Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Lantai bawah markas The Vultures masih bergetar oleh dentuman musik dan tawa Dion yang meledak-ledak. Aroma daging panggang merayap naik melalui celah-celah kayu, namun di lantai dua, di dalam kamar pribadi Kent Winters, suasananya seolah berada di dimensi yang berbeda. Sunyi, remang, dan sarat akan ketegangan yang tidak kasatmata.
Kamar Kent mencerminkan pemiliknya: minimalis, rapi, dengan dominasi warna abu-abu gelap dan aroma maskulin yang dingin. Malam ini, Kent memberikan izin yang langka. Lauren, dengan segala kegigihannya, memutuskan untuk tidak pulang dan menginap di sana.
Lauren duduk di tepi ranjang besar milik Kent, kakinya berayun pelan. Ia sudah mengganti gaun pesta nya dengan baju Kent juga celana kent, sementara Kent berdiri di dekat jendela, menatap kegelapan malam dengan tangan terbenam di saku celana.
"Tadi... ciuman Salene dan Nikolas cukup romantis kan, Kent?" tanya Lauren, memecah keheningan. Suaranya yang biasanya melengking kini terdengar lebih lembut, hampir berbisik.
Kent menoleh sedikit, lalu mengangguk singkat. "Iya. Mereka pantas mendapatkannya setelah semua tekanan itu."
Lauren terdiam sejenak, memainkan ujung jarinya. Keberanian yang biasanya meledak-ledak kini terasa sedikit menciut saat ia menatap punggung tegap pria di depannya. "Lalu... kapan kau akan mencium ku, Kent?"
Pertanyaan itu membuat Kent terpaku. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya, menatap Lauren dengan tatapan datarnya yang legendaris. "Aku belum siap," jawabnya singkat.
"Kenapa?" Lauren mendongak, matanya yang bulat menatap Kent dengan binar kekecewaan yang jujur. "Apa kau benar-benar tidak membuka hatimu untukku, Kent? Apa semua 'istri-istrian' ini hanya lelucon bagimu?"
Kent tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, perlahan namun pasti, hingga ia berdiri tepat di depan Lauren. Ia menunduk, menatap mata Lauren dalam-dalam—sebuah tatapan yang membuat Lauren merasa seolah seluruh rahasianya terbongkar.
"Kata siapa?" tanya Kent, suaranya parau.
"Kataku," sahut Lauren berani, meski jantungnya berdegup kencang.
Kent menarik napas panjang. Ia duduk di samping Lauren, jarak mereka begitu dekat hingga bahu mereka bersentuhan. "Lauren... aku ingin sekali mencium bibirmu. Setiap kali kau mengoceh, setiap kali kau tertawa, aku ingin melakukannya."
Lauren menahan napas. Ini adalah kalimat terpanjang dan paling jujur yang pernah ia dengar dari mulut Kent.
"Tapi aku khawatir tidak bisa menahan diri," lanjut Kent, suaranya semakin rendah dan berat. "Aku... aku takut kita kebablasan. Aku tidak ingin merusak mu hanya karena dorongan sesaat."
Deg.
"Kent..." bisik Lauren.
"Iya, Lauren."
Sedetik kemudian, gravitasi di antara mereka seolah runtuh. Entah siapa yang memulai, namun bibir mereka bertemu. Berbeda dengan ciuman Nik dan Salene yang terasa seperti ledakan emosi, ciuman Kent dan Lauren terasa lebih seperti percikan api yang perlahan membakar sumbu. Dinginnya Kent meleleh dalam hangatnya Lauren.
Tidak ada yang ingin berhenti. Lauren melingkarkan tangannya di leher Kent, sementara Kent membawa tangannya turun, mengelus perut Lauren dengan gerakan protektif namun sarat akan gairah yang tertahan. Lauren merasakan tubuh Kent menegang hebat.
Tiba-tiba, Lauren menarik diri sedikit, napasnya tersengal. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ada hawa hangat dan ketegangan yang asing di antara paha mereka saat Kent menariknya semakin merapat.
"Apa itu, Kent?" tanya Lauren dengan kepolosan yang nyata. Matanya yang jernih menatap Kent dengan bingung.
Kent memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengatur napasnya yang sudah berantakan. Ia menyandarkan dahinya di dahi Lauren, menyembunyikan wajahnya yang kini memerah padam karena menahan diri.
"Bibirmu bengkak, By," jawab Kent, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan suara yang terdengar sangat tertekan.
"By?" Lauren mengulang sebutan itu dengan bingung sekaligus senang.
"Hmm," sahut Kent singkat.
Kent kemudian memeluk Lauren erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Biarkan seperti ini dulu, Lauren. Tolong, jangan bergerak. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri kalau terlalu dekat denganmu seperti ini. Maafkan aku."
Lauren terdiam, merasakan detak jantung Kent yang liar di dadanya. Ia perlahan mulai mengerti apa yang sedang diperjuangkan Kent—sebuah bentuk penghormatan dan pengendalian diri yang luar biasa besar demi menjaganya.
"Tidak apa-apa, Kent," bisik Lauren sambil mengusap rambut belakang Kent dengan lembut. "Aku mengerti sekarang. Terima kasih sudah menjagaku."
Di luar, suara kembang api mulai meledak di langit London, menandai pergantian hari menuju ulang tahun Salene yang ke-18. Namun di dalam kamar itu, bagi Lauren dan Kent, waktu seolah berhenti.
Mereka hanya saling berpelukan dalam keheningan yang intim, sebuah ikatan yang lebih dalam dari sekadar kata-kata "suami-istri" yang sering Lauren teriakkan. Malam itu, Lauren tidak hanya mendapatkan ciuman pertama, tapi ia juga mendapatkan bukti bahwa di balik es yang dingin, Kent Winters mencintainya dengan cara yang sangat membara.