tak peduli seberapa jauh dirinya diasingkan, tak peduli seberapa hina dirinya dikucilkan. fasalnya keyakinan tetaplah sama nasywa. aku adalah aku...
teruslah melangkah kedepan, meskipun orang yang kau anggap sebagai kekasih hayalan telah selamanya menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gubahan Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagai Musafir
Didepan gerbang masuk pesantren, tampaklah seorang santri menghela nafas panjang sebelum menemui gurunya yang sudah lama menunggu kehadiran santri itu. Awalnya pak kiyai menyuruh salah seorang santrinya untuk berbelanja ke pasar, yang mana pasar itu hanya berjarak seratus kaki saja dari lingkungan pesantren.
Tanpa berkepanjangan. Zim memberikan sekantung beras seraya meletakkannya didepan kursi halaman depan pesantren. Terlihat suasananya masihlah amat sepi. "Assalamualaikum." sapa nya dari luar. Lalu bergegas pergi tanpa menunggu kehadiran pak kiyai, Karenanya Zim merasa amat malu dan bersalah, setelah melakukan satu kesalahan yang membuat pak kiyai menunggu begitu lama. yakni, secara sengaja santri itu duduk manis didepan halte bis tanpa melakukan apapun dengan waktu yang sangat lama, sesekali ia juga menatap langit yang tertutup penuh oleh awan kelabu, serta dibawah pengawasan gedung-gedung kota hujan, yang tinggi menjulang menembus awan.
Melihat susananya yang seperti itu, terkadang santri itu menengadah kesal lantaran teringat sesaat akan suatu hal yang paling ia benci, kini terlintas seperti hembusan angin yang masuk kedalam pikirannya yang masih saja dilanda oleh kehampaan. Mengenai salah satu janji dimasa lalu yang terikat kuat setelah ia ucapkan dalam diri keyakinannya yang satu. 'Aku adalah aku!'
Baginya, janji itu sudah ia anggap menjadi salah satu tujuan dari suatu kehidupannya yang tanpa arti, sebagaimana seorang musafir ditengah-tengah luasnya gurun pasir, tiap-tiap langkah dilangkahkannya seorang musafir itu, maka tampaklah sesaat olehnya danau yang luas di mukanya. Namun, setelah sampai kepada yang kelihatan itu, tidak tahu mengapa danau itu pun menghilang, terganti dengan segundukan pasir gersang yang menderu tiada arah, hening dan panas! bagaikan sebuah tipuan fatamorgana semata.
Artinya, meskipun hasilnya hanyalah sebuah kegagalan. Namun setidaknya, ia pernah berusaha untuk mengejar impiannya itu walaupun harus diasingkan ke berbagai puluhan negeri asing yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Tersenyum tanpa merasa bahagia, menangis tak lagi bisa bergelimang air mata. Membuat batinnya terpukul, seandainya saja jika ia tidak menerima kemalangan sejak kecil, mungkin jiwa beserta hatinya tidak akan tersentuh untuk melarikan diri dari suatu kenyataan layaknya seorang pecundang yang mengatasnamakan belajar untuk memahami ilmu agama sampai ke negeri orang.
"Kapan keadilan akan datang,
selain datangnya kehidupan setelah kematian!" Zim meluapkan seluruh keluh kesahnya dalam hati, berharap tidak ada satupun orang yang bisa memahami penderitaannya, selain dari sang penguasa yang telah menciptakannya sebagai manusia yang tergolong hina dalam gelapnya gulita.
.
.
.
.
.
"Lama sekali akang menunggu kamu duduk di halte bis, nak." Pak kiyai menyindir secara halus ketika Zim akan memulai langkahnya. Namun masih memperlihatkan senyuman ramahnya ketika Zim berusaha menoleh ke belakang, tepat di hadapan gurunya penuh rasa malu dan bersalah, seraya santri itu pun mencium punggung telapak tangan pak kiyai dengan takzimnya, lalu disusul oleh suatu alasan yang keluar dari mulutnya yang canggung.
"Ma_maaf kang, sebenarnya ada yang saya pikirkan.
sehingga saya terpaksa harus melanggar aturan, yang membuat akang menunggu lama di sini hehe." Zim menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa canggung seperti orang bodoh. Namun masih dalam sikap yang menjaga adab terhadap guru. Lantaran bagaimanapun seorang murid tidak lah berhak memberikan suatu alasan lebih jauh lagi. Terlebih pak kiyai juga sudah ia anggap layaknya sebagai orang tua kedua baginya, meski dalam setatus mazzazi (perumpamaan).
"Tidak apa nak, akang juga mengerti."
"Te_terima kasih kang, atas seluruh perhatiannya." Zim menundukan kepalanya seketika dihadapan gurunya. yang mungkin tak jauh berbeda seperti hubungan antara anak dan ayah jika dalam suatu kehangatan keluarga.
Izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
💗💗💗💗💗🌷🌷🌷🌷
Semangat
💜💜💜💜💜💜
Dirimu tak pernah nongol saat itu
dirimu kemana Thor
Bank ke 🤣🤣🤣