Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Satu minggu telah berlalu sejak ketukan palu hakim Dubai meruntuhkan seluruh dunia Kenzo Praditya. Langit Dubai tetap biru, namun bagi Anindya, kebebasan yang ia miliki masih terasa ganjil.
Meski Kenzo sudah mendekam di balik jeruji besi, secara hukum, Anindya masih terikat dalam rantai pernikahan yang memuakkan dengan pria itu.
Status itu adalah satu-satunya celah terakhir yang masih menghubungkan Anindya dengan neraka masa lalu. Zayed, yang memahami beban batin Anindya, tidak membiarkan wanita itu menunggu lebih lama.
~~
Pagi itu, udara di kawasan penjara isolasi terasa sangat berat. Zayed berdiri di samping Anindya, mengenakan bisht atau yang biasa disebut jubah tradisional hitam dengan sulaman emas yang menunjukkan otoritasnya sebagai bagian dari keluarga penguasa.
Anindya tampil anggun namun sederhana, mengenakan abaya berwarna abu-abu gelap dengan kerudung tipis yang menutupi sebagian wajahnya.
Di tangan Sarah, terselip sebuah map berwarna putih. Isinya singkat, namun berat, Gugatan Cerai Mutlak.
"Kau siap?" bisik Zayed sembari menggenggam tangan Anindya sesaat.
Anindya mengangguk mantap. "Aku tidak bisa memulai hidup baru jika namaku masih berdampingan dengan namanya di atas kertas, Zayed."
Mereka berjalan melewati koridor panjang yang dijaga ketat oleh tentara bersenjata lengkap. Di penjara isolasi ini, jeruji besinya tidak hanya tebal, tapi juga dialiri kawat setrum bertegangan tinggi untuk memastikan tidak ada satu pun tahanan istimewa yang bisa bermimpi untuk melarikan diri.
Di dalam sel yang pengap, Kenzo sedang berbaring di lantai semen yang dingin. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi kini sudah mulai gondrong dan kusam. Wajahnya penuh dengan bekas luka yang mengering, sisa-sisa sambutan hangat dari para narapidana lain.
Kring!
Bunyi kunci gerbang besi yang diputar menggema di seluruh ruangan. Seorang sipir bertubuh raksasa berdiri di depan sel Kenzo.
"Bangun, tahanan 091. Ada seorang raja yang ingin bertemu denganmu," ucap sipir itu dengan bahasa Inggris beraksen Arab yang kental.
Pikiran Kenzo berputar. "Raja? Siapa? Apakah Ayah berhasil membujuk salah satu pangeran untuk membebaskanku ?" Harapan palsu tiba-tiba meledak di dadanya.
Dengan langkah lunglai dan kaki telanjang yang kotor, Kenzo bangkit. Tangannya diborgol ke depan, menimbulkan bunyi denting logam yang memilukan.
Ia digiring ke sebuah ruang pertemuan khusus yang dibatasi oleh kaca anti-peluru tebal dan teralis besi yang rapat.
Di sana, Kenzo duduk di kursi kayu keras, kepalanya menunduk, tidak sanggup menahan cahaya lampu yang terasa menyilaukan setelah berhari-hari di dalam kegelapan.
"Kenzo."
Suara itu. Suara lembut yang selalu ia kejar dalam obsesinya. Kenzo perlahan mengangkat kepalanya. Matanya melebar, pupilnya bergetar hebat.
Di depannya, dipisahkan oleh kaca dan besi, berdiri Anindya. Di samping Anindya, duduk seorang pria dengan aura kekuasaan yang begitu pekat, Zayed Al-Maktoum.
Kenzo mungkin tidak mengenal Zayed secara pribadi, tapi ia tahu siapa pria yang mengenakan jubah kebesaran keluarga kerajaan Dubai tersebut.
"Anin..." desis Kenzo. Suaranya serak, seperti gesekan amplas. "Kau... kau datang ke sini untuk mengejekku?"
Anindya merasa lidahnya kelu. Melihat kondisi Kenzo yang begitu mengenaskan, pakaian tahanan yang kumal, tubuh yang kurus, dan tatapan yang nyaris gila, membuat rasa iba itu kembali muncul.
Namun, ia segera teringat pada tangis Elang dan pengkhianatan Kenzo pada mendiang Arlan.
Anindya tidak sanggup bicara. Ia segera menggenggam tangan Sarah dengan erat, memberikan isyarat agar asistennya itu mewakili suaranya.
Sarah melangkah maju, meletakkan map putih itu di atas meja kecil di depan kaca pembatas.
"Tuan Kenzo Praditya," ucap Sarah dengan nada tegas dan profesional. "Nyonya Dian datang ke sini bukan untuk mengejek. Beliau datang untuk mengakhiri segalanya secara baik-baik. Di depan Anda adalah surat cerai. Nyonya Dian meminta Anda menandatanganinya sekarang juga."
Kenzo terdiam. Ia menatap surat itu, lalu menatap Anindya, dan terakhir ia menatap Zayed yang sedang mengawasinya dengan tatapan dingin seolah Kenzo hanyalah seekor serangga yang menunggu untuk diinjak.
"Ceraikan aku, Kenzo. Biarkan aku hidup tenang bersama Elang," Anindya akhirnya bersuara, suaranya bergetar namun penuh penekanan.
Tiba-tiba, bahu Kenzo mulai berguncang. Suara tawa rendah yang mengerikan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di ruangan sunyi tersebut.
"Menceraikanmu?" Kenzo mengangkat kepalanya, memperlihatkan senyuman iblis yang masih tersisa di wajah hancurnya. "Anin, kau pikir dengan melihatku membusuk di sini, kau bisa lepas dariku begitu saja?"
Kenzo mendekatkan wajahnya ke kaca, matanya berkilat penuh kegilaan. "Kau milikku, Anin. Sampai aku mati, kau akan tetap menyandang nama Praditya. Kau akan tetap menjadi istri dari seorang narapidana. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menikah dengan siapapun secara sah."
Zayed sedikit condong ke depan, suaranya tenang namun mengandung ancaman maut. "Tanda tangani surat itu, Kenzo. Aku bisa membuat hidupmu di sini sedikit lebih manusiawi jika kau menurut. Atau... aku bisa memastikan sipir-sipir itu lupa memberimu makan selama satu minggu kedepan."
Kenzo meludah ke arah kaca. "Lakukan saja! Bunuh aku sekalian! Tapi aku tidak akan pernah menandatangani surat itu. Bahkan jika aku harus membusuk dan mati di sel ini, di buku catatan sipil, kau akan tetap tercatat sebagai istriku, Anindya! Kau akan tetap terikat padaku selamanya!"
Anindya memejamkan mata, air mata kemarahan jatuh di pipinya. "Kenapa kau begitu jahat, Kenzo? Kenapa kau tidak membiarkan kami bahagia?"
"Karena kebahagiaanku adalah melihatmu menderita bersamaku!" raung Kenzo, tangannya yang diborgol memukul kaca dengan keras.
Dugh!
"Kau pikir Arlan akan bangga melihatmu di pelukan pria lain? Tidak, Anin! Kau adalah kutukan bagi keluarga kami, dan aku adalah penjagamu!"
Zayed berdiri, ia menarik Anindya ke belakang tubuhnya. Kesabaran sang pangeran sudah habis.
"Kau bukan penjaga, kau adalah parasit," ucap Zayed dengan nada meremehkan. "Kau pikir tanda tanganmu sangat berharga? Di Dubai, aku bisa memproses perceraian ini secara ghoib melalui otoritas syariah jika aku mau. Aku membawanya ke sini hanya untuk memberimu satu kesempatan terakhir menjadi manusia yang memiliki sedikit martabat."
Zayed menoleh pada sipir. "Bawa dia kembali. Masukkan dia ke sel bawah tanah yang paling gelap. Pastikan tidak ada cahaya sedikit pun yang masuk ke matanya sampai dia belajar cara menulis namanya sendiri di surat cerai ini."
Kenzo diseret secara paksa oleh dua sipir. Ia terus berteriak, suaranya memenuhi lorong penjara yang dingin. "AKU TIDAK AKAN MENCERAIKANMU, ANIN! KAU MILIKKU! SELAMANYA MILIKKU!"
Begitu keluar dari gedung penjara, Anindya langsung terduduk di bangku taman depan kompleks. Tubuhnya lemas. Konfrontasi dengan Kenzo menguras seluruh energinya.
Zayed duduk di sampingnya, membiarkan Anindya menyandarkan kepala di bahunya. "Maafkan aku, Dian. Aku tidak menyangka dia masih memiliki harga diri yang begitu sakit."
"Dia tidak akan pernah menyerah, Zayed," isak Anindya. "Dia ingin aku tetap terikat padanya, meski dia berada di ujung dunia."
Zayed mengelus kepala Anindya dengan lembut. "Dengar. Surat itu hanya formalitas untuknya. Bagiku, dan bagi Tuhan, kau sudah bebas sejak saat kau memutuskan untuk pergi darinya. Aku akan mengurus jalur hukum khusus di sini. Dalam beberapa hari, pengadilan Dubai akan mengeluarkan surat cerai sepihak atas dasar tindak kriminal berat yang dia lakukan."
Humor kecil Zayed kembali muncul untuk menenangkan hati Anindya. "Lagi pula, siapa yang butuh tanda tangan dari pria yang bahkan tidak punya sepatu? Aku jauh lebih tampan dan punya banyak unta untuk Elang, bukan?"
Anindya tersenyum di tengah tangisnya, ia memukul dada Zayed pelan. "Kau selalu tahu cara membuatku tertawa di saat seperti ini."
"Itu adalah tugas utamaku sekarang," balas Zayed serius. "Jangan biarkan kegilaannya merusak harimu. Kita pulang, Elang pasti sudah menunggu pahlawan supernya kembali."
Di balik tembok penjara Al-Awir yang tinggi, Kenzo Praditya kini benar-benar sendirian dalam kegelapan. Ia mengira dengan menolak cerai, ia masih memiliki Anindya. Ia tidak sadar bahwa dengan sikapnya, ia justru baru saja mengunci pintu hatinya sendiri dari pengampunan terakhir.
Anindya melangkah pergi, meninggalkan bayang-bayang Kenzo di belakang. Di depannya, ada Zayed, Elang, dan masa depan yang tak lagi berbau apak penjara, melainkan harum bunga di tengah padang pasir yang mulai bermekaran.
...----------------...
To Be Continue .....