Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Zira terdiam, tak sanggup mengiyakan permintaan mommy karena faktanya ia belum bisa sepenuhnya menerima keberadaan Lexi sebagai suaminya.
Dari balik pintu kamar yang tidak tertutup dengan sempurna, Leon dapat mendengar semua perkataan mommy kepada Zira. Jika saja dirinya yang menikah dengan Zira, mungkin dirinya lah yang saat ini menemani Zira menerima perhiasan peninggalan eyang, bukannya sang kakak, Lexi.
"Sepertinya aku memang harus benar-benar mengikhlaskanmu, Zira. Kamu bukan terlahir dari tulang rusukku, melainkan dari tulang rusuk mas Lexi. Aku hanya bisa mendoakan semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan oleh sang pencipta." Seperti ucapan mommy sebelumnya, lambat Laun Leon pasti akan berbesar hati menerima pernikahan Zira dengan kakaknya.
Setelahnya, Leon berlalu, kembali melangkah menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tadi ketinggalan. Tanpa disadari oleh Leon, rupanya dari ekor mata, Lexi pun menyadari keberadaannya. "Sungguh, mas tidak berniat merebut Zira darimu, Leon, mas hanya melakukan sesuatu yang sudah seharusnya mas lakukan. Lagipula, jika kamu menikah dengan Zira dan pada akhirnya mengetahui kebenaran tentang apa yang pernah terjadi pada mas Zira di masa lalu, mas yakin kamu pasti akan lebih terluka ketimbang sekarang." Batin Lexi.
"Ada apa, Lexi?." Tanya mommy menyaksikan Lexi terdiam, seperti sedang melamun.
"Bukan apa-apa, mom."
*
"Plak...." Sebuah tamparan keras begitu nyaring terdengar.
"Dasar anak tidak berguna. Kalau saja saya tahu setelah dewasa kamu tidak berguna seperti ini, sudah saya buang kamu sejak kecil." Kata-kata sang ayah bahkan lebih menyakitkan ketimbang tamparan keras yang berulang kali mendarat di pipi Reka.
Tak puas hanya dengan menampar, pria paruh baya tersebut juga mendorong putrinya hingga jatuh tersungkur di pelataran rumah.
"Maafkan Reka, pah. Reka sudah berusaha semampu Reka untuk menaklukkan hati mas Lexi, tapi semuanya sia-sia. Mas Lexi tak juga bisa mencintai Reka, pah." Di sisa tenaganya yang hampir setengah jam menghadapi penyiksaan dari ayahnya, Reka memelas agar ayahnya merasa iba dan berhenti menyiksanya. Kedua sudut bibir Reka nampak pecah dan bersimbah dar-ah, semua itu didapatkannya dari tamparan bertubi-tubi dari sang ayah.
"Cukup, pah....! Reka bisa mati kalau terus dipukuli seperti ini." Ibu coba menasehati suaminya. Bukan karena sayang, melainkan karena khawatir putri mereka mati dan mereka harus berurusan dengan hukum.
Ayah mengabaikan nasehat ibu dan malah kembali melayangkan tendangan tepat ke arah perut Reka. Tindakannya itu nyaris menghilangkan kesadaran Reka. Setiap kali mendapat perlakuan seperti ini, Reka kerap kali berpikir mungkinkah dirinya bukan anak kandung dari ayah dan ibunya. Karena, jika ia merupakan anak kandung, tak mungkin ayahnya tega memperlakukan dirinya seperti hewan, dan tidak mungkin juga ibunya tega melihatnya diperlakukan seperti itu.
Air mata yang sejak tadi di bendung oleh Reka akhirnya meleleh juga. Rasa sakit dihatinya berpadu dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia menatap sendu ke arah kaki sang ayah yang kini hendak dilayangkan kembali ke arahnya. Gadis itu menutup mata, siap menerima tendangan yang mungkin saja bisa benar-benar menghilangkan kesadarannya. Namun, hingga beberapa detik, Reka tak merasakan tendangan selanjutnya, hingga akhirnya ia mendengar suara yang terdengar begitu familiar.
"Mengapa anda tega memperlakukan anak kandung anda seperti hewan?." Suara tersebut terdengar seperti sedang menahan emosi yang hampir meledak. Perlahan Reka membuka matanya.
"Leon...." Reka menatap pada Leon yang sedang menatap berang pada ayahnya.
"Tuan Leonardo Fernandez, apa yang sedang anda lakukan di sini." Ayahnya Reka jadi kalang kabut menyadari keberadaan Putra bungsu dari keluarga Fernandez tersebut.
Beberapa saat lalu, Leon baru teringat bahwa malam itu ia meminjam uang cash kepada Reka untuk membayar bil minumannya, sebab ponselnya kehabisan daya saat hendak melakukan transaksi dan ia pun kehabisan uang cash. Tak ingin berhutang, Leon lantas mencari alamat rumah orang tua Reka untuk mengembalikan uang tersebut. Tapi siapa sangka, setibanya di kediaman orang tua Reka, Leon justru mendapati tindakan tidak berprikemanusiaan yang tengah dilakukan oleh ayahnya Reka terhadap putrinya sendiri. Yang lebih menyedihkan lagi, pria paruh baya tersebut pun melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan kepada putrinya yang dianggap tidak berguna.
Leon beralih menatap pada Reka. Sungguh, untuk bertanya apakah kamu baik-baik saja rasanya tidak mungkin karena faktanya saat ini keadaan gadis itu sangat memprihatikan.
"Ayo...ikut denganku!." Leon merasa sangat iba pada Reka. Ia tak peduli lagi pada ayahnya Reka yang terlihat salah tingkah karena perbuatannya ketahuan.
"Tidak perlu, tuan Leonardo Fernandez!. Lagipula, ini hanyalah sebuah kesalahpahaman saja. Biar kami yang akan mengurus Reka."
"TIDAK. Reka akan ikut denganku." Tegas Leon, tak sampai hati meninggalkan Reka. Bisa jadi sepeninggal dirinya, Reka akan kembali mendapatkan pukulan dari pria paruh baya itu.
"Ayo...!." Awalnya Reka enggan ikut bersama Leon karena ia kenal betul dengan sifat dan watak buruk ayahnya. Setelah kembali nanti, ayahnya pasti akan menyiksanya lagi. Akan tetapi, Leon terus memaksa Reka agar bersedia ikut bersamanya hingga akhirnya Reka pun menurut. Mereka pun meninggalkan kediaman orang tua Reka.
"Apa kau sudah sering mendapat perlakuan seperti ini?." Ditengah perjalanan, Leon menanyakan hal itu.
Reka hanya diam saja tak menjawab, Namun diamnya Reka sudah cukup menjadi jawaban bagi Leon.
"Kenapa kau masih bertahan dirumah itu? Mengapa tidak kabur saja?."
"Tidak semudah itu, Leon. Papah pasti akan mencari ku dan pastinya akan memberi hukuman yang jauh lebih menyakitkan lagi dari yang kau saksikan tadi. Papah tidak akan membiarkan aku keluar dari rumah itu sebelum berhasil dinikahkan dengan pria kaya raya yang mampu membantu perkembangan perusahaan keluarga." Leon sudah melihatnya dalam kondisi paling menyedihkan, lalu untuk apalagi menyembunyikan kebenaran tentang keluarganya dari pria itu.
"Kalau begitu, aku akan menikahimu." Perkataan Leon langsung disambut gelak tawa Reka.
"Tubuhku rasanya sakit semua. So, jangan sekarang bercandanya, aku sedang tidak mood untuk bercanda, Leon." Balas Reka seraya menatap lurus ke depan.
"Aku tidak sedang bercanda, aku serius." Saat ini ia butuh pendamping agar terlihat baik-baik saja didepan keluarganya dan Reka pun butuh seorang pria dari kalangan atas agar terbebas dari belenggu orang tuanya. Lantas, apa salahnya bila mereka bersatu? Anggap saja saling membantu dalam memecahkan permasalahan yang ada, begitu pikir Leon.
"Apa kau sedang demam?." Reka sampai menoleh dan meletakkan punggung tangannya pada dahi Leon. Akan tetapi, tidak terasa panas sama sekali dan itu artinya Leon tidak sedang demam.
"Aku serius, Reka. Mari menikah! Aku menikah agar terlihat baik-baik saja di depan keluargaku dan kau pun menikah agar terlepas dari belenggu orang tuamu!."
Deg.
Reka tertegun, rupanya pria disampingnya itu tidak sedang bercanda saat mengajaknya untuk menikah.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣