Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pengakuan di Atas Meja Makan
Akhir pekan kembali tiba, membawa Mita kembali melangkahkan kaki ke rumah besar keluarga Baskoro untuk memenuhi janjinya. Namun, makan malam kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Begitu memasuki ruang makan, Mita mendapi bahwa meja tidak hanya diisi oleh Baskoro dan Diana. Di sana, duduk pula Sam bersama Vanya.
Vanya tampak begitu dominan malam itu. Tanpa rasa sungkan, ia bergelayut manja di lengan Sam, sesekali menyuapkan makanan ke mulut pria itu sambil melontarkan kalimat-kalimat manis dan romantis yang terdengar berlebihan di depan orang tua Sam. Sikap Vanya yang tidak tahu tempat itu jelas membuat Baskoro dan Diana jengah. Sudut bibir Baskoro berkedut menahan kesal, sementara Diana beberapa kali mengembuskan napas pendek sembari membuang muka. Di tengah pemandangan yang canggung itu, hanya Mita yang tetap duduk dengan tenang, menyantap makanannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, ketenangan Mita rupanya adalah ketenangan sebelum badai. Setelah meletakkan sendoknya, Mita menegakkan punggung. Ia menatap Baskoro dan Diana dengan pandangan yang dalam, lalu mulai angkat bicara.
"Pah, Mah... ada sesuatu hal penting yang ingin aku katakan," ujar Mita, memecah kemesraan sepihak yang sedang dipamerkan Vanya.
Pandangan semua orang di meja makan seketika tertuju pada Mita. Sam mendadak merasa tidak enak hati, sementara Vanya menghentikan gelayutan tangannya.
"Sebetulnya... aku bukanlah wanita yang baik seperti yang Papa dan Mama kira selama ini," lanjut Mita, suaranya terdengar begitu datar namun menyimpan getar luka yang dalam. "Sebelum menikah dengan Kak Sam, aku memiliki seorang kekasih. Aku... memang terjerumus ke dalam sebuah pergaulan yang salah dengan pria itu."
Mita sengaja menggantung kalimatnya. Atmosfer di ruang makan seketika membeku. Baskoro dan Diana menahan napas, menunggu dengan jantung berdebar, sementara Sam menatap Mita dengan dahi berkerut, sama sekali tidak memahami arah pembicaraan ini.
"Rencananya, aku akan menikah dengan pria itu," Mita kembali menyambung kalimatnya setelah jeda yang melelahkan. "Namun, karena tiba-tiba ada skandal pernikahan yang mengharuskan aku menikah dengan Kak Sam... dia akhirnya meninggalkanku."
Mita kembali menggantung lagi kalimatnya, membiarkan keheningan mencekam itu mengimpit dada siapa saja yang mendengarnya. Vanya mulai menatap Mita dengan pandangan penuh selidik, sementara Sam mulai merasakan firasat buruk yang teramat sangat.
"Hubungan kami memang sudah berakhir. Dan akhirnya setelah aku menikah dengan Kak Sam, aku benar-benar memutuskan hubungan dengan kekasihku itu," Mita menatap lurus ke arah piringnya, sebelum akhirnya mendongak, menatap kedua orang tua angkatnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Dan... dari hubungan itu, sekarang aku memiliki sebuah janin dalam perutku. Aku sedang mengandung, Pah, Mah."
Prang!
Denting sendok yang tak sengaja terlepas dari tangan Diana menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan. Pengakuan Mita bagaikan hantaman bom yang meluluhlantakkan ruang makan itu. Baskoro dan Diana mematung dengan wajah syok yang luar biasa, sementara Sam seketika menegang di kursinya, menatap Mita dengan tatapan tak percaya dan dada yang mendadak sesak bergemuruh.
Mita segera menyambung kalimatnya dengan cepat, tidak memberikan ruang bagi kesalahpahaman yang bisa menyudutkan pria di seberang mejanya. Ia menatap Baskoro dan Diana dengan pandangan yang teramat yakin.
"Dan... aku ingin meyakinkan Papa dan Mama, kalau janin ini bukan anaknya Mas Sam. Sama sekali bukan," tegas Mita, suaranya diusahakan sekuat mungkin demi melindungi rahasia malam kelam itu. "Sejak awal pernikahan, kami selalu tidur di tempat yang terpisah. Hubungan kami selama ini hanya sebuah sandiwara untuk menenangkan Ayah dan Ibu. Mas Sam tidak pernah menyentuhku."
Sam yang mendengar itu langsung terpaku. Dadanya bergemuruh hebat, antara rasa bersalah yang kian mengimpit lambungnya dan keterkejutan atas keberanian Mita yang rela menanggung noda hitam di namanya sendiri demi membebaskan dirinya dari tuduhan. Vanya di sebelahnya pun melongo, tak menyangka alur pembicaraan akan menjadi se-ekstrem ini.
Mita menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan kedua orang tua angkatnya. "Setelah mengatakan semua ini, aku pasrah dan menerima apa pun yang akan Papa dan Mama lakukan kepadaku. Aku tahu aku telah mengecewakan kalian dan memang tidak sebaik yang ada di mata kalian selama ini. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya..."
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu per satu, membasahi punggung tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan. Namun, detik berikutnya, Mita kembali mendongak dengan binar mata yang sarat akan ketetapan hati seorang ibu.
"Tapi... apa pun yang terjadi, aku tetap akan mempertahankan janin ini. Bagaimanapun juga, dia adalah keluargaku satu-satunya yang kandung di dunia ini setelah orang tuaku tiada. Bukan... bukan berarti aku tidak menganggap Papa dan Mama sebagai keluarga," ucap Mita terbata-bata menahan sesak, "tapi anak ini... dia adalah bagian dari darah dagingku sendiri."(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)