Membaca novel ini bisa menyebabkan baper akut, kesel, geregetan, emosi tingkat tinggi, juga sedih karena mengandung banyak bawang yang juga bikin nyesek. Yang lemah hati lebih baik menyingkir. Takutnya nggak akan kuat. Tapi semua akan edan pada waktunya, eh salah, maksudnya akan manis pada waktunya. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.
Ini adalah season kedua dari novel 'SUGAR'. Kini cerita beralih pada keturunan mereka, Dygta Hanindiita.
Dygta berusaha keras meredam perasaannya kepada Arfan, asisten dari ayah, sambungnya, sekaligus sahabat ibunya.
Usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat segalanya terasa semakin sulit. Terlebih lagi, status Arfan yang sudah beristri dan memiliki satu anak balita.
Namun tugas Arfan yang diberi tanggung jawab penuh oleh Satria untuk menjaga Dygta hingga gadis itu beranjak dewasa, membuat mereka berdua semakin dekat.
Keadaan istrinya yang koma pun menambah segalanya menjadi semakin rumit.
"Jangan gila Arfan! dia sudah seperti anakmu sendiri!"
follow author di
ig @tiyanapratama
fb FitTri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Menyenangkan
*
*
Rasa dingin menelusup hingga ke tulang. Membuat setiap orang yang berada di dalam tenda mengetatkan selimut mereka.
Namun suara cuitan burung liar diatas pohon merebut perhatian beberapa penghuni tenda.
Dygta memicingkan mata ketika seberkas sinar mentari pagi menyusup lewat celah tendanya yang sedikit terbuka. Gadis itu mengusap wajahnya, lalu menguap.
Dia terdiam sebentar. Melihat sekeliling, dan
mendapati teman satu tendanya sudah tak berada disana.
Dygta memutuskan untuk bangun saat indera penciumannya menangkap aroma kopi panas yang baru saja diseduh, lalu seseorang masuk kedalam.
"Kamu udah bangun dari tadi?" tanya Dygta kepada Vivian.
"Lumayan. Abis lihat sunrise di bukit yang semalam. Bagus banget." jawab Vivian.
"Waahh, ... kok aku nggak di ajak? curang." Dygta merengek.
"Abis kamu kelihatannya pulas banget. Nggak tega aku banguninnya."
"Hmm ... aku tidurnya kemalaman. Jadinya ngantuk banget." Dygta mengucek matanya yang masih terasa agak perih.
"Ah ... jam 1 kamu sebut kemalaman? dasar emang bayi!" ejek Vivian.
"Aku nggak terbiasa tidur larut tahu, ...
"Iya iya. kamu kan bayi. makanya dari siang udah tidur. Bangunnya pagi. Bener-bener bayi."
Dygta mengerucutkan bibirnya.
"Cuci muka sana! atau mandi sekalian di sungai!"
"Aih, ... nggak banget mandi di sungai?"
"Toilet penuh. Yang lain sebagian udah tuh."
"Masa?"
"Iya. Cepetan, sebentar lagi makan bersama semua orang harus udah siap."
"Antar." Dygta yang mengambil beberapa peralatan mandi miliknya.
"Kemana?"
"Ke sungai."
"Sendiri aja. Nanti di sana juga banyak orang."
"Nggak mau. Antar lah."
"Ish, ... merepotkan."
"Ayolah. Please!" Dygta dengan wajah memelas, namun terlihat imut.
Vivian memutar bola mata. Namun tak urumg juga dia bersedia mengantar teman sekelasnya itu pergi ke arah sungai seperti yang lainnya.
****
"Waaaahhhh ..." Dygta terpana melihat pemandangan indah di bawah sana.
Sungai yang cukup lebar dipenuhi banyak batu besar di beberapa bagian. Dengan pohon pinus dan tumbuhan hijau nan rapat di sisi kiri dan kanannya.
Mereka harus turun beberapa meter ke bawah untuk mencapai tempat terdekat dengan permukaan air sungai yang mengalir cukup deras itu.
Airnya yang jernih membuat dasarnya terlihat dengan jelas. Pasir dan batuan kecil, juga beberapa ikan kecil yang berenang disela batu yang saling berhimpitan.
Mereka tiba di salah satu batu besar di pinggiran sungai. Dygta berjongkok, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh air.
"Hiii ... dingin! kayak air es!" Dygta tiba-tiba menggigil.
"Cepet lah... " ujar Vivian.
Dygta bergegas mencuci wajah dan menyikat gigi. Sementara hanya itu yang dapat dia lakukan. Dia belum terbiasa dengan keadaan alami ini.
"Udah. Ayo." ajaknya, yang kemudian berbalik memutar tubuhnya untuk kembali ke atas sana dimana perkemahan mereka berada.
Namun langkahnya terhenti ketika seseorang baru saja tiba di depan mereka.
"Evan?" sapa Dygta.
Pemuda itu tak menjawab. Dia meneruskan lankahnya menuju pinggiran sungai untuk membasuh wajah. Lalu kembali mendahului mereka naik ke atas. Tanpa bicara sepatah kata pun.
***
Dering ponsel berbunyi nyaring. Dygta segera mencarinya diantara tumpukan pakaian yang teronggok di sudut tenda.
Foto profil ibunya terpampang dilayar.
"Ya ma?"
"Kamu baru bangun?" suara dari seberang sana terdengar ramai. Keributan seperti biasa yang selalu terjadi setiap pagi hari.
"Nggak. Abis dari sungai." jawab Dygta.
"Ngapain?"
"Cuci muka."
"Apa tidak ada fasilitas toilet disana sehingga kamu harus pergi ke sungai hanya untuk mencuci muka?" suara Satria terdengar nyaring.
"Ada pih, tapi toiletnya penuh. Ya terpaksa aku turun kesungai." jelas Dygta.
"Perlu papi kirim orang untuk menambah fasilitas disana agar kamu tidak perlu melakukan hal itu.
"Hah? nggak usah pih, nggak apa-apa." Dygta panik. Seharusnya dirinya tak membicarakan masalah ini kepada mereka.
"Lalu, bagaimana kamu mandi? apa di sungai juga? itu tempat terbuka kan? ada banyak orang disana... dan lagi, ...
"Nggak pih, aku mandinya di toilet." jawab Dygta lagi.
"Kamu bilang penuh?" tugas Satria.
"Aku nunggu kosong."
"Hmm ... mungkin sebaiknya papi suruh Arfan mengirim orang untuk...
"Nggak!" Dygta setengah berteriak. "Nggak usah pih. Lagian nggak lama campingnya. Besok juga pulang, kan?"
"Serius?"
"Iya beneran."
Ugh, aneh sekali kalau tiba-tiba ada yang datang cuma untuk bikin toilet. Astaga! Dia berlebihan?
"Ya sudah."
Suara dari ponsel terdengar terputus-putus.
"Udahan dulu ya, sinyalnya lagi jelek. Kabut masih tebal nih." ucap Dygta yang langsung memutuskan sambungan telefon tanpa menunggu jawaban kedua orang tuanya.
Lalu dia melihat notifikasi yang sudah menumpuk sejak semalam. Dirinya memang sengaja mematikan ponsel agar tak harus sering mengisi daya baterainya.
Keningnya berkerut dalam ketika melihat ada puluhan notifikasi pesan maupun panggilan sejak tengah malam.
Dia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya ketika benda pipih itu kembali berdering dengan nomor dan profil orang yang tidak pernah disangkanya terpampang di layar.
Dygta menelan ludah sebelum menggeser tombol hijau ke atas.
"Ya om?" Dygta dengan dada yang berdebar tak karuan.
"Kamu baik-baik saja?" suara Arfan dari seberang sana dengan napas yang terdengar menderu-deru.
"Eee... iya."
"Semalam hape kamu tidak aktif? kamu matikan?" tanya Arfan, menyelidik.
"Iya om."
"Kenapa kamu matikan? sudah om bilang, jangan matikan hape, dan langsung merespon jika salah satu dari kami menghubungi. Kamu membuat om panik!" ucap Arfan, terdengar kesal.
Dygta kembali mengerutkan dahi.
"Semalam aku tidur, om. Ya aku matiin lah hape nya." jawab Dygta, asal.
"Tidur? tapi ada yang bilang ..." Arfan hampir saja mengungkap penyamaran bawahannya yang dia tugaskan untuk mengawasi gadis itu di perkemahan.
"Apa om? kurang jelas ih, sinyalnya jelek." ucap Dygta saat terdengar bunyi yang sangat mengganggu. Membuat sambungan telfonnya terputus-putus.
"Jangan pernah mematikan hape kamu, Dygta!"
"Oh, iya om."
"Selalu bawa kemanapun kamu pergi. Agar mudah dihubungi."
"Oke-oke."
"Jangan pernah memisahkan diri. Tetap bersama yang lain kemanapun kamu pergi." Arfan kembali berpesan.
"Iya om, iya."
Lalu Arfan terdiam. Hanya terdengar suara napasnya yang berhembus kasar.
"Om?" panggil Dygta.
"Ya?" jawab dari seberang sana.
"Om lagi apa?"
"Jogging."
"Dimana?"
"Belakang rumah."
"Sama siapa?"
"Sendiri."
"Oh, ..." suasana hening lagi.
"Dygta?" kini Arfan yang memanggil setelah mereka terdiam cukup lama.
"Ya om?"
"kamu sudah makan?"
"Belum."
"Kenapa? Apa tidak ada tempat untuk 7memasak?"
"Ada om, udah ada tim yang tugasnya nyiapin makanan juga. Jadi semua bahan makanan yang kita bawa di tampung di mereka buat diolah." jelas Dygta.
"Terus kenapa belum siap? ini sudah jam 7!" protes Arfan.
"Mungkin sebentar lagi. Yang masaknya juga anak-anak. Bukan koki profesional om... "
Arfan terdiam.
Suasana mulai terasa canggung. Kenapa perhatian pria ini mulai terasa lain baginya? Padahal setiap hari dalam kurun waktu sembilan tahun dia juga sering melakukan hal yang sama. Tapi dia merasa senang.
Dygta tersenyum-senyum tak karuan. Dia merasakan pipinya menghangat.
Ah, ...betapa gilanya perasaan ini.
"Dygta, ..." panggil Arfan lagi.
"Ya om?"
"Om harus ... melihat Ara. Nanti telefon lagi, oke?"
"Oh, iya om. Oke." Dygta mengangguk seolah pria itu dapat melihatnya dari kejauhan.
"Ingat, jangan pergi ke tempat asing sendirian. Jangan memisahkan diri. Janga melakukan hal aneh. Atau pergi ke tempat berbahaya!"
"Iya om."
"Kamu dengar?" ucap Arfan.
"Dengar om, dengar."
"Baiklah. ..." ucap Arfan lagi, namun belum mengakhiri panggilan. Mereka hanya saling terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"Ng ...om?" Dygta memastikan apa pria itu masih disana.
"Ya, Dygta?" Arfan masih menjawab.
"Udahan dulu. Aku mau makan." Dygta dengan suara pelan.
"Oh, ... iya iya. oke. Sana, makanlah." Arfan terbata.
"Ya udah. Aku tutup ya telepon nya?"
"Iya, oke."
"Oke. Bye om."
"Iya, bye ... Dygta."
Lalu sambunganpun terputus.
Dygta terdiam, dia berpikir sebentar. Lalu menjatuhkan tubuhnya diatas matras, sambil berteriak kencang. Dia menutupi wajah yang memerah dengan kedua tangannya.
Dygta terkekeh-kekeh sambil memejamkan mata, dengan kedua kakinya yang menendang di udara. Bagai ada ribuan kembang api yang menyala di dalam hatinya. Dan itu rasanya menyenangkan.
*
*
*
Bersambung ...
hadiah? 😉😉