Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-25
Plak!!
Wajah Nara terpaling kesamping lantaran menerima tamparan keras dari Sarah,bahkan ujung bibirnya pecah dan mengeluarkan darah..
Sarah dengan hilang akal berteriak..
"TAPI SEKARANG GILIRAN KAMU YANG NGERASAIN SAKITNYA! AKU AKAN POTONG POTONG WAJAH SOK CANTIK KAMU INI BIAR ARKAN JIJIK MELIHATNYA! DAN AKU PASTIKAN KAMU AKAN MATI DENGAN CARA PALING NGERIKAN!" teriak Sarah kehilangan akal sehat.
Nara menutup mata, pasrah. Ia sudah menyerah. Arkan... tolong aku... aku takut... batinnya menjerit.
Tiba-tiba...
UUUUUUUUUUUUU!!!
Suara deruman puluhan mobil sport dan mobil hitam besar terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi. Suara ban yang bergesekan dengan aspal terdengar sangat nyaring.
BRUMMM!! BRUMMM!!
Sarah terkejut, "Siapa itu?! Cepetan kalian waspada!!" teriaknya pada anak buahnya.
Namun terlambat.
Dalam hitungan detik, pintu besi gudang tua itu meledak terbuka hancur lebur!
Mobil Arkan menabrak masuk dan berhenti tepat di tengah ruangan. Pintu terbuka, dan Arkan turun dengan tatapan yang benar-benar iblis.
Di belakangnya, puluhan anak buahnya turun lengkap dengan senjata api dan tajam, mengepung seluruh tempat itu.
"ARGH!! TEMBAK MEREKA!!" teriak anak buah Sarah panik.
DOR! DOR! DOR! TRRRR!!
Tembakan pecah di mana-mana! Suasana berubah menjadi medan perang sesungguhnya!
Arkan tidak peduli dengan peluru yang melesat di dekatnya. Matanya hanya mencari satu sosok.
Dan saat ia melihat Nara terikat, menangis, dan wajahnya memar...
"NARA!!!!!" teriak Arkan.
Pria itu berlari secepat kilat melewati hantaman dan tembakan.beberapa anak buahnya langsung menjaga nya, Sarah melihat itu, langsung mengarahkan pisau ke leher Nara.
"JANGAN MENDEKAT!! ATAU AKU BUNUH DIA SEKARANG JUGA!!" teriak Sarah histeris, pisau itu sudah menancap sedikit hingga mengeluarkan darah di leher Nara.
"HHMMPPP!!" Nara ketakutan,air mata semakin mengalir.
Pemandangan itu membuat amarah Arkan memuncak tak terbendung.
"LEPASIN DIA SEKARANG SARAH!!" raung Arkan, suaranya menggelegar.
"NGGAK AKAN!! KALAU AKU MATI, DIA IKUT MATI BARENG AKU!!" teriak Sarah siap menikam lebih dalam.
Namun... Arkan tidak ragu sedikitpun.
DOR!
Satu tembakan tepat mengenai tangan Sarah yang memegang pisau!
ARGH!! Sarah berteriak kesakitan, pisau itu jatuh ke lantai.
Dalam sekejap mata, Arkan sudah berada di hadapan mereka. Ia mendorong Sarah keras-keras hingga wanita itu terlempar jauh, lalu dengan tangan gemetar ia memotong ikatan di tubuh Nara.
"SAYANG!! SAYANG KAMU GAPAPA KAN?! MAAF AKU TELAT!!" teriak Arkan panik, langsung memeluk tubuh Nara yang gemetar hebat.
Nara langsung menangis tersedu-sedu memeluk leher Arkan. "KAN... AKU TAKUT... DIA MAU BUNUH AKU..."
"Udah sayang... udah. Aku disini. Gak ada yang bakal nyakitin kamu lagi," bisik Arkan gemetar, mencium kening dan leher Nara berkali-kali.
Ia lalu menoleh perlahan ke arah Sarah yang sudah ditahan oleh anak buahnya, menangis dan merintih kesakitan. Tatapan Arkan sedingin kematian.
"Kau sudah melewati batas, Sarah. Kali ini... tidak ada ampun," ucap Arkan pelan namun mematikan.
______
Sarah tergeletak di lantai dingin itu, tangan kanannya hancur kena tembakan, tubuhnya gemetar hebat bukan main karena kedinginan dan ketakutan. Wajahnya pucat pasi, matanya memandang Arkan dengan penuh harap.
"Kan... Arkan... tolong aku... aku janji gak bakal ngulangin lagi... ampuni aku ya Sayang..." rintihnya memelas, masih berusaha memanggil dengan nada manja yang dulu sering ia gunakan.
Namun Arkan sama sekali tidak tergerak. Pria itu sedang sibuk membalut luka di leher Nara dengan sapu tangan mahalnya, tangannya bergerak sangat lembut dan penuh kasih sayang, berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang membunuh saat menoleh ke arah Sarah.
"Sayang? Jangan pernah kau sebut kata itu lagi," ucap Arkan dingin, suaranya datar tanpa emosi. "Kau sudah berbuat kejahatan yang tak termaafkan. Menculik, menyiksa, dan berusaha membunuh. Bahkan hukum negara pun tak akan bisa melepaskanmu."
Arkan berdiri tegap, membiarkan Nara bersandar lemas di tubuhnya.
"Kau bilang kau mau bunuh dia biar dia jadi milikmu selamanya? Salah Sarah... justru karena ulahmu ini, kau yang akan pergi ke tempat di mana kau tidak akan pernah bisa melihat kami lagi. Selamanya."
Arkan memberi isyarat kepala pada anak buahnya.
"Bawa dia pergi. Jangan ke kantor polisi," perintah Arkan tegas.
Mata Sarah membelalak lebar, "KEMANA?! MAU DIBAWA KEMANA?! ARKAN JANGAN!! AMPUN!!" teriaknya histeris saat dua pria besar menyeretnya paksa.
"Kau akan dipertemukan kembali dengan teman lamamu, Raka," bisik Arkan sinis. "Di tempat di mana kalian berdua bisa menghabiskan sisa hidup tanpa mengganggu kedamaian kami."
Ternyata... nasib Sarah sama persis dengan Raka! Ia tidak masuk penjara, tapi akan 'dihilangkam' selamanya di tempat yang gelap dan sunyi, membayar semua dosa-dosanya dengan cara yang paling menyakitkan.
Terakhir kali yang terdengar hanyalah jeritan histeris Sarah yang perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan keheningan yang mencekam di gudang tua itu.
____
Setelah kejadian itu...
Nara mengalami syok berat dan trauma mendalam akibat penyiksaan yang dialaminya, sehingga ia harus segera dilarikan dan dirawat inap di rumah sakit untuk pemulihan.
Selama berhari-hari di rumah sakit, Nara banyak menghabiskan waktunya dengan menangis dan tertidur lelah. Setiap kali terbangun, ia selalu mencari keberadaan Arkan dengan pandangan mata yang ketakutan, seolah takut jika pria itu menghilang dan meninggalkannya sendirian lagi.
Arkan tidak pernah meninggalkan kamar rawat itu bahkan hanya untuk sedetik pun. Ia memutuskan semua urusan kantor, membiarkan asistennya yang mengurus segalanya. Seluruh perhatian dan waktunya ia curahkan sepenuhnya untuk Nara.
Dari mulai menyuapi makan, kecuali memandikan, hingga memijat kaki Nara yang sering kram karena ketegangan, Arkan lakukan dengan tangan sendiri tanpa rasa sungkan sedikitpun.
"Sayang... minum obat dulu ya, biar lukanya cepat kering," bujuk Arkan lembut, mendekatkan sendok berisi obat dan air putih ke bibir Nara yang pucat.
Nara menatap wajah Arkan lekat-lekat, matanya masih tampak sembab dan sedih.
"Kan... aku takut..." bisiknya pelan, tangannya mencengkeram lengan baju Arkan erat-erat. "Aku takut kalau aku tidur, nanti aku mimpi buruk lagi. Aku takut mereka datang lagi..."
Hati Arkan terasa diremas-remas melihat ketakutan di mata wanita yang dicintainya. Ia segera duduk di tepi ranjang, lalu memeluk bahu Nara dengan sangat lembut, membiarkan kepala wanita itu bersandar nyaman di dadanya.
"Shhh... tidak ada yang perlu ditakutkan lagi, Sayang. Semua sudah berakhir," bisik Arkan menenangkan, tangannya mengelus rambut Nara perlahan. "Raka dan Sarah... mereka sudah tidak ada. Mereka tidak akan pernah bisa menyakiti kamu lagi. Aku janji."
Arkan mencium puncak kepala Nara lama.
"Dan mulai sekarang, aku tidak akan pernah membiarkan kamu sendirian sedetik pun. Dimana ada kamu, disitu ada aku. Kita akan selalu bersama, selamanya."
Nara mengangguk lemah, air matanya kembali menetes tapi kali ini adalah air mata lega. Di dalam pelukan hangat Arkan, rasa takut itu perlahan mulai sirna, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa.
"Janji ya?" tanya Nara lirih.
"Janji," jawab Arkan tegas, menatap manik mata kekasihnya. "Aku akan menjaga kamu sampai kapanpun. Dan setelah kamu sembuh nanti... aku tidak akan membiarkan kamu bekerja lagi. Cukup diam di rumah, biar aku yang bekerja keras mencari nafkah buat kamu."
Nara tersenyum tipis, senyum yang sangat manis meski masih terlihat lelah. "Kamu ini... sok kaya banget jadi calon suami."
"Memang mau jadi suami kamu kok," jawab Arkan menggoda, berusaha mencairkan suasana. "Jadi cepat sembuh ya, Calon Istri."
BERSAMBUNG...