Masih tahap revisi PUEBI 🙏
Andy Frederica, seorang mahasiswi magang di sebuah perusahaan multinasional. Suatu hari, ia harus berurusan dengan seorang presdir dingin yang sudah memiliki seorang istri.
Takdir mempertemukan mereka terus-menerus dan membuat Andy masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi sang presdir. Mampukah ia bertahan dari jeratan cinta yang kapan saja bisa mengambil alih pikiran logisnya? Lantas, bagaimana dengan istri sang presdir?
"Ini bukan sembarang cincin. Bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Cincin ini adalah simbol kalau aku adalah pembantunya. Dia adalah majikanku. Jangan pernah jatuh cinta pada majikanmu!"
"Apa!"
"Narsis sekali dia bicara begitu. Memang ini bukan cincin pertunangan. Apalagi cincin pernikahan. Ikatan cincin ini lebih sakral karena ini adalah cincin perbudakan!"
[ Andy Frederica ]
Genre : Adult Romance, friendship, family
Setting : Jakarta, Indonesia
Alur : Maju
Status. : Tamat 124 Episode
Cover : Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayu Assanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Pangeran Bulan
Kebetulan pantai letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen Blue Tower Building. Hanya perlu waktu setengah jam kalau aku pergi naik taksi dan saat jalanan sedang tidak macet.
Ide brilian yang kudapat adalah melihat matahari terbenam. Warna jingga Sang Surya saat itu akan jatuh ke air. Membuat permukaan laut jadi terlihat seperti gelombang emas. Ditambah warna merah, kuning dan biru langit, sungguh mempesonakan mata.
Sesampainya di pantai, kutanggalkan sandalku di atas pasir. Kemudian berlarian kecil menjemput deburan ombak. Putih dan biru. Kulangkahkan kaki di atas pasir yang basah. Telapakku jadi terasa dingin.
Angin pantai yang segar beraroma air. Aku suka wangi air. Kuhirup dalam-dalam hingga aroma itu memenuhi seluruh rongga dada.
"Ah ... senangnya..., " gumamku senang.
Cukup lama aku menyenangkan diri, bermainnya di lepas pantai. Meluapkan pikiran penat yang timbul dari rutinitas sehari-hari. Memanjakan mata seraya menyegarkan otak. Mengecas energi positif ke tubuhku lagi. Sampai waktunya tiba, matahari pun terbenam.
Matahari tampak malu-malu bersembunyi di balik beberapa gumpalan awan tebal. Ia terlihat mulai turun menuju garis batas cakrawala dengan perlahan. Kuresapi apa yang kulihat. Oh, sungguh pemandangan yang indah. Angin pantai menghujaniku dengan embusannya. Rambutku yang tergerai, tersibak lembut ke belakang.
Lantas kupejamkan mata sesaat demi merasakan kehangatan sinar matahari di kala senja.
"Ah, nikmatnya! Hari ini sungguh luar biasa."
Kutolehkan pandangan ke kiri lalu ke kanan. Saat itu mataku secara tak sengaja menangkap sosok yang sedang berdiri di kejauhan. Seseorang yang sepertinya kukenal. Lantas kufokuskan mataku untuk melihat lagi.
'Ya, benar. Itu orang yang kukenal.'
"Tuan Asland.... "
Aku berteriak memanggilnya.
Kupasang senyum lebar di wajah. Kuangkat dan kulambaikan tangan padanya. Kami pun saling melihat.
"Tuan Asland...," seruku lebih kencang kali ini.
Tuan Asland juga melihatku. Memperhatikan gerak-gerikku cukup lama, tetapi dia tidak membalas sapaanku. Tidak membalas lambaian tanganku dan malah memalingkan wajahnya.
'Eehhhh, kenapa dia? Apa dia tidak kenal aku? Atau lupa ingatan?' Bibirku mencebik.
"Aku juga bisa begitu ... Hah!" sergahku semangat kemudian berpaling. Tidak berniat melihatnya lagi.
'Ya, ya, ini benar Andy. Ini perbuatan terpuji. Kesombongan harus dibalas dengan kesombongan yang sama.' Hahaha! Aku mencandai diri sendiri.
Namun, hanya beberapa saat saja kesombonganku dapat bertahan. Seperti ditarik oleh magnet, kepalaku bergerak lagi ke kanan untuk menoleh Tuan Asland.
Akan kudeskripsikan untuk kalian tentang Tuan Asland yang menarik perhatianku sekarang. Pimpinan G.F Company itu sedang memakai setelan kemeja putih, celana panjang putih dan juga mantel warna biru cobalt. Panjang mantel itu sendiri hampir mencapai lututnya. Embusan angin sore sedikit menggoyangkan mantel itu ke belakang.
Rambut Tuan Asland yang sedikit panjang juga tertiup embusan angin. Dengan latar belakang warna matahari sore yang hampir terbenam, penampilan Tuan Asland layaknya sebuah pemandangan yang indah.
Sadar sedang kuperhatikan, sekonyong-konyong Tuan Asland menoleh ke arahku.
"Eehhh.... " Terpergok, segera kupalingkan muka ke sembarang arah. 'Ah, aku jadi malu karena terciduk sedang memperhatikannya.'
Selang beberapa saat kemudian, keajaiban pun datang. Tuan Asland yang sedari tadi terus diam, berdiri di sana. Kini melangkahkan kakinya ke arah ku. Berjalan lurus menuju posisiku.
'Benarkah tujuannya aku?'
Dengan hati berdebar kulihat ke samping kiri dan ke kanan. Lalu kulihat ke belakang. Aku berpikir mungkin saja ada orang lain yang akan pria kejam itu tuju, tetapi waktu sudah senja menjelang malam dan tidak ada orang lain lagi di sekitarku. Matahari bahkan sudah terbenam. Berganti bulan yang masih samar mulai menunjukan eksistensinya.
Beberapa kumpulan rambut Tuan Asland yang tertiup angin, perlahan menyapu wajah dinginnya. Eh salah, yang benar wajah tampannya. Harus kuakui itu. Dia memang seorang pria yang tampan. Beberapa detik selanjutnya, pemilik wajah tampan itu berhasil mencapai posisiku.
**
Aku dan Tuan Asland duduk bersebelahan di atas pasir, posisi kami sama-sama menghadap ke arah pantai. Warna air pantai sudah menjadi biru gelap sekarang karena hari sudah malam.
Namun, walaupun keadaan gelap gulita, kami masih bisa melihat jelas satu sama lain. Karena bulan yang bulat bercahaya terang malam ini. Bukan hanya bulan, ribuan bintang juga berkelap-kelip di atas sana.
"Sedang apa kamu di sini?" Tuan Asland bertanya dengan wajah sinisnya. Memecah keheningan di antara kami.
"Aku pikir Tuan tidak mengenalku? Atau tidak ingat aku lagi."
"Kamu ... perempuan jelek yang sering aku jumpai." Pria itu berpaling usai meledekku.
"Hah, jahat sekali, sih!" Aku merengek. "Apa Tuan cuma ingat jeleknya saja?"
"Tidak, selain jelek kamu juga punya utang."
Glek!
Kutelan saliva. Sudah dikatakan jelek, tukang utang lagi.
"Tidak ada kata-kata lain apa, yang Tuan bisa bilang? Sekurang-kurangnya yang menghibur, begitu."
"Aku tidak terbiasa berbohong, yang kukatakan tadi memang kenyataan."
Kucebikan bibirku. "Iya, iya! Tuan tidak bisa bercanda, deh."
"Beda bercanda dengan berbohong." Ia menatap serius.
"Terserah Tuan saja, lah." Kutundukan wajah manyunku.
Tuan Asland tidak merespon lagi. Dia diam. Kepalanya sedikit mendongak, sedang mengamati bulan yang ada di hadapan kami.
Pandanganku malah tergelitik untuk melihat kakiku dan kaki milik Tuan Asland. Sungguh benar-benar perbedaan yang mencolok. Kuamati kaki pria yang menjabat sebagai presiden direktur itu. Kulit kakinya saja halus. Tidak kering dan terawat.
Lantas mataku bergerak melihat kuku kakinya. Astaga! Sesibuk apapun Tuan Asland, tetapi aku yakin dia pasti akan selalu menyempatkan dirinya untuk melakukan perawatan. Kuku kakinya sekinclong marmer. Hingga membuatku tidak berani untuk melihat kuku kakiku sendiri.
Hiks, hiks, hiks!
Bagaimana bisa aku yang seorang perempuan tulen, kuku kakinya jauh lebih jelek. Untung aja Tuan Asland tidak memperhatikan kuku kakiku. Kalau sampai dia lihat, duh, bukan cuma muka yang jelek, kaki pun juga jelek.
"Hah...." Kuhela napas dalam.
Sekarang perhatianku tertarik untuk melihat wajah rupawan Tuan Asland. Saat kuperhatikan lekat-lekat dari posisi dudukku sekarang, seketika kudapati hidung mancungnya, kulit wajah yang bagus, alis rapi serta bibirnya. Kutelan saliva lagi sebelum kujelaskan tentang bibir Tuan Asland.
Itu terlihat seperti sesuatu yang kenyal. Lembut, lembap dan sensual. Warnanya merah muda. Merah muda yang cukup terang jadi terlihat seperti memakai lipstik tipis.
Matanya fokus melihat bulan yang terang. Malahan, cahaya bulan itu membayang di bola mata Tuan Asland. Rambutnya bergerak ringan ke kiri dan ke kanan, sesekali menyentuh wajahnya. Sosok Tuan Asland yang tenang bermandikan cahaya bulan. Cahaya putih itu membuatnya jadi bersinar.
'Ah, Tuan Asland! Dia benar-benar mirip pangeran bulan,' desahku kagum. Dan tanpa kusadari, aku jadi cengar-cengir sendiri.
"Apa aku seindah itu?"
Lontaran pertanyaannya refleks menyentakku.
"A-apa?" sahutku terbata.
Tuan Asland menyeret pandangannya, membuat kami bersitatap muka.
"Apa aku seindah itu?" tanyanya lagi.
"Apanya, Tuan?" Aku masih bingung.
"Kamu melihatku seperti mau memakanku hidup-hidup," omelnya.
***
BERSAMBUNG...
andykqn udh di katai prlacur di maluin pas tmt orang ramai di katai pembantu
coba andynya tegas sedikit thor punya harga diri gitu
jangan mudah luluh lg dengan aslannya
Apa novel nya sudah direvisi yak ?
coz aku caba dikolom komentar banyak yg bingung sama alurnya 😅
serem² nagih yg modelan begini
bisa untuk d rekom pada teman untuk d bacz