Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.
Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?
Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇♂️🙇♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Amarah Dua Pendekar
“Simhabirawa adalah salah satu tetua yang Perguruan Harimau Matahari serta seorang bangsawan yang cukup berpengaruh di Kota Raja. Simhabirawa juga seorang bangsawan yang berasal dari Marga Suryakarna, salah satu dari Sapta Marga Bathara yang memiliki pengaruh sangat besar di lingkungan Kerajaan.” Baruna menjelaskan secara singkat siapa ayah dari Macan Mawa.
“Tapi kenapa tadi, Macan Mawa saat menyebutkan nama lengkapnya tidak menyebut Marga milik ayahnya?” Tanya
Cakiya.
“Mungkin dia anak gundik atau memiliki Ibu dari keluarga yang bukan dari kalangan bangsawan.”
“Hm…jika benar dia anak seorang tokoh berpengaruh di Kerajaan, kalau kita menghajar kerbau berkumis itu, kita bisa-bisa menjadi buronan dengan kepala yang dihargai cukup tinggi.” Komentar Cakiya sambil tersenyum melihat Macan Mawa yang marah.
“Kau bilang apa sipit?” Tanya Macan Mawa pada Cakiya. “Berbicaralah sesukamu, toh sebentar lagi mulutmu akan kuinjak-injak.” Seringai Macan Mawa.
“Masa Tuan yang masih Putra dari Simhabirwa ini tidak bisa mendengar kalimat saya dengan jelas?” Ejek Cakiya. “Lagi pula kenapa, orang seperti Tuan yang mengaku anak Simhabirawa bisa-bisanya tidak memiliki Marga Suryakarna, apakah Tuan adalah anak kandungnya, atau anak haram dari gundik peliharaan Simhabirawa itu eh?”
Hampir semua murid-murid Perguruan Harimau Matahari kecuali Macan Mawa tersentak serta membelalakkan mata karena kaget mendengar ejekan Cakiya yang dilontarkan pada Macan Mawa. Macan Mawa memang anak salah satu gundik dari Simhabirawa. Ia keras berlatih serta selalu mengikuti berbagai turnamen bela diri di Kerajaan untuk membuktikan kepada ayahnya baha dirinya adalah laki-laki yang layak di mata Ayahnya. Macam Mawa bercita-cita menjadi penerus sah Marga Suryakarna. Namun, jalan untuk mencapai cita-cita Macan Mawa cukup panjang serta berat. Macan Mawa hanya anak seorang gundik peliharaan ayahnya yang bahkan tidak memiliki asal-usul keturunan yang jelas. Keberadaannya di tengah Marga Suryakarna pun tidak pernah diakui sehingga Ia
tidak pernah diizinkan menggunakan Marga Suryakarna.
Keberadaannya yang tidak pernah diakui karena anak seorang gundik oleh keluarga besar ayahnya tersebut menimbulkan luka hati yang sangat menyakitkan bagi Macan Mawa. Hal itulah yang kemudian membuat Macan Mawa menjadi sangat marah bila ada siapa pun yang menyinggung mengenai asal-usul dirinya yang tidak memiliki marga Suryakarna dan juga ada yang menyebutnya sebagai anak haram. Tidak jarang perkelahian yang berdarah-darah terjadi akibat Macan Mawa marah saat asal-usul keluarganya disinggung atau dijadikan bahan lelucon. Melihat Cakiya menyebut dua hal yang paling dibencinya itu, membuat Macan Mawa marah luar biasa. Bahkan karena emosi yang demikian besar, Macan Mawa sampai tidak bisa mengungkapkannya dengan berkata-kata. Macan Mawa hanya melipat kedua tangan di dada sambil melirik Cakiya dengan nafas tersengal karena emosi yang meluap-luap.
“Tuan Macan Mawa, maaf aku memang tidak mengenal Anda.” Baruna menyela tiba-tiba. “ Tetapi dua orang seperguruan Anda telah melakukan hal yang sangat memalukan untuk seorang pendekar dari aliran putih. Mereka menculik anak-anak kecil untuk dijual kepada pedagang budak dengan harga mahal. Apa yang saudara seperguruan anda lakukan merukan sebuah kejahatan berat yang dapat diganjar hukuman berat.” Kata Baruna dengan suara bergetar menahan marah.
Baruna terlihat disapu amarah ketika mengetahui bahwa Ramawadya dan Watu Lahar bekerja sama dengan pedagang budak di Ibu Kota. Sedangkan Macan Mawa tidak menggubris apa yang diakatakan Baruna, Ia tetap melirik Cakiya dengan amarah menggelegak. Akan tetapi, justru rekan-rekan Macan Mawa yang terpancing emosinya oleh perkataan yang dilontarkan Baruna. Mereka lalu memaki Baruna dengan berbagai bahasa-bahasa kasar. Para pendekar Perguruan Harimau Matahari itu benar-benar tersinggung karena urusan perguruan mereka dicampuri oleh orang luar seperti Baruna.
“Ini urusan kami, Perguruan Harimau Matahari dengan Cakiya. Pergilah dari sini!”
Usir salah satu pendekar Perguruan Harimau Matahari.
“Urus saja urusanmu gembel bertongkat, kau lari sembunyi saja. Saudara-saudara seperguruanmu sedang memburumu, mereka beramai-ramai memburumu seperti tikus bukan!?” Ejek pendekar Perguruan Harimau Matahari yang lain.
“Banyak omong Kau pendekar bencong.” Maki salah satu pendekar Perguruan Harimau
Matahari. “Kalau kau tidak ingin tongkatmu kugunakan untuk ganjal pintu kendang
kambing milikku, minggirlah!”
Baruna tidak menanggapi ejekan orang-orang dari Perguruan Harimau Matahari tersebut, namun aura yang menyeruak di dalam dirinya semakin dingin dan tajam karena bereaksi oleh ejekan dari mereka. Cakiya hanya tersenyum sambil mengerutkan dahi sewaktu mengetahui aura Baruna semakin tajam dan dingin hanya oleh
kata-kata dari lawan. Cakiya dapat merasakan jika amarah Baruna meluap dari aura milik Baruna yang dingin dan tajam,s serta menusuk bagaikan pedang terbuat dari embun beku. Meski lebih pendiam dari pada Cakiya, ternyata Baruna memiliki amarah lebih mudah untuk tersulut.
“Apakah Aku boleh menghajar mereka Cakiya?” Tanya Baruna dengan datar.
“Silakan, tapi tolong sisakan dua orang yang babak belur itu. Ada baiknya menyisakan satu atau dua di antara orang-orang Perguruan Harimau Matahari itu untuk meencari petunjuk tentang ketiga perempuan yang kau cari itu. Siapa tahu mereka memilik informasi yang cukup penting tentang orang-orang itu Baruna. ”
Baruna mengangguk pelan, dan kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi menghampiri murid-murid perguruan Harimau Matahari, gerakannya yang demikian cepat tidak dapat membuat mereka menyadari jika Baruna telah mendekati mereka. Dalam satu tarikan nafas empat orang tumbah oleh tongkat yang diayunkan oleh Baruna. Melihat, ketiga rekannya tumbang, semua orang ditempat itu mengeroyok Baruna secara sekaligus. Pertempuran dengan jumlah tidak seimbang pun terjadi di tempat itu, dua puluh orang melawan seorang pendekar bersenjatakan tongkat, sedangkan satu orang yang tersisa dari Perguruan Harimau Matahari hanya menonton pertarungan tersebut, yaitu Macan Mawa.
Macan Mawa diam membisu. Amarah masih begitu menguasai dirinya sekalipun Ia sedang bersedekap sambil melipat kedua tangannya di dada dengan melotot tajam pada Cakiya. Sebelah kakinya tidak bisa diam, serta masih menggemeletukkan giginya dengan santai, sekalipun urat-urat bermunculan di dahi Macan Mawa. Kata-kata Cakiya mengenai dirinya yang seorang anak haram benar-benar membakar amarahnya hingga di dalam benak Macan Mawa memikirkan berbagai cara untuk menyiksa Cakiya hingga amarahnya reda.
“Kau mau kuhajar dengan cepat atau kusiksa pelan-pelan bocah?” Kata Macan Mawa sambil menggerakkan sebelah kakinya semakin lama semakin cepat serta menggemeletukkan giginya semakin kencang.
Cakiya tidak menjawab pertanyaan Macan Mawa, dirinya hanya tersenyum sambil meletakkan gada Aqni Samaja ke tanah, kemudian memasang kuda-kuda. Cakiya lalu memberikan tanda untuk mempersilakan kepada
Macan Mawa untuk menyerang lebih dahulu. Macan Mawa yang terprovokasi Cakiya langsung merangsek maju dengan mengayunkan tinjunya dengan wajah Cakiya sebagai sasaran. Dan benar saja, dengan mudah Cakiya terpental oleh pukulan dari Macan Mawa hingga jatuh ke menhantam bumi. Macan Mawa girang bukan kepalang saat mengetahui jika pemilik sah gada Aqni Samaja dapat dengan mudah menghindari pukulannya. Dengan sigap Ia pun menerkam tubuh Cakiya sambil menghantamkan beberapa pukulan tepat di bagian, wajah dada dan ulu hati Cakiya.
“Jurus Harimau Memangsa Kijang.” Macan Mawa menyeringai liar menampakkan kebuasan dan kegilaan dalam satu waktu sekaligus.
Macan Mawa memang cukup disegani di dalam komunitas Perguruan Harimau Matahari. Ilmunya bela dirinya pun semakin lama semakin tajam dan semakin sedikit orang yang mampu mengimbangi kemampuannya. Akan tetapi, pertumbuhan kemampuannya tidak diimbangi dengan kecerdasan emosinya. Kesombongan dan amarahnya yang mudah tersulut menjadikan Macan Mawa jenis manusia yang liar serta sangat mudah tersulut emosinya. Bahkan di kalangan petinggi Perguruan Harimau Matahari, ada ungkapan yang cukup terkenal di antara mereka : ‘lebih mudah membakar emosi Macan Mawa dari pada membakar setumpuk jerami kering‘.
Macan Mawa yang kegirangan karena berpikir berhasil menjatuhkan Cakiya hanyadengan satu jurus, lalu dengan segera mengepalkan kedua tangannya di udara. Kemudian kepalan tangan tersebut dihantamkannya pada kepala Cakiya keras-keras seperti mengayunkan gada untuk menghantam kepala lawan. Suara dentuman terdengar hingga beratus-ratus meter jauhnya sewaktu Macan Mawa mengerahkan jurus itu, tanah di sekitar Macan Mawa retak dan bergemuruh. Usai gemuruh tersebut, terlihat Macan Mawa tengah duduk di atas tubuh Cakiya yang diam mematung bagaikan batang kayu. Macan Mawa yang mengetahui Cakiya tidak bergerak tertawa-tawa sambil berkata.
“Hahahaha bagaimana rasanya jurus pamungkas Perguruan Harimau Matahari, Jurus Ledakan Api Harimau Matahari?” Tawa kemenangan Macan Mawa membahana disertai dengan kepuasan di dalam hatinya telah menghajar orang yang telah membangkitkan amarahnya.
Dengan menyeringai girang, Macan Mawa berpikir jika dirinya memenangkan pertarungan melawan Cakiya. Sayup-sayup Macan Mawa mendengar saudara-saudara seperguruannya meneriakkan namanya dengan penuh semangat. Kebanggaan yang meluap-luap membuncah di dalam hatinya ketika suara-suara itu menyebut namanya berkali-kali. Macan Mawa kemudian menebarkan pandangan ke sekelilingnya. Akan tetapi apa yang dilihatnya kemudian
benar-benar di luar dugaan Macan Mawa.
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya