Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: MAHKOTA YANG GUGUR
Suara alarm darurat klinik rahasia Al-Ghifari tiba-tiba melengking, memecah ketegangan yang baru saja tercipta di ruang perawatan itu. Lampu neon putih seketika meredup, berganti dengan kilatan lampu merah yang berputar secara ritmis, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan di dinding.
Pintu kamar didobrak terbuka. Ben masuk dengan napas tersenggal dan pistol yang sudah ditarik dari sarungnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi keringat dingin.
"Tuan Muda! Sistem keamanan perimeter kita baru saja diretas dari luar! Ada tiga mobil van hitam tanpa pelat nomor mendekat dengan kecepatan tinggi. Mereka bukan polisi, mereka tentara bayaran. Klinik ini sudah tidak aman!" lapor Ben dengan nada mendesak.
Zayn mengertakkan rahangnya. Ia mencoba berdiri tegak, namun luka di kepalanya membuat dunianya berputar hebat. Ia terhuyung dan hampir jatuh jika Aaliyah tidak segera menahan lengannya dengan sekuat tenaga.
Sultan... iblis itu bergerak lebih cepat dari perkiraanku. Dia tidak hanya merebut perusahaanku dari dalam meja rapat, dia mengirimkan eksekutor untuk menghabisiku secara fisik di saat aku sedang terluka. Dia benar-benar ingin memastikan bahwa aku tidak memiliki kesempatan sekecil apa pun untuk bangkit kembali.
"Kita tidak bisa melawan mereka di sini, Ben. Kau dan timmu akan kalah jumlah. Kita harus mundur," perintah Zayn, suaranya terdengar berat dan tertahan oleh rasa sakit yang menusuk lengannya yang baru dijahit.
"Mobil evakuasi darurat sudah siap di pintu belakang, Tuan. Sebuah mobil bak terbuka tua milik warga lokal yang sudah kami modifikasi mesinnya. Tidak akan ada yang mencurigainya," jelas Ben cepat. Ia memberikan sebuah kunci mobil kepada Aaliyah. "Nona, Anda yang harus menyetir. Saya dan tim akan menjadi umpan menggunakan SUV utama untuk memancing mereka ke arah jalan tol."
Aaliyah menerima kunci itu. Tangannya yang dingin menggenggam besi kunci tersebut erat-erat. Tidak ada waktu untuk berdebat atau menangis ketakutan. Mode bertahan hidupnya telah mengambil alih sepenuhnya.
Ya Allah... lindungilah kami. Malam ini, hamba tidak lagi berlindung di balik kemewahan pria ini. Malam ini, kamilah yang harus berlari menyelamatkan nyawa. Jika ini adalah harga yang harus dibayar untuk mengungkap kebenaran, maka hamba akan menghadapinya tanpa meneteskan satu air mata pun.
"Ayo, Zayn," Aaliyah memapah tubuh besar Zayn. Meskipun tubuh Zayn jauh lebih berat, adrenalin memberikan Aaliyah kekuatan yang tidak ia sangka kumilikinya.
Mereka bergegas menyusuri lorong belakang klinik yang gelap, ditemani suara deru mobil para penyerang yang sudah mulai memasuki pelataran depan. Hujan deras mulai turun dengan lebat, seolah langit Subang ikut menangis melihat kejatuhan sang Raja Es.
Di pintu belakang, sebuah mobil pick-up tua berwarna biru kusam sudah menunggu. Karat menempel di beberapa bagian pintunya. Aaliyah membantu Zayn masuk ke kursi penumpang, lalu ia berlari ke kursi kemudi.
"Berhati-hatilah, Ben. Jangan sampai mati," ucap Zayn sesaat sebelum Aaliyah menutup pintu.
"Itu janji saya, Tuan Muda," Ben tersenyum tipis, lalu segera berlari kembali ke dalam klinik untuk memimpin pasukannya.
Aaliyah menyalakan mesin. Suara mesin tua itu terdengar kasar, namun tenaganya cukup kuat. Ia menginjak pedal gas, membawa mobil itu menembus hujan lebat dan jalanan tanah pedesaan yang berlumpur, menjauh dari klinik tepat saat suara tembakan pertama mulai terdengar dari arah depan gedung.
Di dalam kabin mobil yang sempit dan berbau apek, kesunyian terasa begitu mencekam. Wiper mobil yang sudah aus berdecit saat menyapu air hujan di kaca depan. Aaliyah memusatkan seluruh konsentrasinya ke jalanan gelap yang hanya diterangi lampu sorot kuning yang redup.
Zayn menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Wajahnya sangat pucat. Keringat dingin bercampur dengan sisa air hujan menetes dari dahinya. Luka jahitannya kembali merembeskan darah, menodai kemeja putihnya yang sudah kotor.
Batin Zayn bergejolak: Hancur sudah. Perusahaanku, kekayaanku, posisiku... semuanya hilang dalam waktu kurang dari satu jam. Aku yang dulu bisa membeli keadilan dengan satu tanda tangan, kini harus duduk di mobil rongsokan ini, bersembunyi seperti tikus. Aku telah gagal. Aku gagal melindungi peninggalan Ayahku, dan aku telah membawa wanita suci ini masuk ke dalam lumpur penderitaanku.
"Zayn... bertahanklah. Ben sudah memberikan titik koordinat rumah aman di lereng gunung. Kita akan sampai dalam waktu empat puluh menit," ucap Aaliyah tanpa menoleh, matanya tetap awas menatap jalan.
"Aaliyah..." suara Zayn sangat lemah, hampir menyerupai bisikan parau. "Tinggalkan aku."
Aaliyah menginjak rem mendadak hingga mobil tergelincir sedikit di jalan berlumpur, sebelum kembali menstabilkannya. Ia menoleh ke arah Zayn dengan tatapan marah yang sangat kentara dari balik matanya yang indah.
"Apa yang baru saja kau katakan?" desis Aaliyah tajam.
"Sultan menginginkanku," Zayn menelan ludah, mencoba menahan rasa sakit di kepalanya. "Selama kau bersamaku, kau adalah target. Jika kau menurunkanku di sini dan membawa mobil ini pergi, kau bisa hidup. Mereka hanya menginginkan kepalaku."
Pria bodoh! Apakah dia pikir aku wanita lemah yang akan lari menyelamatkan diri saat pahlawannya sedang berdarah? Apakah dia lupa bahwa kalung ibuku membuktikan takdir kami sudah terikat sejak dua puluh tahun lalu? Aku tidak lari saat dituduh berzina, aku tidak lari saat pesantrenku dibakar, dan aku tidak akan pernah lari meninggalkanmu!
"Dengar aku, Zayn Al-Fatih!" bentak Aaliyah, untuk pertama kalinya ia benar-benar meninggikan suaranya pada pria itu. "Kau yang memaksaku masuk ke dalam hidupmu! Kau yang menyematkan cincin di jariku di depan ratusan kamera! Dan sekarang, saat kau kehilangan hartamu, kau menyuruhku pergi?!"
Zayn tertegun melihat kemarahan Aaliyah.
"Aku bertahan bukan karena hartamu! Aku bertahan karena pria di sebelahku ini berjanji akan menjadi perisaiku. Jika perisaiku sedang retak, maka tugasku adalah membalutnya, bukan membuangnya! Jadi tutup mulutmu dan simpan tenagamu, karena aku tidak akan pernah menurunkanmu di jalanan gelap ini!"
Aaliyah kembali menginjak gas dengan kuat. Zayn menatap profil samping wajah Aaliyah yang diterangi kilatan petir. Hatinya yang tadi hancur lebur, tiba-tiba merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa.
Dia tidak memanggilku Tuan Muda. Dia membentakku. Dan anehnya... omelannya adalah hal paling indah yang pernah kudengar malam ini. Dia benar-benar tidak peduli pada kekayaanku. Di saat seluruh dunia menganggapku sebagai monster dan penjahat, wanita ini bersedia masuk ke dalam neraka bersamaku. Ya Tuhan... jangan biarkan aku mati malam ini. Aku harus hidup untuk membahagiakannya.
Empat puluh menit berlalu seperti berabad-abad. Mereka akhirnya tiba di sebuah gubuk kayu kecil di tengah perkebunan teh yang sangat terpencil di lereng gunung. Gubuk itu adalah tempat persinggahan para pemetik teh yang sudah lama ditinggalkan. Tidak ada listrik, tidak ada kemewahan. Hanya ada satu dipan bambu tua, sebuah meja kayu reot, dan atap seng yang berbunyi bising ditimpa hujan.
Aaliyah memapah Zayn masuk ke dalam gubuk. Ia membaringkan tubuh Zayn yang sudah setengah sadar di atas dipan bambu. Udara gunung yang sangat dingin mulai menusuk tulang.
Aaliyah menyalakan sebuah lampu teplok minyak yang ia temukan di sudut ruangan, memberikan cahaya jingga yang remang-remang. Ia kemudian mengambil kotak P3K darurat dari dalam tas yang diberikan Ben.
Ia duduk di tepi dipan, membuka kemeja Zayn dengan sangat hati-hati agar tidak merobek jahitan di lengannya. Wajah Aaliyah merona merah sesaat saat melihat dada bidang Zayn, namun situasi darurat segera menghapus rasa malunya. Ia fokus membersihkan darah yang merembes dan mengganti perbannya.
Suhu tubuh Zayn mulai naik. Ia menggigil hebat karena demam yang dipicu oleh infeksi dan kedinginan.
"Zayn... kau demam tinggi," bisik Aaliyah panik.
Tidak ada selimut tebal di sana. Aaliyah melepas lapisan luar gamisnya yang masih kering, menyelimutkannya ke tubuh Zayn. Namun itu tidak cukup. Bibir Zayn mulai membiru.
Ya Allah... apa yang harus hamba lakukan? Tidak ada dokter, tidak ada obat penurun panas yang memadai. Jika demamnya terus naik, pembuluh darah di kepalanya bisa pecah akibat benturan tadi. Hamba tidak ingin kehilangannya!
Aaliyah duduk merapat di samping Zayn. Ia tidak punya pilihan lain. Mengingat janji suci dan cincin yang melingkar di jarinya, Aaliyah mendekatkan tubuhnya, memeluk Zayn dengan hati-hati untuk mentransfer suhu tubuhnya. Ia menyandarkan kepala Zayn ke dadanya, mencoba memberikan kehangatan fisik semaksimal mungkin.
Zayn merasakan kehangatan itu. Dalam alam bawah sadarnya yang kacau, ia membalas pelukan itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Aaliyah. Napasnya yang panas menerpa kulit Aaliyah.
"Aaliyah..." gumam Zayn dalam igauannya. "Maafkan aku... maafkan Ayahku... tolong, jangan benci aku..."
Air mata Aaliyah akhirnya tumpah menetes di atas rambut Zayn.
Aku tidak membencimu, Zayn. Aku tidak akan pernah membencimu. Jika takdir mengharuskan kita membayar dosa masa lalu, kita akan membayarnya bersama.
Sepanjang malam yang panjang dan diselimuti badai itu, sang Raja Es yang dulu sombong dan berkuasa, kini hanya bisa bertahan hidup di dalam pelukan hangat seorang wanita yang pernah ia hinakan.
Menjelang subuh, demam Zayn mulai mereda. Ia membuka matanya dan menyadari posisinya. Ia segera menjauh sedikit, merasa bersalah karena telah melanggar batas, namun Aaliyah hanya tersenyum tipis dengan mata yang masih sembab.
"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Aaliyah lembut.
"Jauh lebih baik," jawab Zayn pelan. Ia melihat sekeliling gubuk reot itu. "Aaliyah... selamat datang di duniaku yang sekarang. Semuanya telah hilang."
Aaliyah menggeleng. Ia mengambil laptop cadangan dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja kayu.
"Belum semuanya hilang, Zayn. Selama otak kita masih bekerja, kita bisa membangunnya kembali," Aaliyah menyalakan laptop tersebut. Ia menggunakan sinyal satelit portabel untuk terhubung ke internet.
Mari kita lihat seberapa jauh Sultan merusak kerajaan ini. Aku akan memeriksa pergerakan saham dan status hukum Zayn saat ini. Aku adalah H_Zero, dan ini adalah medan perangku.
Namun, saat layar utama terbuka, berita yang muncul bukanlah tentang saham Al-Ghifari. Wajah Aaliyah seketika memucat, matanya membelalak penuh kengerian.
"Zayn..." suara Aaliyah tercekat di tenggorokan.
"Ada apa? Sultan mengeluarkan surat penangkapanku?" tanya Zayn getir.
"Lebih buruk dari itu," Aaliyah memutar layar laptopnya agar Zayn bisa melihatnya.
Di layar itu, terpampang berita terbaru dengan tajuk merah:
"Buntut Skandal Korupsi: Al-Ghifari Group Cabut Seluruh Pendanaan Rumah Sakit Medika. Pasien VVIP Kyai Abdullah Akan Segera Dikeluarkan Pagi Ini."
Jantung Zayn seolah ditarik paksa dari dadanya. Sultan tidak hanya merebut perusahaannya, ia memotong akses dana yang menjaga ayah Aaliyah tetap hidup.
Sultan... kau tahu Kyai Abdullah tidak bisa bernapas tanpa ventilator khusus itu! Jika dia dikeluarkan dari VVIP... dia akan mati dalam hitungan jam! Kau mencoba membunuh mertuaku untuk menyiksaku!
"Ayah..." isak Aaliyah, tubuhnya seketika lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai kayu gubuk tersebut.
Sinetron ini semakin brutal. Di saat mereka sedang bersembunyi dari kematian, nyawa orang yang paling mereka cintai sedang berada di ambang eksekusi. Waktu mereka tidak lebih dari beberapa jam sebelum rumah sakit mematikan mesin penyambung nyawa Kyai Abdullah.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji