Bercerita tentang sebuah perpisahan yang disebabkan oleh sebuah ketakutan yang menyelimuti. Hingga dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda dan jalan yang sama.
Jodoh tidak tertukar, begitulah banyak orang berkata. Dan memang benar adanya, meskipun mencoba berkelit dengan segudang alasan namun asa tetap terikat pada keduanya sehingga mampu menghela mereka menuju satu ikatan pernikahan.
wanita adalah tulang rusuk lelaki. maka tak ada istilah tulang rusuk yang tertukar selama ini.
Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita"
(HR al-Bukhari dan Muslim).
®Mawarmay®
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terminasi
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung."
(QS. Ali Imron : 200).
---
Amira beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju jendela kamar. Dia menghirup udara dengan tenang. Amira mencoba menenangkan perasaan. Perbincangan Amira dan Dinan dini hari tadi membuat dia tak mampu bernapas dengan tenang terasa nyata namun dia berharap hanya mimpi semata.
"Makannya sudah?" tanya Dinan merapikan piring dan mangkok sayur.
"Mas, bilang kalau Mas bohong." Amira mengatakan itu dengan jelas.
"Soal apa? Kamu tahu pasti Mas, bukan?" Dinan menyantap makanan sisa Amira. Dia tidak ingin membuang makan, karena dia tahu bahwa itu dibenci Allah karena itu termasuk perbuatan mubazir.
"Soal yang tadi, waktu Mas mengepak baju." Dinan menghentikan suapan ke arah bibirnya, dia menatap Amira kemudian dia tersenyum.
"Mas tidak pernah berbohong apapun padamu. Mas selalu mengatakan semuanya apa adanya." Amira menghela napas kemudian menoleh ke arah Dinan.
"Dloh, apa yang Mas lakukan?" Amira langsung mendekati Dinan dan meraih sendok yang dipegang oleh Dinan.
"Kenapa? Kamu belum selesai makan?" Amira menatap Dinan dengan heran. Bagaimana bisa lelaki ini dengan santai makan makanan sisanya. Apa lelaki ini tidak merasa jijik? Jika di waktu waras mungkin Amira akan membiarkan saja, tapi ini saat dia sudah mengaduk-aduk makanan hingga tak berwujud.
"Bukan, aku sudah selesai. Tetapi memangnya Mas gak jijik makan sisaku." Amira melihat senyum Dinan, dan dia dengan mudah melepaskan sendok yang dia rebut dari Dinan kembali lagi ke tangan Dinan.
"Kenapa harus jijik?" tanya Dinan dengan santai kemudian kembali melanjutkan makan.
"Ini bekasku." Amira benar-benar tidak menyangka dengan tindakan Dinan.
"Sedikitpun aku tidak jijik. Kamu tahu, Aisyah pernah bercerita bahwa beliau pernah makan satu piring dengan Rosulullah. Berarti ini juga termasuk sunah, bukan?" Dinan mengatakan itu kemudian kembali menyuap.
"Tapi ini beda." Dinan terkekeh kemudian dia meletakkan sendoknya dan meraih air minum sisi Amira juga.
"Tidak ada bedanya. Aku suamimu kalau kamu lupa."
Dinan meneguk habis air di gelas kemudian merapikan di atas nampan. Dia mengelus kepala puncak Amira kemudian dia memberikan senyum manis dan keluar dari kamar untuk mengembalikan peralatan makan.
Amira terdiam dengan sikap Dinan yang sangat halus, dia tersenyum meski air mata tetap menetes membasahi pipinya. Dia menghela napas kemudian dia berjalan menuju ranjang, rasa kantuk seolah-olah membelainya dan menuntunnya menuju mimpi-mimpi panjang.
Amira terlelap melupakan segala pemikiran yang tak pernah ada ujungnya, dia membiarkan tubuhnya beristirahat guna memulihkan tenaga. Dia masih harus sehat untuk menghadapi segala cobaan yang sedang mengujinya.
---
Amira terusik tidurnya saat dia merasakan sapuan dingin di pipinya, dia membuka mata kemudian melihat wajah segar Dinan.
Dia terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh suaminya, Dinan dengan balutan baju koko yang siap untuk berangkat ke masjid adalah sosok pangeran yang lebih tampan dari pangeran yang ada di cerita destiny. Baginya dia adalah pangeran yang sempurna yang mampu membuat dirinya juga merasa sempurna.
"Sudah bangun? Mas harus ke masjid. Tahu kan mengapa?" Dinan merapikan rambut Amira.
"Karena lelaki memiliki kewajiban untuk berjalan dan sholat di masjid." Dinan mengangguk.
"Bilang ke Dilan ya, yang berat bukan hanya rindu. Tapi berjalan menuju masjid itu juga sangat berat." Dinan mengatakan itu dengan nada jenaka membuat Amira tertawa kecil.
"Ih, kok gitu." Dinan tertawa kecil.
"Mau bagaimana lagi, tadi Mas sempat main di Instagram kamu banyak sekali kata Dilan inilah Dilan itulah. Sampai Mas rasanya kalah pamor." Amira semakin tertawa mendengar gerutuan Dinan yang menurutnya berlebihan.
"Memang selama ini Mas punya pamor?" tanya Amira sambil bangun dari tempat tidur.
"Eh jangan salah, pesona seorang Ardinan tidak pernah kalah dari Dilan." Dinan berkata dengan nada bangga.
"Ih, dilarang sombong." Dinan hanya tertawa kecil kemudian mengacak rambut Amira.
"Mas mencintaimu, selalu." Dinan mengecup kening Amira dan memamerkan senyum manis.
"Gak usah gombal, sana cepat berangkat." Dinan menaikan satu alisnya.
"Siapa yang bilang gombal. Ini dari dasar hatiku yang paling dalam hingga luar." Amira melotot dengan nada suara Dinan dia tidak menduga perubahan sikap Dinan.
"Ya, saya percaya Bapak. Biar cepat kelar." Amira mengatakan kalimat akhirnya dengan lirih dan membuang muka, keduanya seolah sedang melakukan adegan drama.
Dinan langsung memeluk sang istri, kemudian dia berbisik, "setelah ini kita akan menjalani semuanya bersama. Siapkan dirimu untuk menghadapi setiap perubahan sikap yang Mas miliki. Mungkin Mas tak akan menjadi lelaki yang kamu idamkan, tetapi Mas akan selalu berusaha yang terbaik buat kamu. Ingat Mas selalu mencintai Miray, selalu always." Dinan mengurai pelukan kemudian berdiri.
"Mandi dan sholat. Setelah itu nanti kita berangkat, InsyaAllah." Dinan kembali mengecup kening Amira dan beranjak menuju pintu keluar. Saat hendak menutup pintu Dinan kembali menoleh ke arah Amira.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, Istriku."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, Suamiku." Amira menjawab dengan pelan dan terdiam saat pintu melahap habis tubuh Dinan hingga tak terlihat lagi.
Amira beranjak dari duduknya, dia menuju ke arah almari. Dia ragu membuka almari gantungnya, karena dia yakin dia akan melihat kekosongan dan kehampaan. Karena sebagian besar pakaian suaminya telah berpindah tempat.
Amira menghela napas, meski ragu dia dengan membaca basmalah menggerakkan tangannya dan membuka pintunya. Dia termenung, dia merasakan kehampaan yang sempat dia pikirkan. Dan kini dia benar-benar merasakannya.
Amira segera mengambil satu set jubah dan khimarnya, dia menutup pintu almari kemudian berjalan menuju kamar mandi, dia sangat mengerti bahwa suaminya mengajak dia berpergian hari ini. Ah, benar obat yang dibutuhkan Amira sangat murah. Padahal semalam dia demam dan dengar tidur beberapa jam dia sudah sehat kembali.
---
Amira keluar dari kamar, dia berjalan pelan menuruni tangga karena seberapapun kuat dirinya dia masih merasakan pusing di kepala. Amira merasa aneh dengan keramaian yang ada di ruang tengah. Ada banyak suara yang saling bersahutan, dia menjadi berpikir apa suami Ifa sudah pulang sehingga rahasia nampak ramai.
Amira menuju ke arah dapur, dia ingin minum teh panas.
"Siapa tamunya, Bik?" tanya Amira saat berada di dapur.
"Dlo, Mbak Mira sudah sehat?" Bukan menjawab pertanyaan Amira bik Tutik justru bertanya.
"Alhamdulillah sehat," kata Amira lalu duduk.
"Mau makan atau minum?" tanya Bik Tutik.
"Teh panas ya, Bik. Tolong." Amira menghela napas, dia cukup penasaran dengan keramaian yang ada di depan.
"Itu Pak Bagus pulang, selain itu untuk sementara waktu Mbak Maura dan anaknya tinggal di sini." Amira menoleh. Jika Maura tinggal di sini sementara berarti ada kemungkinan bahwa dirinya akan sering ditinggal oleh Dinan.
"Oh, terus?" tanya Amira.
"Terus bagaimana ya, Mbak?" Amira nyengir gak jelas, karena dia sendiri juga bingung mau seperti apapun mengungkapkan yang ada di pikirannya.
Amira kadang ingin menjadi Ifa, menjadi sosok yang selalu mengungkap apapun yang membuat dia tidak nyaman. Walaupun kadang itu menyebalkan bagi orang lain tetapi lebih melegakan daripada menjadi dirinya yang amat kesulitan untuk sekedar mengetahui hubungan suaminya dan wanita itu.
"Besok keluarga Pak Bagus akan menginap di sini. Jadi tadi Bibi diminta merapikan kamar yang ada di atas dan di bawah." Amira menyesap teh yang disajikan oleh Bik Tutik.
"Memangnya sering ya, keluarga Pak Bagus berkunjung?" Buk Tutik mengangguk.
"Dulu waktu masih baru pindah ke sini, Ibunya Pak Bagus sering kemari. Kadang saya jadi kasian sama Mas Dinan?" Amira baru menyadari bahwa sejak tadi Bik Tutik memanggil adik iparnya dengan sebutan pak sedang dengan suaminya dengan sebutan mas.
Amira tersadar sesuatu 'kasian Mas Dinan?' memangnya ada apa dengan suaminya.
"Mas Dinan kenapa Bik?" tanya Amira tak yakin.
"Ya Mas Dinan selalu mengungsi kalau ada tamu menginap. Bukan bertindak tidak sopan tetapi, Mas Dinan tidak suka berbaur dengan banyak orang. Dan selain itu kadang banyak yang bukan makhram Mas Dinan." Amira mengangguk kemudian dia teringat dengan dua koper yang tadi dipindahkan oleh Dinan.
"Kamu sudah bangun, Ndok?" Bunda Dinan mendekati Amira membuat Bik Tutik pamit untuk ke belakang.
"Iya Bun, maafkan Amira." Amira mengatakan itu dengan nada tak enak hati.
"Kenapa minta maaf, Ndok? Orang sakit itu bukan kesalahan. Sakit itu bukti Allah sayang." Bunda Dinan duduk di sebelah Amira.
"Bunda mau teh? Biar Amira buatkan." Amira hendak berdiri tetapi dilarang oleh sang mertua.
"Tidak, Bunda hanya ingin bicara denganmu." Amira menoleh ke arah sang mertua kemudian dia mengangguk dan kembali duduk.
"Ndok, maafkan Bunda kalau membuat kamu ndak nyaman di sini. Bunda tahu rasanya hidup sama mertua, ya walaupun Bunda sudah berusaha menjadi mertua yang baik mau bagaimanapun tetap berbeda sama orang tua sendiri." Amira hanya mendengarkan ucapan sang mertua tanpa ada niat untuk menyela.
"Ndok," panggil bunda Dinan sambil meletakkan tangannya di atas tangan Amira.
"Maafkan Dinan yang kadang tidak mengerti keadaan kamu. Ini pertama kalinya Dinan berhubungan dengan perempuan secara intensif selain dengan Ifa, Bunda dan Mala. Jadi, Dinan masih meraba-raba cara menghadapimu." Dinan menatap lekat sang mertua kemudian mengangguk.
"Kamu tahu, semalam dia seperti orang tak punya otak. Saat kamu tiba-tiba tidak sadarkan diri setelah berbicara dengannya dan menangis. Dia ketakutan, Bunda tidak tahu pasti takutnya karena apa? Karena dia tidak bisa diajak bicara." Amira menatap heran sang mertua.
"Dinan lelaki yang setia dan sukar membangun cinta. Dulu saat dia berhubungan dengan Maura tak ubahnya karena dia ingin menolong Maura yang tersisihkan keluarga. Hanya itu tidak lebih. Dan anak Bunda itu pasti tidak akan menceritakan secara rinci." Amira mengangguk dengan antusias.
"Maafkan juga soal omongan Ifa, tadi pagi Bunda melihat anak itu menangis sambil memakaikan pakaian Any, saat Bunda tanya dia menceritakan hal yang dia lakukan padamu beberapa pekan belakangan ini." Amira terdiam saja.
"Ifa merasa sangat tertekan dan khawatir jika sakitnya kamu itu karena dia. Maafkan anak-anak Bunda ya Amira."
Amira mengangguk, "tidak ada yang salah Bunda." Amira tersenyum.
"Sejak melihatmu, sebenarnya Bunda sudah suka sama kamu." Amira menunduk malu.
"Alhamdulillah Dinan menjadi jodohmu." Amira mengangguk dengan semangat.
"Dan untuk masalah Maura...." Ucapan mertua Amira terputus karena ucapan Dinan.
"Untuk masalah itu biar Mas yang bicara langsung dengan Amira, Bun." Amira menatap dua orang itu dengan curiga.
"Apapun itu Mira, kamu harus tahu bahwa Bunda tidak ada niat untuk menyisihkan dirimu. Kamu juga adalah anak Bunda juga saat ini, tapi maafkan Bunda." Amira menatap heran sang mertua yang beranjak meninggalkan duduknya.
"Jangan terlalu keras sama istri, Mas." Amira masih bisa mendengar ucapan sang mertua untuk suaminya.
---
dari sekian banyak novel yang ku baca ceritamu yg paling dalam mengadu perasaanku
👑 dari ku untukmu
🏕 di alam terbuka biar othor punya inspirasi lebih banyak lagi,dan bisa membuat pembaca jungkir balik lagi
👌👋👋👋
# geramku