Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Dari Kakek
Suasana di ruangan presdir kembali terasa sibuk dan profesional. Pagi itu, Langit sudah duduk tegak di balik meja kerjanya yang besar, matanya fokus meneliti beberapa berkas penting yang menumpuk.
Namun, meski tangannya sibuk menandatangani dokumen, perhatiannya tidak pernah lepas dari sosok wanita yang duduk santai di sofa ruang tamu di dalam kantornya.
Langit sengaja mengajak Gadis ke kantor hari ini. Ia tidak ingin berpisah sedetik pun. Rindu yang mendalam masih terasa sangat menyiksa dadanya, apalagi setelah Gadis tertidur selama seminggu lebih dua hari lamanya. Rasanya ia ingin terus memandangi wajah itu, memastikan gadis itu benar-benar nyata dan ada di sisinya.
Tiba-tiba...
Suara dering ponsel di atas meja memecah konsentrasi pria itu.
Langit meraih ponselnya, dan saat melihat nama yang tertera di layar, keningnya sedikit berkerut.
Nama AYAH terpampang jelas di sana.
Suara dering ponsel itu membuyarkan total konsentrasi Langit.
Dengan wajah yang terlihat malas dan enggan, pria itu menutup rapat berkas-berkas yang tadi baru saja selesai ia tanda tangani. Ia tidak menyukai gangguan ini, apalagi yang memanggil adalah ayahnya sendiri sumber dari segala masalah dan tekanan dalam hidupnya.
Tangan besarnya bergerak ragu, mau tak mau ia akhirnya menggeser layar hijau untuk menerima panggilan itu.
"Halo?"
Belum sempat ia bertanya banyak, suara berat dari seberang sana terdengar dingin dan penuh perintah,
"Pulang ke rumah sekarang. Ada yang perlu dibicarakan."
Tut!
Tanpa menunggu jawaban, sambungan telepon langsung diputus.
"Tck!" Langit mendecakkan lidah kesal, wajahnya tampak masam melihat layar ponsel yang sudah gelap.
Merasakan perubahan aura kekasihnya yang mendadak mencekam, Gadis segera bertanya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu jadi begitu?" tanya wanita itu sambil berdiri dari sofa dan berjalan mendekat ke meja kerja.
Ia paham betul situasi apa yang sedang dihadapi pria itu. Hubungan Langit dengan keluarganya memang tidak pernah baik, penuh dengan tekanan dan kewajiban.
"Ayahku... dia memintaku untuk segera ke rumah utama sekarang," jawab Langit pendek, nada suaranya terdengar berat.
Gadis menghela napas pelan, lalu ia menepuk bahu pria itu lembut.
"Pergilah..." ucapnya lembut namun tegas. "Bagaimanapun juga, dia adalah Ayah kandungmu. Setidaknya... kamu masih beruntung karena masih memiliki orang tua yang masih ada di dunia ini, tidak sepertiku yang sudah kehilangan segalanya."
Kalimat itu sedikit menyayat hati, namun itu adalah kenyataan. Gadis ingin Langit menghargai apa yang masih ia miliki.
Langit menatap wajah kekasihnya ,lalu mengangguk pelan menerima keputusan itu. Ia segera menekan tombol interkom memanggil asisten pribadinya.
"Charlie!"
Tak lama pintu terbuka, Charlie masuk dengan sigap.
"Siapkan mobil. Kita ke Rumah Utama sekarang," perintah Langit tegas.
****
Awalnya Gadis menolak dengan halus. Ia tidak ingin ikut campur urusan keluarga Langit atau merasa sungkan untuk hadir di tengah pertemuan keluarga besar itu.
Namun Langit tidak mau tahu. Pria itu bersikeras, bahkan tangannya langsung menggenggam tangan wanita itu erat-erat.
Ia tidak ingin berpisah sedetik pun, apalagi ia ingin menunjukkan pada keluarganya siapa wanita yang paling berharga di hidupnya.
Akhirnya Gadis mengalah.
Sesampainya di sana, mereka berdua berjalan beriringan memasuki halaman rumah utama yang megah dan dingin. Langit berjalan tegap dengan aura boss yang mengintimidasi, di sisinya Gadis tampak anggun namun tetap menjaga jarak. Sedangkan di belakang mereka, Charlie mengikuti langkah mereka setia seperti pengawal pribadi yang siap siaga.
Pintu utama terbuka, dan suasana di dalam ruang tamu yang luas itu seketika mencekam.
Di sana, sudah duduk rapat seluruh keluarga besar yang menunggu kedatangan mereka.
Ada Adam, sang ayah, dengan tatapan dingin dan tegas. Di sebelahnya duduk Mahesa, sang kakek, yang tampak sangat berwibawa dan galak. Juga ada Silvia, sang ibu, yang duduk dengan wajah datar sulit diterka.
Namun yang membuat suasana semakin runyam, di sana juga sudah hadir Bella dan Jerry pengawal setia. Wanita itu duduk dengan manis di sisi lain ruangan, seolah-olah ia masih bagian dari keluarga ini, seolah ia masih menjadi bagian di keluarga Mahesa.
Kehadiran Gadis dan Langit membuat ruangan itu seketika hening total. Pertemuan keluarga yang penuh dengan drama, dendam, dan perebutan hati ini resmi dimulai.
Melihat kedatangan cucunya yang menggandeng tangan wanita lain, bukan Bella yang selama ini sudah disiapkan, wajah Kakek Mahesa seketika berubah merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
DUG!!
Tongkat kayu jati itu dihentakkan keras ke lantai marmer, membuat suara gemuruh yang menggetarkan seluruh ruangan.
"SIAPA YANG KAU BAWA ITU?!" bentak Kakek Mahesa dengan suara menggelegar. Matanya melotot tajam menatap tangan keduanya yang saling menggenggam. "SIAPA WANITA YANG KAU GANDENG TANGANNYA ITU, HAH?!"
Tanpa ragu sedikitpun, Langit segera menarik tangan Gadis, memosisikan wanita itu berdiri tepat di belakang punggungnya. Ia menjadi perisai hidup, melindungi tubuh mungil itu dari tatapan tajam dan ancaman seluruh keluarga besarnya.
"Dia kekasihku..." jawab Langit lantang, tegas, dan tanpa rasa takut sedikitpun. "Dan dia juga calon istriku."
Mendengar pengakuan itu, Kakek Mahesa semakin geram. Kemarahan nya sudah di ubun-ubun.
"Bawakan cambukku!!" teriaknya memerintah para pengawal.
Segera dua orang pengawal berbadan besar maju dengan sigap. Mereka menarik paksa lengan Langit dengan kasar, menyeret tubuh kekar pria itu maju ke tengah ruangan, memisahkannya dari Gadis dan Charlie.
"Langit, jangan.." teriak Gadis panik. Ia memberontak, ingin berlari menyelamatkan kekasihnya, air matanya sudah menetes melihat Langit diperlakukan seperti itu.
Namun Charlie dengan sigap dan cepat memegang kedua lengan Gadis, menahannya agar tidak ikut terbawa arus dan semakin celaka.
"Nyonya, tenanglah!" bisik Charlie cepat namun tegas, matanya juga menatap cemas ke arah bosnya. "Percayalah pada Tuan, tidak akan terjadi apa-apa dengan beliau. Ini urusan keluarga, Tuan pasti bisa melewatinya."
Di tengah ruangan, suasana semakin mencekam. Seorang pengawal sudah berdiri siap memegang cambuk kulit panjang yang mencapai lima meter, cambuk kesayangan Kakek yang terkenal sangat menyakitkan dan mematikan.
Kakek Mahesa berdiri dengan napas memburu, wajahnya penuh wibawa namun kejam.
"HUKUMAN CAMBUK ADALAH HUKUMAN YANG PALING PANTAS UNTUKMU!" gertaknya. "BAGI SEORANG PENGKHIANAT DAN PELAKU SELINGKUH! KELUARGA MAHESA TIDAK AKAN PERNAH MENERIMA ORANG KOTOR! DI KELUARGA INI, TIDAK ADA YANG BERANI BERSELINGKUH DAN MERUSAK NAMA BAIK KITA!"
WET! WET! WET!
Suara cambuk memecah udara dengan nyaring dan mengerikan.
CETAS! CETAS! CETAS!
Tiga kali cambukan itu mendarat dengan sangat keras dan tepat membelai punggung kekar Langit. Kemeja mahal yang dikenakannya langsung sobek, memperlihatkan goresan merah yang segera membiru dan bengkak.
Namun...
Langit tidak bersuara sedikitpun. Tidak ada teriakan, tidak ada rintihan kesakitan yang keluar dari bibirnya. Bahkan tubuhnya pun tidak bergeming atau terhuyung. Ia tetap berdiri tegak mematung, dan tatapan matanya... tetap sama. Dingin, datar, dan tanpa ekspresi, seolah rasa sakit itu tidak dirasakan oleh tubuhnya sendiri.
Melihat ketegaran cucunya itu, Kakek Mahesa semakin geram.
Di sudut ruangan, Silvia sang ibu yang sejak tadi hanya diam mematung, akhirnya tidak kuasa menahan air mata dan kepedihan. Ia segera turun dari kursi kebesarannya, berlutut di lantai dingin itu tepat di hadapan sang ayah mertua.
"Ayah... tolong sudahi ini! Ampuni Langit!" isak Silvia memohon dengan air mata berlinang. "Mungkin dia hanya sedang hilaf, tersesat sebentar. Ini semua masih bisa dibicarakan dengan baik-baik. Ayah... jangan pukul dia lagi, kumohon!"
Namun permohonan itu justru memancing kemarahan tua itu.
"TIDAK BISA!" bentak Kakek Mahesa keras. "Kamu dan suamimu itu tidak becus! Tidak bisa mendidik anak dengan baik! Lihat hasilnya sekarang! Durhaka!"
Di sisi lain, Adam sang ayah hanya bisa menunduk lesu. Wajahnya tampak penuh kekecewaan mendalam.
Di dalam hatinya, ia juga menyayangkan sikap anaknya itu. Kenapa harus berselingkuh? Kenapa harus menghianati Bella yang sudah jelas-jelas dijodohkan dan disiapkan untuknya?
'Kenapa sewaktu dijodohkan dulu kau tidak menolak, Langit? Kalau memang kau tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa kau diam saja?' batin Adam kecewa.
Padahal semua orang tahu, jika sudah berurusan dengan Kakek Mahesa, suara mereka termasuk suara Adam sendiri hanya sekecil suara nyamuk yang berdengung. Berbicara pun percuma, tidak akan pernah didengar atau dianggap oleh lelaki tua yang berkuasa itu.
Apakah ada yang akan menolong Langit? Apakah Gadis akan diam saja?