Bunga sebut aneh itu.
"Lepas bege!" teriak Bunga yang tidak dihiraukan oleh Bian.
Dalam hal ini kerja keras Bian selama gym sangat dipertaruhkan, Bunga terus mencoba berbagai cara agar dilepaskan.
Bruk
Setelah susah payah membawa Bunga untuk sampai ke apartemennya. Akhirnya ia berhasil membaringkan tubuh Bunga di atas sofa. Meski dengan cara sedikit kasar tadi.
Bunga mengatur posisinya dengan duduk. Ia melirik ke arah Bian yang sedang melepas sepatu dan juga tas sekolah miliknya.
"Gue laper," ucap Bunga yang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya.
Padahal tadi sebelum pulang dari hotel bersama Om Praja mereka sudah makan terlebih dahulu. Tetapi terbangun di tengah malam membuat Bunga merasa kembali lapar.
"Ada makanan di lemari," jawab Bian berlalu meninggalkan Bunga.
Bunga mendengus kesal. Sebenarnya niat Bian membawanya ke apartemen miliknya itu untuk apa? Unutuk membiarkan Bunga kelaparan? Yang benar saja.
Dengan langkah pela Bunga menuju dimana letak lemari dekat dapur yang tadi Bian beritahu. Memang benar apa yang Bian katakan. Di sana banyak sekali berbagai makanan, tapi hanya makanan ringan. Bunga mengambil salah satu senek dengan ukuran besar, lalu menuju kulkas untuk mengambilminuman dingin. Ia kembali ke sofa untuk menikmatinya.
Sudah sekitat 5 menit berlalu, tetapi Bian belum juga muncul. Bunga merasa bosan karena ia sama sekali tidak membawa ponsel hanya dompet yang tadi ia bawa.
Ekor matanya menangkap sebuah majalah di bawah meja. Karena bosan ia mengambil untuk mengusir rasa bosannya. Baru saja ia pegang majalah tersebut. Bunga kembali dibuat terkejut dengan gambar wanita yang hanya memakai bikin* saja. Ternyata Bian suka membaca majalah dewasa, atau hanya melihat foto-foto wanita yang hampir telanjang di majalah tersebut.
"Pantes mes*m," komentar Bunga mengingat apa yang Bian lakukan padanya akhir-akhir ini.
Bunga mengembalikan majalah tersebut di tempatnya. Tetapi jemari tangannya kali ini meraih sebuah buku yang Bunga yakini milik Bian.
Sebuah buku dengan ukuran lumayan besar. Di depan buku ada tulisan nama Bian sendiri, Arbian Anpraja.
"Unik," komentar Bunga pada nama panjang Bian.
Setelahnya ia mulai membuka lembar demi lembar pada buku tersebut. Matanya dibuat takjub dengan gambar dengan bolpoin sebagai garis bentuknya. Ternyata Bian pandai menggambar selain mengusili dirinya.
Bunga terus merasa takjub disetiap lembar dengan berbagai macam yang Bian gambar. Dan berakhir dengan sebuah gambar seorang gadis yang memakai baju seragam sekolah sexy dengan paha terlihat dan bagian dada yang sengaja Bian gambar dengan begitu menonjol. Yang membuat Bunga tidak habis pikir ialah tangan gadis itu yang sedang di ikat menggunaka tali.
"F**k," umpat Bunga merasa kesal. Pasalnya dia tahu gambar terakhir itu ditujukan untuk siapa. Dari rambut dan wajahnya saja sudah bisa Bunga tebak.
"Ayo!" Bian tiba-tiba muncul dengan baju yang sudah diganti.
Bunga menoleh. Ia hampir saja menjatuhkan buku yang masih dipegang olehnya karena rasa terkejut.
"Pakai ini!" Bian melemparkan sebuah jubah dengan ukuran cukup besar dan juga panjang.
Tanpa menjawab, Bunga mulai memakai jubah yang diberikan oleh Bian tadi. Ia juga mengikuti Bian dari belakang, sebelumnya ia menaruh kembali buku tersebut sebelum pergi.
"Gue mau pulang," ucap Bunga setelah keluar dari apartemen Bian.
Bian tidak menjawab. Dia hanya mengikuti kemana langkah Bunga kini.
"Ngapain?" tanya Bunga melihat Bian yang terus mengikutinya sampai di depan pintu apartemennya.
"Oh...ini." Bunga melepaskan jubah yang tadi Bian berikan. Lalu menaruhnya di tangan Bian. Dan berniat untuk masuk ke dalam. Tetapi tangan Bian sudah lebih dulu menariknya untuk ikut masuk.
Melihat sikap Bian yang memang aneh membuat Bunga merasa geram. Ia memejamkan matanya dan....
Matanya melotot disaat Bian sudah berada tepat di depan wajahnya dengan jarak yang begitu tipis, bahkan hidung keduanya hampir saja bersentuhan.
Deg
Mendadak rasa gugup muncul, Bunga teringat dengan gambar yang Bian buat apa lagi Bunga yakin jika itu dirinya.
"Lo apa-apaan sih?" Bunga mendorong tubuh Bian.
Terlihat senyum miring dari cowok itu. "Lo masih virigin?" tanya Bian membuat Bunga samakin kesal.
Dia tahu maksud dari ucapan Bian itu. Ternyata cowok yang menjadi idola di sekolahnya memiliki keperibadian yang aneh, selain suka menggambar hal menjijikan, Bian juga sangat mes*m. Tetapi tunggu... Bian bertindak dan bersikap seperti itu hanya pada Bunga.
"Bukan urusan lo!" tegas Bunga seraya berjalan menuju pintu. Dia berniat untuk membukakan pintu untuk Bian, sacara tidak langsung Bunga sedang mengusir Bian untuk pergi dari apartemennya.
"Kalau lo lupa itu pintu keluarnya, gue mau istirahat." Bunga mempersilahkan Bian untuk keluar.
Seakan tidak mempunyai malu lagi, Bian dengan sengaja kembali menutup pintu tersebut. Secara sepontan Bian menarik tubuh Bunga sampai tidak ada lagi jarak di antara mereka. Dan bahkan benda kenyal yang selalu menjadi fantasi teman-teman Bian itu kini benar-benar menempel pada dada bidang miliknya.
Ingin berontak, tetapi Bunga sudah kalah cepat dengan tangan Bian yang sengaja menekan tengkuk leher Bunga agar mereka melakukan ciuman dengan cara paksaan. Iya, Bian kembali memaksa Bunga untuk melakukannya lagi.
"Baju lo yang udah nyiksa gue dari tadi," bisik Bian membuat Bunga terbelalak. Dibalik sikap cuek yang tersemat dari seorang Bian, ada sesuatu yang tersembunyi dan kini Bunga mengetahui itu.
Mes*m batin Bunga ditujukan untuk Bian.
Bahkan cowok itu mulai memberi sentuhan-sentuhan dengan bibirnya, yang si*lnya meski Bunga ingin menolak tetapi dia juga menikmati.